Lampu gantung berdesain modern di ruang rapat utama lantai dua belas PT Megantara Utama memancarkan cahaya putih yang dingin. Suasana ruangan berpendingin udara itu tegang, dipenuhi puluhan lembar dokumen cetak biru proyek bertajuk Revitalisasi Kawasan Pasar Senja. Proyek bernilai ratusan miliar itu bukan sekadar proyek pembangunan biasa, melainkan proyek kemitraan strategis antara korporasi swasta dan Pemerintah Kota.
Di ujung meja, Dewa Pratama, Executive Director muda yang dikenal tajam dan tanpa ampun mengetuk-ngetukan jemarinya ke meja mahoni. Matanya menatap lurus ke arah pria paruh baya berbatik keemasan yang duduk di kursi kehormatan. Pak Gunawan, Kepala Dinas Perencana Kota yang mewakili pihak pemerintah.
"Pihak Pemerintah Kota tidak ingin ada penundaan lagi, Dewa," ujar Pak Gunawan tegas, memperbaiki posisi kacamatanya. "Pemerintah sudah memberikan lampu hijau dan kemudahan izin. Tugas Megantara adalah mengosongkan lahan Pasar Senja dalam kurun waktu tiga bulan. Pihak balai kota butuh laporan perkembangan sebelum audit anggaran daerah bulan depan."
"Kami memahami urgensi dari Pemkot, Pak Gunawan," potong Nadine Callista yang berdiri anggun di samping layar presentasi. Gaun blazer kremnya memancarkan kesan profesional yang tak tergoyahkan. "Namun, kita tidak bisa mengabaikan fakta sosial di lapangan. Ada lebih dari tiga ratus kepala keluarga dan pedagang kecil di kawasan Pasar Senja. Jika kita menggunakan pendekatan penggusuran instan, gelombang protes rakyat kecil di sana justru akan menghentikan proyek ini secara total dan merusak citra korporasi maupun Pemerintah Kota."
Nadine beralih memindahkan slide presentasi, menampilkan denah kawasan permukiman padat warga.
"Oleh karena itu, proposal saya menawarkan solusi Pemberdayaan Terpadu," lanjut Nadine mantap. "Kita tidak mengusir warga, melainkan membangun area komersial terpadu yang memfasilitasi lapak modern gratis untuk pedagang lokal di lantai dasar."
Dewa menyipitkan mata. Ia menegakkan posisi duduknya, langsung memotong penjelasan Nadine dengan suara datar sarat intimidasi.
"Pendekatan yang sangat humanis, Miss Callista, tapi sangat tidak realistis secara bisnis," tukas Dewa dingin. "Mengakomodasi ratusan lapak warga tanpa retribusi tinggi hanya akan memangkas return on investment kita hingga empat belas persen. Belum lagi risiko konflik sosial jika relokasi sementara berjalan lambat. Pihak investor korporasi tidak menginvestasikan modal puluhan miliar hanya untuk menjalankan kegiatan amal."
Dewa menatap Pak Gunawan. "Dari sudut pandang efisiensi pengusaha, cara terbaik adalah menyediakan dana kompensasi relokasi datar bagi seluruh warga, meratakan lahan, dan mengeksekusi pembangunan sesuai jadwal baku Pemkot."
Pak Gunawan mengangguk-angguk kecil, tampak goyah dan cenderung menyukai efisiensi yang ditawarkan Dewa. "Efisien dan cepat. Pemkot suka efisiensi, Dewa."
"Tapi efisiensi itu mengabaikan mata pencaharian rakyat kecil yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, Pak!" sela Nadine, menatap Dewa dengan tatapan tajam tak gentar. "Jika Pemkot dan Megantara hanya mementingkan angka di atas kertas, kita hanya sedang menabung bom waktu!"
Suasana rapat memanas. Persaingan antara Dewa dan Nadine kini bukan lagi sekadar adu gengsi jabatan, melainkan benturan dua ideologi besar dalam eksekusi proyek pemerintah-swasta tersebut. Rapat akhirnya ditutup tanpa keputusan final, meninggalkan tensi tinggi di antara seluruh pihak.
Sore harinya, di bawah terik matahari kota yang membakar, kondisi kontras terlihat jelas di Kawasan Pasar Senja. Bau rempah, asap kendaraan, dan hiruk-pikuk teriakan pedagang menyelimuti kawasan padat tersebut.
Nadine menanggalkan blazer mewahnya dan memilih mengenakan kemeja kasual untuk turun langsung ke lapangan. Langkah kakinya terhenti di sebuah warung kopi sederhana di sudut pasar. Di sana, puluhan warga dan pedagang berkumpul dengan raut wajah cemas.
"Kami ini rakyat kecil, Mbak! Sudah puluhan tahun cari makan dari lapak sayur ini," seru Pak Broto, seorang pedagang senior berwajah kusam dengan tangan yang kasar akibat kerja keras. Tangannya menunjuk-nunjuk spanduk sosialisasi proyek. "Orang-orang berdasi dari kantor Pemkot dan korporasi kaya itu cuma tahu meratakan tanah kami! Kalau pasar ini digusur, anak istri kami mau makan apa?"
