


oleh Rania Senja · 89 Bab
Lelah dengan semua keadaan membuat Tamara berpaling. Badai rumah tangga yang dilalui Tamara tidaklah mudah, ia nyaris mengakhiri hidupnya karena tak kuat menerima kenyataan, hingga hadirnya orang baru membuat semangat itu kembali hadir. Tamara tahu, jalan yang ia tempuh tidaklah benar. Namun, untuk mengakhiri semuanya pun ia tak kuasa. Tamara sudah terlena dengan kasih sayang dan semua perhatian yang Andy berikan padanya. Di saat bersama, Narendra mengetahui perselingkuhan itu. Apa yang akan dilakukan Narendra terhadap Tamara yang sudah menodai ikar suci mereka?
—Aku pernah setia. Namun, kesetiaan tak pernah membuatku dipilih. Maka salahkah aku, jika akhirnya aku memilih untuk merasa hidup, meski di pelukan orang yang salah.—
—Tamara—
"Mas, aku harap kamu tidak melupakan hari ini," ucapnya dengan sendu. Gaun putih yang membalut tubuhnya, seakan menjadi saksi bisu kesedihan yang ia rasakan.
Sebentar lagi hari beranjak gelap. Namun, orang yang ia nantikan belum juga menampakkan batang hidungnya. Seharian ini waktunya ia habiskan untuk mempersiapkan semuanya, mulai dari makanan sampai penampilan, Tamara ingin memberikan yang terbaik untuk menyambut kedatangan suaminya, sekaligus merayakan hari bahagia mereka.
Tamara berjalan ke dalam rumah, seketika harumnya bau masakan tercium lagi. "Mas, aku sudah belajar masak, demi hari ini." Tamara kemudian mengambil ponselnya dan memfoto masakan itu, lalu ia mengirimkan pada suaminya, Narendra.
[Sayang cepat kembali, aku sudah menyiapkan semua ini untuk hari bahagia kita.] Tulis Tamara. Namun, nihil. Sejak tadi ia mengirimkan pesan pada Narendra, tak ada satu pun yang terbaca, semuanya ceklis satu.
"Ke mana sih kamu, Mas? Tidak biasanya menghilang tanpa kabar seperti ini?!" Kecemasan-kecemasan itu semakin menggerogoti pikirannya. Kesal dan khawatir menjadi satu dalam pikirannya.
Tamara terus saja mondar-mandir di depan rumah, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saking lelahnya, ia sampai tertidur di sofa. Sedangkan sang suami yang ia tunggu-tunggu baru saja pulang tepat pukul satu dini hari.
Dengan tubuh sempoyongan, Narendra berusaha membangunkan Tamara. Namun, karena kepalanya yang begitu sakit, akhirnya ia menjatuhkan diri tertidur di samping Tamara.
"Euhh!" Tamara menggeliat, merasakan beban berat yang menghimpit tubuhnya. "Mas?" tanyanya masih dengan mata terpejam. Ia mengucek matanya, tapi tiba-tiba bau alkohol terasa menyengat di indra penciumannya.
"Mas Narendra?!" Tamara segera terduduk. "Mas, bangun, Mas!" teriak Tamara menggoyangkan tubuh suaminya.
"Mas, bangun!" sentaknya karena Narendra sama sekali tidak membuka mata.
"Shit! Berisik sekali!" Untuk pertama kalinya Narendra mengucapkan kata-kata kasar padanya.
"Mas, kamu mabuk?!" sentak Tamara yang masih kesal.
"Aku ngantuk, Mara. Tolonglah jangan mengganggu waktu istirahatku!"
Alih-alih menuruti keinginan Narendra, Tamara malah mencipratkan sedikit air ke wajah suaminya. Tentu saja hal itu memicu pertengkaran baru.
"Dasar sialan! Sejak kapan kamu bertindak tidak sopan?!" Sorot mata penuh amarah dilayangkan Narendra pada Tamara.
Tamara tertunduk. Ini adalah kali pertama Narendra berubah, tiga tahun hidup bersama dengannya tak pernah satu kali pun Narendra berkata kasar padanya. Namun, kali ini?
"Kamu tega, Mas!" Tamara segera berlari ke arah kamarnya. Tangisan itu sudah tidak bisa terbendung lagi. Sedangkan Narendra, tanpa rasa bersalah ia kembali melanjutkan tidur.
Di dalam kamar, Tamara menangis sejadi-jadinya. Sebagai seorang wanita, meskipun ia marah pada suaminya, tapi ia mengharapkan pelukan itu tiba, tapi sudahlah, harapan tinggal harapan, hingga pagi menjelang Tamara masih menangis sendirian.
—
Saat pagi menjelang, Tamara menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan semua kebutuhan Narenda seperti biasa meskipun hatinya sakit.
"Pagi, sayang," sapa Narendra menghampiri Tamara yang sedang membuat roti panggangan.
Satu kebiasaan Narendra yang Tamara sukai yaitu menciumnya di pagi hari, tapi sudah ada seminggu ini kebiasaan itu mulai hilang. Awalnya Tamara berpikir, mungkin Narendra sedang banyak kerjaan, tapi kejadian semalam membuat pikiran buruk memenuhi otaknya.
"Semalam kamu mabuk, Mas?" tanya Tamara to the point.
"Apaan sih, Mara? Dari semalam pertanyaanmu itu sangat konyol sekali."
"Aku tanya serius, Mas? Ke mana kamu semalam? Kenapa kamu melupakan hari spesial kita?"
"Semua hari sama saja, Mara, tidak usah merajuk seperti anak kecil."
"Anak kecil?" ulang Tamara. "Aku hanya ingin jawaban yang pasti, Mas? Semalam kamu pergi ke mana? Kenapa bisa pulang sampai dini hari? Dan sejak kapan kamu suka minum alkohol?" Pertanyaan itu dengan lancar dilayangkan Tamara.
