


oleh sree menghalu · 9 Bab
Nadira atau biasa dipanggil Sumiati, gadis cantik yang selalu ceria. Namun, sering mendapatkan siksaan dari ibu kandung dan kakaknya. Ia terlahir dari model terkenal di zamannya. Tekanan sering datang dari keluarga yang menginginkan Nadira mengikuti jejak sang ibu. Tidak seperti kedua saudaranya, Nabila dan Nasyila, Nadira memilih menjadi orang biasa. Membuat ia semakin ditekan oleh sang ibu. Hinaan dan cacian adalah makanan sehari-hari untuknya. Bahkan saat putri kesayangannya yaitu Nabila, hamil di luar nikah, Nadira-lah yang diberi beban untuk bertanggung jawab. Andai bisa memilih, Nadira tidak ingin dilahirkan oleh seorang ibu yang gila sanjungan. Bagaimanakah perjuangan Nadira selanjutnya?
Mentari tak mau menampakkan diri, kabut menyelimuti pagi. Seperti hidup Nadira, yang sering menjadi kelabu. Namun, Nadira atau biasa dipanggil Sumiati, tetap harus bergerak untuk membantu memasak sarapan.
Ia memang seorang anak yang tidak beruntung, hidup dan besar di keluarga berkecukupan. Akan tetapi, diperlakukan layaknya pembantu.
"Dira, nanti kamu ikut mama gantiin kakakmu! Dia lagi nggak enak badan." Normalnya seorang ibu pasti akan meminta dengan lembut. Namun, Maharani tidak pernah melakukan hal itu untuk anak keduanya. sedangkan Dira, harus patuh begitu saja. Mengikuti perintah dari mamanya yang tidak mau dibantah.
"Tapi Ma! Aku ada ulangan." Dira, berusaha membela diri, meski tidak pandai ia anak yang rajin.
"Alah, nyusul aja! Lagian kamu ulangan juga hasilnya 60 ke bawah." Begitulah hari-harinya mempunyai ibu yang selalu menghina.
"Tapi …." Belum sempat kalimat itu terucap. Maharani, telah mendaratkan cubitan di pinggang berisi tersebut.
"Aduh, aduh. Lepas Mah! Sakit." Maharani seolah tuli dengan teriakan anaknya, tidak dihiraukan pekikan memilukan itu.
"Makanya, kamu itu nurut sama mama. Udah bodoh jangan jadi pembangkang juga!" hardik Maharani, sambil melepas dengan kasar cubitan perih tersebut.
Nadira, masih meringis memegang bekasnya dan saat membuka kaos yang dipakainya, nampaklah bekas merah yang hampir lecet. Jika orang lain selalu melarang anak gadisnya memakai pakaian ketat, tapi wanita beranak tiga itu malah menyarankan anak-anaknya demikian.
"Nanti mbok kasih minyak zaitun ya, ayo sekarang sarapan dulu."
Ya, Nadira, lebih merasa disayang pembantu daripada ibu kandung yang kejamnya melebihi ibu tiri.
Gadis cantik tersebut hanya mengangguk pasrah, sebab sudah tidak mau mendapat tindakan yang lebih sakit lagi. Bahkan di saat makan bersama, akan dijatahnya nasi untuk perorangan. Maharani, tidak ingin anaknya gemuk dan penyakitan.
"Ayo makan dulu, nanti keburu nyonya datang." Mbok Jum, menuntun Dira ke dapur dan memberikan piring berisi nasi goreng telur ceplok dengan porsi normal. Akan lain cerita jika Maharani, yang memberi bisa dipastikan hanya setengah porsi dan dengan banyak selada.
Setelah selesai makan, Dira cepat-cepat membereskan dan memanggil satu persatu anggota keluarga untuk segera turun.
"Jangan makan banyak, Dir! Nanti perutmu buncit. Sudah, kamu minum susu saja!" Dengan cepat jari lentik itu merebut piring anak tengahnya, baginya gemuk itu menyusahkan.
"Sayang! Ayo dihabiskan makannya, biar cepet sembuh." Sangat berbeda jika berhadapan dengan Bila, si anak kesayangan. Syila yang jengah pun tidak berselera.
"Aku berangkat dulu!" Nasyila, memang tidak dibebani banyak hal, sebab prestasi akademiknya sudah patut dibanggakan sehingga Maharani jarang berinteraksi dengan bungsunya, membiarkan dengan pilihannya sendiri.
"Kamu siap-siap sana! Awas, jangan malu-maluin mama!" Setiap saat selalu hardikan yang diterima.
"Dira nggak bisa Ma!" Ia yang tidak begitu bisa bergaya mencoba membujuk ibunya.
"Kamu tuh ya, bisa nggak sih nurut aja. Jangan bikin mama darting pagi-pagi!" hardik Maharani lagi.
"Emang dasar Sumiati, udik." Bila, yang katanya sakit itu ikut menyahuti, sepertinya kakaknya tidak sakit. Atau jangan-jangan hanya ingin melihat Dira dimarahi oleh ibu mereka.
"Tuh denger! Kalau Bila nggak sakit, malas juga nyuruh kamu. Sana siap-siap! dandan yang cantik biar nggak kayak pembantu." Maharani, yang harusnya menasehati sang anak justru malah membenarkan dengan sikap kasar putri kesayangannya.
“Aku bakal bikin kamu cantik paripurna, Sumiati.” Bila masuk ke kamar adiknya yang tidak dikunci. Tampak di sana Dira sedang termenung di depan kaca rias. Karena tidak pernah bermain dengan alat-alat tersebut, ia merasa asing.
Kali ini kakaknya benar-benar membantu, bahkan tampak dari pantulan kaca, Dira berubah jauh.
