


oleh sweetchocosin · 84 Bab
Eugene percaya hidupnya sudah lengkap. Ia punya pekerjaan, kebebasan, dan sudah pernah merasakan kehangatan sepuluh pria yang tak pernah memintanya untuk menetap. Cinta, baginya, hanyalah ilusi yang dibungkus keringat dan kebohongan. Ia tidak diciptakan untuk merasakan hal itu. Menikah? Untuk apa? Hanya agar mamanya berhenti menganggapnya perawan tua? Eugene memilih hidup bebas, dingin, dan tak tersentuh aturan apa pun, cara yang menurutnya paling cerdas agar hatinya tetap utuh. Dia tidak akan menikah, dan tidak akan pernah mencintai siapa pun. Tapi ... benarkah?
Kota S, 2x42
Seringnya aku merasa bersalah kepada para semut yang terpaksa mengalami genosida besar-besaran ketika hendak membersihkan tumpukan sampah yang berantakan. Ini bukan berarti aku adalah nyonya rumah yang jorok. Terima kasih kepada kucing-kucing liar.
“Elang!”
Sudut mataku menangkap seorang wanita tua terlonjak mendengar suara yang keluar dari tenggorokanku.
“Ibu!” balas seorang bocah yang baru bulan ini resmi menyandang gelar ‘Murid Kelas 4 SD’. “Kalau berteriak seperti itu, Nenek Sabil bisa kena stroke.”
Kedua rahangku terbuka lebar, sempat termenung dengan serangan mendadak Elang. Detik berikutnya aku mulai menyadari, yang bocah itu lakukan semata-mata hanyalah menarik perhatianku agar melupakan kesalahannya.
“Kau membuang-buang kertas lagi.”
“Aku sudah memisahkannya ke sampah daur ulang.”
“Apa hubungannya?” sengitku.
“Setidaknya bisa berguna 'kan, Bu? Tidak sia-sia.”
Aku meletakkan cairan pestisida dan meraih tumpukan pertama beberapa kertas di sampah daur ulang. Coretan-coretan yang ada di sana bukan tidak mungkin akan menjadi sebuah karya. Elang jelas sedang mencoba membuat sesuatu, tapi kurasa ia sedang kesulitan mengekspresikan imajinasinya.
“Kenapa kau membuangnya?” tanyaku, lembut. Elang menurunkan buku bacaannya yang sama sekali bukan gayaku–dia membaca Mein Kampf, demi Tuhan!–dan mengangkat kedua alisnya. Kalau ia adalah pria dewasa, mungkin aku akan terpukau. “Kau berbakat.”
“Aku memang berbakat,” sergahnya, tanpa sedikit pun kerendahan hati. Menakjubkan sekali. Bagaimana mungkin dia dengan sempurna hanya mewarisi sifat ayahnya?
“Aku tidak pernah mengatakan kau tidak berbakat. Lalu kenapa kau buang gambarnya?”
“Karena tidak jadi.”
“Apa?”
Elang tampaknya ingin memutar bola matanya, tapi dia berhasil melawan desakan itu. “Ya karena aku tidak suka, Bu. Apa Ibu tidak pernah menghapus novel yang Ibu tulis? Atau misalnya membuang semua catatan yang pernah Ibu catat yang rupanya tidak relevan dengan apa yang hendak Ibu kerjakan?”
Kali ini aku benar-benar ternganga lebar. Sialan! Dia harus berhenti membaca buku bacaan ayahnya. Bocah ini tidak terdengar seperti bocah pada umumnya, bahkan suaranya tidak terdengar imut sama sekali. Terkadang aku bertanya-tanya usia jiwa yang menghinggapi tubuh anakku itu. Apakah dia semacam makhluk reinkarnasi?
Aku mendengkus kesal, tidak menyangka akan dikalahkan dengan telak oleh anakku sendiri. Di antara semua yang bisa kuwariskan, dia hanya mendapatkan sifat keras kepalaku. Dan aku tidak pernah berhasil mengalahkannya akhir-akhir ini.
“Maafkan aku, Bu. Sepertinya aku keterlaluan.”
Elang menutup bukunya dan berlari ke arahku, lalu mengambil sebuah sapu.
Mataku mengerjap. “Apa yang kau lakukan?”
“Menyapu.”
“Kau merayuku?”
Mulut Elang membentuk seringai jahil. Seringai yang membuatku kembali membayangkan wajah ayahnya. “Aku takut Ibu tidak membelikanku buku gambar lagi.”
Benar. Sudah sepatutnya bocah itu tahu diri. Buku sketsa yang dikenalkan ayahnya bukan barang murah. Harganya bisa sepuluh kali lipat buku biasa. Semoga kau bisa mengerti mengapa aku marah-marah hanya karena ia membuang kertas gambarnya.
“Aku mau nonton TV. Kalau selesai, jangan lupa kunci pagarnya, ya.”
“Siap, Ibunda!”
Aku tidak bisa menahan desakan untuk tersenyum sebelum masuk ke dalam rumah. Rumahku sendiri. Bangunan yang terdiri dari beberapa kamar, perabotan rumah tangga, dan dapur yang harus kuisi sendiri. Kira-kira sudah sepuluh tahun aku tinggal di sini bersama keluarga kecilku. Hanya ada tiga orang, tapi hidupku tak pernah lagi sesepi dulu.
Dulu.
Senyumku mengembang. Tidak ada yang pernah menyangka aku bisa bertahan selama ini dalam sebuah pernikahan. Mamaku sendiri sering kali memastikan apakah suamiku baik-baik saja, daripada menanyakan kabar tentangku. Sebenarnya, aku tidak keberatan. Toh aku memang tidak pernah menganggap kasih mamaku sebagai hak yang harus kuterima. Itu terserah dia. Aku sudah tidak sampai hati memintanya. Bagaimanapun, Mama harus lebih memikirkan kebahagiaannya sendiri.
