Langit sore berwarna jingga ketika Candy berdiri di depan gerbang sekolah sambil memeluk beberapa buku di dadanya. Angin berembus lembut memainkan rambut hitam panjangnya yang terikat sederhana. Senyumnya selalu sama—hangat, tenang, dan mampu membuat siapa pun merasa nyaman.
“Candy!”
Seorang perempuan berlari kecil menghampirinya. Rani, sahabatnya sejak SMP, langsung merangkul bahunya dengan wajah kesal.
“Kamu lagi-lagi nolak cowok yang tadi di kantin?”
Candy terkekeh pelan. “Aku cuma bilang belum mau pacaran.”
“Belum mau atau memang nggak tertarik?”
Candy mengangkat bahu kecil. “Aku cuma pengin dicintai dengan tulus.”
Rani mendecih. “Jawabanmu selalu itu.”
Candy tersenyum tipis, tetapi matanya memandang jalan raya di depan sekolah dengan tatapan jauh. Dalam hatinya, ia memang menyimpan keinginan sederhana.
Dicintai tanpa syarat.
Bukan karena wajahnya. Bukan karena keluarganya berada. Bukan karena ia selalu terlihat ceria.
Ia ingin seseorang yang tetap tinggal meski dirinya sedang tidak baik-baik saja.
“Kalau suatu hari nanti aku ketemu orang kayak gitu,” gumam Candy pelan, “aku bakal jaga dia seumur hidup.”
Rani menatapnya beberapa detik lalu menghela napas menyerah. “Kamu terlalu baik buat dunia ini.”
Candy tertawa kecil.
“Dunia nggak sejahat itu.”
Kalimat itu terdengar ringan. Namun, takdir seolah sedang menertawakan keyakinannya. Rumah keluarga Candy berdiri megah di kawasan elite kota. Halaman depannya dipenuhi bunga mawar putih kesukaan ibunya. Dari luar, rumah itu tampak sempurna seperti keluarga di dalamnya, dan memang begitu adanya.
“Candy pulang!”
Suara riang gadis itu menggema begitu ia membuka pintu.
Ibunya segera keluar dari dapur sambil melepas celemek. “Sayang, akhirnya pulang juga.”
Candy langsung memeluk perempuan itu manja.
“Aku lapar.”
“Ayahmu juga belum makan. Katanya mau pulang cepat hari ini.”
Candy tersenyum senang. “Serius?”
“Hmm.”
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara mobil terdengar dari luar. Candy berlari kecil menuju pintu depan.
“Ayah!”
Seorang pria paruh baya turun dari mobil sambil tersenyum lelah. Begitu melihat putrinya, wajahnya langsung melembut.
“Putri ayah.”
Candy memeluk ayahnya erat.
“Minggu depan jadi liburan, kan?”
“Ayah usahakan.”
“Yeay!”
Ibunya hanya menggeleng sambil tertawa melihat tingkah putrinya.
Kebahagiaan sederhana itu terasa begitu utuh.
Makan malam berlangsung hangat. Candy banyak bercerita tentang sekolah, tentang guru matematika yang salah menyebut nama murid, sampai tentang Rani yang diam-diam menyukai kakak kelas.
Ayahnya tertawa hingga bahunya berguncang.
“Kalau kamu sendiri?” tanya sang ayah tiba-tiba.
Candy mengangkat wajah. “Aku kenapa?”
“Belum ada laki-laki yang dekat?”
Ibunya ikut menatap penasaran.
Candy salah tingkah. “Belum ada.”
“Anak ayah pasti banyak yang suka.”
Candy mengembuskan napas pelan sambil tersenyum malu.
“Candy cuma mau orang yang benar-benar sayang sama Candy.”
Ayahnya menatap putrinya lembut.
“Nanti pasti ada.”
Malam itu, tanpa mereka sadari, menjadi malam terakhir keluarga itu berkumpul lengkap.
Hujan turun deras keesokan harinya.
Jalanan licin dan dipenuhi kendaraan. Candy duduk di kursi belakang mobil sambil mendengarkan lagu melalui earphone. Sesekali ia membalas pesan dari Rani.
Sampai tiba-tiba.
Brak!
Sebuah truk besar kehilangan kendali dari arah berlawanan.
Semuanya terjadi terlalu cepat.
Suara benturan memekakkan telinga.
Tubuh Candy terhempas keras. Kaca mobil pecah berserakan. Napasnya tercekat ketika pandangannya mulai kabur.
“Ayah”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Ia melihat darah mengalir dari pelipis ibunya. Mobil mereka ringsek parah.
Candy gemetar.
Tubuhnya sakit.
Sangat sakit.
“Toloooong!”
Hujan menelan suaranya.
Pandangan Candy semakin gelap sampai akhirnya ia tak lagi mendengar apa pun.
Rumah sakit dipenuhi suara langkah kaki dan aroma obat-obatan.
“Bagaimana kondisi pasien?”
“Yang perempuan mengalami cedera cukup parah.”
“Orang tuanya?”
Dokter terdiam beberapa detik.
“Tidak tertolong.”
Di sudut lorong rumah sakit, seorang pria muda berdiri mematung mendengar kabar itu. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya menegang keras.
