Senin pagi selalu punya cara sendiri untuk membuat Caca ingin kembali ke tempat tidur.
Alarm di ponselnya sudah berbunyi sejak tiga puluh menit lalu. Namun, seperti biasa, Caca baru benar-benar membuka mata ketika suara alarm terakhir berbunyi untuk kesekian kalinya.
Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur, mencari ponsel dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Jam berapa ...?” Begitu layar ponselnya menyala, kedua mata Caca langsung terbuka sempurna.
08.12.
“Hah?!” Caca langsung bangkit dari tempat tidur. “Astaga, aku telat!”
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, kamar apartemennya yang semula tenang berubah menjadi medan perang kecil. Selimut berantakan, bantal terlempar ke lantai, sementara beberapa pakaian berserakan di atas kursi.
Caca berdiri di depan cermin sambil mengikat rambutnya asal.
Seorang perempuan berusia dua puluh enam tahun dengan rambut hitam sepinggang dan wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kantuk menatap balik dari cermin.
“Kenapa setiap Senin begini terus, sih?” Ia menghela napas.
Caca adalah seorang graphic designer di sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang branding dan kreatif. Pekerjaannya sebenarnya cukup ia sukai. Ia senang membuat sesuatu dari halaman kosong, bermain dengan warna, bentuk, tipografi, dan berbagai ide yang terkadang bahkan muncul ketika sedang mandi. Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa ia sukai dari pekerjaannya.
Deadline.
Terutama deadline hari Senin.
Setelah memastikan laptop sudah masuk ke dalam tas, Caca meraih dompet dan ponselnya. Ia bahkan tidak sempat sarapan.
“Ocha nanti aja.” Kalimat itu terlontar begitu saja sebelum ia menutup pintu apartemennya.
Caca memiliki satu kebiasaan yang sudah bertahun-tahun sulit dilepaskan.
Ia sangat menyukai semua minuman dari teh hijau.
Entah itu matcha, green tea latte, atau ocha dingin tanpa gula, hampir semuanya bisa membuat mood Caca membaik.
Biasanya, secangkir ocha adalah teman wajibnya ketika bekerja. Namun pagi itu, ia tidak punya waktu untuk memikirkan minuman kesayangannya.
Caca berlari kecil menyusuri trotoar.
Untungnya, kantor tempatnya bekerja hanya berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari apartemennya. Biasanya perjalanan itu terasa singkat dan menyenangkan. Caca bisa mampir membeli sarapan atau berhenti sebentar di minimarket, tapi tidak hari ini.
Hari ini ia harus tiba di kantor sebelum atasannya menyadari bahwa salah satu graphic designer mereka datang terlambat.
“Semoga belum jam setengah sembilan.”
Caca mempercepat langkah.
Ketika sudah mendekati gedung kantornya, ia mulai melihat beberapa rekan kerja yang juga berjalan menuju lobby.
Caca menarik napas lega. Setidaknya ia tidak sendirian. Namun, tepat beberapa meter sebelum lobby, langkahnya mendadak melambat.
Matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil di seberang jalan.
Sebuah kafe.
Caca mengernyitkan dahi. “Loh?”
Kafe itu tampak baru sekali. Cat bagian luarnya masih terlihat bersih, dengan papan nama bernuansa minimalis khas Jepang. Di depan pintunya terdapat beberapa tanaman hijau dalam pot kecil. Jendela kaca besar memperlihatkan interior dengan meja kayu, lampu berwarna hangat, serta dekorasi sederhana yang membuat tempat itu terlihat nyaman.
Di depan kafe berdiri sebuah papan menu.
Dari tempat Caca berdiri, ia hanya bisa membaca beberapa tulisan besar.
OCHA.
Mata Caca langsung berbinar. “Ocha?”
Sejenak, rasa terburu-burunya menghilang.
Caca bahkan hampir saja menyeberang jalan. Namun ketika ia melihat jam di ponselnya, senyum di wajahnya langsung lenyap.
08.27.
“Ah, nanti aja.” Ia menatap kafe itu sekali lagi. “Pulang kerja nanti aku akan coba mampir ke sini.”
Setelah membuat janji kecil dengan dirinya sendiri, Caca segera berlari menuju lobby kantor.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa keputusan kecil untuk menunda kunjungan itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
=====
Lima menit kemudian, Caca sudah berdiri di depan lift. Napasnya masih sedikit terengah.
Pintu lift terbuka.
Ia segera masuk bersama beberapa karyawan lain dan menekan tombol lantai lima.
“Semoga Pak Dimas belum dateng,” gumam caca dalam hati.
Pak Dimas adalah atasannya sekaligus Creative Lead di divisi tempat Caca bekerja.
Orang yang cukup santai dalam keseharian, tetapi bisa berubah menjadi sangat serius ketika berhadapan dengan deadline.
Caca tahu betul, hari ini ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
Begitu pintu lift terbuka di lantai lima, Caca langsung berjalan menuju ruang divisinya. Namun, baru beberapa langkah, ia sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Suasana kantor jauh lebih ramai dari biasanya.
Beberapa orang duduk di depan komputer dengan wajah serius. Ada yang sibuk berdiskusi, ada pula yang mondar-mandir membawa laptop.
Caca berhenti di depan mejanya.
Lalu terdiam.
Di atas mejanya sudah terdapat beberapa lembar kertas hasil print desain.
Di layar monitornya, notifikasi pesan dari klien terus bermunculan.
REVISION REQUEST — CLIENT KEVIN
REVISION REQUEST — CLIENT MARCO
Dan yang paling membuatnya ingin menghela napas panjang ....
URGENT — Pak Dimas.
Caca menarik kursinya dan duduk. “Baru juga Senin.”
Ia membuka pesan dari atasannya.
'Ca, untuk desain campaign yang kemarin tolong revisi layout-nya. Client minta lebih clean dan premium. Sekalian cek beberapa alternatif font. Jam 12 sudah harus dikirim lagi.'
Caca menatap layar tanpa berkedip selama beberapa detik.
“Jam dua belas?” Ia melirik jam.
08.35.
Belum selesai membaca pesan tersebut, satu notifikasi baru muncul.
Lalu satu lagi. Dan satu lagi.
Caca memejamkan mata.
Ia menarik napas panjang, kemudian mengambil botol minumnya.
Kosong.
“Bahkan ocha aja belum minum.” Caca menyandarkan tubuhnya sebentar ke kursi.
Di kepalanya tiba-tiba terlintas bayangan kafe Jepang yang baru buka di seberang kantor.
Papan kayu. Lampu hangat. Dan tulisan besar OCHA.
Caca tersenyum kecil. “Pulang kerja aku harus ke sana.”
Setelah itu, ia memutar kursinya menghadap komputer.
Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, membuka satu per satu file desain yang harus direvisi.
Ia tidak tahu bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir ketika kafe di seberang kantornya hanyalah sebuah tempat baru yang menarik perhatian.
Karena mulai hari itu, tempat tersebut perlahan akan menjadi bagian dari rutinitasnya.
Seseorang yang belum ia kenal akan menjadi alasan lain mengapa Caca selalu menantikan waktu pulang kerja.