Brak!!
Narendra menggebrak meja. Ia tidak suka dengan Tamara yang banyak bicara.
"Aku ke sini mau makan. Bukan mau debat." Narendra pergi begitu saja.
"Mas! Aku belum selesai bicara!" teriak Tamara.
"Sudahlah. Aku muak sama kamu yang banyak menuntut!" Jawaban Narendra membuat Tamara terkejut.
"Aku? Banyak menuntut? Dari segi apa?" tanya Tamara, pertanyaan itu lebih tepat ia tanyakan pada dirinya sendiri.
Seketika air matanya lolos begitu saja. Tiga tahun menjalani biduk rumah tangga sikap suaminya yang tidak menentu, di awal pernikahan, sikapnya baik dan romantis, tapi akhir-akhir ini Narenda bersikap acuh dan dingin.
"Aku istri, tapi aku merasa sendiri." Kata-kata itu yang selalu diulang-ulang Tamara. Ia merasa pernikahannya hanya di atas kertas, tinggal bersama tidak menjamin satu tujuan yang sama. Luruh sudah pertahannya, seiring dengan air mata yang terasa perih menyayat hati.
"Sampai kapan aku seperti ini, Tuhan? Kenapa kisahku tidak seindah kisah orang lain?"
Hari-hari yang Tamara jalani seperti sendiri. Suami, sosok suami yang Tamara bayangkan romantis, perhatian itu hanya ada dalam gambaran angannya yang semu. Kenyataan Tamara selalu merasa sepi sendiri. Narendra memang bukan laki-laki yang kasar, tapi sikap acuh dan semuanya harus bisa dilakukan sendiri membuat Tamara tertekan.
"Andai Mas Narendra bisa sedikit saja menghargai aku?"
"Mungkin bagi orang aku perempuan beruntung. Nyatanya batinku tidak pernah merasakan kebahagiaan itu. Sungguh kau sangat pandai bersandiwara di depan orang-orang sana, Mas. Rasanya ragaku sudah tak mampu lagi mengikuti alur mainmu." Dada Tamara terasa sesak. Terlebih sikap hangat yang diberikan Narendra di depan orang-orang jauh terbalik dengan sikapnya saat mereka berdua.
"Tuhan apakah aku salah jika mengharapkan kebahagiaan?" Seakan hanyut dalam kesedihan, Tamara sampai melupakan sesuatu yang sudah lama ia jalani. Hingga suatu pesan masuk menyadarkannya dari lamunan. Ia menyusut kasar air matanya.
"Aku masih memiliki harapan." Gegas ia membersihkan diri. Ada toko bunga yang harus ia kembangkan.
"Huft! Semangat Tamara! Kamu pasti bisa." Tamara menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut hitam yang tergerai panjang, polesan lipstik nude, sangat cocok dan kontras dengan wajahnya putih berseri.
"Aku cantik, mandiri, bisa cari uang sendiri. Kalau ada yang nyakitin, oh, tidak masalah. Karena dia-lah yang bodoh!" Puas berbicara sendiri di depan cermin, Tamara segera mengambil tas selempang berwarna lilac, dan segera bergegas pergi ke toko bunga yang sudah lama ia kelola.
Jarak antara toko dan rumah Tamara memang tidak terlalu jauh, sehingga hanya dengan berjalan kaki saja sudah sampai. Sehari-hari Tamara menghabiskan waktu di sana, baginya merangkai bunga tidak hanya hobi tapi juga karya seni.
Begitu toko dibuka, semerbak harum bunga mulai memanjakan hidungnya. Ia menghirup napas dalam, "Rasanya tenang sekali."
"Pagi, Bu Tamara," sapa Sindi, orang kepercayaannya Tamara.
"Pagi kembali, Sindi. Semoga harimu menyenangkan." Begitulah sosok Tamara, meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja, tapi ia mampu menyembunyikan kesedihannya dari orang lain.
"Hanya dengan ini aku bisa menghilangkan beban pikiranku." Tangannya mulai sibuk merangkai bunga.
Sesekali Tamara menyunggingkan senyum merangkai bunga Lyli. Itu adalah bunga favoritnya.
Sindi datang membawa laporan mingguan, "Bu, omset kita naik drastis bulan ini."
"Puji Tuhan, semua karena usahamu juga, Sindi. Saya nanti tambahkan bonus untukmu."
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Sindi bahagia.
Tamara tidak pernah pelit pada semua karyawannya. Sindi i percaya untuk mengelola keuangan toko, sudah satu tahun berjalan Sindi selalu membuat Tamara bangga.
"Mas Narendra sedang apa ya? Tumben sekali dia tidak mengirimkan aku kabar?" gumam Tamara memainkan ponselnya.
"Apa aku ke kantornya ya?"
"Ah, nggak. Bagaimana kalau toko tiba-tiba rame? Kasian Sindi sendirian."
"Tapi aku juga penasaran, kenapa akhir-akhir ini dia berubah?"
"Duh, Mara! Kamu ini kenapa sih uring-uringan nggak jelas?" Ia memaki dirinya sendiri.
"Ingat, Mara. Mas Narendra tidak mungkin melakukan hal gila. Untuk masalah semalam, mungkin saja dia lelah bekerja atau ada temannya yang memaksa mabuk. Stop! Berprasangka buruk yang akan merugikan dirimu sendiri!"
Tamara menarik napas dalam, mencoba menstabilkan diri. Namun, semakin ditepis, prasangka itu semakin menjadi.
"Sebenarnya ada apa ini?!" gumam Tamara frustrasi.

Rania Senja
6 Pengikut · 1 Novel