Anthony.
Pria berusia dua puluh lima tahun itu mengepalkan tangan.
“Apa Candy sadar?”
“Belum.”
Anthony menutup mata sejenak.
Ia membenci semua ini.
Membenci dirinya sendiri karena datang terlambat, dan membenci gadis itu.
Gadis yang sejak dulu selalu mengikutinya sambil memanggil “Kak Anthony” dengan senyum cerahnya.
Candy bukan adik kandungnya. Mereka hanya dekat karena orang tua mereka bersahabat. Namun, entah sejak kapan, Anthony merasa terganggu dengan kehadiran Candy.
Terlalu cerah.
Terlalu hangat.
Seolah gadis itu tidak pernah merasakan luka.
“Kalau dia sadar, hubungi saya.”
Dokter mengangguk.
Anthony melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara lirih dari ruang perawatan.
“Kak .…”
Anthony menoleh cepat.
Candy setengah sadar. Wajahnya pucat dengan banyak luka di tubuh.
Anthony masuk perlahan.
Gadis itu berusaha membuka mata.
“Kak Anthony.”
Anthony diam.
Untuk pertama kalinya, suara Candy terdengar begitu rapuh.
“Papa sama Mama mana?”
Pertanyaan itu menghantam dada Anthony keras.
Ia tidak langsung menjawab.
Candy menatapnya lemah.
“Mereka baik-baik aja, kan?”
Anthony menelan ludah, dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak sanggup menatap mata gadis itu terlalu lama.
Hari-hari berikutnya berubah menjadi mimpi buruk.
Candy kehilangan kedua orang tuanya sekaligus.
Tubuhnya selamat, tetapi tidak sepenuhnya.
Ia mengalami cedera serius yang membuat kondisinya terus menurun.
Anthony akhirnya membawa Candy tinggal bersamanya.
Semua orang terkejut.
“Bukannya kamu nggak suka sama dia?” tanya sahabat Anthony suatu malam.
Pria itu diam sambil menatap pintu kamar Candy.
“Aku cuma bertanggung jawab.”
“Cuma itu?”
Anthony tidak menjawab.
Padahal, jauh di dalam dirinya, ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih rumit.
“Obatnya diminum dulu.”
Candy mengerucutkan bibir. “Pahit.”
Anthony menghela napas panjang.
“Kalau nggak diminum, kamu tambah sakit.”
“Kak Anthony galak.”
“Cepat minum.”
Candy akhirnya menurut sambil cemberut kecil.
Anthony tanpa sadar tersenyum tipis melihat ekspresinya.
Lima tahun berlalu seperti itu.
Candy yang dulu ceria perlahan menjadi lebih pendiam. Tubuhnya semakin lemah dari waktu ke waktu. Namun, satu hal yang tidak berubah.
Senyumnya.
“Kak.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari Candy nggak ada.”
Anthony langsung memotong.
“Jangan bicara sembarangan.”
Candy tertawa kecil. “Dengerin dulu.”
“Nggak mau.”
“Kak Anthony takut?”
Anthony terdiam.
Takut?
Ya.
Sangat takut.
Ia takut kehilangan gadis itu.
Takut rumahnya kembali sunyi.
Takut tidak lagi mendengar suara Candy memanggil namanya setiap pagi, dan ketakutan terbesar itu akhirnya datang pada malam hujan di tahun kelima.
Monitor di ruang rawat berbunyi pelan.
Candy terbaring lemah dengan napas tersendat.
Anthony menggenggam tangannya erat.
“Dokter!” teriaknya panik.
Dokter dan perawat segera masuk. Namun, wajah mereka perlahan berubah sendu.
Candy menatap Anthony samar.
“Kak.”
“Jangan bicara.”
Air mata Anthony jatuh tanpa bisa ditahan.
“Kamu pasti sembuh.”
Candy tersenyum kecil.
Senyum yang selalu sama sejak dulu.
Hangat.
Tenang, dan menyakitkan.
“Makasih.”
“Candy, jangan tinggalin aku.”
Untuk pertama kalinya, suara Anthony terdengar hancur.
“Please.”
Candy memandangnya lemah.
“Kak Anthony nangis.”
Anthony menggenggam tangannya semakin erat.
“Aku cinta sama kamu.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
Terlambat.
Sangat terlambat.
Mata Candy membesar pelan. Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, monitor di sampingnya lebih dulu berbunyi nyaring.
Piiiiittt!
“Candy?” Suara Anthony pecah.
Tidak ada jawaban.
“Candy!”
Dokter mencoba melakukan tindakan darurat, tetapi semuanya sia-sia.
Anthony berdiri kaku.
Dunianya runtuh dalam hitungan detik.
Ia menatap wajah Candy yang kini terlihat damai, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anthony berharap waktu bisa diputar kembali.
Kalau saja ia lebih cepat menyadari perasaannya.
Kalau saja ia lebih baik kepada Candy.
Kalau saja Anthony menunduk sambil menangis dalam diam.
Sementara di luar rumah sakit, hujan turun semakin deras, dan jauh di suatu tempat yang tak terlihat manusia.
Seorang gadis perlahan membuka matanya.