“Julian, tolong berhentilah menatap kotak bekal temanmu seperti sedang menghitung probabilitas keruntuhan struktur molekulnya. Itu hanya sandwich tuna, bukan teka-teki alam semesta.”
Suara Ibu memecah keheningan di dapur pagi itu, bernada lelah, berusaha tetap lembut. Julian, bocah laki-laki berusia sepuluh tahun dengan mata yang selalu tampak menelanjangi setiap detail di depannya, perlahan mengalihkan pandangannya.
Ia tidak menjawab. Baginya, sandwich itu adalah titik temu antara kelembapan roti, oksidasi tuna yang tidak sempurna, dan kemungkinan munculnya bakteri dalam durasi empat jam ke depan.
“Aku hanya berpikir, Bu,” jawab Julian pelan, suaranya terdengar jauh lebih dewasa daripada usia biologisnya. “Jika Kevin memakan itu, kemungkinan dia akan mengalami gangguan pencernaan ringan di jam pelajaran ketiga adalah enam puluh delapan persen. Aku hanya mempertimbangkan apakah aku harus memberitahunya atau tidak.”
Ibu menghela napas panjang, meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang sedikit keras di atas meja marmer. Ini bukan percakapan pertama, dan pastilah bukan yang terakhir. Sejak Julian mampu melafalkan tabel periodik sebelum bisa mengikat tali sepatunya sendiri, hidup di rumah ini telah berubah menjadi sebuah laboratorium observasi yang sunyi.
Julian bukan anak biasa yang bertanya tentang monster di bawah tempat tidur, ia bertanya tentang alasan logis mengapa ketakutan itu ada dan mengapa manusia cenderung memupuk ilusi untuk menenangkan diri.
Setelah berpamitan dengan ciuman yang terasa mekanis di pipi ibunya, Julian berjalan menuju sekolah. Ia tidak menaiki bus sekolah jika bisa menghindarinya. Kebisingan anak-anak lain di dalam bus, dengan segala teriakan tanpa tujuan dan interaksi sosial yang menurutnya tidak efisien, selalu memberikan beban sensorik yang tidak tertahankan. Ia lebih memilih berjalan kaki, di mana ia bisa mengamati pola retakan pada trotoar atau menghitung jumlah kendaraan yang melintas dengan warna yang sama.
Begitu menginjakkan kaki di pelataran sekolah, Julian segera menjadi objek pengamatan, bukan pengamat. Ia berjalan dengan bahu merosot, berusaha menjadi bagian dari latar belakang, sebuah upaya sia-sia bagi seseorang yang sering kali dipanggil ke depan kelas untuk membenarkan kesalahan guru matematika.
“Hei, Si Jenius! Sudah kerjakan PR kalkulus semalam?”
Julian menoleh. Itu adalah Brad, seorang remaja bertubuh atletis yang selalu merasa dunia berputar di sekitar prestasi olahraganya. Julian tidak suka Brad, bukan karena ia membencinya, Julian tidak membuang energi untuk kebencian, melainkan karena pola perilaku Brad sangat mudah ditebak. Setiap tarikan napas, setiap kerutan di dahi sebelum mengajukan pertanyaan, semuanya adalah variabel yang sudah Julian masukkan ke dalam perhitungan di kepalanya.
“Aku sudah mengerjakannya,” jawab Julian datar tanpa menghentikan langkahnya.
“Bagus. Berikan padaku. Aku tidak ingin menghabiskan waktu luangku dengan angka-angka bodoh itu,” tuntut Brad, mencoba menghalangi jalan Julian.
Julian berhenti sejenak. Ia menatap mata Brad. Dalam hitungan sepersekian detik, otaknya memproses mikro-ekspresi di wajah Brad, sedikit ketakutan akan kegagalan, keinginan untuk diakui, dan ketergantungan yang tidak sehat pada orang lain. Julian bisa saja mengatakan ‘tidak’, dan ia tahu persis Brad akan mengumpat, tidak akan berani memukulnya karena takut pada konsekuensi hukuman dari pihak sekolah. Atau, ia bisa memberikan tugasnya, dan Brad akan membiarkannya pergi dalam sepuluh detik ke depan.
