


oleh Debora · 8 Bab
Mutiara, gadis cuek, galak, omongannya mengalahkan pedasnya cabe rawit. Jarang bergaul, dan hanya punya satu sahabat namanya, Lili. Kehidupannya berubah sejak kehadiran siswa baru asal Jogja. Sifatnya 360 derajat berbanding terbalik dengan Mutiara. Awalnya sih benci, eh ujung-ujungnya malah jatuh cinta. Memangnya api sama air bisa menyatu?
“Ra … kamu nggak ada rencana beli
minum gitu? Tenggorokanku udah kering banget nih, mana otak panas kayaknya
bentar lagi bakalan meledak deh!” seru Lili sembari mengibas-ngibaskan wajahnya
dengan karton bekas.
“Malas ah, kan kamu yang ngajak aku
ke sini, jadi harusnya kamu yang beli minum. Jangan nyuruh-nyuruh aku dong!”
balas Mutiara sembari menyandarkan pundak di dinding toko buku sembari mengikat
rambutnya yang terurai panjang.
Cuaca
hari ini sangat panas. Terik matahari menyengat kulit, gelombang panas membuat
kepala pusing berdenyut-denyut, ditambah kerongkongan kering kerontang layaknya
sungai yang tidak dialiri air selama bertahun-tahun. Ah, lengkaplah sudah
penderitaan ini. Lili, gadis yang tingginya 145 cm, kulit sawo matang, memiliki
manik cokelat berkacamata, kutu buku, langganan juara kelas, hobi koleksi
barang-barang antik, mengajak sahabatnya Mutiara pergi ke toko buku bekas dekat
sekolah. Sebenarnya toko tersebut tidak terlalu jauh dari sekolah, namun karena
cuaca panas, rasanya tenaga habis terserap oleh panasnya matahari. Sayangnya,
toko bukunya tutup dan tidak ada yang tahu kapan akan buka, karena di depan
pintu toko tertera papan triplek putih dengan tulisan ‘Tutup untuk sementara
waktu.’
“Makanya lain kali, kalau mau ke
sini survey dulu, cek dan ricek! Kalau udah begini, aku nggak bakalan mau ikut.
Sana … mending kamu aja deh yang beli minuman buat kita,” suruh Mutiara dengan
raut wajah kesal.
“Survey … survey … survey! Hari sial
mah nggak ada di kalender, mau nggak mau ya terima nasib aja, nggak perlu
menyalahkan orang lain. Lagian ya, kalau aku tahu toko ini bakalan tutup, aku
nggak bakalan ngajak kamu ke sini!” balas Lili tak mau kalah
“Aku nggak punya tenaga lagi, Ra!
Sumpah … otakku panas, pusing, mumet nggak jelas mending kamu aja deh yang beli
minuman. Aku pesan minuman isotonik dingin ya, Ra!” lanjut Lili seraya
menyerahkan uang pecahan lima puluh ribu rupiah.
“Serius kamu yang traktir nih?”
tanya Mutiara dengan senyum sumringah.
“Ihiiiii … giliran ditraktir aja
langsung semangat banget ya, Ra! Senyum langsung merekah kayak kuntum bunga
mawar di pagi hari,” ejek Lili menggeleng-gelengkan kepala.
“Hehehe … manusia mana coba yang mau
nolak rejeki nomplok di siang hari panas kayak begini, aku jamin pasti nggak
bakalan ada. Makanya kamu harus bersyukur punya teman kayak aku, udah baik,
cantik, perhatian dan selalu ….” Lili langsung melempar karton bekas ke arah
Mutiara yang sedang asyik berkicau ria.
“Ngoceh aja kamu, Ra! Mending sana
kamu buruan beli minumannya, keburu aku mati dehidrasi nih. Sana buruan … gpl ya! Alias nggak pake lama!” pesan
Lili.
“Galak banget sih, Li! Iya nih, aku
berangkat sekarang juga” balas Mutiara segera bergegas mencari warung,
supermarket atau tempat yang menjual minuman.
Setelah
berjalan kaki sekitar tiga menit, akhirnya Mutiara menemukan supermarket.
Bangunannya tidak terlalu luas, namun semuanya lengkap. Mulai dari kebutuhan
pokok, pakaian anak-anak hingga dewasa, aneka jajanan dan minuman, sampai
peraatan kosmetik, pokoknya semuanya lengkap. Mutiara mulai memilih minuman
dingin pesanan Lili di rak minuman. Matanya mengarah pada minuman isotonik
dengan kemasan kaleng berwarna biru. Baru saja ingin mengambil minuman
tersebut, tiba-tiba sebuah tangan langsung menyambar mendahului Mutiara.
‘Nggak pernah belajar etika ya?”
ucap Mutiara dengan tatapan sinis.
“Hah … maaf, Mbak, maksudnya gimana
ya?” tanya sosok tersebut.
