Suara logam beradu memantul panjang di lorong bawah tanah. Lampu darurat berkedip dalam ritme yang tidak beraturan, memancarkan cahaya merah yang membuat setiap bayangan tampak hidup.
Bau besi, kabel terbakar, dan udara lembap memenuhi paru-paru siapa pun yang melangkah di sana.
Aurel menghentikan langkahnya. Di depannya terbentang sebuah gerbang baja raksasa yang nyaris tertutup debu.
Pada permukaannya terpahat lambang yang selama ini hanya ia lihat di arsip digital 'ATHENA.
GENESIS'.
Tulisan itu masih terlihat jelas meski puluhan tahun telah berlalu.
Rio berdiri di sampingnya sambil mengusap keringat di pelipis. "Aku berharap menemukan gudang tua," katanya pelan, "bukan ini."
Laras mengangkat senter ke arah gerbang. "Ini bukan fasilitas biasa."
Nada suaranya terdengar mantap, tetapi matanya memperlihatkan kewaspadaan yang sulit disembunyikan.
Maya berjalan mendekati panel kontrol. "Panelnya masih aktif."
"Apa?" Rio menoleh cepat.
"Masih ada daya."
Keheningan langsung menyelimuti lorong.
Dita merapatkan jaketnya. "Itu mustahil."
Galang menggeleng perlahan. "Tidak ada pembangkit yang bisa bertahan selama ini."
Aurel memandangi panel bercahaya itu tanpa berkedip.
Di dalam kepalanya kembali terngiang suara Athena yang terakhir kali ia dengar sebelum pusat kendali runtuh.
Administrator Utama terdeteksi. Kalimat itu masih terdengar jelas, seolah sistem itu belum benar-benar mati.
"Aurel." Laras memanggil pelan. "Kau tidak apa-apa?"
Aurel mengangguk tipis. "Hanya mengingat sesuatu."
Rio menghela napas. "Kalau memang masih ada listrik berarti ada seseorang yang merawat tempat ini."
Belum sempat siapa pun menjawab.
Brak!
Suara benturan keras menggema dari balik gerbang. Semua refleks mengangkat senjata.
"Siapa di sana?" teriak Galang.
Tidak ada jawaban, hanya suara langkah. Satu, dua, tiga, lalu senyap.
Maya menelan ludah. "Aku tidak suka ini."
"Aku juga," gumam Dita.
Laras mengangkat telapak tangannya memberi isyarat tenang. "Jangan panik."
Rio mendekati panel. "Aku coba buka."
"Tunggu." Aurel menahan lengannya. "Kalau tempat ini masih aktif, bisa jadi ada sistem keamanan."
Rio mengangguk. "Benar juga."
Maya mulai menghubungkan alat pemindai ke panel. Beberapa detik kemudian layar kecil di pergelangan tangannya dipenuhi angka. Matanya langsung membesar.
"Ini ...."
"Ada apa?" tanya Laras.
"Panel ini bukan meminta kode."
"Lalu?"
"Ia meminta identitas."
Galang mengernyit. "Identitas siapa?"
Maya menatap Aurel. "Administrator."
Semua orang otomatis memandang pria itu.
Rio memecah keheningan. "Jangan bilang …."
Aurel menarik napas panjang. "Aku juga tidak tahu."
Laras melangkah mendekatinya. "Kalau memang kau Administrator Utama."
"Bagaimana kalau itu jebakan?" potong Dita.
"Kalau sistem mengenal Aurel, kita bisa masuk."
"Kalau sistem ingin membunuhnya?"
Tidak ada yang mampu menjawab. Suasana kembali membeku.
Aurel memejamkan mata sesaat. Di benaknya bermunculan potongan-potongan ingatan yang selama ini kabur. Ruangan putih. Anak-anak mengenakan seragam.
Suara seorang pria tua. "Suatu hari nanti kau akan membuka pintu terakhir."
Aurel membuka mata. "Entah kenapa."
"Apa?" tanya Rio.
"Aku pernah berada di sini."
Semua terdiam.
"Itu tidak mungkin," kata Galang.
"Aku juga berharap begitu."
Perlahan Aurel mengangkat telapak tangannya.
