"Minum dan selesaikan takdirmu, Selir Agung Han Yeon-woo."
Suara parau Kasim Kepala Yoon memecah keheningan Menara Dingin, Paviliun Jeokmok. Di bawah temaram cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam, sebuah nampan kayu dipernis hitam diletakkan di atas lantai kayu yang berdebu.
Di atasnya, sebuah cawan keramik putih berisi cairan pekat berwarna kecokelatan tampak berkilau maut. Cairan itu adalah sa-yak, ramuan racun kiriman langsung dari singgasana tertinggi Joseon.
Yeon-woo menatap cawan itu tanpa secuil pun getaran ketakutan di pelupuk matanya. Jemarinya yang kurus, pucat, dan penuh luka gores akibat siksaan selama interogasi, terulur pelan meniti tepian cawan.
Mengenakan hanbok putih polos tanpa hiasan, pakaian khas bagi para terpidana mati, Ia justru tampak bagaikan dewi musim dingin yang siap menyambut ajalnya.
"Apakah Yang Mulia Raja tidak menitipkan sepatah kata pun untukku, Kasim Yoon?" tanya Yeon-woo. Suaranya serak, tetapi terselip ketegasan yang tidak mampu disembunyikan.
Kasim Yoon menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak menatap sepasang netra wanita yang pernah menjadi bintang paling terang di istana dalam ini.
“Yang Mulia Raja, memilih untuk tidak mengeluarkan titah lisan tambahan, Bin-maman."
Sebuah tawa getir lolos dari bibir pecah-pecah Yeon-woo. Simpul tawanya terasa menyumbat tenggorokan.
Raja Yi Heon, pria yang pernah bersumpah di bawah rembulan untuk melindunginya dari serigala-serigala politik istana, kini bahkan tidak sudi memberikan kalimat perpisahan.
Pria itu memilih berdiam diri di dalam Paviliun Gangnyeongjeon, membiarkan konspirasi keji menjemput nyawa istrinya sendiri.
Yeon-woo tahu betul siapa dalang di balik tirai berdarah ini. Ratu Kim. Wanita berhati ular itu telah menyusun skenario yang sangat rapi.
Fitnah kejam mengenai keterlibatan Yeon-woo dalam upaya meracuni Ibu Suri dibuat seolah-olah nyata, lengkap dengan saksi-saksi palsu yang telah disuap menggunakan emas klan Kim, dan Raja, demi menjaga stabilitas takhtanya dari ancaman pemberontakan klan sang Ratu, memilih menumbalkan Yeon-woo sebagai domba persembahan.
"Kesetiaan di tempat ini tak lebih dari seonggok sampah yang diinjak-injak," bisik Yeon-woo liris, matanya kini menatap nanar ke arah jendela yang terbuka. Di luar sana, kemegahan Istana Gyeongbokgung tampak begitu sunyi, menyimpan ribuan bangkai ambisi yang membusuk dalam diam.
Ia mengangkat cawan keramik itu dengan kedua tangan yang gemetar, bukan karena takut pada kematian, melainkan karena amarah yang membakar habis sisa rasa kemanusiaannya. Jika ia mati malam ini sebagai pecundang, maka sejarah hanya akan mengingatnya sebagai seorang pengkhianat.
"Sampaikan pada Yang Mulia Ratu," ucap Yeon-woo, nadanya mendadak berubah sedingin es di puncak Gunung Baekdu.
"Aku akan meminum racun ini. Namun, demi langit yang menjadi saksi atas ketidakadilan ini, jiwaku tidak akan pernah menyeberangi Sungai Samdo dengan tenang."
Kasim Yoon tersentak, wajahnya memucat mendengar kutukan terang-terangan tersebut.
"Aku akan kembali," lanjut Yeon-woo dengan mata melotot tajam, memancarkan dendam yang begitu pekat hingga mampu membuat lilin di ruangan itu mendadak meredup.
"Bila saatnya tiba, aku akan merangkak dari neraka terdalam untuk menyeret kalian semua, termasuk Raja yang pengecut itu, ke dalam genangan darah yang sama!"
Tanpa ragu sedikit pun, Yeon-woo mendekatkan cawan itu ke bibirnya. Ia meneguk cairan hitam pekat itu dalam beberapa tegukan besar. Rasa pahit yang membakar langsung menyengat lidahnya, disusul oleh sensasi panas luar biasa yang menjalar cepat merusak kerongkongan hingga merobek dinding lambungnya.