Laki-laki
tampan nan menawan dengan tinggi kira-kira 175 cm, kulit eksotis, badan kekar,
rahang tegas, pangkasan rambut buzz cut tampilannya rapi, trendi bak pemain
film Giorgino Abraham versi kw. Tapi
yang paling penting, wanginya itu loh! Aroma mint segar semerbak menyapa hidung
Mutiara. Hampir saja membius dan membuat Mutiara terlena dengan tampilan dan
aroma wangi itu.
“Mbak … mbuk … mbak! Kamu pikir aku
ini Mbakmu? Nggak lihat ya, aku pakai seragam sekolah. Makanya banyakin minum
jus wortel biar matanya nggak rabun. Sini, balikin minumanku!” sentak Mutiara
dengan tatapan tajam bak elang hendak menerkam mangsa.
“Oalah, cuma perkara minuman aja
toh! Maaf kalau saya ndak lihat ada nama Kakaknya di kemasan ini. Lain kali
ngomongnya santai aja, Kak, ndak perlu marah-marah. Nih, minumannya, Kak!”
sindir laki-laki tersebut seraya menyunggingkan senyum tipis, lalu pergi
meniggalkan Mutiara yang masih melongo tidak percaya.
“What…
Kakak? Emang dia adikku? Argh… Dasar manusia aneh, nyebelin banget sih! Nggak
tau etika sama sekali, and what, dia bilang ada namaku di kemasan ini? Memang
dasar manusia nggak tau sopan santun, untung aja ini tempat umum, kalau nggak
aku ketok juga tuh kepalanya pakai botol kaca, biar tau rasa. Argh… nyebelin
banget!” rutuk Mutiara dalam hati sembari
mengepal tangan kananya.
Setelah
membayar semua belanjaanya, Mutiara bergegas menuju toko buku bekas. Dia
khawatir dengan kondisi Lili, melihat cuaca yang semakin panas. Benar saja,
kondisi Lili sangat mengkhawatirkan, kulit sawo matangnya mulai kemerahan,
rambutnya berantakan kayak singa yang nggak pernah sisiran seumur hidup.
Keringatnya bercucuran membasahi seragam sekolahnya.
“Akhirnya datang juga,” ucap Lili
dengan senyum cerah penuh harap.
“Aduh … kondisi kamu ngenes banget
ya, Li! Tapi tenang, aku udah beli minuman favorit kamu kok, isoto .…” Mutiara
langsung terdiam melihat kemasan minuman di tangannya.
“Kamu tuh mau bunuh aku ya, Ra?
Astaga … tolong aku, ya Tuhan! Sumpah aku nggak tau mau ngomong apalagi, Ra.
Ini semua tulang-tulangku rasa semakin remuk, nggak berdaya lagi deh!” jerit
Lili semakin putus asa.
Entah
karena buru-buru, kasirnya yang salah, atau memang tidak fokus, Mutiara malah
membeli minuman penambah stamina khusus untuk pria, mana ukuran 500 ml lagi.
Antara lucu dan menyedihkan, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Lili
mengembuskan nafas dengan kasar, dia sudah tak punya energi untuk marah-marah
pada Mutiara. Perlahan, Mutiara membujuk Lili untuk minum penambah stamina
khusus pria itu, dan untungnya Lili menerimanya walaupun dengan sangat
terpaksa.
“Minum saja daripada kamu dehidrasi,
tubuh kamu perlahan kisut kayak daun kering mending minum ini aja. Rasanya
mungkin nggak enak sih, tapi aku jamin kamu nggak bakalan mati kok, ya palingan
ada efek sampingnya sih,” bujuk Mutiara membuka tutup botol minuman tersebut.
“Kamu mah tinggal ngomong enaknya
doang, coba aja kalau kamu jadi aku, pasti nggak bisa, Ra! Berat banget tahu,
seumur-umur baru pertama kalinya ini aku coba minuman aneh kayak gitu,” lirih
Lili dengan perasaan bercampur aduk.
“Maaf ya, Li! Jujur aku nggak ada
niat mau jahatin kamu, atau bikin kamu susah kayak gini. Seandainya kamu bisa
minum susu ini, aku mau kok berbagi minuman ini. Sayangnya, kamu kan alergi
susu!” ucap Mutiara merasa bersalah.
“Sini minumannya!” perintah Lili
dengan raut wajah putus asa.
“Hueekk … huekk … ini minuman apaan
sih, Ra! Rasanya aneh banget, asam, manis, tapi pahit. Hueekk … huekk … please help me, aku mau muntah, Ra!”
jerit Lili setengah mati.
“Aduh … maaf … maaf banget ya, Li!
Aku pesankan go-cars, kita pulang
sekarang,” ujar Mutiara langsung panik seraya mengotak-atik layar handphone
memilih driver yang dekat dengan
lokasi mereka.

Debora
1 Pengikut · 1 Novel