Namaku Bima Wiranata, pemuda Jawa yang lama tinggal di Bandung. Ibuku seorang guru sekolah dasar berdarah Solo, ayahku seorang petani di Jawa Barat. 1955, saat aku berusia lima tahun kami memutuskan untuk pindah ke Bandung. Kami tinggal di dataran tinggi, udaranya dingin sekali, ayah bilang kondisi tanah di sini sangat bagus untuk bercocok tanam.
Rintik hujan bergema mengisi keheningan ruangan tua yang lapuk. Hanya ada cahaya senja tanpa terang lampu, sebentar lagi akan berganti dengan cahaya rembulan. Aroma rempah yang khas melekat di sela jariku. “Mas, tolong antarkan ini ke rumah Pak Harta.” Lena menyodorkan sekantong rempah pesanan yang telah dibungkus rapi.
Aku tersenyum tipis saat menerimanya dari tangan adikku. “Sudah selesai semua, atau masih ada yang perlu kubantu?” ucapku sambil memainkan alis, memastikan semua pesanan telah beres. “Besok pagi aku akan ke rumah Tuan Haryo untuk mengantar rempah yang dia pesan minggu lalu,” lanjutku.
“Kenapa tidak sekarang saja? Rumah mereka kan searah, jadi besok Mas bisa istirahat sebelum kembali ke kebun.”
Aku terkekeh mendengar jawaban Lena. “Aku juga ingin begitu, tapi kita tahu Tuan Haryo seperti apa. Jika tidak sesuai kesepakatan, pesanan tidak akan diterima. Jadi lebih baik besok pagi saja aku antar.”
Sepeda tuaku melaju menuju rumah yang ada di ujung jalan sana dengan membawa rempah di kedua bagian belakang sepeda, semakin malam udara di sini semakin sejuk, rasanya seperti ikut menyelinap ke tiap bagian tubuhku.
“Punten, Bi saya mau antar pesanan Bapak. Mau disimpan di mana?”
“Ada si ganteng, simpan di situ saja nuhun ya ganteng”
“Sami-sami, Bi.”
Suara langkah kaki terdengar di belakangku, langkahnya tenang, sudah pasti ini perempuan. Aku membalikkan badanku, seketika terpaku saat melihat paras cantik nan putih itu. Dia memberikan senyuman tipis tanpa ada satu kata pun dan langsung masuk begitu saja.
“Sudah lihatnya, nanti ketahuan Bapak, kamu yang dimarahin.”
“Siapa Bi itu, baru lihat sepertinya bukan pribumi.”
“Itu Non Kirana, anaknya Tuan Haryo. Dia lama tinggal di Belanda, istrinya kan bukan pribumi jadi wajar kalo parasnya tidak seperti pribumi.”
Aku mengangguk paham, 15 tahun aku tinggal di Bandung baru tahu jika Tuan Haryo mempunyai anak secantik ini, hatiku rasanya sangat hangat meskipun hanya sekian detik saja senyuman gadis cantik itu kulihat.
Kukayuh kembali sepeda tua itu, kembali berjalan menelusuri jalanan gelap dengan cahaya redup yang khas, aroma udara sejuk, dan wewangian yang hanya ada di sini, di Bandung. Baru saja setengah perjalanan rantai sepedaku lepas, lagi dan lagi.
“Ayolah Romo.” Nama sepeda tua itu. “Awas ya kuganti kau lama-lama, setelah aku punya uang nanti.”
Tidak lama hujan turun deras sekali secara tiba-tiba, kudorong sepeda tua ini menuju gubuk yang tidak jauh jaraknya, bajuku basah, tapi setidaknya aku dapat berlindung dari hujan.
Cukup lama aku menunggu hujan reda, sebuah mobil berhenti tepat di depanku, kacanya perlahan terbuka menampilkan wajah yang sama, baru saja kulihat wajah itu beberapa jam lalu. Aku segera berdiri, merengkuhkan badanku sebagai tanda hormat yang kemudian dibalas dengan senyuman.
“Kau.”
“Bima, nama saya Bima.”
Dia menutup kembali kaca mobilnya, lalu pergi, hanya seperti itu? Entah apa yang dia pikirkan, berhenti hanya untuk mengeluarkan satu kata saja.
