


oleh Rubi_rainbow🦩 · 37 Bab
Bercerita tentang seorang wanita bernama Aylona yang belum bisa menerima dengan ikhlas kematian Arsen, sang suami. Hal ini membuat arwah Arsen selalu menampakkan diri. Atau, ini hanya imajinasi Aylona semata? Kematian Arsen dan siapakah pelaku yang menyebabkan kematian itu masih menjadi misteri. Mampukah Aylona menerima kenyataan? Siapkah ia menerima hati yang baru jika nantinya ada seseorang yang tertarik padanya lagi? Baca selengkapnya di cerita aku yang berjudul Takdir Cinta Aylona.
Beberapa menit yang lalu, Arsen baru saja melepas kangen dengan istrinya, Aylona Shanum. Wanita paling cantik, manis, dan manja yang selalu menjadi pusat dunianya itu.
Ya meskipun hanya melalui layar ponsel, baginya sekarang hal itu sudah cukup.
Setidaknya obrolan singkat tadi bisa sedikit mengobati rindunya yang sudah mulai menggunung. Namun siapa sangka, jika alih-alih surut, rasa rindunya justru semakin menguat setelah itu.
"Sen, kamu pulangnya kapan sih, dari kemarin sampai sekarang kok mundur-mundur terus, ih. Aku sama si Utun sudah rindu banget tahu," ujar wanita hamil lima bulanan itu dengan nada merajuk nan manja.
"Sabar ya Bae, em ... seminggu atau dua mingguan lagi aku pastiin sudah pulang," jawab Arsen lembut pada istri manjanya. Tak lupa seulas senyuman tipis dari si tampan karena menahan gemas melihat tingkah sang istri.
"Beneran ya?" ujar Aylona dengan ekspresi wajah seperti anak kecil yang nggak mau dibohongi lagi.
"Iya, Babe," jawab Arsen lembut dan penuh kesabaran membuat pipi si cantik bersemu memerah karena malu oleh perlakuan suaminya itu.
Pengakuan Aylona yang bilang sangat merindukannya itu membuat Arsen termenung. Sebenarnya rindu itu sama persis dirasakan olehnya sekarang, hanya saja ia lebih pandai menyembunyikan perasaan itu.
Ketika Arsen mengabarkan bahwa dalam kurun waktu seminggu ia akan pulang, Aylona terlihat begitu antusias. Ia tersenyum ceria dengan wajahnya yang polos seperti anak kecil yang menggemaskan.
Aylona memang seperti anak kecil yang sedang hamil. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dan perutnya juga tidak terlalu tampak besar.
----
Waktu berlalu begitu saja dan kini saat yang ditunggu pun telah tiba. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Arsen pulang ke rumah mereka. Perasaan tak sabar sudah meluap-luap dalam dirinya. Bahkan, hanya membayangkan wajah Aylona ketika menyambutnya nanti, cukup membuatnya tersenyum sendiri sepanjang perjalanan menuju bandara.
Arsen dan Aylona selama hampir satu bulanan ini memang sedang menjalani hubungan jarak jauh, yakni Jakarta-Batam. Hal itu karena pekerjaan yang memaksa.
Namun, sebelum pria itu benar-benar naik ke dalam pesawat, Aylona sempat menyampaikan sesuatu ketika mereka melakukan video call.
“Kamu jadi naik pesawat, Sen?” tanyanya pelan di ujung telepon.
"Hum ... kenapa?" jawabnya.
"Ahh tidak. Hanya saja, aku ...."
"Iya, hanya kenapa, Bae?" tanya Arsen.
"Aku semalam mimpi buruk tentangmu. Mimpi itu sangat buruk, dalam mimpi itu aku melihat kalau pesawat kamu meledak," jawab si cantik dengan nada pelan di ujung kalimat.
Arsen hanya tertawa kecil menanggapi hal tersebut. Sejujurnya ia tak begitu percaya pada hal-hal seperti itu. Baginya, mimpi hanyalah bunga tidur yang tak perlu dianggap serius.
“Nggak usah dipikirin, ya, Sayang. Itu cuma pikiranmu saja, cuma mimpi. Kamu tahu mimpi itu hanya bunga tidur. Dengar ya, aku akan pulang dengan selamat, kok,” jawabnya, mencoba menenangkan si cantik.
