


oleh Xavien · 99 Bab
Sebagai anggota Ordo Pemburu Vampir, Dachan Nox tahu satu aturan utama: jangan pernah berempati pada mangsamu. Namun, aturan itu hancur saat kontrak darah mistis mengikat jiwanya pada Omen, Raja Vampir yang dingin dan menawan. Ikatan itu tak hanya membuatnya sengsara, tetapi di saat yang sama juga membanjirinya dengan perasaan cinta yang tak bisa disangkal. Terperangkap di antara tugasnya dan gairah yang tumbuh, Dachan harus berjuang melawan ikatan yang mengancam untuk memisahkannya dari segala hal—termasuk cinta pertamanya, Kai Stone, yang tak tahu bahwa kekasihnya kini berada dalam pelukan musuh.
"Apa aku akan mati?"
Hanya dalam satu malam, sebuah kota besar hancur berantakan. Rumah-rumah terbakar, banyak gedung bertingkat ambruk, dan ratusan kendaraan di jalan raya saling bertubrukan satu sama lain.
Malam yang begitu pekat dengan bulan berdarah. Tercium bau anyir di sepanjang jalan. Keganasan dari taring tajam tak pernah menyisakan sedikit mangsa.
Pada malam, sehari menjelang tahun baru, terjadi invasi oleh para vampir. Siapa pun yang tergigit oleh taring vampir maka mereka akan mati. Ini adalah sebuah kasus besar yang menghebohkan banyak warga.
Sesosok gadis kecil berusia 7 tahun, dengan luka bakar di tubuh dan wajahnya duduk meringkuk sambil menangis.
"Dachan!"
Tak lama datanglah seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Dia menggenggam kedua pundak gadis malang itu dengan raut wajah sedih.
"Kai?"
Gadis itu mendongakkan kepala, menatap anak laki-laki itu dengan perasaan sedikit lega.
"Iya, aku di sini. Jangan khawatir," ucap Kai lantas memeluknya.
Malam itu adalah malam terakhirnya mereka berkumpul bersama keluarga. Dachan Nox dan Kai Stone adalah tetangga, mereka berdua cukup dekat termasuk keluarganya. Namun, kebahagiaan itu kini lenyap semenjak wabah vampir muncul di perkotaan pusat.
Sejak malam itu, kenangan buruk di bawah bulan darah memicu trauma yang mendalam hingga sulit dilupa.
***
15 tahun berlalu. Aether, kota pusat yang dulu megah, kini menjadi tanah terlantar yang diselimuti kengerian. Orang-orang yang berhasil selamat dari invasi brutal itu telah mengungsi ke kota sebelah, Novaria.
Sebagian dari mereka tiba-tiba saja membangkitkan kekuatan misterius—entah itu berkah, atau kutukan.
Dachan Nox adalah salah satunya. Meskipun hampir semua bekas luka bakar di tubuhnya sudah sembuh total, trauma itu menjadi katalis bagi kekuatannya. Sama seperti orang selamat lainnya, ia mendapatkan kemampuan istimewa: mengubah wajahnya menjadi wajah orang lain, sebuah ilusi yang sempurna untuk penyamaran.
Wabah Vampir masih menjadi misteri terbesar. Mereka datang menginvasi pada bulan berdarah, dan satu hal yang pasti: jika tergigit, maka akan mati. Khawatir wabah itu menyebar ke Novaria, banyak pasukan dikerahkan, serta pembentukan sebuah Ordo Pemburu Vampir (O.P.V).
Di sebuah klub malam.
"Kenapa harus aku yang menggantikan?"
"Dia sedang sakit. Sekarang, hanya kamu yang bisa melakulan ini. Aku mohon bantu aku ya?"
Ordo Pemburu Vampir (O.P.V) mendapat laporan bahwa seseorang mendapati lelaki yang mencurigakan. Sehingga Dachan yang memiliki kekuatan ilusi kini ditugaskan.
Gadis kecil yang dulunya sengsara kini telah bertumbuh dewasa. Dengan usianya yang sekarang 22 tahun, mungkin memang masih terlalu dini untuk pergi ke klub malam. Namun, dia datang ke sini bukan hanya untuk menggantikan peran seseorang.
Dachan melambaikan tangan pada banyak pria yang menyapanya. Dia tersenyum manis dan membuat semua pria itu seketika jatuh hati.
"Malam, Tuan." Pandangan Dachan tertuju pada seorang pria berbadan besar, berambut pirang dan mengenakan barang-barang mahal di tubuhnya.
"Ternyata kau sudah datang, kemarilah!"
Pria yang tadinya sedang asik memeluk kedua wanita itu langsung terkesiap saat melihat wanita muda yang terbalut gaun merah. Rambut hitam panjangnya yang tergerai serta lentik bulu matanya tak membuat pria itu berkedip.
Pria itu lantas menarik tangan Dachan dan membuatnya jatuh terduduk di atas pangkuannya. Dengan ekspresi manis, Dachan tersenyum sambil mengalungkan lengan kirinya ke belakang leher pria itu.
"Sepertinya Anda menunggu cukup lama?"
"Aku sangat bersabar menunggumu sejak tadi." Pria itu kemudian merangkul pinggangnya.
"Oh, kalau begitu saya ucapkan terima kasih. Saya senang Anda mengingat wanita yang tak berharga ini," ucap Dachan.
"Apanya yang tak berharga? Kau itu primadona bagi semua orang."
