


oleh Dhevano@53 · 7 Bab
Sejak suaminya meninggal, Alya memilih menutup hati dan menjalani hidup sederhana demi putra semata wayangnya. Baginya, cinta hanyalah luka yang tak ingin diulang. Namun kehadiran Arga, pria pekerja keras dengan masa lalu yang juga penuh kehilangan, perlahan menggoyahkan benteng yang selama ini ia bangun. Di tengah cibiran masyarakat, campur tangan keluarga, mantan mertua yang ingin merebut hak asuh sang anak, hingga munculnya sosok dari masa lalu yang menyimpan rahasia besar, hubungan mereka diuji tanpa henti. Mampukah Alya kembali percaya pada cinta? Ataukah ketakutan akan kehilangan membuatnya melepaskan kebahagiaan yang sudah di depan mata?
Langit sore itu begitu muram. Gumpalan awan hitam bergelayut rendah, menutupi cahaya matahari yang sejak siang mulai kehilangan hangatnya. Jalanan kota yang biasanya ramai kini dipenuhi orang-orang yang bergegas mencari tempat berteduh. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah basah yang menjadi pertanda hujan deras akan segera turun.
Beberapa detik kemudian, kilat membelah langit disusul suara petir yang menggelegar.
Tanpa aba-aba, hujan turun begitu deras, seolah seluruh langit sedang menumpahkan isinya ke bumi.
Di bawah sebuah halte tua yang nyaris penuh, seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun memeluk erat anak laki-laki kecil di sampingnya. Wajah wanita itu tampak cantik meski menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Rambut hitamnya yang diikat sederhana mulai basah diterpa angin, sementara ujung rok panjang yang dikenakannya telah dipenuhi cipratan air.
Wanita itu bernama Alya. Seorang janda yang telah menjalani hidup seorang diri selama tiga tahun terakhir. Di pelukannya, Nara. Putra semata wayangnya yang baru berusia lima tahun, menggigil kedinginan.
"Bu, aku dingin."
Suara kecil itu membuat hati Alya terasa diremas. Ia mengusap lembut kepala putranya sambil memaksakan senyum.
"Sebentar lagi reda, Sayang. Kita nanti pulang." Padahal, jauh di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.
Hari itu menjadi hari yang melelahkan.
Sejak pagi Alya bekerja sebagai kasir sekaligus pelayan di sebuah toko roti. Gajinya memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sederhana bersama Nara. Setelah selesai bekerja, ia langsung menjemput putranya di tempat penitipan anak.
Rencananya mereka akan naik angkot seperti biasa. Namun, hujan deras membuat semua rencana berubah.
Sudah hampir tiga puluh menit mereka menunggu. Tak satu pun angkutan umum berhenti. Beberapa justru melaju begitu saja karena telah penuh oleh penumpang.
Nara kembali batuk. Batuknya terdengar cukup keras hingga beberapa orang yang berada di halte menoleh. Alya langsung mengusap punggung anaknya.
"Maaf ya, Nak."
Ia merasa bersalah. Andai saja ia memiliki kendaraan sendiri. Andai penghasilannya lebih baik. Andai suaminya masih hidup.
Pikiran itu kembali muncul. Seketika dada Alya terasa sesak.
Sudah tiga tahun berlalu sejak kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya. Namun, rasa kehilangan itu belum pernah benar-benar hilang. Sejak saat itu, seluruh beban hidup berada di pundaknya seorang diri.
Ia harus menjadi ibu sekaligus ayah. Dan semua itu tidak mudah.
"Bu." Suara Nara membuyarkan lamunannya. "Lapar."
Alya membuka tas kain yang sejak tadi dipeluknya. Ia mengeluarkan sepotong roti yang dibawa pulang dari toko.
Nara menerima roti itu dengan mata berbinar. Meski sederhana, bocah kecil itu tidak pernah mengeluh. Ia selalu bersyukur.
Melihat putranya makan dengan lahap membuat Alya tersenyum tipis. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Angin kembali bertiup lebih kencang. Payung yang tadi ia pegang mendadak terbalik diterjang angin.
Krek! Pegangannya patah.
Alya hanya bisa menghela napas pasrah. "Ya, Allah."
Kini mereka benar-benar tidak memiliki perlindungan.
Air hujan mulai mengenai tubuh mereka. Orang-orang di halte semakin berdesakan. Sebagian memilih berlari menembus hujan. Sebagian lagi sibuk memanggil ojek daring.
Sementara Alya hanya mampu memeluk Nara lebih erat.
