


oleh Vio _ Tha · 32 Bab
Pernikahan yang diharapkan akan membawa kebahagiaan, ternyata menjadi mimpi buruk bagi seorang gadis cantik bernama Adzkiya Putri. Dia harus merasakan ternoda di saat menjelang hari pernikahannya. Sialnya lagi, Adzkiya tidak tahu, siapa laki-laki yang sudah menodainya. Hingga akhirnya dia harus mengandung benih dari pria asing itu. Apalagi suami dan mertuanya terang-terangan hanya ingin memanfaatkan dia saja. Mungkinkah Adzkiya akan bertahan dengan pernikahannya ataukah memilih untuk menyerah dan menjadi orang tua tunggal untuk anaknya? Lalu bagaimana jadinya jika pria asing yang telah menodainya mengakui perbuatannya? Mungkinkah Adzkiya akan memaafkannya ataukah memberikan hukuman yang setimpal pada laki-laki itu?
"Aku di mana? Ini kamar siapa?" tanya seorang gadis cantik seraya menyipitkan matanya melihat ke sekeliling ruangan.
Adzkiya Putri nampak kebingungan saat terbangun dari tidurnya. Matanya terasa berat dan kepalanya terasa pening, saat dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Dia mendapati dirinya berada di sebuah kamar hotel yang mewah, dikelilingi oleh bantal dan selimut yang berserakan di lantai.
Keadaan kamar yang berantakan menambah kebingungan Kia. Pakaian yang tercecer di lantai dan botol minuman keras yang tergeletak di meja samping tempat tidur, membuatnya semakin bertanya-tanya. Namun, Kia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.
"Aku harus pergi dari sini. Tapi Ansel di mana, bukankah semalam aku ikut dengannya ke sebuah pesta? Apa mungkin Ansel yang membawa aku ke sini?" tanya Kia, panggilan gadis cantik itu pada dirinya sendiri.
Kia mencoba untuk bangun. Namun dia merasa kaki dan tangannya lemas, bahkan untuk bangkit dari tempat tidur saja terasa sulit. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya. Dengan perlahan, Kia melihat ke dalam selimut. Seketika gadis itu memejamkan matanya. Manakala mendapati tubuhnya tidak memakai sehelai kain pun, hanya tertutup oleh selimut tebal.
'Ya Tuhan, apa yang terjadi tadi malam? Apa mungkin aku melakukan hal itu bersama dengan Ansel? Tapi dia dimana?' jerit hati Kia.
Kia kembali berusaha untuk berdiri. Namun, sakit yang mendera bagian intinya membuat Kia merasa cemas. Dia merasa ada sesuatu yang salah. Air mata mulai mengalir di pipinya, ketakutan akan kemungkinan buruk yang terjadi semalam kian menjadi.
"Mama ... kenapa Kia ada di sini?" Tangisan Kia pecah seketika. Dia benar-benar merasa ketakutan dengan keadaan dirinya yang seperti itu.
Setelah puas menangisi hidupnya, Kia berusaha untuk mengumpulkan keberanian. Dia menggenggam erat kain yang menutupi tubuhnya dan perlahan melangkah memunguti bajunya yang berceceran. Dia memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar dari kamar itu. Berharap akan bertemu dengan orang yang telah membawanya ke kamar itu.
"Aku harus cari tahu sebenarnya siapa yang membawa aku ke sini. Mungkinkah Ansel atau orang lain?"
Di bawah guyuran air shower, Kia terus saja menerka-nerka. Dia menggosok tubuhnya berkali-kali. Sungguh Kia merasa dirinya sangat kotor karena kesuciannya terenggut di saat pernikahannya tinggal satu hari lagi.
Setelah merasa puas membersihkan tubuhnya, Kia segera berpakaian dan pergi dari kamar laknat itu. Dia melihat nomor kamar yang telah membuatnya merasa terhina. Dia berjalan perlahan menuju ke resepsionis.
"Permisi, Mbak. Boleh saya tahu, atas nama siapa nomor kamar 1201?" tanya Kia dengan wajah yang terlihat pucat.
"Maaf, Mbak. Kami tidak bisa memberitahukan identitas pelanggan pada sembarangan orang," ucap resepsionis itu dengan tersenyum manis.
"Semalam aku tidur dari kamar itu tapi aku tidak merasa sudah memesan kamar hotel. Aku hanya ingin memastikan, apa calon suamiku yang memesan kamar itu? Jika Mbak tidak percaya, silakan cek CCTV hotel, pasti barusan aku keluar dari kamar itu." Kia bicara dengan panjang lebar untuk meyakinkan resepsionis.
"Baik Mbak sebentar," ucap resepsionis itu.
Dia segera mengecek daftar tamu yang menginap di hotel itu. Setelah mendapat nama orang yang memesan kamar yang disebutkan oleh Kia, resepsionis itu kembali berbicara pada Kia.
"Nomor 1201 atas nama Tuan David. Beliau berasal dari negeri Singa," ucap resepsionis itu.
"Apa? David dari negeri Singa? Siapa dia? Bagaimana kalau Ansel tahu? Aku harus menyembunyikan semuanya. Aku tidak ingin pernikahanku gagal karena kesalahan yang tidak aku sadari," gumam Kia pelan. Tanpa terasa setetes air mata jatuh di pipinya.