Sosok kucel itu menjadi sangat cantik, apalagi kulit kuning langsat turunan dari sang ayah dan perpaduan wajah Maharani dan Danang. Membuat gadis itu sangat sempurna.
Untuk sesaat, anak pertama di keluarga ini pun ikut terpana. Seolah mengakui, bahwa Dira begitu cocok menjadi seorang model.
"Dira, sudah belum." Maharani terpaku di tempat. Ini benar anaknya yang sering dimarahi itu?
‘Kenapa seperti melihat diriku sendiri di masa lampau?’ bisik hati Maharani.
"Cantik kan Ma? Emang dasar aja si Sumiati, itu malesan." Setelah memuji adiknya, ia tetap memberi hinaan. Itulah Nabila.
Ibunya itu tersenyum canggung, dari tiga anaknya kenapa harus si paling bodoh yang mirip sekali dengannya. Hanya saja Dira tampak lebih berisi dari Maharani sewaktu muda.
"Kamu itu cantik, benar kata kakakmu. Sayangnya males! Jadilah burik."
Dira tidak menanggapi celotehan ibunya. Ia sudah kebal dengan hinaan bahkan caci maki adalah makanannya sehari-hari.
Mereka pun beranjak, berjalan menuju mobil untuk segera sampai ke tempat pemotretan. Sebenarnya Nabila sehat. Hanya sedikit malas dan ingin mengerjai adiknya itu. Namun, siapa sangka justru ia terkejut dengan perubahan sang itik buruk rupa.
"Kalau Dira mau jadi model, apa mama akan tetap sayang sama aku?" ucap Nabila, pada dirinya sendiri. Ia masih tiduran menatap langit-langit kamar adiknya, yang pasti lebih nyaman dan bersih dari pada kamarnya. Sebagai anak pertama, Nabila hanya pandai merawat wajah dan tubuh. Tidak peduli dengan keadaan tempat tidurnya.
"Entah kenapa aku lebih suka Nadira si Sumiati, jadi burik." Nabila masih sibuk bicara sendiri, membayangkan banyak hal yang belum pasti terjadi.
Di tempat pemotretan, Dira merasa asing. Banyak yang berpakaian lebih minim daripada dirinya.
"Kamu tunggu di sini dulu! Mama mau ketemu bos." Maharani meninggalkan anaknya.
Cukup lama ditinggal akhirnya ia punya teman bicara.
"Kamu cantik banget sih Dir, warna kulitmu juga bagus, Indonesia banget." Teman baru Dira, berusaha akrab.
"Makasih, kamu juga cantik putih lagi." Memang di sebelahnya, remaja cindo yang bermata sipit dan berkulit putih.
"Kamu adiknya kak Nabila, yang mau main film itu ya?" tanyanya lagi. Dira, mengernyit bingung.
“Dira, ayo.” Belum puas mereka mengobrol. Maharani, menarik tangan anaknya untuk segera mengikuti ke ruang pemotretan.
Sesampainya di sana banyak orang terpaku dengan sosok cantik model pengganti.
"Ini loh anak kedua saya, nggak kalah cantik kan sama Nabila?" ucap Maharani, sambil mendorong pelan anaknya untuk menjabat tangan sang bos.
Saat tangan yang sudah tak lagi muda itu akan menyentuh dagunya, Nadira mengelak dengan cepat sehingga sang bos itu hanya menyentuh angin. Matanya jelalatan tidak sopan, memindai tubuh Nadira, dari atas sampai bawah. Tampak berkali-kali ia menjilat bibirnya sendiri. Membuat Nadira semakin ketakutan dan mundur beberapa langkah.
"Maaf dia masih malu-malu." Maharani, yang tahu bosnya memandang dengan tidak suka atas sikap anaknya pun mewakili minta maaf.
"It's ok. Boby! Nadira, dulu yang diambil gambarnya!" Sang bos memanggil anak buahnya untuk mendahulukan sosok bak bidadari pengganti model kesayangannya.
Karena ini yang pertama, membuat Nadira kaku bagaikan patung manekin.
"Ayo lebih luwes Dira, dagunya diangkat dikit. Iya, ok tahan."
Cekrek, foto terakhir telah berhasil diambil. Namun, Maharani, tidak puas dengan hasilnya. Akan tetapi, sang bos menyukainya.
Setelah pemotretan selesai, Maharani pamit sebentar untuk ke toilet. Sedangkan Nadira duduk sendiri menunggu ibunya.
"Kamu nggak pengen jadi model?" Sang bos berusaha mendekati Nadira, berharap dapat menikmati seperti model-model lainnya.
"Maaf aku nggak suka modeling.” Nadira berusaha santai meski ia waspada dengan tingkah bos dari kakaknya itu yang terang-terangan buayanya.
"Kamu justru lebih menarik dari Nabila, tubuh yang sangat pas untuk ...." Belum sempat sang bos meneruskan ucapannya, Maharani telah keluar dari kamar mandi.
"Loh, ada apa, Bos?" tanyanya heran, tidak biasanya seorang bos menemani model pengganti.
"Oh, itu mau menawarkan Dira untuk jadi model resmi. Siapa tahu mau mengikuti jejak kakaknya?" elak sang bos yang hampir saja kebablasan, sebab sudah tidak tahan melihat kemolekan anak Maharani.
Meskipun heran sebab tadi ia merasa Nadira tidak cocok bergaya, tapi tetap hatinya senang bos puas dengan kerja anaknya.
"Nanti saya bujuk dulu, ini tadi lumayan sulit dibawa kemari," jawab Maharani, tertawa dibuat-buat.

sree menghalu
0 Pengikut · 1 Novel