Di Bumi Makmur, orang-orang percaya ada tiga hal yang tidak pernah bisa diprediksi, yakni cuaca, isi hati manusia, dan hasil pertandingan sepak bola. Namun, bagi warga kampung itu, ketiganya tetap bisa diprediksi.
Asalkan ada taruhan.
Pagi itu, lapangan kecil di tengah kampung sudah penuh seperti pasar malam. Bukan karena ada pertandingan, melainkan karena semua orang sedang sibuk membuat ramalan tentang laga Piala Dunia yang akan berlangsung malam nanti.
Rangga berdiri di pinggir lapangan sambil memegang buku catatan. Sebagai wartawan lokal, ia datang dengan niat sederhana untuk membuat laporan tentang fenomena taruhan paling aneh di Bumi Makmur. Namun, baru lima menit berada di sana, ia sudah merasa seperti masuk ke dunia yang tidak masuk akal.
“Pak, serius bapak bertaruh kumis?” tanya Rangga sambil melihat seorang pria tua yang memegang kertas perjanjian.
Pria itu bernama Pak Darto, kepala sekolah SD Bumi Makmur yang terkenal sangat menjaga kumisnya.
“Serius sekali,” jawab Pak Darto sambil mengusap kumis tebalnya. “Kalau prediksi saya salah, kumis ini akan saya cukur.”
Rangga membelalakkan mata.
“Pak, itu kumis yang sudah bapak rawat selama dua puluh tahun.”
“Betul. Makanya taruhannya berharga.”
“Kalau menang?”
“Saya minta warga berhenti memanggil saya Pak Darto Kumis Seribu Tahun.”
Rangga menahan tawa.
“Selama ini bapak dipanggil begitu?”
“Lebih parah. Anak-anak pernah membuat lagu tentang kumis saya.”
Dari belakang, seorang anak kecil langsung berseru,
“Pak Darto, kumis bapak panjang. Kalau ditiup angin, bisa jadi layang-layang!”
Warga tertawa.
Pak Darto hanya menggeleng.
“Ini alasan saya taruhan. Harga diri saya dipertaruhkan.”
Rangga mencatat.
“Catatan pertama. Di Bumi Makmur, manusia rela mempertaruhkan rambut wajah demi sepak bola.”
Belum selesai menulis, seseorang berteriak dari arah warung.
“Rangga! Jangan cuma lihat-lihat! Catat juga taruhan terbesar hari ini!”
Rangga menoleh.
Yang datang adalah Bima, sahabatnya sejak kecil. Pria itu terkenal sebagai pengusaha kecil yang selalu punya ide aneh.
“Apa lagi, Bima?” tanya Rangga.
Bima menunjuk papan besar di depan warung.
Di sana tertulis:
PREDIKSI PIALA DUNIA: TARUHAN TERBUKA!
Hadiah:
Uang tunai.
Satu kambing.
Sebungkus mi instan.
Nama baik keluarga.
Rangga mengernyit.
“Nama baik keluarga?”
Bima tersenyum bangga.
“Itu taruhan paling mahal.”
“Kenapa?”
“Karena uang bisa dicari, tetapi kalau kalah prediksi lalu diejek tetangga selama lima tahun, itu luka batin.”
Rangga tertawa kecil.
“Bima, kalian ini sadar tidak kalau ini cuma pertandingan bola?”
Bima langsung memasang wajah serius.
“Tidak, Rangga.”
“Lalu?”
“Ini pertarungan strategi, psikologi, keberuntungan, dan sedikit keyakinan yang terlalu percaya diri.”
“Itu cara halus bilang menebak?”
“Tidak. Menebak itu untuk orang biasa. Kami menyebutnya analisis.”
Rangga melihat papan prediksi.
Nama-nama warga tertulis lengkap dengan pilihan tim.
Ada yang memilih berdasarkan statistik.
Ada yang memilih berdasarkan firasat.
Ada yang memilih karena pernah bermimpi bertemu pemain bola.
Bahkan ada yang memilih karena warna kaus tim dianggap membawa keberuntungan.
