


oleh A.R. Ubaidillah · 121 Bab
Tiga putri Prabu Jayantaka terpaksa harus diasingkan ke Pulau Braya. Salah satu dari mereka harus menguasai Suji Pati, sebuah ilmu bersenjatakan tusuk konde emas bangsawan Pradnya. "Salah satu dari kalian bertiga harus pulang dari pulau ini sebagai pengguna Suji Pati! Ini semata-mata demi keselamatan Pradnya!" seru Prabu Jayantaka kepada ketiga putrinya, Gauri, Galuh dan Kanaya. Namun, bukan ketiganya. Adalah Suma, gadis kumal putri seorang emban-lah yang berhasil menyandang tusuk konde emas. Ketiga putri tak terima. Pasalnya Suma bukanlah bangsawan.
“Gusti Prabu, mohon ikut bersama hamba. Siluman kera pimpinan Basugagra sudah berhasil masuk ke istana!” seru Patih Renggala dengan wajah paniknya.
"Apa prajurit Pradnya tak ada yang bisa melawan mereka?” ucap Prabu Jayantaka murka.
Orang nomor satu Pradnya itu paham bahwa dengan kehadiran Patih beserta beberapa prajurit khusus menandakan situasi kerajaannya tengah genting.
Basugagra, siluman kera penguasa Gunung Sabrang. Ia dan pasukannya seringkali turun gunung manakala tak menerima sesaji dan persembahan dari kerajaan-kerajaan sekitar. Siluman itu ditunggangi seseorang hingga mengamuk ke Pradnya, meski selalu menyerahkan persembahan.
Prabu Jayantaka segera mengekor Patih Renggala menuju ke tempat rahasia. Sebuah terowongan bawah tanah yang hanya digunakan untuk menyelamatkan Raja dan keluarganya.
Ujung-ujung atap bangunan istana mulai dilalap api. Kera-kera besar berlompatan begitu cepat menghancurkan apa pun yang mereka raih.
"Bagaimana dengan keluargaku, Patih?” tanya Prabu Jayantaka setelah menyaksikan sendiri kekacauan di istananya.
“Gusti Permaisuri dan yang lain akan segera menyusul. Para prajurit khusus tengah mengumpulkan semuanya.” Patih Renggala terus melangkah lebar sambil bersiaga melindungi junjungannya.
Mereka berhenti di sudut pagar istana, sebuah bangunan kecil tertutup oleh tanaman menjalar. Seorang prajurit khusus tampak menyambut mereka berdua dan segera membukakan pintu. Seorang lagi yang mengekori Patih Renggala turut serta.
“Apa pun yang terjadi jangan sampai kau tinggalkan permaisuri dan anak-anakku, Renggala!” titah Prabu Jayantaka.
Raja Pradnya itu tak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya. Ia meletakkan telapak tangan di pundak Patihnya, sebuah tanda bahwa pria itu begitu mengandalkan Patih Renggala.
“Sendika, Gusti Prabu!” jawab Patih Renggala mantap.
Patih Renggala berbalik setelah memastikan Prabu Jayantaka masuk ke dalam bangunan kecil itu dengan selamat. Ia segera berlari dan melompat ke atap bangunan istana paling belakang.
Dari tempatnya berdiri, pria dengan jabatan tertinggi di Pradnya itu mampu melihat kondisi istana yang porak poranda. Ia juga segera menyusun rencana untuk sampai ke Istana Putri dengan cepat.
Pria itu bergerak begitu cepat menyusuri pucuk-pucuk atap bangunan istana. Melompat dari atap satu ke atap lainnya. Baginya titah Raja bagai sebuah sumpah yang haram untuk diingkari meski membahayakan nyawanya sendiri. Langkahnya terhenti begitu melompat ke atap Istana Putri.
Seekor kera besar bermata merah menatap nyalang padanya. Ia menyeringai, memperlihatkan gigi-gigi tajamnya. Kera itu baru saja melemparkan seorang prajurit ke tanah hingga tewas seketika. Makhluk menyeramkan itu bersiap melompat manakala Patih Renggala mencabut pedangnya.
“Enyah kau, makhluk menjijikkan!” Patih Renggala melesat sembari mengayunkan pedangnya. Kera besar itu tak sempat bereaksi. Tubuhnya seketika terbelah dua dan roboh, melorot di atap istana, dengan darah yang meleleh hingga turun ke tanah seperti air hujan.
Patih Renggala menyarungkan kembali pedangnya dan melompat ke bawah, masuk ke istana Putri demi mencari para putri Prabu Jayantaka. Di pintu istana ia melihat sang Permaisuri, Indirasari. berdiri di belakang dua orang prajurit yang menjaganya dari amukan pasukan kera.
“Gusti Permaisuri, di mana para Putri?” tanya Patih Renggala.
“Galuh dan Kanaya sedang menuju ke sini dijemput Kakandanya. Tapi aku tak bisa menemukan di mana Gauri!” ucap Permaisuri begitu khawatir. Perempuan cantik itu berkali-kali memandangi arah tempat bilik Gauri berada.
“Prajurit penjaga tengah mencari Gusti Dewi Gauri, Gusti Patih. Semua tempat di lantai dasar sudah diperiksa. Kemungkinan Gusti Dewi Gauri berada di lantai atas,” ucap seorang prajurit penjaga Permaisuri mengutarakan laporannya.
