Pagi itu, sekolah tampak seperti biasa. Riuh suara siswa bercampur dengan derap langkah sepatu yang berkejaran dengan waktu. Namun, bagi Lisa Anggraini, setiap pagi selalu terasa sama berat, sesak, dan menyesakkan dada sejak langkah pertamanya melewati gerbang.
Lisa berjalan dengan kepala sedikit menunduk. Tas ransel hitamnya dipeluk erat seolah benda itu satu-satunya pelindung yang ia miliki.
‘Hari ini harus kuat,’ katanya dalam hati. Hanya sampai bel pulang.
“Lis, cepat! Nanti terlambat.” Suara seorang guru terdengar dari kejauhan.
Lisa mengangguk kecil, meski guru itu bahkan tidak benar-benar melihat wajahnya.
Di lorong kelas, Santi berdiri bersandar di dinding bersama Diansari dan Nenghally. Tiga pasang mata itu langsung menangkap keberadaan Lisa.
“Eh, lihat,” bisik Santi sambil menyenggol lengan Diansari. “Si Senyap datang.”
Diansari menahan tawa. “Masih kuat ya datang ke sekolah?”
Lisa mendengar semuanya. Ia selalu mendengar, tetapi kakinya terus melangkah, seolah jika berhenti, ia akan runtuh di tempat.
Nenghally melangkah maju, sengaja menghalangi jalan. “Pinjam buku catatanmu. Punya kamu tulisannya rapi. Sayang kalau cuma kamu yang pakai.”
Lisa menggenggam buku itu lebih erat. “Aku … aku masih butuh.”
Nada suaranya nyaris tidak terdengar.
Santi mendengkus. “Pelan sekali. Seperti takut sama dunia.”
Beberapa siswa lain memperhatikan dari jauh. Ada yang melirik sekilas, lalu berpaling. Ada pula yang pura-pura sibuk dengan ponsel.
Di antara mereka, Riva Alivva, Nur Faizah, dan Siti Nuraini berdiri tak jauh dari situ. Riva menggigit bibirnya.
“Kenapa mereka selalu begitu, sih?” bisik Siti pelan.
Faizah menunduk. “Kita mau bantu juga takut.”
Riva tidak menjawab. Tatapannya mengikuti Lisa yang akhirnya terpaksa menyerahkan buku catatannya. Santi merebutnya, lalu melemparkan kembali ke arah Lisa dengan sengaja.
“Ups,” ucap Santi dingin. “Jatuh.”
Buku itu tergeletak di lantai. Lisa berjongkok mengambilnya, jari-jarinya gemetar.
“Tidak apa-apa,” katanya pada dirinya sendiri. “Ini cuma buku. Aku masih bisa menulis ulang.”
Bel masuk berbunyi. Lorong kembali bergerak. Semua orang pergi, meninggalkan Lisa dengan sisa rasa perih yang tak terlihat.
Di kelas, Lisa duduk di bangku belakang. Tempat yang selalu ia pilih karena dari sana ia bisa menjadi tak terlihat.
Guru mulai mengajar. Suara kapur di papan tulis terdengar seperti goresan di kepalanya. Lisa membuka buku, mencoba fokus, tetapi pikirannya terus kembali pada kejadian di lorong.
‘Apa aku memang seburuk itu?’
‘Apa aku pantas diperlakukan seperti ini?’
Kertas kecil meluncur ke mejanya.
“Baca,” bisik suara dari depan.
Lisa membuka kertas itu perlahan.
‘Kamu aneh.’
Tangannya membeku. Ia melirik ke depan. Santi menoleh sebentar, tersenyum tipis, lalu kembali menghadap papan tulis.
Air mata menggenang di mata Lisa, tapi ia menahannya. Menangis di kelas hanya akan membuat semuanya lebih buruk.
Di bangku seberang, Riva memerhatikan. Ia menulis sesuatu di bukunya, lalu merobek selembar kertas kecil dan mendorongnya pelan ke arah Lisa.
‘Kalau butuh teman bicara aku ada.’
Lisa membaca kalimat itu berulang kali. Dadanya terasa hangat sekaligus sakit. Ia tidak tahu harus merasa lega atau semakin sedih.
Saat jam istirahat, Lisa memilih tetap di kelas. Ia membuka bekalnya tanpa nafsu.
Di rumah, pagi tadi, Aish sempat mengelus kepalanya.
“Kamu tidak apa-apa, Lis?” tanya ibunya lembut.
Lisa hanya mengangguk. “Baik, Bu.”
Padahal di dalam dirinya, ia berteriak.
Irma, adiknya, memeluk pinggang Lisa sebelum ia berangkat. “Kak Lisa pulang cepat, ya.”
