


oleh Lyznaa21 · 93 Bab
Penyelamatan yang dilakukan oleh Rishav pada seorang gadis bernama Prisha, menjadi awal pertemuan peristiwa tak terduga dengan kakaknya Rishav, yang bernama Visham, yang di mana sampai membuat Prisha dilarikan ke rumah sakit karena ulah dari Visham tersebut. Bagaimana bisa terjadi? Visham, pria berumur 30 tahun itu pernah menjalani hubungan dengan seorang model bernama Tiffany. Akan tetapi, hubungannya pun kandas karena sang wanita telah mengkhianatinya. Setelah kejadian pengkhianatan itu, Visham dan Prisha pun menjadi lebih dekat. Akankah tumbuh rasa cinta di antara keduanya? Dan apakah mereka ditakdirkan untuk bersatu? Berikut selengkapnya.
Seorang wanita berpakaian modis dengan riasan wajah bold-nya, berjalan berlenggak-lenggok layaknya model. Dengan wajah yang diangkat tinggi, ia melangkah menuju ruangan CEO.
Tiba di sana, wanita itu pun membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“Rishav, sudah berapa kali aku bilang untuk ketuk pintunya lebih dulu. Kenapa kau—”
Visham tidak melanjutkan ucapannya lagi karena ia melihat bukan Rishav yang masuk ke ruangannya itu.
“Tiffany?” ucap Visham pada wanita itu.
“Hei, Sayang.”
Wanita yang bernama Tiffany itu pun melangkah mendekati Visham dan langsung memeluk Visham dari belakang. Dengan Visham yang masih duduk di kursinya itu.
“Tiffany, kau kemari. Ada apa?”
Tiffany pun melepaskan pelukannya. Kemudian ia duduk di meja, berhadapan dengan Visham seraya memainkan dasi yang digunakan oleh pria itu.
“Tidak ada jadwal pemotretan hari ini. Aku merasa bosan sendirian di apartemen. Jadi aku berpikir untuk menemuimu saja ke sini.”
“Tapi sekarang aku sedang sibuk, Sayang.”
Wajah Tiffany berubah seketika menjadi cemberut. Tangannya berhenti memainkan dasi Visham. Berganti dengan melipat kedua tangannya.
“Kau tidak suka aku datang kemari menemuimu.“
“Bukan begitu, Sayang. Maksudku, ada banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang.”
Di tengah obrolan itu. Tiba-tiba pintu diketuk lalu dibuka oleh Rohan—asisten Visham.
“Tuan, saya ingin me—”
Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita duduk di meja berhadapan dengan Visham. Rohan tahu siapa wanita itu, dia adalah kekasih bosnya sendiri—Tiffany. Sepertinya Rohan datang di waktu yang tidak tepat. Ia jadi merasa tak enak.
“Maaf, Tuan.”
Rohan berbalik, ingin meninggalkan ruangan itu, tapi dengan cepat dihentikan oleh Visham.
“Tunggu Rohan, kenapa kau malah berbalik. Kemari.”
“Tapi, Tuan.”
“Kemari.”
Rohan melirik Tiffany yang menatap angkuh dirinya. Kemudian ia pun menghampiri Visham.
“Ada apa?” tanya Visham.
“Saya ingin meminta tanda tangan Anda untuk laporannya. Oh iya, sekitar 30 menit lagi kita akan ada pertemuan dengan klien, Tuan.”
“Ya, baiklah.”
“Tiffany, maaf aku sedang banyak urusan. Kau bisa menemuiku nanti. Dan ini,” lanjut Visham, ia lalu memberikan kartu pada Tiffany yang membuat wajah wanita itu langsung ceria seketika.
“Kau bisa pergi berbelanja dengan ini, beli apa pun yang kau mau. Maaf, aku tidak bisa menemanimu.”
“Sayang, kau yang terbaik! Tidak masalah. Aku akan pergi sekarang. Terima kasih, Sayang. Kau sangat pengertian.”
Sebelum pergi, Tiffany mengecup pipi Visham terlebih dulu, membuat Rohan memalingkan wajahnya. Kemudian Tiffany pun melangkah pergi dari sana.
Saat di lobby, tiba-tiba saja ponsel Tiffany berbunyi. Ia pun merogoh tasnya lalu melihat siapa yang telah meneleponnya itu.
Saat sudah mengetahuinya, Tiffany pun celingukan melihat keadaan sekitar. Dirasa aman, ia segera mengangkat telepon tersebut.
“Hallo?”
