


oleh Jen04 · 105 Bab
Anna Ariana Raharja terjebak dalam nestapa setelah keluarganya terjerat utang rentenir yang terus meneror keluarganya, dengan ancaman bahwa dirinya sendiri yang akan “dikorbankan” jika tidak sanggup membayar utang orang tuanya. Dikhianati pacarnya yang memanfaatkanya dan berpura-pura mencintainya, diperlakukan buruk oleh orang tuanya setiap hari, dihina oleh tetangganya yang suka memfitnah hal buruk, ia pun terpaksa menjalani hidup penuh kepahitan dengan bekerja keras. Namun, Ares Argantara hadir, pria yang menolongnya saat Anna ingin bunuh diri setelah semua yang terjadi. Apakah kedekatan mereka hanya sekadar untuk menarik sekedar simpati semata, atau ada sesuatu yang lebih dalam?
Anna Ariana Raharja mengusap meja di kafe dengan gerakan lambat.
Matahari yang hampir terbenam membuat cahaya kemerahan menyelimuti ruangan, tetapi Anna tidak merasakan kehangatan itu.
Semua pelanggan sudah pulang, meninggalkan kesunyian yang selalu terasa membosankan setelah mereka pergi.
Anna menghela napasnya, lelah. Namun, ia berusaha tetap tersenyum meskipun tubuhnya terasa hancur karena Anna bekerja dari pagi hingga malam setiap hari.
Satria Dergio, pacarnya, tiba-tiba muncul di depan pintu kafe.
Pria manis itu menyapa Anna dengan senyum yang tulus, membuat wajah Anna seketika berubah cerah. "Hai, sayangku Anna," sapanya lembut.
Anna mengangguk, tersenyum, dan menyuruhnya duduk. "Hai, Sayang. Ada apa? Kenapa datang malam-malam seperti ini?" tanyanya dengan lembut.
Di matanya, Satria adalah sosok yang tak pernah ia ragukan. Satria adalah kekasih yang selalu membuatnya merasa dihargai, walaupun dia tak tahu bahwa pria itu hanya memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri.
Satria nampak canggung dan melipat kedua tangannya dalam posisi berdiri. "Emang tidak boleh ya, kalau pacarnya sendiri datang melihat pacarnya bekerja, Cantik."
"Kamu ini bisa saja menggombal. Tidak ada larangan kok. Duduk dulu ya, aku mau beres-beres di dapur," jawab Anna.
Anna tersenyum manis di depan kekasihnya dan berlalu ke dapur. Satria duduk di kursi dan memperhatikan Anna yang berlalu ke dapur.
Satria tahu bahwa hari ini Anna baru saja menerima gaji. Senyum sinis muncul di bibirnya.
Tidak lama kemudian, Anna muncul dari dapur dan menghampiri Satria dengan senyuman di bibirnya meski tampak lelah dari ekspresi wajahnya.
"Aku tahu kamu pasti capek, Sayang, tapi aku ke sini karena aku punya permintaan," kata Satria tanpa rasa bersalah, suaranya penuh harapan sambil mengelus rambut kekasihnya.
Satria mengakui, Anna ini pacar yang cantik, tapi sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya. Kemiskinan membuat Anna tampak kurang berharga di mata semua pria, termasuk Satria. Sejujurnya, Satria memang sayang kepada Anna, tetapi ia juga menyukai uang. Maka, ia pun memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri tanpa Anna tahu kalau itu semua adalah kepalsuan.
Anna menoleh, merasa cemas. "Ada apa, Satria? Kamu tahu aku akan melakukan apa saja untukmu. Katakan saja."
Satria tersenyum, meletakkan tangannya di rambut Anna dan mengelusnya dengan lembut. "Aku butuh sedikit uang, sayang," ucapnya dengan suara pelan, seolah merasa tertekan.
"Adikku sedang sakit parah, dan aku harus segera membayar biaya pengobatan. Aku benar-benar tidak nyaman, sayang. Apalagi kamu kan baru gajian hari ini."
Anna terkejut, matanya membelalak. "Oh Tuhan .... Tentu, aku akan membantu. Tidak masalah, sayang. Apalagi kan adikmu membutuhkannya. Berapa yang kamu butuhkan?"
Satria berpura-pura menolak dengan anggukan. "Ah, tidak usah, sayang. Tapi jika kamu bisa memberikan sedikit, itu akan sangat membantu adikku. Aku benar-benar takut kehilangannya."
Tanpa ragu, Anna membuka dompetnya dan mengeluarkan uang satu juta. "Ini, Satria uangnya. Aku berikan uang satu juta untukmu. Semoga adikmu cepat sembuh dan cukup ya, sayang," katanya sambil menyerahkan uang itu dengan senyum penuh harapan.