Beberapa warga bersorak setuju, menyuarakan kemarahan mereka terhadap kebijakan pemerintah dan pihak pengusaha yang dianggap sewenang-wenang.
Nadine mendengarkan setiap keluhan itu dengan saksama, mencatatnya dalam hati. Ia makin yakin bahwa strategi dingin yang diusulkan Dewa di meja rapat tadi hanya akan menghancurkan hidup orang-orang kecil ini.
Malam harinya, pukul sembilan malam.
Suasana apartemen Nadine di pusat kota begitu tenang. Lelah fisik dan mental dari perdebatan di rapat pejabat serta emosi warga di pasar berkecamuk di kepalanya. Nadine mengganti pakaiannya, menyeduh teh hangat, lalu meraih ponselnya.
Ia membuka aplikasi Night Talk, ruang obrolan anonim yang menjadi pelariannya dari kepenatan dunia nyata.
Jemari lembutnya mengetik pesan kepada Midnight, sosok pria anonim yang selama enam bulan terakhir menjadi tempat bertukar pikiran paling hangat.
Starlight: "Hari ini pikiranku sangat kalut. Tempat kerjaku sedang menangani proyek besar bersama pemerintah kota. Tapi rekan kerjaku yang dingin itu benar-benar tak punya hati."
Di sebuah penthouse mewah di sudut kota yang lain, Dewa Pratama sedang melonggarkan ikatan dasinya. Pria itu baru saja menuntaskan panggilan telepon panjang dengan jajaran investor dan pejabat Pemkot yang terus menekan agar proyek segera dieksekusi. Dewa mengusap wajahnya yang lelah.
Getaran ponsel di mejanya membuat pandangannya teralih. Melihat nama akun Starlight menyala, sudut bibir Dewa yang kaku perlahan terangkat.
Midnight: "Ada apa dengan pria kaku itu lagi, Starlight? Apa dia membuat masalah di proyek barumu?"
Nadine menghela napas panjang, lalu membalas.
Starlight: "Dia ingin menggusur kawasan pasar tradisional warga kecil demi efisiensi modal bisnis! Dia cuma peduli pada angka profit dan tuntutan pejabat pemerintah, tanpa peduli nasib ratusan pedagang kecil yang bisa kehilangan mata pencaharian."
Dewa mengerutkan dahi membaca pesan tersebut. Kalimat Starlight terasa sangat familiar dengan perdebatan yang baru saja ia alami siang tadi di kantor. Namun, ia menyapu bersih kecurigaan itu dan menganggapnya sebagai kebetulan umum dalam dunia bisnis properti.
Jemari Dewa mengetik balasan dengan helaan napas berat.
Midnight: "Lucu sekali, hari ini aku juga berdebat keras dengan rekan kerjaku mengenai masalah yang sama persis. Wanita itu terlalu emosional. Dia ingin merangkul semua warga kecil tanpa memikirkan risiko kerugian korporasi dan tenggat waktu ketat dari pihak pemerintah."
Nadine membaca balasan itu dengan dahi berkerut.
Starlight: "Lalu kamu membela pria dingin itu? Ingat Midnight, pengusaha dan pemerintah tak boleh cuma mengeruk untung di atas penderitaan rakyat kecil!"
Dewa tersenyum tipis, merasa kehangatan sekaligus dorongan intelektual setiap kali bertukar argumen dengan Starlight.
Midnight: "Aku tidak membela siapa pun, Starlight. Tapi bisnis dan kebijakan publik butuh ketegasan. Meski begitu kuakui, rekan kerjaku itu punya keberanian yang luar biasa. Dia bahkan berani turun langsung ke lapangan membela warga."
Nadine tertegun membaca pesan Midnight. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di dadanya.
Starlight: "Ternyata di balik pemikiran bisnismu yang tajam, kamu masih bisa menghargai ketulusan orang lain ya."
Dewa menatap layar ponselnya lama. Kejujuran dan kepedulian Starlight adalah hal yang paling ia kagumi di tengah dunia bisnisnya yang penuh kepalsuan.
Midnight: "Hanya ketulusanmu yang peduli padaku, Starlight. Setelah proyek besar pemerintah ini selesai bulan depan, mari kita bertemu secara langsung. Aku ingin mengenal sosok di balik Starlight."
Jantung Nadine berdegup kencang membaca ajakan tersebut.
Starlight: "Janji. Setelah proyek ini tuntas, kita bertemu."
Dua orang itu saling melempar senyum di balik layar kaca masing-masing. Tanpa pernah menyadari bahwa proyek pemerintah, nasib rakyat kecil Pasar Senja, dan persaingan panas di meja rapat siang tadi berada di tangan mereka berdua yang kini saling jatuh cinta secara rahasia.