


oleh Mrs. Fmz · 100 Bab
Puluhan obor menyala terang di depan gubuk tua yang sunyi. Warga berteriak memanggil nama Mikaela dengan penuh amarah yang meluap-luap. Di dalam ruangan, Yudha berdiri tegak menyembunyikan Mikaela di belakang tubuhnya yang kokoh. "Kalian harus menikah malam ini juga atau desa ini akan menghukum kalian!" teriak kepala desa dengan lantang. Yudha mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Sorot matanya yang tajam menatap kerumunan massa tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku akan menikahinya sekarang!" tegas Yudha. Sekarang Mikaela harus menghadapi kenyataan pahit sebagai istri sang penguasa.
Kegelapan malam di pinggiran desa itu mendadak sirna oleh jilatan api dari puluhan obor yang mengepung gubuk tua di tengah hutan. Cahaya merah menyala dari setiap sudut hamparan hutan jati yang rindang, menjadikan bayangan pepohonan besar seperti makhluk raksasa yang siap menyerang. Udara malam yang biasanya sejuk kini terasa panas dan penuh dengan bau kayu bakar, keringat manusia, dan aroma tanah lembap yang terganggu oleh hiruk-pikuk massa.
Mikaela meremas ujung jas putihnya hingga buku-buku jemarinya memutih dan telapak tangannya berkeringat dingin karena ketakutan yang luar biasa, seolah darah di dalam tubuhnya telah membeku.
Di hadapannya, ratusan warga berteriak menghakimi dengan wajah yang merah padam akibat amarah yang terus meluap-luap; beberapa mengayunkan tongkat kayu atau bambu, seolah siap menyerang kapan saja.
"Keluar kalian dari gubuk itu sekarang atau kami akan membakarnya bersama kalian di dalam!" teriak seorang pria berbadan kekar dengan dada lebar dan lengan penuh otot, sambil mengayunkan obor yang membuat nyala api bergoyang liar ke arah langit malam. Suaranya seperti guntur yang mengguncang udara, membuat dinding gubuk tua yang berdiri sejak puluhan tahun lalu sedikit bergetar.
Di belakangnya, sekelompok wanita dengan kain batik melilit pinggang berteriak bersama, matanya penuh dengan kemarahan dan keyakinan bahwa mereka sedang membela kehormatan desa yang telah ada sejak zaman nenek moyang. Beberapa di antaranya membawa anak-anak kecil yang disiapkan menyaksikan adegan ini, sebagai pelajaran tentang apa yang akan terjadi pada mereka yang mengotori nama baik desa.
Mikaela menoleh dengan tubuh yang menggigil ke arah pria yang duduk bersandar di sudut ruangan dengan punggung menempel pada tembok kayu yang sudah lapuk dan berlubang. Napasnya sudah mulai tersengal-sengal menahan perih yang tidak terbayangkan, setiap hembusan napasnya mengeluarkan suara mendesah yang hampir tidak terdengar di tengah keributan luar.
Seragam loreng milik pria itu – yang biasanya rapi dan menjadi simbol kekuasaan serta kehormatan – kini sudah basah kuyup oleh noda merah yang terus melebar dengan sangat cepat dari bahu kirinya; darah merembes melalui jahitan seragam, menetes perlahan ke lantai tanah liat yang kotor.
Yudha hanya diam membisu sambil menekan luka tembaknya dengan tangan kirinya yang kuat, jemarinya menekuk erat pada bagian yang terluka guna menahan aliran darah yang keluar secara terus-menerus.
"Tolong katakan sesuatu pada mereka, Tuan, nyawa kita benar-benar dalam bahaya besar sekarang," bisik Mikaela dengan suara parau yang bergetar hebat, bibirnya yang kering bergoyang karena ketakutan dan kekhawatiran yang meluap.
Ia berdiri tepat di belakang Yudha, tubuhnya yang ramping terlihat sangat kecil dan tidak berdaya di sisi pria yang dikenal sebagai penguasa tertinggi di kesatuan militer sekaligus pimpinan perusahaan besar. Jas putihnya yang ia kenakan sebagai seragam mahasiswi kedokteran kini sudah mulai kusut, terkena percikan tanah dan debu dari lantai gubuk yang tidak pernah dibersihkan secara benar.
Yudha menarik napas panjang dengan usaha besar, dadanya terangkat perlahan seolah setiap gerakan menyakitkan. Ia mencoba berdiri tegak meskipun tubuhnya terlihat sedikit limbung akibat kehilangan banyak darah; kakinya yang kuat sedikit goyah ketika menekan bagian lantai untuk mendapatkan daya dukung.
Ia menatap Mikaela dengan sorot mata tajam yang menusuk seperti pisau, membuat gadis itu merasa semakin ciut dan tidak berdaya di bawah bayang-bayang maut yang mengancam.
Luka yang dideritanya –yang membuat sebagian otot bahunya terlihat terbuka– tidak melunturkan sedikit pun wibawa alaminya; aura kekuasaan dan keberanian yang terpancar dari tubuhnya masih terasa jelas.
