Aroma bunga lili yang terlalu manis menusuk hidung, bercampur samar dengan bau tanah basah dan pengawet jenazah yang tak terhindarkan di udara pengap ruang otopsi, tapi bagi Hellena Vance, ini adalah parfum profesinya. Wangi kematian yang menjadi sumber penghidupannya.
Ia menarik napas dalam, membiarkan udara dingin meresap ke paru-parunya yang terasa perih karena udara AC yang kering. Di hadapannya, terbaring sosok tua membeku dalam keheningan abadi, wajahnya pucat pasi seperti kapur, kelopak matanya terpejam rapat seolah menyimpan rahasia terakhir.
"Tuan Wijaya, 78 tahun. Gagal jantung." Suara petugas forensik terdengar datar, nadanya sama sekali tidak berduka. Kertas di tangannya berbunyi krsek saat ia membaliknya. "Tidak ada tanda kekerasan. Penyebab alami."
Hellena mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah sang mendiang. Pria ini, Tuan Wijaya, adalah klien pertamanya hari ini.
"Terima kasih, Pak," ucapnya sopan, suaranya sedikit bergetar, sesuatu yang ia latih bertahun-tahun agar terdengar tulus. Ia membungkuk sedikit, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh, tapi ragu. Udara dingin yang keluar dari tubuh kaku itu terasa seperti sentuhan dari dunia lain. "Semoga perjalanan Anda tenang, Tuan Wijaya."
Perjalanan. Kata itu bergema aneh di benaknya. Perjalanan bagi Tuan Wijaya baru saja berakhir, bagi Hellena, ini adalah awal dari harinya. Awal dari sebuah pertunjukan. Ia berbalik, meninggalkan ruangan steril yang dingin itu, melangkah menuju kantor kecil "Everlasting Tears" yang terletak tak jauh dari krematorium kota.
Papan nama perusahaan itu terbuat dari kayu jati gelap, ukirannya elegan, sedikit memudar dimakan waktu. "Everlasting Tears. Jasa Ratap Profesional & Penghantar Duka." Di bawahnya, tertera slogan yang selalu membuat pelanggan sedikit tersenyum getir.
'Kami Menangis Agar Anda Bisa Beristirahat.'
Kantornya sendiri tak lebih dari sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter, ditata apik. Dindingnya bercat krem lembut, dihiasi beberapa bingkai foto pemakaman yang ia anggap paling berhasil, bukan karena kemewahannya, tapi karena ekspresi kepedihan yang tertangkap kamera.
Di sudut ruangan, sebuah lemari arsip kayu tua berdiri kokoh, berisi berkas-berkas klien dan nota pembayaran. Di depannya, sebuah meja mahoni kecil tempat ia biasa duduk. Di atas meja, terpampang sebuah brosur tebal yang dilaminating.
Hellena duduk di kursi kulitnya yang sedikit usang, menarik napas panjang sebelum membuka brosur itu. Jari-jarinya yang lentik menelusuri daftar paket yang terpampang jelas.
Paket Tangisan Awal. Rp300.000
Durasi. 1 Jam Intensitas Tangis. Ringan (sesekali terisak, nada sedih)
Bonus. Satu helai rambut almarhum (opsional, jika tersedia)
Paket Sahabat Sejati. Rp750.000 Durasi. 3 Jam
Intensitas Tangis. Sedang (isak tangis konsisten, sesekali nada meratap) Aksi Tambahan. Jatuh pingsan (teknik presisi), memegang erat foto almarhum, melantunkan pujian singkat.
Paket Keluarga Tercinta. Rp1.500.000
Durasi - 6 Jam (atau sesuai kebutuhan acara. Intensitas Tangis -Tinggi (tangisan histeris, ratapan mendalam, curahan hati).
Aksi Tambahan - Lempar bunga ke liang lahat, pembacaan puisi duka ciptaan klien, adegan "tak rela ditinggal pergi".
Paket Legenda. Rp3.000.000 ++ (disesuaikan) Durasi - Fleksibel
Intensitas Tangis - Dramatis Level Dewa (mencakup semua paket di bawahnya, ditambah improvisasi emosional yang menyentuh jiwa).
Aksi Khusus - Melompat ke liang lahat (dengan pengamanan), ritual pembersihan dosa, dialog dengan arwah (dilakukan oleh klien, Hellena hanya merespon secara emosional).