Banyak tamu berdatangan ke klub malam untuk menikmati kesenangan, lagu yang diputar menambah gairah. Lampu disko pun menghidupkan suasana di tengah wabah vampir yang masih belum ada kejelasan.
Di antara kerumunan orang yang menari, Dachan merasakan ada seseorang mengawasinya. Insting tajam ataupun firasat seorang perempuan tidak mungkin salah. Secara spontan Dachan menatap ke arah kerumunan itu dan berusaha mencarinya.
"Aku tidak bisa berlama-lama bersama dengan hidung belang ini. Aku harus pergi," batin Dachan.
Dia beranjak dari sana, meski sempat ditahan sebentar oleh pria itu, tapi Dachan akhirnya bisa lepas dari sana. Lalu pergi dan berjalan di antara kerumunan. Namun, dia tetap tak menemukan seseorang yang mencurigakan. Karena hasilnya nihil, Dachan pun pergi ke kamar belakang untuk berganti pakaian.
"Hei, Dachan? Kok sudah mau pergi?" Wanita yang berkerja di sini sebagai pengelola bertanya.
"Aku sudah membuat orang itu cukup puas. Sekarang aku harus pergi untuk mengurus pekerjaanku," jawab Dachan dengan tegas.
Pakaian yang serba sederhana berwarna hitam gelap. Zirah tersembunyi di balik kaos hitam dan dua buah belati terselip di antara pinggang celana pendeknya. Dachan turut mengenakan jubah panjang selutut juga menutupi bagian lehernya. Sepatu bot dan sarung tangan tebal pun memiliki warna yang sama.
"Dasar, sok sibuk!" cerca wanita itu.
Sembari mengikat rambutnya rapi, Dia menatap pantulan dirinya, membiarkan ilusi wajah primadona itu meredup, memperlihatkan sebentar bayangan bekas luka yang kini tertutupi oleh kekuatan barunya. Sudah waktunya wajah aslinya—wajah pemburu—kembali.
Keluar dari klub malam, Dachan kembali merasakan firasat buruk. Hatinya gelisah, lamgkahnya terhenti dan untuk sesaat menoleh ke belakang. Dia melakukan itu hanya sekadar mengantisipasi.
Lampu di pinggir jalan yang sepi tak membuat tenang hatinya, justru semakin was-was. Tak lama ponsel dalam saku bergetar dan sebuah notifikasi pesan mengambang di layar.
Dr. Graham Albright: [Anda melupakan janji konseling hari ini.]
"Ah, aku lupa."
Sejenak Dachan bersandar di dinding. Kedua jari jempolnya hendak mengetik sesuatu tapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Setelah memasukkan ponsel kembali ke saku jubah, dia segera pergi dari sana.
Klub Malam yang telah diintai oleh Dachan, nyatanya memang tidak ada keanehan. Hanya saja Dachan merasakan keberadaan yang tidak biasa dan kini sosok itu sedang membuntutinya.
Sesampainya di apartemen, dia mempercepat langkah menuju ke tempat tinggalnya yang berada di Lantai 4, Unit 408.
"Eh?!"
Mendapati pintu yang terbuka sedikit, Dachan merasa panik luar biasa.
"Dia sudah lama tidak pulang. Apa ini ulah Kai?" Dachan berusaha keras berpikir positif.
Ia yakin itu hanya ulah teman masa kecilnya. Dachan lekas masuk, dan pintu itu otomatis terkunci dengan bunyi 'klik' pelan di belakangnya.
"Kai, kamu di sini?"
Ruangan gelap, lampu mati. Dachan mengutak-atik sakelar. Nihil.
Kegelisahan dalam hati berubah menjadi kewaspadaan. Dachan melangkah pelan ke ruang tengah. Bau debu dan udara yang dingin sangat menusuk.
Hanya sinar rembulan yang menerangi kursi sofa, dan di sana, sebuah siluet hitam yang tidak dikenal tiba-tiba muncul di lantai.
Dachan terkejut, tetatpi instingnya jauh lebih cepat dari pikirannya.
Saat Dachan berbalik, siap menarik salah satu belati di pinggang, sosok lelaki yang asing itu telah berada di belakangnya. Tangan besar itu membungkam mulutnya.
Tubuh ramping Dachan didorong hingga terbaring jatuh ke kursi sofa. Kedua tangannya yang jauh lebih kecil digenggam kuat-kuat.
"Siapa dia?! Kenapa ada di sini?!" Pikiran Dachan kacau, napasnya tersengal.
Lelaki itu berada di atas Dachan, mengunci seluruh bagian tubuhnya.
Malam yang tenang berubah mencekam hanya dalam hitungan detik. Cengkeramannya menguat seiring Dachan terus memberontak. Dia berusaha mencari cara tuk melepaskan diri, tapi tenaga pria ini terlalu kuat.
Mata merah yang menyala itu menatapnya dengan tajam. Seringai tipis membuat taringnya semakin menonjol. Dachan menelan ludah, merasakan bahwa sosok pria asing itu bukan hanya sekadar berbahaya saja.
Pria itu kemudian memangkas jarak pandang di antaranya lalu berbisik, "Patuh padaku, maka kau akan hidup sedikit lebih lama."
Kalimat yang diucapkan terdengar begitu arogan. Suara yang berat menggelitik daun telinga. Perlahan tangan yang tadi membungkam mulut wanita muda itu kini menurun ke bawah. Dia menekan dagu Dachan yang membuatnya spontan membuang muka.

Xavien
1 Pengikut · 1 Novel