Bau anyir darah yang kental bercampur aroma lilin lebah yang meleleh menjadi hal pertama yang menyengat indra penciumannya. Mata itu terbuka secara perlahan, menyesuaikan diri dengan keremangan ruangan yang hanya diterangi oleh pendar lilin-lilin hitam yang berderet di atas lantai batu.
Sakit yang luar biasa menghantam kepalanya. Sebuah memori terakhir mendadak berkelebat cepat: dada bertembus peluru, pengkhianatan dari rekan setimnya sendiri, serta dinginnya lantai beton tempat ia mengembuskan napas terakhir sebagai seorang pembunuh bayaran kawakan bernama Ren. Namun, rasa sakit ini terasa berbeda. Dadanya utuh. Napasnya justru tersengal-sengal dalam balutan kain gaun berbahan sutra oranye yang menjuntai hingga menutupi kakinya.
"Di mana aku?" bisiknya pelan. Suara yang keluar dari tenggorokannya amat halus, asing, dan terdengar begitu rapuh.
Ia memegang lehernya sendiri dengan jemari yang mungil dan berkulit mulus bukan jemari penuh kapalan bekas senjata api yang biasa ia miliki. Ren mencoba bangkit dari duduknya. Tubuh baru ini terasa amat lemah, gemetar, dan tidak memiliki kekuatan fisik yang terlatih.
“Ini bukan tubuhku, dan tempat ini bukan tempat kematianku,” batinnya, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan berlapis dinding batu hitam bergambar pahatan simbol-simbol kuno.
Langkah kakinya perlahan berderap pelan menyusuri lantai yang dingin. Di sudut ruangan, sebuah cermin berukuran setinggi manusia berdiri dengan bingkai ukiran tulang yang mengerikan. Kaca cermin itu retak di bagian tengah, membagi bayangan di dalamnya menjadi dua bagian yang tidak simetris.
Ren mendekati cermin itu untuk melihat wajah pemilik tubuh gaun oranye ini. Namun, ketika matanya menatap pantulan cermin, darahnya seketika mendidih oleh rasa terkejut. Pantulan di dalam cermin retak itu tidak bergerak mengikutinya.
Sosok di dalam cermin bukanlah seorang gadis lugu bergaun oranye. Di balik retakan kaca, berdiri seorang wanita berambut hitam panjang sepekat malam, mengenakan jubah kelam yang pekat. Matanya menyala merah darah, penuh aura pembunuh yang amat pekat, dan jemarinya yang pucat tengah menggenggam sebuah belati berukir runik yang meneteskan cairan kehitaman.
Pantulan itu menatap langsung ke arah mata Ren, menyunggingkan senyum miring yang memancarkan penderitaan dan kegelapan mendalam.
"Siapa kau?" bisik Ren, refleks melangkah mundur dengan posisi siaga meski tubuh lemah bergaun oranye ini hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
Pantulan di cermin itu memiringkan kepalanya. Bibir sosok di dalam cermin bergerak, tetapi suara yang terdengar justru berasal dari dalam kepala Ren sendiri, menggaung seperti bisikan gaib yang membekukan darah.
‘Takdir kita telah tertukar, Jiwa Malang,’ bunyi suara itu, penuh resonansi magis yang pekat. ‘Kau menghuni wadah lugu sang calon tumbal, sementara aku terikat di dalam cermin sebagai sang dewi kematian yang dikhianati.’
Ren mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Jangan bermain-main denganku! Keluar dari cermin itu jika kau berani!"
‘Sensitif sekali,’ kekeh sosok di cermin, jemari pucatnya mengusap permukaan kaca dari dalam. ‘Ruang ini adalah Altar Penyerahan. Sebelum rembulan mencapai puncak malam, tempat ini akan dipenuhi oleh mereka yang menginginkan darahmu, dan tubuh lemah yang kau tempati itu tidak akan bertahan lebih dari satu sabetan pedang.’
Duar!
Pintu kayu jati berukir di ujung ruangan mendadak terhempas keras. Suara langkah kaki berzirah besi bertabrakan dengan lantai batu melenyapkan suasana hening di ruangan tersebut. Ren memutar tubuhnya dengan cepat, memanfaatkan instink bertahannya yang sudah teruji di dunia bawah tanah.
Tiga orang pria bersenjata masuk ke dalam ruangan. Mereka mengenakan jubah abu-abu bertudung dengan topeng besi berbentuk tengkorak hewan. Di tangan mereka, pedang perak mengilap telah terhunus rapat.
"Gadis itu sudah siuman!" teriak salah seorang penjaga dengan suara serak dari balik topengnya.
"Cepat amankan dia! Tuan Besar menghendaki ritual penyerahan jiwa segera dimulai!" sahut penjaga kedua seraya melangkah maju dengan cepat.
Ren memicingkan matanya. Meski tubuh ini rapuh, pola pikir seorang pembunuh bayaran tidak pernah meluntur sedikit pun. Ia membaca pergerakan lawan, mengukur jarak, dan mencari celah terdekat untuk melarikan diri.