Setelah mengatakan hal tersebut, percakapan pun di akhiri karena ia harus segera naik pesawat. Sesampainya di dalam pesawat, awalnya semua berjalan seperti biasa. Arsen duduk nyaman di kursinya, mengenakan headset untuk menikmati alunan musik favorit. Keramaian penumpang di sekitarnya tak terlalu ia pedulikan. Namun, beberapa saat kemudian, suasana di kabin mulai berubah.
Arsen sempat melepas headset dan mendengar keributan kecil di bagian depan pesawat. Namun, ia memilih untuk tidak ambil pusing dan kembali mengenakan headset-nya. Musik favoritnya terlalu asyik untuk diganggu oleh hal yang di anggapnya tidak jelas.
Tiba-tiba saja ... bom!
Sebuah ledakan maha dahsyat mengguncang pesawat. Telinga Arsen berdenging keras, membuatnya refleks menutup kedua telinga sambil memejamkan mata. Tubuhnya seolah terpaku, tak mampu bergerak. Suasana yang semula riuh berubah menjadi gelap gulita.
Sebelum kegelapan menelan diri Arsen sepenuhnya, kilasan kenangan bersama Aylona berkelebat di otaknya. Tawa manis istrinya, tatapan lembutnya, bahkan aroma khas yang selalu menenangkan Arsen, semuanya berputar acak dalam benaknya. Dalam hati ia berteriak, ingin menggapai ponsel untuk mendengar suara Aylona sekali lagi. Namun, tubuhnya mati rasa, tak mampu bergerak sedikit pun.
Segalanya mendadak senyap, sunyi dan setelah itu ia tak tahu lagi.
---
“Hah ... hah ... hah!”
Arsen terbangun dengan napas memburu. Ia tiba-tiba saja sudah terduduk di lantai dingin sebuah teras dengan tubuh bersimbah peluh. “Astaga, mimpi apaan aku tadi?” gumamnya dengan jiwa masih terguncang.
Ia mengingat dengan jelas mimpi itu—pesawat yang meledak, kegelapan yang menelan dirinya. Jantungnya berdebar keras, dadanya terlihat kembang kempis seolah baru saja selesai berlari maraton.
“Kupikir aku sudah mat ... haish, syukurlah cuma mimpi,” ucapnya pelan sambil mengusap peluh di wajahnya.
Namun, saat ia menenangkan diri, Arsen baru menyadari sesuatu yang ganjil telah terjadi. Ia tidak sedang di dalam pesawat, melainkan di teras rumahnya. Pandangannya terpaku pada pintu rumah yang terlihat akrab berdiri kokoh di hadapannya.
“Lho, kok aku sudah ada di sini?” tanyanya bingung pada dirinya sendiri.
Ia mencoba mengingat-ingat. Pendaratan pesawatnya, perjalanan menuju rumah, bahkan kendaraan yang ia tumpangi, semuanya terasa seperti kabur dari ingatan, maksud ku ia tak ingat sama sekali. Ada satu hal lagi yang membuatnya bertambah bingung saat ia melihat jam tangan yang melingkar apik di pergelanganya. Jam tangannya tampak mati, jarum-jarumnya tak bergerak sama sekali, padahal tadi baik-baik saja.
“Ah, sudahlah, yang penting aku sampai rumah,” gumam Arsen pada dirinya sendiri, mencoba mengabaikan kebingungan yang ia rasakan. Tak perlu membuang waktu ia segera memencet bel pintu rumahnya, ia yakin sekali jika Aylona pasti sudah menunggu dengan cemas.
Tak berapa lama, pintu pun terbuka, menampilkan sosok Aylona yang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Wajah cantik sang istri terlihat pucat, matanya membelalak, seolah-olah yang dilihatnya sekarang adalah hantu.
“Arsen?”
Suara Aylona nyaris berbisik, matanya membelalak penuh keterkejutan.
Detik itu, waktu seolah berhenti. Arsen tak mengerti mengapa istrinya terlihat seperti demikian. Ia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh pipi Aylona. Namun, ada sesuatu yang tak terjelaskan. Sesuatu yang aneh, menggantung di antara mereka.
“Ada apa, Sayang? Kok tatapanmu seperti itu?” tanya Arsen pelan.
Namun, bukannya menjawab, Aylona justru terisak pelan. "Sen ... ini benar-benar kamu, kan?" tanyanya dengan suara bergetar.
Arsen mengerutkan kening. Apa yang sebenarnya yang sedang terjadi? Kenapa semua terasa begitu tidak nyata?
.
.
.
Tbc-------

Rubi_rainbow🦩
31 Pengikut · 2 Novel