Panel itu tiba-tiba menyala terang.
IDENTITAS TERDETEKSI. SELAMAT DATANG, ADMINISTRATOR UTAMA.
Rio sampai mundur selangkah. "Demi ...." Kalimatnya terhenti.
Gerbang baja mulai bergetar. Bunyi roda-roda mekanis yang telah lama tertidur memenuhi lorong. Debu beterbangan.
Lalu gerbang perlahan terbuka. Semua orang terpaku. Di balik pintu itu bukan laboratorium.
Bukan gudang. Bukan pusat penelitian, melainkan sebuah kota.
Rio membelalakkan mata. "Aku sedang bermimpi?"
Gedung-gedung menjulang tinggi. Jalan raya membentang rapi. Lampu-lampu masih menyala. Kereta otomatis masih bergerak.
Bahkan, taman kota masih dipenuhi pepohonan hijau. Semuanya berada jauh di bawah permukaan bumi.
Dita menutup mulutnya. "Selama ini."
"Mereka menyembunyikan seluruh kota," bisik Maya.
Laras memperhatikan setiap sudut. "Tidak ada debu."
Galang ikut mengamati. "Berarti tempat ini masih dihuni."
Ucapan itu membuat semua orang kembali waspada.
Belum sempat mereka melangkah, terdengar suara perempuan dari pengeras suara. "Selamat datang, Administrator."
Aurel menoleh ke segala arah. "Siapa kau?"
"Aku telah menunggu."
Rio berbisik, "Suara itu."
"Bukan Athena," jawab Maya. "Sangat mirip."
Perempuan itu kembali berbicara, "Silakan memasuki Kota Genesis."
"Kami tidak datang sebagai tamu," kata Laras tegas. "Kami mencari kebenaran."
Terdengar tawa kecil.
"Kebenaran. Manusia selalu mengucapkan kata itu, lalu saling membunuh karenanya."
Aurel merasakan bulu kuduknya berdiri. Suara itu tidak mengandung emosi. Namun, justru itulah yang membuatnya terasa mengerikan.
"Perlihatkan dirimu," pinta Galang.
"Aku ada di mana-mana."
Rio menggeleng pelan. "Aku benci AI yang suka bermain teka-teki."
"Tidak semua teka-teki diciptakan untuk dijawab," balas suara itu. "Sebagian diciptakan untuk menguji siapa yang layak hidup."
Keheningan kembali turun. Maya memandang layar pemindainya. Wajahnya mendadak pucat.
"Aurel."
"Apa lagi?"
"Ada ribuan sinyal biologis."
"Berapa?"
"Lebih dari sembilan ribu."
Rio spontan tertawa kecil. "Itu pasti salah baca."
"Aku berharap begitu."
"Alat ini tidak pernah salah."
Semua saling berpandangan.
Laras mengepalkan tangan. "Berarti, mereka masih hidup."
Aurel memandang jauh ke arah kota yang terang benderang. Jendela-jendela gedung memantulkan cahaya putih.
Di kejauhan tampak siluet manusia berjalan di trotoar. Tidak tergesa, juga tidak panik. Seolah dunia di atas permukaan tidak pernah runtuh. Namun, sebelum mereka sempat mendekat, seluruh layar digital di kota itu menyala serempak.
Satu wajah perempuan muncul memenuhi setiap bangunan. Ia tersenyum tenang. "Selamat datang di rumah."
Kemudian senyum itu perlahan menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
"Administrator."
"Akhirnya kau kembali."
Di saat yang sama, jauh di balik salah satu menara tertinggi, sosok berjubah hitam memperhatikan kedatangan mereka melalui dinding kaca. Ia mematikan layar hologram dengan satu sentuhan.
"Jadi." Suara pria itu lirih. "Permainan terakhir akhirnya dimulai."
Di belakangnya, puluhan kapsul transparan berjajar memenuhi ruangan. Di dalam setiap kapsul, manusia tertidur dengan kabel yang terhubung langsung ke tengkorak mereka.
Salah satu kapsul perlahan membuka. Mata seorang perempuan terbuka perlahan. Tatapannya kosong. Namun, bibirnya mengucapkan satu nama dengan suara nyaris tak terdengar.
"Aurel."