Tak lama kemudian muncul Putra Mahkota, Gading Garjita dan kedua adiknya, Galuh Padmasari dan Kanaya Awandini. Kedua putri raja itu segera berlari menjumpai ibundanya dengan wajah penuh ketakutan.
“Gusti Pangeran, apakah Gusti Dewi Gauri belum juga ditemukan?” tanya Patih Renggala.
“Aku tak menemukannya di sini, Patih. Bagaimana, apa kita selamatkan dulu yang ada di sini?” tanya Pangeran Gading, mencoba memastikan apakah mereka akan menjalankan prosedur penyelamatan terbaik.
“Izinkan hamba untuk mencari Gusti Dewi Gauri. Pangeran, Permaisuri dan para Putri bisa lebih dahulu ke tempat penyelamatan. Hamba sudah berjanji pada Gusti Prabu untuk tak meninggalkan anaknya!” ucap Patih Renggala tegas. Hal yang membuat Permaisuri segera mengangguk setuju.
“Prajurit khusus dan penjaga akan mengantar Ibunda dan adik-adikku. Aku akan turut mencari Ayunda Gauri. Dia juga tanggung jawabku!” ucap Pangeran Gading sambil menatap tajam Patih Renggala. Kedua segera mengangguk dan bergegas menuju lantai atas.
“Arrgh!” Kedua putri Prabu Jayantaka berteriak manakala seekor kera besar tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Disusul beberapa kera yang turun dari atap istana karena mendengar teriakan mereka.
Pedang-pedang prajurit, Patih dan Pangeran segera tercabut dari sarungnya. Suaranya membuat kera-kera itu menyeringai meneteskan air liur. Beberapa berwarna merah buah dari mengoyak tubuh-tubuh prajurit Pradnya. Kera-kera itu merendahkan tubuh, siap untuk menerkam siapa pun di hadapannya.
Lagi, Patih Renggala melesat dengan sekali lompatan dan menebas sepasang kaki kera besar di hadapan Permaisuri dan kedua putrinya. Permaisuri berusaha mendekap keduanya agar tak melihat hal mengerikan itu. Sedang kera itu berteriak menahan sakit.
“Bersikaplah sopan pada Permaisuri Pradnya, dasar kera sialan!” umpat Patih Renggala sembari mengayunkan pedangnya menebas leher kera itu.
Darah segar memancar membasahi tanah dan pakaian Patih Renggala. Kepala kera besar jatuh ke tanah dan menggelinding tak tentu arah. Hal yang membuat kera-kera lain menjadi murka. Seekor kera bahkan melolong seolah memanggil rekan-rekannya untuk datang ke tempat itu.
“Pangeran, pergilah! Biar hamba hadapi kera-kera ini!” seru Patih Renggala seraya menggenggam pedang dengan kedua tangan.
“Tidak, Patih! Kita akan hadapi bersama-sama. Lihatlah, tak ada celah untuk lari!” seru Pangeran Gading.
Benar apa yang dikatakan Pangeran Gading Garjita. Tak ada celah baginya untuk lari. Terlebih membawa tiga perempuan yang dua di antaranya masih remaja. Kera-kera pasukan Basugagra datang seakan tiada habisnya. Mereka seperti menemukan mangsa istimewa melihat Permaisuri dan kedua putri Prabu Jayantaka.
Patih Renggala dan Pangeran Gading berdiri bersisian di hadapan Permaisuri Indirasari. Pedang keduanya sudah terhunus. Sudah tampak tekad di mata keduanya seolah kematian tak lagi dirisaukan. Mereka siap dengan apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba para kera diam dan bersimpuh. Mereka semua melihat ke atas dan segera menunduk. Sebuah sosok besar melompat dari atas atap. Ia mendarat dengan keras di tanah hingga menggetarkan bumi. Menghasilkan debu tebal dan retakan tanah yang besar.
“Basugagra!”
“Oh, Pangeran Gading Garjita. Dan ... Permaisuri Indirasari beserta putri-putri cantiknya. Hmm, santapan yang lezat.” Mata merah siluman kera itu menyalang di sela-sela bulu lebat di sekujur wajahnya.
“Bedebah! Apa maumu?” hardik Pangeran Gading.
“Wah, kau mirip sekali dengan Jayantaka! Mulutmu begitu kotor! Oh ya, di mana Jayantaka? Dia meninggalkan keluarganya di sini. Dasar pengecut!” Suara parau Basugagra bahkan mampu menggetarkan tiang bangunan dan memecahkan atapnya.
“Kau terlalu banyak bicara, Siluman!”
Patih Renggala bergerak menyerang dengan kecepatannya. Baginya tak ada gunanya terus berdiam diri mendengarkan siluman kera itu bersilat lidah sesuka hati. Bilah pedang sudah siap menebas lawan. Pria kepercayaan Prabu Jayantaka itu yakin lawan sebesar Basugagra tak akan sempat untuk menghindari kecepatannya.
“Huh! Serangga menyebalkan!”
Basugagra mengangkat telapak tangannya ke arah Patih Renggala. Seketika pria itu terpental hingga tubuhnya menghantam dinding istana putri. Ia meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Pasukanku! Makan malam sudah siap!”

A.R. Ubaidillah
20 Pengikut · 2 Novel