


oleh Mu'ala · 32 Bab
Anjani tahu cara menempatkan situs web di peringkat pertama Google, tapi ia tidak punya petunjuk bagaimana mengatur hatinya. Saat aplikasi 'Soulmate.ID' memasangkannya dengan Arya, si influencer sombong yang pernah membuatnya hampir mengundurkan diri, Anjani yakin algoritma itu rusak. Dari insiden tahu isi yang memalukan hingga misi rahasia untuk meretas sistem perjodohan, Anjani terjebak dalam permainan yang tidak bisa ia menangkan dengan logika. Apakah cinta adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa diprediksi oleh data?
Anjani menunjuk grafik batang hijau yang menjulang tinggi di layar proyektor. Angka-angka berjejer rapi, memaparkan analisis tren pencarian bulanan. Suaranya datar, tanpa emosi berlebih.
"Peningkatan traffic organic sebesar 17% ini adalah hasil optimasi kata kunci pada kategori 'perlengkapan bayi' yang kami targetkan. Rasio konversi juga menunjukkan kenaikan signifikan, dari 1,2% menjadi 1,8% dalam dua kuartal terakhir."
Di hadapannya, tiga petinggi klien hanya mengangguk-angguk. Mata mereka lebih fokus pada deretan data daripada penjelasannya. Anjani tidak peduli. Baginya, data adalah kebenaran universal, logis, dan tidak bisa dibantah. Tidak ada ruang untuk interpretasi berlebihan, apalagi emosi.
"Strategi SEO yang kami rancang telah terbukti efektif dalam meningkatkan visibilitas dan konversi." Anjani menyimpulkan. "Kami merekomendasikan untuk melanjutkan fokus pada long-tail keywords dan content pillar terkait edukasi parenting untuk mempertahankan momentum ini."
Selesai. Anjani menutup laptopnya. Tepat waktu, bahkan tanpa jeda napas. Dia mengulas senyum tipis, profesional, dan sedikit kaku. Klien membalas dengan senyum yang sama, lalu pamit setelah jabat tangan singkat.
Anjani melangkah keluar ruang rapat, derap langkahnya mantap. Dia menyusuri lorong kantor yang ramai, pandangannya lurus ke depan. Meja kerjanya yang tertata sangat rapi, sudah menunggu. Di sana, tumpukan berkas berwarna senada berjajar sempurna, siap dioptimasi.
"Anjani, presentasi tadi gila banget!" seru Alisa, sahabat sekaligus rekan kerjanya, menghampiri dari arah mesin kopi.
Kevin, rekan kerja lain, mengikutinya dengan cengiran lebar.
Anjani mengernyit tipis. "Gila dalam artian apa nih?"
"Gila kerennya, dong!" Alisa memukul pelan bahu Anjani. "Gimana bisa kamu menjelaskan data serumit itu dengan sangat tenang? Klien sampai tidak berkutik."
"Data berbicara sendiri, Alisa," jawab Anjani, mengibaskan tangan. "Tidak perlu drama."
Kevin tertawa. "Nah, itu dia masalahnya. Anjani itu robot, tidak punya drama."
Anjani melipat tangan di dada. "Aku hanya efisien. Emosi adalah variabel yang tidak terukur dan seringkali mengacaukan analisis."
"Itulah kenapa kamu belum pernah pacaran sejak terakhir kali SMA, 'kan?" Alisa menyikut Anjani. Nadanya terdengar jahil.
Wajah Anjani mengeras. Dia membenci topik ini. "Hubungan romantis tidak relevan dengan metrik kesuksesan professional milikku. Aku tidak membutuhkan validasi dari seorang pria untuk merasa lengkap."
"Bukan validasi, Anjani." Kevin menimpali, menyandar pada kubikel mereka. "Ini tentang koneksi manusiawi. Pengalaman hidup. Growth pribadi."
"Itu semua bisa aku dapatkan dari membaca buku atau mengikuti seminar daring." Anjani membalas cepat. "Tanpa kerumitan emosional."
Alisa menggeleng-gelengkan kepala. "Kamu terlalu banyak berpikir dengan logika, Anjani. Hidup tidak selalu bisa diatur dengan rumus 'jika ini maka itu'. Kadang, perlu ada faktor drama cinta."
"Drama cinta itu apa? Sebuah bug dalam sistem?" Anjani mendengkus. "Tidak ada data yang menunjukkan bahwa cinta secara konsisten meningkatkan kebahagiaan jangka panjang. Bahkan, seringkali memicu stres dan ketidakstabilan emosi."