Satria terkejut, tatapannya dipenuhi rasa terharu. "Terima kasih, Anna. Kamu benar-benar baik sekali, aku beruntung punya pacar seperti kamu," ucapnya, lalu memeluk Anna erat. "Aku akan segera membayar biaya pengobatan adikku malam ini."
Anna tersenyum tulus. "Aku percaya kamu, Satria. Semoga semuanya segera membaik." Ia menyeka air mata yang mulai menggenang, berdoa agar semuanya yang terbaik untuk keluarga Satria.
Satria melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Anna dengan lembut. "Aku pergi dulu ya? Ada yang harus aku urus, maaf aku tidak bisa mengantar kamu pulang," katanya, beranjak dari kursinya.
Anna mengangguk dan melambaikan tangan, sambil menatap Satria yang berjalan meninggalkan kafe dengan langkah cepat.
Namun, begitu Satria pergi, ada rasa aneh di hati Anna. Ia tak bisa menjelaskan, tetapi ia merasa seperti ada sesuatu yang tak beres. Mungkin karena dia terlalu lelah dan terlalu percaya.
Setelah belokan sepi, Satria berhenti dari motornya dan menatap uang dari Anna tadi dengan senyum sinis seakan siasatnya berhasil. "Dasar gadis bodoh, kamu selalu saja tertipu dariku, sayang. Hahaha ...."
Satria membuka notifikasi dari temannya dan tersenyum tipis karena rencananya berhasil hari ini. Satria meluncur pergi dari tempat itu dengan tersenyum puas.
***
Anna menatap langit yang mulai gelap, menghela napas panjang.
Semua yang terjadi dalam hidupnya seolah datang begitu cepat dan tidak memberi ruang untuknya beristirahat. Anna hanya ingin segera pulang dan istirahat karena tubuhnya sangat lelah.
Anna sampai di depan rumah yang sederhana, nampak sunyi, dan Anna tahu kamar orang tuanya masih menyala, menandakan bahwa mereka belum tidur.
Anna mencoba membuka pintu rumah dan terkejut, ia mendengar suara langkah kaki yang ia kenal dari dalam rumah.
Saat Anna mencoba menatap untuk tahu siapa yang membuka pintunya, ia melihat ayahnya, Samuel Raharja, berdiri di depan pintu dengan tatapan kosong.
Tanpa berkata apa-apa, Samuel masuk dan merebut amplop berisi uang satu juta yang tadi diberikan Anna kepada Satria.
"Sini uangnya. Saya perlu!" Samuel berkata dingin kepada Anna.
"Ayah, itu uang ...." Anna berusaha menahan amplop itu, dan Samuel menariknya dengan kasar. "Itu uang untuk keluarga kita, Ayah! Tolong jangan diambil semuanya, Ayah. Aku mohon," teriak Anna, marah dan frustasi.
"Jangan banyak bicara kamu, bocah!" bentak Samuel, lalu mendorong Anna hingga tubuhnya terhuyung. "Kamu pikir uang itu untuk siapa? Untuk kamu sendiri? Jangan bodoh, Anna!" Ucapan itu membuat Anna merasa hancur.
Samuel tidak peduli dengan apa yang ia lakukan, dengan segala pengorbanannya.
"Ayah, tolong jangan bawa semua uangnya. Itu untuk membayar hutang, dan kalau tidak bayar, akan semakin menumpuk. Kembalikan, Ayah!"
Anna mengiba, masih berusaha mendapat kasihan dari ayahnya, Samuel.
Anna berteriak, mengejar ayahnya yang berjalan cepat keluar dari kafe. "Ayah! Jangan ambil uang itu, Ayah! Ayah kembalikan! Hikss ... hiksss. Ayah!" teriaknya sambil menangis.
Tetapi Samuel tak menghiraukan, dia terus berjalan pergi, meninggalkan Anna yang terisak di depan pintu. Samuel sempat menoleh, tapi nampaknya ia tidak peduli dan terus pergi dari rumahnya.
**
Di tengah kesendiriannya, sebuah tangan besar mencengkeram pundaknya. Anna menoleh dengan terkejut, dan seketika rasa sakit menyambar kepalanya.
Tanpa bisa melawan, Anna dibawa ke dalam rumah dengan kasar oleh seseorang yang ia kenal.
"Arghh ... sakit."
Anna hanya bisa pasrah, air matanya semakin deras mengalir. Ia tahu, hidupnya memang selalu dipenuhi rasa sakit dan ketidakadilan yang selalu membelenggunya setiap hari.
Namun, Anna masih berjuang, meski hatinya hancur berkeping-keping untuk menghadapi semuanya dengan air mata.

Jen04
10 Pengikut · 13 Novel