Cthak!
Cawan kosong itu terlepas dari genggamannya, hancur berkeping-keping di atas lantai kayu.
Yeon-woo mencengkeram dadanya yang terasa seperti dihunjam ribuan jarum berkarat. Darah segar berwarna merah kehitaman mulai meleleh dari sudut bibirnya, menetes dan menodai kesucian hanbok putih yang dikenakannya.
Tubuhnya ambruk ke samping, napasnya terengah-engah memburu sisa oksigen yang kian menjauh. Pandangannya perlahan mengabur, menggelap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Jantungnya berdentum lambat, lalu berhenti total. Selesai sudah riwayat Selir Agung Han Yeon-woo.
Rasa sakit yang membakar itu mendadak lenyap. Berganti dengan sensasi dingin yang menusuk tulang.
"Uhuk! Uhuk!"
Yeon-woo tersedak hebat. Dadanya naik-turun dengan rakus menghirup udara. Matanya terbuka lebar, langsung disambut oleh langit-langit kamar kayu yang asing.
Ini bukan Menara Dingin yang pengap dan berbau kayu busuk. Kamar ini berukuran kecil, sangat sederhana, dengan aroma ramuan herbal murah yang menyengat hidung.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, tetapi seluruh sendinya terasa kaku dan lemas luar biasa, seolah-olah tubuh ini telah terbaring sakit selama berbulan-bulan.
Ketika Yeon-woo menatap jemarinya, ia tertegun. Jari-jari ini tidak memiliki luka gores bekas siksaan interogasi istana. Kulitnya halus, meski tampak sangat pucat dan kurus akibat kekurangan gizi.
"Nona! Demi Dewa, Anda akhirnya siuman!" Sebuah suara pekikan melengking terdengar dari arah pintu.
Seorang gadis muda dengan pakaian pelayan kelas bawah berlutut di samping tempat tidurnya, menangis tersedu-sedu sambil menggenggam tangannya.
“Hamba mengira Anda akan menyusul mendiang Nyonya Besar, Nona Seol-hwa! Demam Anda begitu tinggi sejak pengumuman itu tiba.”
Yeon-woo mengerutkan keningnya dalam-dalam. Kepalanya mendadak berdenyut pening, seolah dihantam sebuah palu godam. Kilasan ingatan asing yang bukan miliknya merangsek masuk secara paksa ke dalam benaknya.
Hong Seol-hwa. Nama gadis pemilik tubuh ini. Ia adalah seorang putri dari keluarga bangsawan jatuh miskin yang kelaparan.
Beberapa hari yang lalu, sebuah dekret dari istana turun, memaksa seluruh gadis perawan dari kalangan bangsawan untuk mendaftarkan diri dalam Gantaek, pemilihan selir baru untuk Raja Yi Heon.
Yeon-woo perlahan menegakkan tubuhnya, mengabaikan rasa pening yang mendera. Ia menyentuh lehernya yang utuh, tanpa bekas darah, tanpa rasa terbakar akibat racun.
Takdir tidak mengirimnya ke akhirat. Dewa rupanya mendengarkan sumpah setianya pada dendam.
Sebuah senyuman dingin, penuh intrik dan aura mengerikan, perlahan terukir di wajah pucat wanita itu. Ratu Kim dan Raja Yi Heon mengira mereka telah menyingkirkan Han Yeon-woo selamanya.
Mereka tidak akan pernah menduga, bahwa mangsa yang mereka bantai kini kembali dalam wujud seekor serigala berbulu domba yang siap merobek takhta dari dalam.
Tiba-tiba, pintu kamar digeser dengan kasar dari luar. Seorang pria paruh baya dengan pakaian usang berlari masuk dengan wajah memucat dan napas terengah-engah, memegang selembar kertas gulung resmi berpita merah.
"Seol-hwa, gawat," ucap pria itu, yang tak lain adalah ayah pemilik tubuh ini, dengan suara bergetar ketakutan.
"Utahan dari Kementerian Upacara baru saja tiba di depan gerbang rumah kita. Nama-mu, namamu telah lolos seleksi berkas awal. Pengawal istana ada di luar untuk menjemputmu sekarang juga!"