


oleh See You Soon · 15 Bab
Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota. Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit. Namun, berpikir terlalu banyak. Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan. Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami. Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam. Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.
Motor itu berhenti di sisi jalan, tepat di bawah bayangan pohon flamboyan yang daunnya mulai gugur satu per satu. Mesin masih menyala, getarnya terasa di paha, seperti pengingat bahwa ia belum benar-benar selesai bekerja hari ini.
Yuda menurunkan standar, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
Layar menyala. Pesanan berikutnya muncul.
Ia membaca alamatnya sekali. Lalu dua kali.
Alisnya sedikit berkerut.
Perpustakaan Kota.
Ia mendongak, seolah alamat itu bisa terlihat dari ujung jalan. Yang ada hanya deretan toko, suara klakson bersahutan, dan matahari yang mulai condong. Tempat seperti itu biasanya memesan buku dalam jumlah banyak, atau alat tulis, atau dokumen yang harus ditandatangani cepat dan hampir selalu diambil terburu-buru.
Ia menghela napas pendek.
Tangannya refleks merapikan paket di box belakang. Kardus kecil, ringan. Tidak ada label “penting”, tidak ada catatan marah seperti yang sering ia temui. Hanya nama penerima dan cap toko.
Ia menatapnya sesaat lebih lama dari perlu. Ada sesuatu tentang pesanan ini yang terasa… aman.
Ia kembali menaiki motor.
Sebelum memutar gas, ia melirik sekali lagi ponselnya.
Perpustakaan Kota.
Sudah lama ia tak masuk ke tempat semacam itu. Terakhir kali mungkin saat masih sekolah, sebelum hidupnya berubah menjadi rangkaian jalan, alamat, dan pintu-pintu yang terbuka hanya untuk menutup kembali.
Motor kembali melaju.
Angin menyentuh wajahnya, membawa bau kertas tua yang entah dari mana muncul lebih dulu dalam bayangannya. Tanpa sadar, bahunya yang sejak tadi tegang turun sedikit. Seperti seseorang yang tanpa tahu alasannya, merasa bahwa pengantaran kali ini tidak akan sama.
Ban motor melaju melintasi aspal yang kini tak terlalu menyengat. Dan sesekali meliuk menghindari ranjau air berbentuk lubang aspal yang tergenang. Hingga sebuah bangunan yang dia tuju, sayup-sayup nampak dari balik bangunan lain yang bersandingan.
Pintu kaca perpustakaan terbuka dengan bunyi lirih, nyaris tenggelam oleh langkah kakinya sendiri. Udara di dalam berbeda. Lebih dingin. Lebih tenang. Seperti halaman yang lama tak dibuka.
Yuda menghentikan langkah sejenak mencoba menyesuaikan diri. Tangannya membawa box paket kecil di tangannya, lalu berjalan mendekati meja layanan.
Di sanalah pustakawan itu berdiri.
Ia sudah lebih dulu melihatnya datang. Senyumnya terangkat, tidak lebar, tidak dibuat-buat, hanya cukup untuk menyambut seseorang agar tak merasa asing. Senyum yang sama ia berikan pada siapa pun yang melangkah masuk, entah pembaca setia, anak sekolah yang berisik, atau mereka yang datang hanya untuk berteduh sejenak.
Yuda membalas dengan senyum yang sudah terlatih. Senyum yang selalu ia kenakan di depan pintu-pintu orang lain. Senyum yang menjaga bintang aplikasinya tetap utuh. Senyum yang ia pakai sebagai perisai, agar lelah di dalam dada tidak ikut terbaca.
“Selamat sore,” katanya, nada suaranya rapi.
“Selamat sore,” balas sang pustakawan, suaranya lembut, seperti berusaha tidak mengganggu barisan buku di belakangnya.
Yuda menyerahkan paket kecil itu ke atas meja. Kardusnya nyaris tak bersuara saat menyentuh permukaan kayu.
“Pesanan atas nama” Ia menyebutkan nama yang tertera di layar.
Pustakawan itu mengangguk, lalu mengambil pulpen. Tangannya bergerak pelan saat menandatangani, seakan waktu di tempat ini memang berjalan sedikit lebih lambat. Sambil itu, senyumnya tak turun.
Ia sudah terbiasa bersikap demikian. Setiap wajah yang datang ke perpustakaan adalah tamu. Bahkan mereka yang suatu hari meminjam buku, lalu menghilang dan lenyap bersama halamannya.
Ia tidak menyebutnya kehilangan. Ia memilih menyebutnya sedekah.
Yuda menunggu, berdiri tegak seperti biasa. Namun kali ini, entah mengapa, ia tak merasa sedang ditatap untuk dinilai. Tak ada nada curiga. Tak ada desakan agar cepat.
Hanya ruang sunyi, kertas, dan senyum yang tidak menuntut apa pun darinya.
Saat tanda tangan selesai dan paket berpindah tangan, Yuda mengangguk kecil.
“Terima kasih.”
“Terima kasih kembali,” jawab pustakawan itu.
Untuk sesaat, senyum di wajah Yuda tidak terasa seperti topeng.
Yuda melangkah keluar.
Pintu kaca kembali tertutup di belakangnya, dan suara jalan raya menyambut seperti sesuatu yang terlalu akrab.
Ia berjalan menuju motor bututnya, catnya sudah pudar di beberapa bagian, knalpotnya pernah diperbaiki berkali-kali. Ia membuka box, lalu mulai mengecek sisa paket.
Satu alamat.
Dua.
Tiga.
Matanya bergerak cepat seperti biasa.
Sebagian besar mengarah ke arah jalan pulang.
Ia berhenti sejenak di sana, berdiri di samping motor, membiarkan informasi itu meresap. Bahunya turun, sedikit saja. Napas yang keluar kali ini lebih panjang dari sebelumnya.
Ada ruang bernapas.
Ia menutup box, menyampirkan helm di di kepala. Tangannya sudah terlatih untuk langsung menyalakan mesin, tapi kali ini tidak. Jari-jarinya seperti terhenti di udara.
Ia menoleh ke arah pintu perpustakaan.
Dari luar, bangunan itu tampak biasa. Tidak mencolok. Tidak memanggil. Namun di balik kaca itu, ada keheningan yang barusan ia rasakan. Keheningan yang tidak menghakimi, tidak menuntut, tidak mengejar.
Ia melepas helm dari kepalanya lagi.
Rambutnya sedikit berantakan, keringat masih tertinggal di pelipis. Ia mengusap wajah sebentar, lalu menghela napas kecil, seolah baru menyadari betapa bising hari yang ia lewati sejak pagi.
“Mampir aja kali ya?” gumamnya, entah kepada siapa.
Helm diletakkan kembali pada setang. Dan Motor ditinggal dalam keadaan diam.
Ia melangkah kembali ke pintu kaca, kali ini tanpa paket, tanpa target waktu. Hanya tubuh yang ingin berada sedikit lebih lama di tempat yang hening. Tempat yang berjarak jauh dari klakson, makian, dan lampu lalu lintas.
Saat pintu itu terbuka lagi, udara dingin kembali menyentuh kulitnya.
Dan untuk pertama kali di hari itu, ia masuk ke sebuah tempat bukan sebagai kurir.

See You Soon
4 Pengikut · 1 Novel