"Plak!"
Suara tamparan mengenai wajah Misael yang sedang tertidur pulas, membuatnya terkejut saat bangun.
"Kenapa kamu tega? Kenapa, El!" seru wanita itu dengan nada marah dan sedikit bergetar, air matanya mulai menggenang di sudut matanya.
Misael masih merasa bingung, tapi saat dia melihat sekeliling dan menyadari situasinya, dia merasa seperti dipukul keras. "Astaga!" serunya. Wajahnya pucat pasi karena syok.
Wanita itu, kekasih sahabatnya, memiliki kondisi yang sama dengannya. Dia mulai menangis, suaranya lirih tapi penuh kesedihan. "Apa yang kita lakukan?" Dia berbisik, tapi Misael tidak bisa menjawab.
Wanita itu bangkit dari duduknya, pergi mengambil pakaiannya lalu menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia keluar dengan wajah masih basah oleh air mata.
"Anggap ini gak pernah terjadi," katanya dengan nada dingin, tapi tangannya masih gemetar. "Kalaupun aku hamil, aku tetap gak mau kamu tanggung jawab. Aku sudah tunangan dengan Luke, Misael."
Setelah mengatakan hal itu, dia segera pergi dari sana, meninggalkan Misael yang terdiam membisu. Pikirannya penuh dengan pertanyaan dan kekhawatiran.
***
"Kenapa kau melamun?" tegur sang kakak, nada suaranya lembut.
Misael tersenyum tipis. "Ah, aku hanya mengingat momen di mana saat anakku lahir tanpa seorang ibu, Kak," ujarnya dengan nada sedih, tapi tanpa ekspresi yang kuat.
Kakaknya menghela napas. "El, itu sudah berlalu. Kamu tidak perlu merasa bersalah terus. Teruslah hidup dan temukan kebahagiaan bersama anakmu. Besok dia ulang tahun, jadi jangan sampai kau bersedih lagi, okay?"
Misael menatap sang kakak yang juga tersenyum, sambil menepuk pelan pundaknya. "Aku pergi dulu, bye," katanya dengan senyum tipis.
***
Ponsel Misael berdering keras, memecahkan keheningan di ruang kerjanya. "Ya, halo Ma?" jawab Misael dengan nada lembut.
"Nak, kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya mama Misael, suaranya penuh perhatian.
"Jam 5 sore Ma, ada apa?" jawab Misael, penasaran dengan pertanyaan ibunya.
"Ah, baguslah! Kamu harus bantu Mama menyiapkan ulang tahun Rion, okay? Bye, Sayang," jelas mamanya singkat sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
Misael menghela napas lega dan menyandarkan bahunya di sofa ruang kerjanya.
***
"Minggu depan komponis favoritmu akan tampil, Rhe," ujar Bunga, sepupunya, dengan senyum gembira.
Rhema, yang sedang makan, sedikit terbatuk sebelum menjawab, "Benarkah? Aaaa ..., senangnya! Semoga dia masih single, amin ya Tuhan."
Bunga menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kau ini, ngefans boleh tapi nggak usah menghalu, mana mau dia dengan gadis seperti kamu, ahahahah."
Rhema yang kesal pun menarik rambut Bunga.
"Aduh, Rhe! Sakit, woi! Ya ampun, gadis gila kau ya, lepaskan!" seru Bunga sambil berusaha melepaskan diri dari Rhema.
Tiba-tiba, mami Rhema muncul dan bertanya, "Ya ampun, apa yang kalian lakukan?"
Rhema dan Bunga terkejut dan langsung menoleh. "Anu, itu ..., kami sedang bermain. Iya, benar 'kan, Kak?" kata Rhema sambil mengedipkan mata ke arah Bunga, yang masih kesal karena rambutnya ditarik.
Bunga segera mendukung, "Iya, Tante, kami hanya mengakrabkan diri sebagai saudara."
Mami Rhema tersenyum dan mengingatkan, "Baiklah, segera selesaikan piring kalian. Mami mau pergi dulu, Nak."
Rhema dan Bunga menjawab serempak, "Hati-hati, Mami!" dan "Hati-hati, Tante!" sambil tersenyum dan melambaikan tangan.
***
Sepasang suami istri menikmati malam indah mereka di sebuah villa di Bali, dikelilingi oleh pemandangan yang mempesona. "Baby, kamu tidak ingin ke Jogja?" tanya sang suami, sambil memandang istrinya dengan penuh cinta.
Sang istri berekspresi datar, tidak terlalu peduli. "Ngapain?" jawabnya singkat.
Pria tersebut tertawa lembut. "Anakmu 'kan berulang tahun. Masa kamu tidak ikut merayakan bersama ayahnya?" tanya suaminya, ingin melihat respon istrinya.