"Mbak, apa Mbak baik-baik saja?" tanya resepsionis itu terlihat cemas.
Kia segera menghapus air matanya dengan kasar. Dia menarik napas dalam untuk menetralkan rasa sesak di dadanya. Baru saja Kia akan berbicara, terlihat seorang pria tampan menghampirinya.
"Sayang, kamu dari mana saja? Semalaman aku mencarimu. Aku pikir kamu sudah kembali ke resort kita. Tapi di sana aku tidak menemukan kamu. Makanya aku kembali ke sini untuk mencari kamu." Ansel Raharjo, calon suami Kia nampak panik. Dia langsung memeluk tubuh calon istrinya.
"A-aku aku semalam pusing jadinya booking kamar di sini," jawab Kia gugup.
"Ayo kita pulang, orang-orang sudah menunggu kamu." Ansel merangkul calon istrinya dan segera membawa gadis itu kembali ke resort.
Semalam Kia dan Ansel datang ke hotel itu untuk memenuhi undangan teman Ansel yang mengadakan pesta ulang tahun di sana. Namun, entah kenapa Kia harus berakhir di tempat tidur. Apalagi Ansel seperti tidak curiga sedikit pun dengan apa yang terjadi pada Kia.
Kia merasa bersyukur karena Ansel tidak bertanya macam-macam padanya. Untuk saat ini Kia tidak ingin banyak berpikir karena kepalanya terasa mau meledak, dia terus menerka-nerka hal yang dia tidak tahu jawabannya. Hingga selama perjalanan menuju ke resort tempat pesta pernikahan mereka digelar, Kia lebih banyak diam dari biasanya.
"Sayang, apa kamu sakit? Wajahmu pucat sekali," tanya Ansel seraya seraya mengelus lembut pipi Kia.
"Kepala aku pusing sekali. Bisakah aku langsung istirahat?" tanya Kia dengan tatapan kosong.
"Istirahatlah!" suruh Ansel seraya menyandarkan kepala Kia di dadanya.
Sungguh hati Kia kini dipenuhi rasa bersalah pada calon suaminya. Namun Kia tidak berani untuk berterus terang pada Ansel. Katakanlah Kia memilih untuk egois karena dia tidak ingin pernikahan yang sudah lama dia rencanakan harus gagal karena kesalahannya.
Setibanya di resort, Kia langsung diantar ke kamar oleh Ansel. Pria tampan yang berprofesi sebagai dokter bedah itu terlihat begitu perhatian pada calon istrinya. Dia membantu Kia agar bisa tidur dengan nyaman.
"Tidurlah, aku akan mengambil obat di kamarku. Kia, apa sudah makan?" tanya Ansel seraya merapikan selimut Kia.
Gadis cantik itu hanya menggelengkan kepala dan bicara dengan suara pelan. "Belum, aku tidak lapar."
"Kamu harus makan dulu, barulah nanti minum obat. Aku ambilkan sarapan dulu ya!"
Kia hanya menganggukkan kepala dan perlahan dia memejamkan matanya. Ansel pun segera pergi dari kamar Kia untuk mengambilkan sarapan dan obat. Pria tampan itu hanya tersenyum tipis melihat kearah istrinya ketika akan menutup pintu kamar.
Seusai kepergian Ansel, kakak tiri Kia masuk ke kamar itu. Pria berwajah dingin itu ingin memastikan keadaan adiknya. Tadi dia tidak sengaja melihat wajah Kia yang pucat saat dipapah oleh Ansel.
"Kia, apa baik-baik saja?" tanya Langit Samudera dengan wajah cemas.
Perlahan Kia membuka matanya. Dia memaksakan tersenyum pada pria tampan itu. Kedekatannya dengan Langit sebagai adik kakak memang tidak diragukan lagi. Meskipun mereka hanya sebagai saudara tiri.
"Kak Langit, kepala aku pusing," keluh Kia.
"Apa sudah minum obat?" tanya Langit terlihat semakin cemas.
"Ansel sedang mengambil di kamarnya."
"Oh, istirahatlah! Kakak hanya ingin memastikan keadaan kamu saja." Langit bergegas pergi dari kamar Kia. Hingga dia tidak menyadari kalau Ansel melihatnya keluar dari kamar calon istrinya.
"Kenapa dia keluar dari kamar Kia?" tanya Ansel dengan dada yang bergemuruh.
Ansel merasa sangat tidak suka melihat Langit keluar dari kamar Kia. Rasa cemburu dan marah langsung memenuhi pikirannya. Dia pun segera mengejar Langit yang hendak pergi ke kamarnya.
"Tunggu Langit! Apa yang kamu lakukan di kamar calon istriku?" tanya Ansel dengan nada sinis dan tatapan tajam.
Langit tampak terkejut dengan pertanyaan tersebut dan buru-buru memberikan penjelasan. "Ansel, aku hanya ingin memastikan keadaan Kia. Tadi aku melihat kamu papah masuk ke kamar. Aku hanya mengkhawatirkannya."

Vio _ Tha
4 Pengikut · 1 Novel