“Setidaknya aku melihat kembali wajah tenang itu, meskipun sedikit menakutkan.”
Hujan telah reda, aku bergegas pulang takut alam berubah pikiran. Sesampaiku di rumah, ayah dan ibu tengah menunggu di ruang depan.
“Bim, kau tidak ingin lanjutkan pendidikanmu?”
“Pergilah kau ke negeri orang, belajar dan gapai impianmu di sana,” ucap Ayah.
Aku duduk di samping ibu, lalu kupegang tangannya. “Kalau Bima pergi, nanti siapa yang akan bantu Ayah di kebun, jaga Ibu dan Lena.” Ibu mengusap punggungku “Aku senang ada di sini, bantu Ayah dan Ibu,” sambungku kembali.
“Ekonomi keluarga kita sudah stabil dan bahkan meningkat, kau tidak perlu khawatir Bima. Nanti Ayah bisa nambah pegawai untuk bantu urus bisnis keluarga.”
“Betul itu, Nak, pergilah gapai impianmu untuk jadi Insinyur.”
“Iya, nanti kupikirkan kembali. Sekarang Ayah dan Ibu istirahat, sudah malam.”
Keesokan paginya, aku kembali dengan sepeda tuaku dan barang pesanan di belakangnya. Hari ini tidak seperti biasanya, aku sangat bersemangat untuk mengantar pesanan rempah dengan harapan aku bisa bertemu kembali dengan gadis cantik itu.
Sesampaiku di sana, baru saja sampai bahkan aku belum turun dari sepedaku, dia sudah terlihat duduk di depan dengan secangkir minuman di tangan kanannya. Gaun putih khas noni Belanda dan tutup kepala yang dia kenakan semakin mempercantik tampilannya.
Dia beranjak dari duduknya saat aku turun dari sepeda tuaku, kuambil pesanan Tuan Haryo berjalan mendekat ke rumah berkayu jati yang terlihat sangat mewah di sana.
“Permisi, saya ingin mengantar rempah pesanan Tuan,” ucapku pada dua orang penjaga berbaju hitam yang terlihat sangat menakutkan.
“Simpan di situ,” ucap gadis yang kini berjalan mendekat, tatapannya seolah memberi instruksi agar kedua penjaga tersebut pergi. “Kita pernah bertemu.”
“Tadi malam,” ucapku dengan mata berbinar.
“Bukan hanya itu, tapi jauh sebelum tadi malam aku sudah melihatmu.”
Aku mengernyitkan alisku, kapan kita bertemu, bahkan aku saja baru tahu jika dia adalah anaknya Tuan Haryo
“Kau sekolah di Dago, aku pernah melihatmu dua tahun lalu, tapi hari itu adalah hari terakhirku di Indonesia sebelum aku terbang ke Belanda untuk melanjutkan sekolahku di sana, jadi wajar jika kau tidak mengenalku, oh iya namaku—“ ucapnya terpotong.
“Kirana Larasati Kusuma, putri tunggal Tuan Haryo Kusuma, lahir di Bandung usia lima tahun kembali lagi ke Belanda, lalu sempat tinggal satu tahun di Indonesia sebelum akhirnya kembali lagi ke Belanda dan baru tiba lagi di Indonesia lima hari lalu,” jelasku pada Kirana, tak dipungkiri raut wajah kaget itu terpancar.
“Dari mana kau tahu?’
“Seseorang memberitahuku, sepertinya aku harus kembali terima kasih untuk pesanan dan waktunya. Mari, Nona.”
Keberuntungan seperti ini apakah akan terulang kembali, berbincang sangat lugas dengan keturunan Haryo Kusuma. Aku sering berbincang dengan gadis desa lain, tapi yang ini rasanya berbeda, ada perasaan yang tidak bisa aku jelaskan, sudah dipastikan bahwa aku jatuh cinta. Namun, apakah cinta ini diperbolehkan?
Rasanya bagi pria sepertiku jatuh cinta pada gadis bangwasan adalah suatu hal yang salah, sangat salah bahkan, tetapi Ayah pernah bilang aku boleh jatuh cinta kepada siapa pun selagi dia sama-sama makan nasi, jadi sepertinya aku boleh saja jatuh cinta pada Kirana. Ah, sialnya aku lupa bahwa orang seperti dia sering kali memakan roti.