Julian memilih opsi yang paling efisien. Ia merogoh tasnya, menyerahkan buku catatan, dan terus berjalan.
“Terima kasih, pecundang!” teriak Brad di belakangnya.
Julian tidak tersinggung. Ia justru merasa kasihan. Dunia ini bagi Julian adalah sebuah mesin raksasa yang bergerak dengan presisi yang membosankan. Namun, di balik rasa bosan itu, ada rasa terasing yang dingin. Ia merasa seperti seorang penonton yang duduk di depan layar bioskop, menonton film yang sudah ia tahu akhir ceritanya sebelum film itu dimulai. Tidak ada kejutan, tidak ada antisipasi, tidak ada kesenangan yang murni.
Di dalam kelas, Julian duduk di sudut paling belakang. Saat guru sejarah menjelaskan tentang revolusi industri, Julian tidak mendengarkan. Ia menatap debu-debu yang melayang tertembus cahaya matahari, menghitung kecepatan jatuh mereka. Tiba-tiba, pandangannya teralih pada gadis yang duduk di baris depan, Sarah. Sarah sedang menulis sesuatu dengan jemari gemetar, wajahnya pucat.
Julian mulai menghitung. Frekuensi kedipan mata Sarah dua kali lebih cepat dari rata-rata. Posisinya yang tidak nyaman, tangan yang terus meremas ujung roknya. Berdasarkan data yang Julian kumpulkan selama tiga bulan, perilaku ini adalah anomali. Sarah biasanya adalah siswa paling tenang.
Apa yang sedang terjadi? pikir Julian. Ia mulai menghubungkan titik-titik kecil, Sarah tidak membawa tas hari ini, dia mengenakan jaket meski cuaca cukup hangat, dan dia terus melirik jam dinding dengan tatapan yang seolah menunggu ajal.
Julian mengeluarkan buku catatan kecil dari saku belakang celananya. Dengan pulpen yang digenggam erat, ia mulai mencatat observasinya dengan kode-kode rahasia.
Subjek. Sarah. Gejala. Kecemasan ekstrem, manifestasi fisik yang tidak sinkron dengan lingkungan. Hipotesis: Sesuatu yang buruk akan terjadi pada subjek atau lingkungan terdekat dalam rentang waktu enam puluh menit ke depan.
Julian merasa detak jantungnya sendiri sedikit lebih cepat. Bukan karena takut, tapi karena rasa ingin tahu yang mencekam. Ia menatap Sarah sekali lagi, lalu menatap jam dinding.
Lima puluh menit lagi.
Julian mencoba membuang pikiran itu. Itu mungkin hanya masalah pribadi, masalah keluarga, atau mungkin Sarah hanya sakit perut. Namun, instingnya, yang telah dipoles oleh ribuan jam analisis, berbisik bahwa ini berbeda. Ini bukan sekadar tebakan, ini adalah pola yang sedang membangun dirinya sendiri.
Saat jam istirahat tiba, suasana kelas mendadak riuh. Julian tetap di kursinya, matanya tidak lepas dari Sarah yang beranjak meninggalkan kelas dengan langkah tergesa-gesa. Julian memutuskan untuk mengikuti. Ia menjaga jarak, bergerak dengan langkah yang disesuaikan dengan ritme langkah Sarah, memastikan dirinya tidak terdeteksi.
Sarah berjalan menuju gudang tua di belakang gedung olahraga sekolah, tempat yang jarang dikunjungi siswa karena reputasi angkernya. Julian bersembunyi di balik pilar beton, menahan napas. Ia melihat Sarah berhenti di depan pintu kayu yang berderit. Di sana, seorang pria dewasa dengan seragam teknisi sekolah berdiri menunggu.