Wanita itu menatap suaminya dengan sinis. "Ck, menyebalkan. Aku tidak akan mengakui kalau itu anakku. Aku sungguh menyesal membiarkan dia hidup di rahimku. Harus aku mendengarkan saranmu," katanya dengan nada dingin.
Sang suami tidak terlalu peduli dengan reaksi istrinya. "Sudahlah, jangan kamu sesali. Toh anak itu bersama ayahnya, biarkan saja," ujarnya dengan nada santai.
"Baby, ayo kita bersenang-senang. Tidak usah bahas mereka, okay?" ajak suaminya, mencoba mengalihkan perhatian istrinya.
"Okay," jawab wanita itu, sambil mengedipkan matanya dengan genit. Suasana kembali menjadi santai, dan mereka menikmati malam bersama, jauh dari masalah yang membebani mereka.
***
"Rhema, tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya," mohon Doni, kekasih Rhema, dengan nada yang penuh harap. Mereka saat ini berada di sebuah mall di pusat Kota Jogjakarta.
"Tidak, aku tidak mau dengar apa pun, Doni. Hubungan kita sampai di sini saja," kata Rhema dengan tegas, lalu pergi begitu saja tanpa mendengarkan teriakan Doni.
Di tempat lain, Erlangga, seorang dokter muda dan tampan, sedang berbicara dengan temannya. "Anak muda jaman sekarang terlalu dramatis, bukan?" tanya Erlangga.
"Kau juga masih muda, Erlangga," jawab temannya.
"Panggil aku Erlangga atau Er saja, biar keren," kata Erlangga sambil mengedipkan mata.
"Ayo pulang," kata Misael kemudian. Erlangga tertawa terbahak-bahak. Mereka segera meninggalkan restoran Jepang itu dan lanjut membelikan hadiah untuk Rion.
Sementara itu, Rhema mengendarai mobilnya dengan marah. "Sungguh menyebalkan sekali, laki-laki seperti itu," katanya pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan pernah mempercayainya lagi." Ia menuju perusahaan penerbitan, masih merasa kesal dengan sikap Doni.
Brak! Rhema membanting pintu saat masuk ke ruang kerjanya, membuat Ayudia, rekan kerja dan teman dekatnya, terkejut.
"Astaga, Rhema! Kau mengagetkan aku. Ada apa?" tanya Ayudia dengan nada yang penuh perhatian.
Rhema menghela napas, lalu duduk di kursinya dan memejamkan mata, seolah-olah mencoba menenangkan diri.
"Kau sudah makan?" tanya Ayudia.
"Belum," jawab Rhema dengan suara yang sedikit lembut.
"Lalu tadi kau bilang mau ke mall? Kenapa tidak makan?"
Rhema kemudian menatap Ayudia dengan mata yang merah.
"Kau tahu Doni, laki-laki gila itu, berselingkuh?" Ayudia terkejut, matanya terbuka lebar.
"Apa kau lihat dia dengan ...?"
"Ya, aku lihat mereka sangat mesra. Benar-benar tidak menyangka. Kami sudah putus sekarang," kata Rhema dengan nada yang penuh kesedihan.
"Baguslah, lebih baik kau akhiri saja. Lagipula, Doni itu toxic, aku tidak setuju jika kau bersamanya," kata Ayudia dengan nada yang penuh empati.
"Ya, untungnya kami baru 6 bulan," jawab Rhema, sedikit menghela nafas.
"Iya, selamat," kata Ayudia dengan senyum.
Rhema heran.
"Selamat untuk apa?"
"Hahaha, karena kau jomblo sekarang!" Ayudia tertawa, membuat Rhema tersenyum sedikit.
"Ck, dasar!" Rhema menggelengkan kepala, tidak bisa tidak tersenyum dengan lelucon Ayudia.
***
"Aku pulang," kata Misael, membuka pintu rumahnya dengan langkah yang tenang.
"Papa!" panggil Rion, anak kecil yang sedang berada di pangkuan ibunya. Namun, Misael tidak menyapa anaknya yang sedari tadi melihatnya dengan mata yang penuh harapan.
Misael tersenyum tipis kepada mamanya, yang sedang menatapnya dengan senyum hangat. "Wah, kamu bawa apa, Nak?" tanya mama Misael, melihat sebuah barang yang Misael bawa.
"Hadiah buat Rion, Ma," jawab Misael, sambil menyerahkan tasnya kepada ibunya.
Ibunya tersenyum hangat. "Segeralah mandi dan bantu Mama, okay. Mama perlu bantuanmu untuk membersihkan rumah," kata ibunya, sambil menggendong Rion yang semakin rewel.
"Iya, Ma," jawab Misael, sambil berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai berbicara dengan ibunya, Misael menatap keluar jendela rumahnya, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang berat. "Caramel, maaf," bisiknya, dengan nada yang penuh penyesalan.