Lisa tersenyum. Senyum yang kali ini lebih jujur.
“Aku usahakan.”
Kini, di kelas yang sunyi, senyum itu menghilang.
Langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kelas terbuka.
“Oh, sendirian?” Suara Nenghally terdengar ringan, tapi menusuk.
Lisa menunduk. “Aku mau makan saja.”
Santi ikut masuk. “Makan sendirian enak, ya? Tidak ada yang ganggu.”
Diansari tertawa kecil. “Kasihan juga.”
Kata kasihan itu justru terasa paling kejam.
Lisa berdiri, ingin keluar, tetapi Santi menghalangi.
“Jangan kabur. Kita cuma mau ngobrol.”
“Kalau kamu capek di sini,” lanjut Diansari. “Sekolah ini luas. Banyak tempat sepi.”
Lisa menggigit bibirnya. “Aku tidak mengganggu kalian.”
Santi menatapnya lama. “Justru itu masalahnya.”
Mereka pergi sambil tertawa pelan, meninggalkan Lisa yang berdiri gemetar.
‘Aku ingin pulang, jerit hatinya. Aku ingin berhenti ada.’
Sore hari, Lisa berjalan pulang dengan langkah lelah. Di rumah, Rora, ayahnya, sedang duduk di ruang tamu.
“Kamu kelihatan capek,” kata Rora.
“Biasa, Yah.”
Aish menatap wajah anaknya, ingin bertanya lebih jauh, tetapi Lisa sudah masuk ke kamar.
Di sana, ia duduk di lantai, memeluk lutut. Tangis yang ia tahan seharian akhirnya pecah.
“Kenapa harus aku?” bisiknya pada dinding kosong.
Ketukan kecil terdengar di pintu.
“Kak?” Suara Irma lirih.
Lisa menyeka air mata dan membuka pintu. Irma memeluknya erat tanpa bertanya apa pun.
Pelukan itu sederhana, tetapi cukup membuat Lisa bertahan satu hari lagi.
Di luar kamar, Aish dan Rora saling berpandangan, menyadari ada luka yang belum mereka pahami, dan di sekolah, esok hari, lorong itu akan kembali sunyi dan menunggu Lisa Anggraini melangkah dengan luka yang semakin dalam.
***
“Mas,” panggilnya pelan.
Rora menoleh. “Kenapa Lisa?”
Aish menggeleng lemah. “Aku tidak tahu, tapi ini bukan capek biasa.”
Ia meremas ujung bajunya. “Tadi aku lihat matanya sembab.”
Rora mendekat. “Kamu tanya dia?”
“Aku takut salah bertanya.” Suara Aish bergetar. “Takut dia malah menutup diri.”
Rora terdiam. ‘Aku ayahnya,’ batinnya. ‘Tapi kenapa aku justru tidak tahu apa-apa?’
Ia mengepalkan tangan. “Besok aku antar dia ke sekolah.”
Aish menatapnya. “Mas yakin?”
“Kalau aku tidak mulai peduli sekarang,” jawab Rora lirih. “Aku takut terlambat.”
Di dalam kamar, Lisa duduk memeluk Irma.
“Kak,” ujar Irma pelan. “Kalau Kak Lisa sedih, bilang saja ke Irma.”
Lisa tersenyum tipis. “Irma belum mengerti.”
“Aku mengerti,” bantah Irma polos. “Sedih itu sakit.”
Kalimat sederhana itu menghantam dada Lisa. Ia memeluk adiknya lebih erat.
Keesokan paginya, lorong sekolah kembali dipenuhi langkah kaki. Lisa berjalan di belakang Rora.
“Kalau ada apa-apa, bilang Ayah,” kata Rora.
Lisa mengangguk. ‘Kalau semudah itu,’ pikirnya.
Begitu Rora pergi, Santi muncul dari balik pintu kelas.
“Wah, diantar ayah. Anak kecil sekali,” ujarnya datar.
Diansari menyeringai. “Mungkin takut sendirian.”
Nenghally menambahkan, “Atau takut sama kita?”
Lisa menggenggam tali tasnya. Jantungnya berdetak cepat.
Riva mendekat. “Sudah, jangan begitu.”
Santi menoleh tajam. “Kamu bela dia?”
Faizah ikut berdiri di samping Riva. “Kami cuma mau belajar.”
Siti melangkah pelan ke dekat Lisa. “Kamu duduk sama kami saja.”
Lorong mendadak sunyi. Tatapan saling bertabrakan.
Lisa menarik napas. ‘Aku gemetar,’ katanya dalam hati. ‘Namun, aku berdiri.’
Untuk pertama kalinya, ia tidak mundur.