Di saat itulah, sebuah mobil SUV hitam perlahan berhenti tepat di depan halte. Mobil itu tampak mewah. Mengilap meski diterpa hujan deras.
Beberapa orang langsung menoleh, mengira pemilik mobil sedang menjemput seseorang.
Pintu pengemudi terbuka. Seorang pria tinggi keluar sambil membawa payung hitam berukuran besar. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku.
Wajahnya tampan. Rahang tegas. Tatapan matanya tenang. Usianya sekitar tiga puluh dua tahun.
Namanya Arga.
Ia sebenarnya baru saja pulang dari menghadiri rapat di kantor ketika melihat seorang anak kecil menggigil di halte.
Entah mengapa, langkahnya berhenti. Tatapannya tidak bisa berpaling. Ada sesuatu dalam diri ibu dan anak itu yang membuat hatinya tersentuh. Tanpa berpikir panjang, Arga menghampiri mereka.
"Permisi."
Alya menoleh. Ia sedikit terkejut melihat pria asing berdiri di hadapannya.
"Anaknya terlihat kedinginan," ujar Arga dengan nada lembut.
"Iya," sahut Alya.
"Kalau tidak keberatan, saya bisa mengantar Ibu pulang."
Ucapan itu membuat Alya langsung menggeleng. "Terima kasih, Pak. Tidak usah."
Arga tidak tersinggung. Ia memahami keraguan wanita itu. Lagi pula, siapa yang begitu saja percaya kepada orang asing?
"Saya tidak bermaksud buruk."
Alya tersenyum. "Saya tahu, tapi kami bisa menunggu."
Belum sempat percakapan berlanjut, Nara kembali terbatuk. Kali ini lebih keras. Tubuh kecilnya bahkan sedikit limbung.
Refleks Arga berjongkok. "Hei, kamu tidak apa-apa?"
Nara hanya mengangguk pelan. Namun, wajahnya semakin pucat.
Tanpa banyak bicara, Arga melepas jas yang dikenakannya. Ia menyelimuti tubuh Nara.
"Pak, jangan ...."
"Tidak apa-apa."
"Tapi jasnya basah."
"Tidak masalah."
Alya terdiam. Sudah sangat lama tidak ada orang yang memperlakukannya sebaik itu.
Sejak menjadi janda, sebagian besar orang justru memandangnya dengan tatapan iba. Sebagian lagi memandang rendah. Bahkan ada yang sengaja mendekat hanya karena menginginkan sesuatu. Namun, pria di depannya berbeda.
Tatapannya tulus. Tidak menghakimi. Tidak pula berusaha mencari keuntungan.
"Nama saya Arga." Ia mengulurkan tangan.
Setelah ragu beberapa detik, Alya membalas uluran itu. "Alya."
"Dan ini?"
"Nara."
Arga tersenyum. "Halo, Nara."
Bocah kecil itu membalas dengan senyum malu-malu. Entah mengapa, senyum polos itu membuat hati Arga terasa hangat.
Ia teringat adik kecilnya yang telah lama meninggal karena sakit saat masih anak-anak. Kenangan itu masih membekas hingga sekarang.Karena itulah ia tidak tega melihat seorang anak menggigil di tengah hujan.
Arga kembali menatap Alya."Hujan sepertinya belum akan berhenti."
Alya ikut melihat ke arah jalan.Benar. Langit justru semakin gelap. Air mulai menggenangi jalan hingga hampir setinggi mata kaki.
"Kalau Ibu tetap menunggu di sini, anak Ibu bisa sakit."
Kalimat itu membuat Alya kembali melihat Nara. Bocah itu kini bersandar lemas di bahunya.
Hatinya mulai goyah. Ia memang selalu berhati-hati. Namun sebagai seorang ibu, kesehatan anaknya jauh lebih penting daripada rasa curiga. Setelah berpikir beberapa saat, Alya akhirnya mengiyakan.
"Baik, tapi hanya sampai rumah."
Senyum tipis menghiasi wajah Arga. "Tentu." Ia segera membuka pintu belakang mobil.
Alya membantu Nara masuk terlebih dahulu. Begitu pintu mobil tertutup, udara hangat dari pendingin ruangan langsung membuat tubuh mereka terasa lebih nyaman.
Nara mengembuskan napas lega. Sementara Alya masih menatap pria yang duduk di balik kemudi.
Ia sama sekali tidak tahu, bahwa pertemuan singkat di tengah hujan itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Takdir telah mempertemukan dua hati yang sama-sama menyimpan luka, dan hujan sore itu akan selalu dikenang sebagai awal dari kisah yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Dhevano@53
0 Pengikut · 1 Novel