Konon, di ujung timur kampung Alas Jati, ada sebuah lembah yang tidak boleh disebut namanya setelah matahari terbenam. Bukan karena lembah itu tidak punya nama, tetapi karena menyebutnya bisa mengundang sesuatu dari balik kabut yang menggantung abadi di atas tanah merahnya. Mereka yang tak sengaja melewati jalur setapak di sana seringkali kembali tanpa ingatan lengkap—atau tak kembali sama sekali. Warga menyebutnya dengan suara pelan: Lembah Geni.
Lembah itu menyimpan luka purba, dari zaman penjajahan hingga masa modern. Di sanalah para dukun buangan, pesakitan yang memelihara dendam, dan jiwa-jiwa penasaran disemayamkan tanpa ritual. Sejak puluhan tahun, tak ada yang berani mengusiknya. Sampai seorang remaja indigo bernama Rio, tanpa sengaja, membuka kembali gerbang yang mestinya tak pernah disentuh manusia.
24 Tahun yang Lalu
Hujan mengguyur Alas Jati malam itu. Bukan gerimis, bukan rinai. Tapi hujan yang seolah membawa amarah dari langit. Petir mengoyak langit berkali-kali, seolah memberi aba-aba pada sesuatu yang ingin bangkit dari tanah.
Di tengah hutan, tiga orang berpakaian serba hitam mengelilingi sebuah lubang tanah. Di dalamnya, tubuh seorang perempuan muda dicekik hidup-hidup oleh pria tua yang matanya merah menyala. Darah mengalir dari leher perempuan itu, membasahi kain putih yang membungkus tubuhnya.
"Tumbal ini harus sempurna. Kalau tidak, Lembah Geni akan menagih nyawa kita semua," ujar si pria tua. Namun sebelum ia menyelesaikan ritualnya, perempuan itu membuka mata. Dengan suara parau dan mata yang mendelik tajam, ia meludah ke wajah dukun tua itu.
"Kalian pikir bisa kendalikan arwahku? Lihat saja, kalian semua akan terbakar dalam teluh kalian sendiri!"
Tiba-tiba, api menyala dari tanah. Lubang tempat perempuan itu dikubur memercikkan bara. Ketiga dukun panik. Ritual gagal. Dan sejak malam itu, suara jeritan dari arah Lembah Geni terdengar setiap malam satu Suro.
---
Satrio Wibowo atau Rio memindahkan tas ransel dari bahu kanannya ke kiri. Bus kecil yang membawanya dari kota, baru saja meninggalkan gerbang kayu yang bertuliskan: Selamat Datang di Desa Alas Jati.
Langit sore menggantung redup, seakan menahan matahari agar tak terlalu cepat tenggelam. Udara lembap mengandung aroma tanah dan kayu lapuk. Angin meniupkan suara-suara samar dari pepohonan rindang yang berdiri bagai penjaga tak kasat mata.
Udara dingin menyambut. Tapi yang lebih menusuk bukan suhu, melainkan tatapan warga. Sepi. Terlalu sepi untuk ukuran desa di siang hari. Tidak ada suara ayam. Tidak ada suara motor. Hanya desir angin yang membawa bau tanah basah dan wangi kemenyan samar.
Remaja tanggung itu datang bukan sebagai pelancong, melainkan sebagai anak yang “dipulangkan.” Ibunya baru saja wafat karena sakit yang panjang, dan Ayahnya tak pernah dikenal. Maka oleh bibinya yang tinggal di luar kota, Rio dikirim ke kampung halaman ibunya. Ke rumah seorang kakek yang bahkan belum pernah ia temui. Namanya Mbah Darmo.
"Satrio?" Suara parau menyambut dari teras rumah kayu yang dikelilingi pohon jati.
Rio mengangguk. Koper kecilnya diseret, menimbulkan suara seret yang mengganggu kesunyian senja.
"Masuk. Angin di sini sering membawa suara yang bukan-bukan."
"Ingat, yo, Le. Nek jam enem wengi wis mlebu omah. Ojo ngumbul nang njaba," ujar Mbah Darmo tanpa ekspresi.
Rio hanya mengangguk. Ia tak ingin membahas kemampuan 'melihat' yang ia miliki. Tapi bahkan tanpa dibuka, aura rumah ini sudah seperti menyambut makhluk-makhluk yang haus perhatian.
Sejak malam pertama, Rio merasa tempat itu aneh. Dinding rumah Mbah Darmo dipenuhi rajah-rajah kuno. Di ruang tengah tergantung lukisan besar, bergambar seorang perempuan dengan mata merah dan senyum setengah terhapus. Perempuan itu seolah sedang menatapnya, ke mana pun ia melangkah.
Rio bukan anak biasa. Ia lahir dengan mata ketiga. Bukan mata fisik, tapi kemampuan untuk melihat 'yang lain'. Sejak kecil ia bisa merasakan kehadiran makhluk yang tak tampak, dan sejak ibunya meninggal, penglihatannya menjadi lebih tajam. Sayangnya, kemampuan itu juga membuatnya sering kesepian. Ia selalu dianggap aneh.