Mataku menangkap Elang yang masih mengumpulkan dedaunan kering di teras depan rumah. Sesekali ia menoleh ke arahku, melambaikan tangannya. Aku, tentu saja, akan dengan senang hati membalas lambaian tangan itu. Rasanya baru kemarin dia keluar dari rahimku. Kadang-kadang aku terkejut mendapati seberapa cepat pertumbuhannya. Dalam beberapa tahun, dia mungkin tidak mau kupanggil anak kecil.
Ponselku berdering. Sebuah panggilan video.
“Hai!” Teriakan memekakkan yang selama belasan tahun pernah mengisi telingaku pun terdengar.
“Ma, bentar. Aku ngomong dulu sama Tante.”
“Kan bisa pakai punyamu. Ini kan ponselnya Mama.”
“Apa, sih?” tanyaku, menampilkan tampang paling kesal yang bisa kubuat. “Mau ngomong apa?”
“Te! Bentar, Ma! Eh, Te!” Aku mendengkus geli. Cakka, keponakanku, tampaknya tidak akan membiarkan mamanya menang kali ini. “Aku lusa ke Tante.”
“Lusa?”
“Iya. Kampusku ada acara di sana. Aslinya acaranya cuma dua hari, tapi aku sekalian saja numpang di sana.”
“Kamu liburan bukannya di rumah malah ke rumah orang,” timpal Ariadne, adikku, mamanya si Cakka. Aku tidak bisa melihat wajahnya di layar ponselku, tapi aku yakin keningnya pasti berkerut. “Elang juga libur sekolah. Pasti banyak acara.”
“Enggak, tuh.” Tiba-tiba saja Elang sudah duduk di sampingku. Bocah ini harus belajar bagaimana caranya agar tidak membuat ibunya mati muda. “Ke sini saja, Kak. Aku di rumah.”
“Oke. Kita main, ya!”
“Di rumah ya?”
“Yah, El. Di luar, lah.”
“Kok bisa ada anak yang enggak suka main di luar?” Suara cempreng Ariadne mengganggu lagi.
“Bisa, kok. Aku!”
Setelah perdebatan panjang itu, akhirnya tidak ada penarikan kesimpulan. Satu-satunya yang tidak berubah adalah berita kunjungan Cakka. Dan itu sudah cukup untuk membuat Elang menarik diri dan membuka bukunya lagi di pojok baca.
“Menurutmu,” tanyaku, pada Ariadne yang tampaknya sedang sibuk mengoceh bagaimana tetangganya tidak mau memberikan laporan keuangan arisan yang transparan sehingga membuat wanita itu bertanya-tanya apakah kemungkinan ada penggelapan yang terjadi di depan matanya, “apa yang harus kulakukan saat peringatan sembilan belas tahun?”
“Kau tidak mendengarkanku lagi,” tuntut Ariadne. Tapi dia adalah wanita cerewet yang baik hati. Jadi dia sedikit memberi jeda untuk berpikir. “Bulan madu?”
“Dan hamil lagi?”
“Memangnya kenapa? Makhluk aneh itu butuh adik yang lebih ceria.”
“Aku masih bisa dengar Tante,” sahut Elang.
Ariadne lantas berdeham. “Kalian kan suka bepergian. Coba ke Karimun Jawa. Atau ke Bali? Kalian kan bulan madu pertama di Bali.”
“Yang lain?”
“Apa? Makan-makan di luar juga sudah pernah kau lakukan di tahun-tahun sebelumnya, kan? Buatlah tahun ini menjadi perayaan yang spesial.”
“Kau tahu suamiku tidak bisa mengajukan cuti terlalu banyak.”
“Aduh, dipotong beberapa ratus ribu tidak akan membuatmu miskin.”
“Tapi bisa membuat bos-bos itu kaya raya.”
Ariadne bergeming. “Itu betul.”
“Kurasa Ibu tidak akan mendapatkan jawaban yang Ibu mau dari Tante,” ujar Elang, begitu santai sampai aku mengira sejak tadi ia termasuk bagian dari percakapan. “Kepribadian kalian berbeda. Kentara sekali.”
Aku mencermati Ariadne yang sedang mengoceh apa pun yang akan dilakukannya kalau punya waktu untuk bulan madu. Usia pernikahannya sama denganku, kami menikah di tahun yang sama. Setidaknya begitu. Tapi dia tampaknya lebih tua dariku beberapa puluh tahun karena sering menceramahi ketololanku dalam mengurus dapur. Bukan salahku kalau aku tidak tahu berapa banyak garam yang dibutuhkan untuk 750ml sop ayam.
“Aku pulang!”
“Bapak!”
Aku segera meletakkan ponselku, mengabaikan Ariadne yang masih membahas soal daftar pantai yang sepi pengunjung.
Suamiku.
Di antara milyaran pria di dunia ini, Tuhan mengirimiku sosok pria yang begitu stabil untuk menenangkan kelabilan emosiku. Sorot matanya begitu tenang, mengirimkan sinyal jahil yang selalu mengundang hasrat. Bibirnya melengkung, membentuk senyum nakal, sebelum mendaratkannya di tas bibirku, tanpa memedulikan Elang yang mulai beringsut menjauh.
“Kau terpesona padaku.”
Itu bukan pertanyaan, aku yakin. Dia akan selalu mengunciku dengan segenap kekuatannya agar kedua lututku kehilangan keseimbangan. Dan kekuatan yang menguar dari sorot matanya, sama sekali bukan sesuatu yang pantas diremehkan.
“Selamat datang kembali, Suamiku.”

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel