Bumi Makmur pernah berjanji akan berhenti bertaruh.
Setidaknya itu yang dikatakan warga setelah malam penuh kekacauan ketika rahasia meja Surya mulai terbuka. Namun, janji warga Bumi Makmur memiliki sifat yang aneh.
Mudah dibuat.
Sulit dijalankan.
Apalagi jika ada pertandingan sepak bola.
Pagi itu, lapangan tengah kampung kembali ramai. Tidak ada yang mengaku sedang membahas taruhan, tetapi semua orang membawa sesuatu yang mencurigakan.
Ada yang membawa buku catatan.
Ada yang membawa kalkulator.
Ada yang membawa makanan, dan Pak Udin membawa kambing.
Rangga yang baru datang langsung berhenti berjalan.
Ia melihat pemandangan itu dengan wajah bingung.
“Pak Udin,” panggil Rangga.
Pria itu menoleh.
“Oh, Rangga. Pagi.”
Rangga menunjuk kambing di sampingnya.
“Kenapa kambing bapak dibawa lagi?”
Pak Udin terlihat santai.
“Dia ikut rapat.”
“Rapat apa?”
“Rapat persiapan.”
“Persiapan apa?”
Pak Udin tersenyum.
“Pertandingan.”
Rangga menghela napas.
Dalam hati ia berkata, Baru juga beberapa hari berlalu. Saya kira kampung ini sudah berubah.
Ternyata saya terlalu optimistis.
Bima datang membawa dua gelas kopi.
“Rangga.”
“Apa?”
“Kamu terlihat kecewa.”
“Saya sedang berharap Bumi Makmur belajar dari kejadian sebelumnya.”
Bima menyerahkan kopi.
“Harapan itu bagus.”
“Terima kasih.”
“Tidak berlaku untuk warga sini.”
Rangga menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena mereka sudah menemukan alasan baru untuk bertaruh.”
Rangga melihat papan besar di tengah lapangan.
Di sana tertulis:
PREDIKSI PERTANDINGAN INTERNASIONAL
Di bawahnya ada banyak nama warga.
Rangga membaca.
“Bima.”
“Iya?”
“Ini bukannya kemarin kalian bilang tidak ada taruhan lagi?”
Bima tersenyum kecil.
“Tidak ada taruhan lama.”
“Lalu ini?”
“Taruhan baru.”
“Itu sama saja.”
“Tidak sama.”
“Apa bedanya?”
Bima menunjuk tulisan.
“Yang kemarin pakai kambing, kumis, dan harga diri.”
“Sekarang?”
“Sekarang pakai metode lebih modern.”
Rangga melihat papan.
“Metode apa?”
Bima menunjuk beberapa catatan.
“Ada analisis statistik.”
Rangga mengangguk.
“Bagus.”
“Ada analisis pemain.”
“Bagus.”
“Ada analisis cuaca.”
“Masih masuk akal.”
“Ada analisis berdasarkan jumlah orang yang membeli gorengan.”
Rangga berhenti.
“Bima.”
“Iya?”
“Itu kembali ke cara lama.”
Bima tertawa.
“Tidak bisa meninggalkan tradisi.”
Pertandingan sepak bola yang sedang menjadi bahan pembicaraan warga kali ini adalah laga internasional terbaru yang mereka pantau bersama. Bagi warga Bumi Makmur, pertandingan tersebut bukan hanya tentang skor akhir.
Itu adalah bahan diskusi.
Bahan perdebatan, dan tentu saja bahan taruhan.
Rangga membuka bukunya.
Ia sudah berniat tidak ikut campur. Namun, sebagai wartawan, ia tahu satu hal.
Kalau Bumi Makmur mulai ramai, pasti ada cerita.
Di depan layar kecil warung, Pak Darto duduk sambil membaca catatan.
Rangga mendekat.
“Pak Darto, sedang apa?”
Pak Darto tidak langsung menjawab.
Ia masih serius melihat kertas.
“Saya sedang menghitung kemungkinan.”
Rangga terkejut.
“Akhirnya bapak memakai analisis?”
“Tentu.”
“Berdasarkan apa?”
Pak Darto mengangkat kertasnya.
“Berdasarkan pengalaman.”
“Pengalaman sepak bola?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Pengalaman kalah taruhan.”
Rangga diam.
Bima yang mendengar langsung tertawa.
“Itu bukan pengalaman menang, Pak.”
Pak Darto mengangguk.
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa dijadikan dasar?”
“Karena orang yang pernah salah bisa belajar.”
Rangga tersenyum.
“Masuk akal.”
Bima mengangkat tangan.
“Pak, saya kagum.”
Pak Darto terlihat bangga.
“Kenapa?”
“Untuk pertama kalinya analisis bapak hampir normal.”
“Hampir?”
“Iya.”
“Bagian tidak normalnya?”
“Bapak memakai tujuh kali kekalahan sebagai data.”
Pak Darto berpikir.
“Data tetap data.”
Rangga tertawa.
Di sisi lain lapangan, suasana berubah ketika sebuah mobil berhenti.
Beberapa warga langsung diam.
Surya turun dari mobil. Namun, kali ini ia tidak datang dengan banyak orang.
Hanya membawa satu map tipis.
Rangga langsung memperhatikan.
Bima menyadari.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan mulai lagi.”
“Saya hanya melihat.”
“Wajah kamu kalau melihat sesuatu mencurigakan berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Seperti kucing melihat ikan.”
Rangga tertawa kecil.
“Saya bukan kucing.”
“Penasaran.”
“Itu pekerjaan saya.”
“Itu sumber masalah kamu.”
Surya berjalan mendekat.
Ia melihat papan prediksi warga.
Lalu tersenyum.
“Kampung ini ternyata tidak berubah.”
Pak Udin langsung menjawab.
“Berubah, Pak.”
Surya menoleh.
“Berubah bagaimana?”
Pak Udin menunjuk kambingnya.
“Dulu kambing saya hanya penonton.”
“Sekarang?”
“Sekarang dia penasihat.”
Beberapa warga tertawa.
Surya ikut tersenyum.
“Kreatif.”
Rangga memperhatikan.
Ada yang berbeda dari Surya.
Biasanya pria itu terlihat seperti orang yang selalu menghitung sesuatu. Namun, hari itu, wajahnya terlihat lebih santai.
Rangga mendekat.
“Pak Surya.”
“Iya, Rangga?”
“Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Surya menatapnya.
“Kamu masih suka mencari jawaban?”
“Sebagai wartawan, iya.”
Surya melihat lapangan.
“Kadang jawaban datang sendiri.”
“Biasanya?”
“Biasanya manusia terlalu sibuk mencari sampai lupa melihat.”
Rangga diam.
Bima berbisik.
“Dia bicara seperti teka-teki.”
Rangga menjawab pelan.
“Biasanya teka-teki berarti ada sesuatu.”
Surya tersenyum kecil.
“Kalian berdua masih sama.”
Bima menunjuk dirinya sendiri.
“Saya?”
“Iya.”
“Apa yang sama?”
“Selalu muncul ketika ada masalah.”
Bima langsung protes.
“Pak, saya bukan pembawa masalah.”
Rangga menoleh.
“Bima.”
“Iya?”
“Lima menit lalu kamu bilang saya sumber masalah.”
“Itu berbeda.”
“Bedanya?”
“Kamu mencari masalah. Saya menemani masalah.”
Rangga tertawa.
Pertandingan belum dimulai. Namun, Bumi Makmur sudah kembali seperti dulu.
Penuh suara.
Penuh tebakan.
Penuh orang yang yakin dirinya benar.
Rangga menatap semua itu.
Ia sadar.
Part pertama hanya membuka pintu.
Sekarang pintu itu sudah terbuka lebar, dan di baliknya, ada permainan yang lebih besar.
Ia membuka buku catatan.
Menulis satu kalimat:
“Di Bumi Makmur, taruhan tidak pernah benar-benar selesai.”
Ia berhenti.
Lalu menambahkan:
“Karena selalu ada orang yang percaya dirinya bisa mengalahkan takdir.”
Dari kejauhan, suara warga terdengar.
“Pertandingan mulai!”
“Siapkan prediksi!”
“Siapkan mental!”
“Siapkan camilan!”
Bima mengangkat kopi.
“Selamat datang kembali, Rangga.”
Rangga melihat layar pertandingan.
Lalu melihat warga.
Lalu melihat Surya.
“Aku baru sadar satu hal.”
“Apa?”
“Bumi Makmur bukan kampung yang suka taruhan.”
Bima mengernyit.
“Lalu?”
Rangga tersenyum kecil.
“Bumi Makmur adalah kampung yang tidak bisa hidup tanpa cerita.”