"Justru itu tantangannya!" Kevin tersenyum penuh arti. "Bagaimana kalau kamu coba aplikasi kencan?"
Anjani menatap Kevin seolah baru saja menawarkannya untuk memakan kaktus.
"Aplikasi kencan? Itu adalah algoritma paling random dan tidak efisien yang pernah ada. Menjanjikan jodoh berdasarkan swipe kiri-kanan dan beberapa pertanyaan dangkal? Tidak masuk akal!"
"Soulmate.ID tidak seperti itu, Anjani." Alisa menjelaskan dengan nada lebih serius.
"Algoritmanya diklaim paling canggih. Aplikasi itu katanya menganalisis pola perilaku, preferensi, bahkan kepribadian berdasarkan jawaban yang mendalam. Mereka bahkan punya machine learning yang terus belajar dari interaksi penggunanya."
"Omong kosong," potong Anjani. "Tidak ada algoritma yang bisa memahami kompleksitas hati manusia. Itu hanya akan menciptakan ilusi koneksi berdasarkan data yang terbatas."
"Tapi bagaimana kalau algoritma itu justru lebih tahu tentang kamu daripada kamu sendiri?" Kevin menantang, matanya berbinar nakal. "Bagaimana kalau dia bisa menemukan orang yang sempurna untukmu?"
Anjani tertawa sinis. "Tidak ada yang sempurna. Dan bahkan jika ada, aku tidak akan mempercayakan hal sepenting itu kepada sepotong kode. Itu sama saja menyerahkan hidupku pada captcha."
"Kamu takut, ya?" Alisa menyipitkan mata. "Takut kalau ternyata kamu salah. Takut kalau hatimu bisa diukur dan diprediksi."
Kata-kata Alisa menusuk Anjani lebih dalam dari yang dia perkirakan. Anjani diam, ekspresinya berubah.
‘Takut? Tentu saja tidak. Aku hanya realistis.’ Anjani menolak ide kerentanan hatinya.
Masa lalu telah mengajarkannya untuk mengandalkan data, bukan perasaan yang mudah berubah. Perasaan hanya membawa kekacauan.
"Aku tidak takut," jawab Anjani, suaranya lebih rendah. "Aku hanya tidak melihat urgensinya. Return on investment-nya terlalu rendah."
"Bagaimana kalau kita membuat tantangan?" Kevin tiba-tiba mengusulkan.
"Kamu daftar di Soulmate.ID. Isi profilmu apa adanya. Kalau dalam satu bulan kamu tidak menemukan satu pun match yang membuatmu sedikit saja penasaran, kami tidak akan pernah mengungkit soal pacar lagi. Tapi kalau ada–"
"Kalau ada, apa?" Anjani memotong, matanya menyiratkan keraguan.
‘Ini ide gila. Benar-benar gila,’ cibirnya dalam hati.
"Kalau ada, kamu harus mencoba setidaknya satu kencan." Alisa melanjutkan, senyumnya mengembang. "Atas nama pengalaman. Atas nama data baru."
Anjani memikirkan tawaran itu. Sebuah tantangan logis. Jika dia benar, mereka akan berhenti mengganggunya. Jika dia salah ….
‘Tidak mungkin salah,’ seru Anjani dalam hati, algoritma tidak akan pernah bisa menjebaknya.
Anjani terlalu pintar untuk urusan algoritma, dia bisa mengakali sistem apa pun, analis ulung, penemu pola. Dia hanya perlu membuktikan pada rekan kerjanya’ bahwa romansa digital adalah fiksi.
Dia meraih ponsel, merasakan berat di tangan. Layar ponsel memancarkan cahaya dingin ke arah wajahnya. Dia membuka Play Store, mencari aplikasi yang Alisa sebutkan.
Soulmate.ID
Logo hati yang terbuat dari rangkaian angka biner muncul. Sebuah ironi yang menyebalkan. Alisa dan Kevin menahan napas, menunggu. Anjani menatap layar, jari telunjuknya melayang di atas ikon ‘Daftar’.
Sebuah eksperimen baru akan dimulai, sebuah studi kasus. Sama sekali bukan usaha mencari cinta.
‘Tidak ada yang salah dengan mengumpulkan data, kan?’ Anjani membatin sekali lagi, mengangkat pelan kedua bahunya.
Jantung Anjani berdebar, sedikit lebih cepat dari biasanya, jemarinya kemudian menekan tombol 'Daftar' dengan rasa kesal yang menggelegak.

Mu'ala
17 Pengikut · 5 Novel