Rangga mendekati seorang pria bernama Udin.
“Pak Udin, kenapa memilih tim itu?” tanya Rangga.
“Karena tadi pagi saya melihat burung hinggap di pagar,” jawab Pak Udin.
Rangga diam.
“Hubungannya apa, Pak?”
“Burung itu menghadap kiri.”
“Terus?”
“Tim favorit saya punya warna yang mirip dengan sisi kiri logonya.”
Rangga menatap Bima.
“Memangnya ada warna kiri?”
Bima mengangkat bahu.
“Entahlah. Yang penting Pak Udin yakin.”
“Dia serius?”
Bima mengangguk.
“Sangat serius.”
“Ini sudah melewati batas.”
“Belum. Kemarin ada yang memilih berdasarkan bentuk awan.”
Rangga menghela napas. Namun, di balik semua kekonyolan itu, ia mulai melihat sesuatu.
Taruhan di Bumi Makmur bukan sekadar soal uang.
Orang-orang berkumpul karena taruhan membuat mereka punya alasan untuk bercanda, berkumpul, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu, tetapi saat Rangga hendak pergi, ia melihat sebuah meja kecil di ujung lapangan.
Berbeda dari meja lainnya.
Tidak ada tawa.
Tidak ada teriakan.
Hanya beberapa pria berpakaian rapi sedang berbicara pelan.
Rangga menyipitkan mata.
“Siapa mereka?” tanya Rangga.
Bima langsung berubah ekspresi.
“Oh, itu kelompok lama.”
“Kelompok lama?”
“Orang-orang yang sudah bermain taruhan sejak Piala Dunia puluhan tahun lalu.”
“Dan?”
“Mereka bukan bertaruh kambing atau kumis.”
Rangga menatap Bima.
“Mereka bertaruh apa?”
Bima mendekat dan berbisik,
“Pengaruh.”
Rangga terdiam.
“Jangan bercanda.”
“Aku serius. Mereka punya uang, bisnis, dan koneksi. Katanya dulu banyak keputusan besar di kampung ini berawal dari meja taruhan mereka.”
Rangga melihat lagi meja itu.
Salah satu pria mengangkat gelas kopi.
“Pertandingan malam ini akan menentukan siapa yang naik.”
“Naik apa?” bisik Rangga.
Bima mengangkat bahu.
“Itulah yang belum diketahui.”
Rangga mulai merasa ceritanya berubah.
Awalnya ia hanya ingin membuat artikel lucu tentang warga yang bertaruh secara konyol. Namun, sekarang ia melihat sesuatu yang lebih besar.
Di Bumi Makmur, sepak bola ternyata bukan hanya permainan.
Itu adalah panggung.
Tempat orang mencari gengsi.
Tempat orang menunjukkan kekayaan.
Tempat persahabatan diuji, dan mungkin tempat beberapa orang menjalankan rencana yang tidak diketahui siapa pun.
Malam semakin dekat.
Warga mulai berkumpul di depan layar besar.
Pertandingan Piala Dunia akan dimulai.
Taruhan terakhir ditutup.
Kambing sudah diikat.
Kumis sudah dipersiapkan, dan beberapa orang mulai tersenyum terlalu percaya diri.
Rangga membuka buku catatannya.
Di halaman pertama ia menulis:
“Di Bumi Makmur, satu gol bisa membuat seseorang kaya.”
Ia berhenti sebentar.
Lalu menambahkan:
“Atau membuat seluruh kampung kehilangan akal sehat.”
Dari kejauhan, suara warga terdengar.
“Lima menit lagi mulai!”
“Siapkan taruhan!”
“Siapkan mental!”
“Siapkan camilan!”
Bima menepuk bahu Rangga.
“Selamat datang di pertandingan terbesar Bumi Makmur.”
Rangga tersenyum tipis.
“Aku datang untuk mencari berita.”
Bima tertawa.
“Kamu mungkin akan pulang membawa masalah.”
Rangga melihat layar yang mulai menyala.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa pertandingan malam itu bukan hanya tentang siapa yang menang.