"Sentuh aku satu langkah lagi, dan kupastikan tenggorokanmu berlubang," ancam Ren dengan nada dingin yang menusuk.
Para penjaga itu justru tertawa terkekeh-kekeh.
"Dengar suara gadis lugu itu! Dia berpura-pura menjadi pemberani!" ejek penjaga ketiga. "Tangkap dia!"
Penjaga pertama menerjang maju, mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit kasar untuk mencengkeram bahu Ren. Ren tidak tinggal diam. Ia mencoba mengelak ke samping, hendak melakukan pukulan balasan ke titik lemah di bawah dagu lawan. Namun, perhitungan tekniknya meleset.
Tubuh baru ini terlampau lambat dan tidak memiliki daya ledak otot. Cengkeraman penjaga itu justru berhasil mendarat telak di bahu gaun oranyenya, melemparkannya hingga tersungkur keras ke arah cermin retak di dinding.
Brak!
Dahi Ren membentur batu di bawah cermin. Darah segar menetes hangat membasahi pelipisnya.
“Cih! Tubuh ini benar-benar tidak berguna!” umpat Ren dalam hatinya, berusaha menyapu darah yang mengalir menutupi pandangannya.
‘Aku sudah memperingatkanmu,’ isikan sang dewi kematian kembali bergema di dalam kepalanya, kali ini terasa sangat dekat. ‘Tanpa kekuatanku, kau hanyalah daging segar di atas meja pembantaian.’
"Tutup mulutmu!" geram Ren pelan seraya bangkit berdiri.
Penjaga kedua mendekat dengan tali tambang tebal di tangannya. "Jangan menyulitkan kami, Gadis Lugu. Nikmati saja sisa napasmu sebelum jantungmu dipersembahkan kepada Sang Kegelapan."
"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Ren mencoba mengulur waktu, sembari mengedarkan pandangan mencari benda apa pun yang bisa dijadikan senjata.
"Kau tidak perlu tahu nama Tuan kami," jawab penjaga pertama seraya mengangkat pedangnya. "Yang perlu kau tahu, takdirmu berhenti di ruangan ini."
‘Biarkan aku membantumu,’ bisik sosok di dalam cermin. Bayangan sang dewi kematian menyentuh kaca retak tepat di belakang Ren. ‘Pinjamkan jiwamu sejenak, biarkan belati keabadianku merobek leher mereka.’
Apakah aku harus percaya pada iblis di cermin ini? Ren berdialog dengan batinnya sendiri. Pengkhianatan yang membunuhku di kehidupan lalu terjadi karena aku terlalu percaya pada orang lain, tapi jika aku menolak dan aku akan mati konyol di sini.
"Apa imbalan yang kau inginkan?" bisik Ren tegas, menatap lurus ke arah pantulan cermin tanpa memedulikan tiga penjaga yang kian mendekat.
Sosok sang dewi di dalam cermin menyunggingkan senyum kemenangan. ‘Dendam. Aku menginginkan darah dari orang-orang yang telah mencuri takdirku. Bantu aku membalas dendam di dunia ini, dan aku akan memberimu kekuatan untuk bertahan hidup.’
"Kesepakatan dibuat," ucap Ren tanpa ragu.
Pada detik yang sama, penjaga pertama melayangkan sabetan pedangnya ke arah dada Ren.
Srrrt!
Kaca cermin retak di belakang Ren mendadak menyala merah benderang. Retakannya pecah membubung udara, menciptakan serpihan kristal energi yang melayang-layang di sekeliling ruangan. Bayangan dewi kematian di dalam cermin melesat keluar, melebur langsung ke dalam tubuh gadis bergaun oranye tersebut.
Waktu seolah melambat.
***
Mata lugu berwarna cokelat milik gadis itu seketika berubah menjadi warna merah menyala yang sangat pekat. Aura kegelapan yang amat dingin membakar udara di sekitar mereka, memadamkan lilin-lilin hitam dalam satu hentakan gelombang energi.
Penjaga pertama menghentikan tebasannya di udara, tubuhnya mendadak kaku akibat tekanan intimidasi yang amat dahsyat. "A-apa ini?! Aura apa ini?!"
"Ada yang salah dengan gadis ini!" teriak penjaga ketiga dengan nada panik, melangkah mundur secara refleks.
Ren yang kini terikat bersatu dengan kekuatan sang dewi kematian dan mengangkat wajahnya. Senyuman rapuh seorang gadis lugu telah melenyap sepenuhnya, berganti menjadi tatapan dingin seorang jagal dari neraka.
Di tangan kanannya yang halus, kini tergenggam erat belati hitam berukir runik yang sebelumnya berada di dalam cermin.
"Tadi kau bilang takdirku berhenti di sini?" tanya Ren dengan suara ganda yang bergema dan suara gadis itu bercampur dengan suara berat penuh dendam milik sang dewi.
"Serang dia! Cepat bunuh dia!" teriak penjaga pertama ketakutan.