[Hei Dear, aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kita bertemu? Aku merindukanmu. Aku tahu kamu tidak ada jadwal pemotretan hari ini. Jadi mari bertemu.]
“Ya, tentu. Aku akan mengirimkan lokasinya, kita akan bertemu di sana nanti,“ ucap Tiffany pelan agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
[Baiklah. Bye, sampai ketemu nanti Dear.]
“Bye, Honey.”
Tiffany pun buru-buru mematikan sambungannya itu. Kemudian ia berjalan keluar ke area parkiran di mana mobilnya berada.
Tiba di parkiran, Tiffany masuk ke dalam mobilnya Dan langsung menancapkan pedal gas. Mobil itu pun melaju keluar gerbang.
Sementara itu di ruangan CEO.
“Ekhem.” Rohan pura-pura berdehem.
“Sudahlah, Rohan. Berikan laporannya.”
“Hehe, ini, Tuan.”
Rohan pun memberikan laporannya pada Visham, dan langsung ditandatangani olehnya.
“Tuan, saya iri dengan kemesraan kalian berdua.”
“Ngapain iri? Kau juga punya banyak wanita. Kau malah lebih berpengalaman dariku, Rohan.”
“Ya, meski begitu kalian saling mencintai. Berbeda dengan saya, yang tidak memiliki perasaan apa-apa pada mereka. Saya hanya bersenang-senang dengan mereka saja, Tuan.”
“Bukankah itu memberi mereka harapan palsu? Jangan seperti itu. Kau harus menjalani hubungan dengan serius dari salah satunya.”
“Iya Tuan, saya harap juga bisa menemukan seseorang yang bisa mengambil hati saya. Tapi untuk sekarang, saya harus seleksi dulu. Hehe.”
“Dasar kau. Ambil ini.”
Visham menyerahkan kembali laporan yang sudah ditandatanganinya itu pada Rohan. Dia pun menerimanya.
“Terima kasih, Tuan.”
“Oh ya, di mana pertemuannya?”
“Klien sendiri yang memilih untuk bertemu di restoran, Tuan.”
Kemudian Visham pun melirik jam di tangannya.
“Hm baiklah, kita bersiap sekarang.”
“Ya, Tuan.”
Mobil Tiffany tiba di depan sebuah restoran besar. Terlihat restoran itu cukup ramai pengunjung. Kemudian ia pun turun dari mobilnya, berjalan masuk ke dalam restoran. Matanya menatap sekeliling, seperti sedang mencari seseorang.
“Tiffany, here!” panggil seorang pria asing berambut pirang, yang sedang duduk di seberang sudut dekat jendela. Tiffany pun berjalan ke arah tersebut.
“Duduklah.”
“Owh, thankyou.”
Tiffany tersenyum, seraya duduk di kursi berhadapan dengan pria berambut pirang itu.
“Maaf ya, aku datengnya telat. Pasti kamu nunggu lama di sini.”
“Tidak apa-apa, aku baru beberapa menit menunggu di sini,” ucap Carlos dengan nada suara yang khas.
“Oh, begitu. Bagaimana, tidak tersesat kan?” tanya Tiffany, dengan nada bercanda.
“Ya, hampir saja,” jawab Carlos tersenyum.
“Kamu belum pesan makanan?”
“Belum, aku ingin menunggumu dulu karena aku belum tahu makanan yang khas di sini.”
“Baiklah, aku akan memilihkannya untukmu.”
“Don't be too spicy, okay.”
“Ya, aku tahu, Honey.”
Tiffany pun membuka buku menu. Ia sedang memilih makanan yang cocok untuk Carlos. Dan pilihannya jatuh pada chicken curry recipe.
“Bagaimana kalau chicken curry recipe?”
“Chicken curry recipe??”
“Ya, chicken curry recipe is the best food. Kamu harus mencobanya.”
“Ya, ya. Tentu, aku akan mencobanya.”
“Oke, drink?”
“Hm, just orange juice.”
“Okey.”
Tiffany mengisyaratkan, memanggil pelayan untuk kemari. Pelayan gadis muda pun datang menghampiri meja mereka berdua.
“Aku ingin pesan chicken curry recipe 2. Dengan orange juice-nya 2.”
Pelayan itu pun mencatat pesanannya.
“Ada lagi, Nona?” tanya pelayan gadis itu dengan ramah.
“Tidak, itu saja.”
“Oh ya, mohon ditunggu sebentar.”
Pelayan muda itu pun langsung pergi untuk menyiapkan pesanan.

Lyznaa21
0 Pengikut · 1 Novel