Di kampung ini, kesunyiannya tak berkurang. Bahkan bertambah.
---
Suatu malam, ketika Rio belum bisa tidur karena suara gamelan samar yang entah datang dari mana, ia melihat sesosok perempuan berdiri di bawah pohon jati di belakang rumah. Perempuan itu mengenakan baju putih panjang. Rambutnya tergerai, dan tangannya menggenggam sesuatu—seikat bunga kamboja.
Rio menatap dari balik jendela. Sosok itu perlahan menoleh, dan matanya menatap lurus ke arah Rio. Matanya hitam legam, tak punya putih sedikit pun. Namun, Rio tak lari. Ia malah membuka pintu dan berjalan keluar.
Perempuan itu tak ada.
Yang tertinggal hanyalah jejak langkah di tanah yang membentuk pola melingkar. Dan bau menyengat dari dupa yang belum pernah dibakar.
---
Keesokan harinya, Rio bertemu dengan seorang gadis seusianya yang sedang mencuci pakaian di sungai. Namanya Saraswati. Kulitnya pucat, sorot matanya dalam, dan seolah tahu banyak tentang hal-hal yang disembunyikan kampung ini.
"Kamu bukan orang sini," kata gadis itu, memerhatikannya.
"Kamu yang datang dari kota, ya?" tanya Saraswati sambil mencelupkan kain ke air.
Rio mengangguk.
"Baru datang. Namaku Rio."
"Aku Saras, Saraswati. Jangan jalan ke arah timur, ya. Di sana ada Lembah Geni. Dulu, ada orang kota yang nyasar ke sana. Pulangnya badannya masih utuh, tapi jiwanya kayak dibawa arwah."
Rio menelan ludah. Nama itu, Lembah Geni, seperti mengetuk-ngetuk bagian bawah pikirannya.
"Jangan tidur terlalu malam. Lembah Geni suka memanggil yang gelisah," ucap Saras memberi saran.
Lalu, Saras melanjutkan, "Kalau kamu mulai mimpi aneh atau dengar suara langkah di malam hari jangan buka jendela. Apapun yang kamu lihat, pura-pura saja nggak ada."
Rio tertegun. "Kamu tahu tentang lembah itu?"
Saraswati tak menjawab, tapi ia menatap mata Rio, lama. Seolah sedang membaca peta yang tak bisa dilihat orang biasa.
---
Malam berikutnya, gangguan makin sering terjadi. Dinding kamar Rio diketuk dari dalam. Lukisan di ruang tengah berubah posisi setiap pagi. Dan Mbah Darmo mulai berbicara dalam bahasa Jawa Kuno saat tidur.
Rio menulis semua kejadian itu dalam buku kecil yang ia simpan di bawah bantal. Tapi pagi ini, buku itu hilang.
Yang ia temukan di tempatnya hanyalah gulungan rambut manusia, diikat benang merah.
Saraswati muncul di depan rumah, wajahnya pucat.
"Kita harus bicara. Malam ini. Di tepian lembah."
---
Rio menunggu malam dengan gelisah. Ia duduk di tangga belakang rumah, memandangi langit yang kini dipenuhi awan gelap. Tak ada bintang. Tak ada bulan. Hanya desir angin dan suara kodok dari kejauhan.
Saraswati datang mengenakan selendang hitam dan membawa lentera.
"Kamu yakin mau tahu? Kalau sudah tahu, kamu nggak bisa pura-pura lupa lagi," katanya lirih.
"Aku nggak punya pilihan. Semua ini sudah manggil aku."
Mereka berjalan melewati jalan setapak di antara rumpun bambu. Lalu memasuki bagian kampung yang tak pernah disebut warga—Lembah Geni.
Lembah itu sunyi. Tak ada suara jangkrik, tak ada desir angin. Bahkan daun-daun pun seperti menahan napas. Tanah di situ merah gelap, dan ada bekas api membentuk lingkaran.
Saraswati berdiri di tepi api yang telah padam.
"Dulu, orang-orang sini buang semua yang mereka takutkan ke lembah ini. Dukun-dukun, anak-anak yang lahir dengan tanda aneh, atau orang yang dianggap membawa sial. Termasuk ibumu."
Rio menoleh tajam. "Apa maksudmu?"
"Ibunya Rio dulu hampir dibakar di sini. Tapi ada yang menyelamatkannya. Seorang pria dari luar kampung. Mereka melarikan diri. Tapi teluh dari lembah ini nggak pernah berhenti memburu darahnya."
Rio memejamkan mata. Tiba-tiba, suara nyaring terdengar dari dalam lembah. Tawa perempuan. Gila. Dingin.
Saraswati menggenggam tangan Rio.
"Teluh itu belum selesai. Dan kini, darahnya sudah kembali ke kampung ini. Kamu."
Bersambung.
*Jam enam sore sudah harus masuk rumah. Jangan keluyuran di luar.