Di bawahnya, ada beberapa layanan tambahan. Sesi Curhat ke Arwah, Pujian Penyesalan Mendalam, Dialog Terakhir yang Tak Tersampaikan.
Hellena tersenyum tipis. Daftar harga ini adalah buah karyanya, perpaduan antara seni akting dan pemahaman mendalam tentang duka manusia. Ia tahu, profesinya ini terdengar aneh, bahkan mungkin menjijikkan bagi sebagian orang. Siapa yang mau membayar orang asing untuk menangisi orang yang mereka cintai? Ternyata, banyak.
Bagi keluarga yang syok, sibuk, atau bahkan merasa bersalah, jasa Hellena adalah jalan pintas untuk memenuhi ekspektasi sosial tentang kesedihan yang layak. Terkadang, mereka memang tak sanggup mengeluarkan air mata sendiri. Atau lebih buruk lagi, mereka tidak ingin.
***
“Nona Vance?” Sebuah suara lembut terdengar dari ambang pintu.
Hellena mendongak. Mbak Sari, asisten sekaligus merangkap admin merangkap penjaga warung kopi di sebelah, berdiri di sana dengan nampan berisi secangkir teh melati panas dan sepiring kecil kue kering. Wajahnya yang teduh dihiasi senyum ramah. Usianya mungkin sudah kepala empat, tapi semangatnya tak pernah redup.
“Teh hangat untukmu, Neng,” kata Mbak Sari sambil meletakkan nampan di meja. Aroma teh melati yang pekat menyeruak, sedikit mengalahkan aroma bunga lili dari ruangan otopsi tadi. “Nanti ada telepon dari keluarga Pak Harjanto. Paket Keluarga Tercinta, katanya.”
Hellena mengangguk sambil meraih cangkir. Uap panasnya menerpa wajahnya.
“Terima kasih, Mbak.” Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh sisi cangkir yang hangat. Tuan Harjanto. Seorang pengusaha properti yang cukup ternama di kota ini. Kematiannya mendadak karena kecelakaan mobil. Anak-anaknya yang merantau mungkin belum tiba, dan istrinya yang masih syok tentu tak bisa diandalkan untuk mengalirkan air mata yang cukup di depan para kerabat.
“Paket Keluarga Tercinta, ya? Hmm, berarti harus bisa nangis histeris, Mbak?” Hellena terkekeh pelan, matanya menangkap kilat kekhawatiran di mata Mbak Sari.
“Ya, begitu katanya. Tapi, Neng yakin bisa, kan?” Mbak Sari menatap Hellena lekat. “Wajahmu pucat sekali.”
Hellena hanya tersenyum simpul. “Aku baik-baik saja, Mbak. Hanya sedikit dingin.” Ia menarik napas dalam lagi, kali ini mencoba merasakan kehangatan teh yang mengalir ke tenggorokannya.
Kehangatan itu terasa asing di tubuhnya. Dingin, bukan hanya karena AC di kantor, tapi dingin yang menjalar dari dalam. Dingin yang sudah lama ia kenal. Dingin yang membuatnya pandai sekali menangis di depan orang lain, selalu gagal menangis untuk dirinya sendiri.
Ia membuka buku agenda kecil di atas mejanya. Tanggal hari ini tertera jelas. Dan di bawahnya, nama klien pertama. Tuan Wijaya. Kematian alami. Ia sudah membuat catatan singkat di sana. Tuan Wijaya, 78. Gagal Jantung. Pria tua yang kesepian? Perlu diselidiki lebih lanjut apakah ada anak/kerabat yang benar-benar berduka.
Meskipun dibayar untuk berakting, Hellena tak pernah benar-benar meninggalkan tugasnya begitu saja. Setiap tangisan palsu yang ia luapkan selalu disertai dengan pengamatan yang tajam.
Setiap isak tangisnya adalah kamuflase untuk matanya yang mengamati detail-detail kecil, ekspresi wajah para pelayat, percakapan samar yang terdengar, bahkan tata letak ruangan. Ia menemukan bahwa terkadang, di balik tirai duka yang megah, tersembunyi kebohongan yang lebih kelam dari kematian itu sendiri, dan terkadang, dari kebohongan itulah, ia bisa merasakan secercah kebenaran.