


oleh Julwita AZ · 29 Bab
Arumi, perempuan desa dengan cita-cita menjadi guru agama, demi menanamkan nilai-nilai agama kepada generasi penerus bangsa agar menjadi pribadi yang lebih baik, jujur, dan amanah ketika diberikan tanggung jawab. Arumi berhasil mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Lalu, dihadapkan dengan kondisi ekonomi keluarga yang pelik dan mendapat pengutaraan cinta dari dua laki-laki, yaitu Azka dan Azraf. Siapakah pilihan Arumi? Akankah Arumi hidup bersama dan bahagia antara Azka dan Azraf? Kita tidak bisa mengatakan dia yang telah ditakdirkan Tuhan, ketika hal itu belum terjadi. Terkadang apa yang dipikir baik, belum tentu baik bagi Tuhan untuk kita.
Pertemuan dua insan bukanlah sekadar kebetulan, tapi telah menjadi takdir. Setiap pertemuan memiliki sebab akibat. Dalam menjalani hidup, ribuan rasa mengelilingi, tingkah laku, dan wajah yang hadir silih berganti. Tiap rasa, tingkah laku, dan wajah memiliki ciri khas tersendiri agar tersimpan rapi dalam lembaran memori.
Banyak yang datang membawa senyuman, cinta, dan penuh harmonisasi, lalu pergi meninggalkan luka. Ada pula yang sekadar singgah secara sederhana, tapi menorehkan harmonisasi jiwa, lalu pergi tanpa luka, dan kembali membawa cinta. Hidup tak mampu kita tebak. Apakah yang menjadi pelabuhan hati terakhir yang datang penuh senyum, ketidaksukaan, ataukah secara sederhana? Semua masih kelabu, sebelum hal itu terjadi menjadi sebuah cahaya.
Bagai sifat manusia, terkadang senang maupun sedih. Beginilah situasi hari ini, pagi begitu cerah membuat setiap insan yang menjalani bersemangat untuk memulai setiap aktivitasnya. Namanya Arumi Nazha Razita, panggil saja Arumi, mulai bergegas mempersiapkan segala keperluan untuk memulai kegiatan baru dalam hidupnya, memasuki sebuah universitas di Kota Jakarta.
Gadis desa yang memberanikan diri demi pendidikan yang diimpikan. Saat perjalanan yang cukup menguras tenaga dari Kota Makassar, naik pesawat menuju Jakarta, kemudian menaiki salah satu bus. Duduk sambil menyandarkan kepala yang sesekali melihat ke arah jendela, mengamati situasi baru baginya.
Tiba-tiba, suara pengamen mengalun merdu. Arumi melihat seorang pengamen berdiri di depan dengan gitar di tangannya.
“Permisi, izinkan saya menyumbangkan sedikit suara untuk menemani perjalanan Anda semua.”
Dia mulai menyanyikan lagu-lagu yang dikenal oleh penumpang bus. Suaranya yang merdu membuat suasana bus menjadi lebih hidup meskipun tetap sesak.
Beberapa penumpang ikut menyanyikan lagu yang dibawakan pengamen tersebut. Mereka menikmati pertunjukan di dalam bus yang penuh sesak. Meskipun keadaan bus sangat tidak nyaman, tetapi kehadiran pengamen yang berbakat berhasil membuat suasana hati menjadi sedikit lebih ceria.
Judul lagu yang dinyanyikan oleh pengamen tersebut adalah "Anak Rantau" yang merupakan lagu populer di Indonesia, penyanyi aslinya sang legenda dangdut Rhoma Irama.
Dengan penuh semangat, pengamen itu terus menyanyi hingga lagu selesai. Suaranya yang penuh emosi berhasil menyentuh hati para penumpang yang mendengarkan. Beberapa di antara mereka yang ternyata juga anak rantau ikut merasa tersentuh oleh lagu tersebut.
Lirik-lirik lagu mengenai kerinduan akan kampung halaman membuat suasana di dalam bus menjadi haru. Beberapa penumpang terlihat menitikkan air mata, mungkin karena teringat akan orang-orang tercinta di kampung halaman mereka.