"Tetaplah di belakangku dan jangan pernah lepaskan genggamanmu pada pakaianku, apa pun yang akan terjadi nanti," perintah Yudha dengan nada rendah dan tegas, suaranya terdengar seperti gemuruh yang datang dari dalam dada.
Ia tidak melihat ke arah Mikaela lagi, matanya sudah mulai terpaku pada pintu gubuk yang sudah mulai bergetar akibat benturan dari luar. Jari-jari tangannya yang masih menekan luka sudah mulai berwarna kebiruan akibat kurangnya darah, namun ia tetap tidak melepaskannya.
Pintu gubuk tua itu akhirnya didobrak paksa dari luar hingga engsel kayu yang sudah lapuk terlepas dan menghantam lantai tanah dengan suara dentuman yang sangat keras, membuat debu dan serpihan kayu terbang ke segala arah.
Cahaya obor menyilaukan mata Mikaela yang sejak tadi menangis tersedu-sedu karena rasa takut yang mencekam seluruh jiwa. Ia terpaksa menutup matanya sebentar sebelum bisa melihat dengan jelas siapa yang masuk. Kepala desa melangkah masuk dengan langkah yang gagah dan penuh dengan keyakinan, tubuhnya yang sedikit bungkuk karena usia masih terlihat kokoh dan penuh dengan kekuasaan.
"Kalian telah mengotori desa kami dengan perbuatan nista di malam suci ini!" tuduh kepala desa dengan telunjuk yang gemetar hebat karena murka, ujung jarinya menunjuk tepat ke arah Mikaela yang kini semakin menyembunyikan diri di belakang Yudha.
Suaranya yang kasar dan penuh dengan kemarahan menggema di dalam ruangan kecil gubuk, membuat setiap orang yang ada di sekitarnya terdiam sejenak sebelum mulai berteriak kembali.
"Malam ini adalah malam di mana kami berdoa untuk memohon berkah dari nenek moyang, malam di mana desa kami harus tetap suci! Namun kalian berdua memilih untuk melakukan hal yang keji!"
Yudha melangkah maju satu tindak dengan usaha besar, setiap langkah membuatnya merasa seperti sedang membawa beban berat yang tak terkira.
Darah segar menetes dari ujung jemarinya dan membasahi tanah kering di bawah kakinya secara berulang-ulang, membuat jejak merah yang jelas di setiap tempat yang dilangkahinya. Ia tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun; wajahnya tetap datar dan penuh dengan ketegasan, seperti seorang prajurit yang sedang menghadapi musuh di medan perang.
"Saya adalah seorang prajurit dan saya tidak akan membiarkan kalian menyentuh gadis ini seujung kuku pun!" gertak Yudha hingga suaranya menggelegar dan membuat beberapa warga yang berdiri di depan terdiam sejenak.
Sorot mata Yudha yang sedingin es membuat nyali beberapa warga seketika menciut dan mereka memilih untuk melangkah mundur dengan sangat teratur. Namun, amarah massa yang sudah tersulut fitnah keji tidak bisa dipadamkan hanya dengan kata-kata tegas saja; beberapa di antaranya mulai mengangkat obor mereka lebih tinggi.
"Hanya ada dua pilihan bagi kalian malam ini, mati atau menikah di depan kami semua sebagai penebus dosa!" ancam seorang warga dengan wajah yang bengis dan mata yang merah karena kemarahan, sambil mengangkat ember minyak ke arah langit.
Suaranya yang kasar membuat Mikaela merasa seperti ada pisau yang menusuk perutnya, membuatnya semakin menggigil dan meraih seragam Yudha dengan lebih erat.
Di sekitarnya, warga mulai menyanyi lagu-lagu tradisional yang biasanya dinyanyikan saat pernikahan, namun kali ini terdengar menyeramkan.
Mikaela memejamkan mata rapat-rapat sambil membayangkan masa depannya sebagai mahasiswi kedokteran yang akan hancur berkeping-keping.
Ia membayangkan wajah orang tua yang penuh dengan kebanggaan, wajah teman-teman sekelasnya yang selalu bersama belajar, serta ruang operasi yang selalu menjadi impiannya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa misi kemanusiaan yang dijalaninya akan berakhir dalam sebuah pernikahan paksa yang sangat memuakkan. Isak tangisnya semakin pecah saat ia merasakan tangan dingin Yudha menggenggam jemarinya dengan sangat erat.
"Baiklah, aku akan menikahinya sekarang juga di hadapan kalian semua sebagai saksi yang sah dan mutlak!" ucap Yudha dengan suara lantang yang terdengar jelas di tengah keributan.
Setiap kata yang keluar dari mulutnya diucapkan dengan penuh tekad, meskipun matanya menunjukkan bahwa ia tahu keputusan ini akan mengubah hidup mereka berdua secara total. Suaranya yang kuat membuat semua orang terdiam sejenak.
Lantang suara Yudha menjadi awal bencana baru bagi masa depan Mikaela yang hancur berkeping-keping tanpa sisa sedikit pun.

Mrs. Fmz
0 Pengikut · 2 Novel