"Aduh, lagunya enak banget, ya," ucap seorang ibu yang duduk di dekatku sambil menyeka air matanya.
Arumi juga merasa tersentuh dengan penampilan pengamen ini. Melalui lagu yang dinyanyikannya, dia berhasil membawa semuanya merenungkan kerinduan akan kampung halaman, akan keluarga, dan akan kenangan-kenangan indah di masa lalu.
“Sekian sumbangan suara saya, mohon maaf jika ada yang tidak berkenan,” ucap si pengamen setelah mengakhiri musiknya.
Setelah lagu selesai, pengamen itu mengucapkan terima kasih kepada penumpang dan melanjutkan perjalanan ke ujung bus untuk meminta sumbangan. Tanpa ragu, Arumi memberikan sumbangan sebagai apresiasi atas penampilannya yang memukau tadi.
“Terima kasih,” ucap Arumi sambil memasukkan selembar uang lima ribuan ke dalam kantung plastik dari bekas bungkus permen yang diulurkan pengamen.
Kala itu pun, hujan turun membasahi bumi, menenggelamkan sejenak polusi seakan memahami isi hati yang gundah gulana memikirkan kelanjutan hidup di kota yang baru pertama kali ia datangi dengan seorang diri. Ia merenungi hidupnya, bagaimana bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan hidup tanpa keluarga mendampinginya? Entah apa yang akan terjadi.
Seiring perjalanan yang melelahkan, menumpahkan segala lelah pada sandaran kursi bus yang ditempati. Pikiran merajalela, menjelajahi otak penuh dengan berbagai pertanyaan yang belum mampu ia tahu apa jawabannya. Tak ada jawaban yang pasti baginya, kepastian itu hanya akan diketahui seiring waktu berlalu dan takdir menuntun. Meski tak bisa dipungkiri atau bahkan tak mengetahui sama sekali bahwa suatu saat akan ada kenyataan yang menyayat hati atau membahagiakan.
Dalam waktu cepat ataupun lambat, beberapa menit kemudian atau ribuan menit selanjutnya akan ada kejadian yang mengubah jalan hidup gadis desa yang begitu polos. Jalan hidup yang membawa pada kelimpungan, memporak-porandakkan hati, menyelami segala suka duka dalam kehidupan barunya. Apa yang akan terjadi padanya? Hanya takdirlah yang akan menjawab di kemudian hari bersama jejak langkah yang menjadi kenangan.
Ekspresi wajah dan sorot mata sayu nan lesu, menunjukkan betapa lelah dirinya dalam menjalani perjalanan panjang menuju kota yang menjadi tujuan pendidikannya. Kota baru yang tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa akan menginjakkan kaki seorang diri dan melanjutkan pendidikan, di kota penuh kebisingan akibat kendaraan yang tiada henti. Polusi udara yang menyesakkan dada, rasa gerah yang menghantam tubuh menandakan bahwa dirinya telah berada di kota tujuan.
Meski suasana awal menyambut kurang bersahabat, tapi rasa lelah Arumi terbayarkan melihat begitu indahnya lampu-lampu pijar di sekitar. Seakan tiada bosannya, lagi-lagi ia bersyukur sampai dengan selamat dan menikmati keindahan yang terpampang nyata di hadapannya. Sampai ia lupa, bahwa beberapa jam terlewati begitu saja saking takjubnya dengan keadaan sekitar. Ia bagaikan lupa waktu, bahwa jam telah menunjukkan tengah malam.
Berhubung ia memiliki seorang teman yang telah dua tahun lalu tinggal di Jakarta. Ia merogoh ponselnya pada tas kecil yang selalu berada di sisinya. Maksud hati ingin menelpon sang sahabat, namun apalah daya ternyata sebelum berangkat ia lupa mengisi pulsa dan tak memiliki kuota internet untuk menghubungi sahabatnya melalui sosial media, ditambah baterai ponsel tinggal 15%. Sungguh suasana yang tak bersahabat. Arumi ingin meminta tolong tapi tak seorang pun yang ditemuinya.

Julwita AZ
60 Pengikut · 3 Novel