


oleh Ta_desta · 58 Bab
Kenyataan pahit harus Arumi rasakan saat ia mengetahui bahwa bayi yang selama ini dirawat olehnya, ternyata adalah anak dari suami dan wanita simpanannya. Arumi berpikir bahwa suaminya telah membawa orang ketiga di dalam rumah tangga mereka. Namun, lagi-lagi kenyataan pahit harus Arumi telan, saat ia mengetahui bahwa dirinyalah orang ketiga di antara mereka.
"Rumi! Kenapa jus yang mama buatkan belum diminum?" tanya Endah.
"Maaf Ma, Arumi tadi lupa," jawab Arumi dengan menundukkan kepalanya.
"Harusnya hal seperti ini itu, jangan pernah dilupain, Rum! Kamu itu sudah satu tahun menikah dengan Bagas, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kamu sedang mengandung. Apa jangan-jangan ... kamu mandul?" tuduhnya.
Arumi seketika mematung mendengar ucapan mertuanya. Arumi menundukkan kepalanya untuk menutupi air mata yang mengalir begitu saja membasahi pipinya.
Sungguh, dari sekian banyak perkataan mertuanya yang menyakiti hatinya, baru kali ini Arumi mendengar tuduhan yang membuat dirinya begitu merasa rendah diri, hanya karena ia tak kunjung hamil.
"Kebiasaan! Cengeng banget sih, kamu!" seru Endah berdecak kesal.
"Andai Arumi bisa meminta, Arumi juga nggak mau dalam keadaan seperti ini," ucap Arumi dengan lirih.
"Sudahlah, lebih baik kamu minum sekarang supaya kamu bisa cepat hamil. Sebentar lagi Bagas akan segera datang dan jangan perlihatkan wajah sedih kamu. Kasihan Bagas, dia pasti capek karena seharian bekerja dan kamu jangan menambahkan bebannya lagi."
Bu Endah segera berlalu meninggalkan Arumi, ia begitu kesal dengan menantunya karena tak kunjung hamil.
Padahal, Bu Endah sudah begitu menginginkan seorang cucu seperti teman-temannya yang lain, yang selalu memamerkannya saat tengah berkumpul.
Setelah kepergian mertuanya, Arumi menarik napas dalam-dalam untuk menghalau rasa sakit di hatiny. Walaupun tidak dapat dipungkiri jika kata-kata mertuanya yang mengatakan dirinya mandul masih terngiang di telinganya.
Arumi mengusap air matanya, agar saat suaminya pulang tak melihat dirinya sedang menangis.
Selama ini Arumi memang seringkali memendam semuanya sendiri. Ia enggan untuk berbagi kepada suaminya. Bukan karena suaminya tak memercayai dirinya, tetapi karena dirinya tidak ingin menambah beban lagi untuk suaminya tersebut.
"Semoga kamu cepat hadir di sini ya, Sayang." Arumi tersenyum sambil mengusap perutnya.
Ia sangat berharap dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini akan membuahkan hasil dan segera mengandung darah dagingnya agar mertuanya semakin menyayangi dirinya.
Sebenarnya, mertuanya begitu baik, akan tetapi terkadang selalu mengatakan hal menyakitkan jika sudah menyinggung soal kehamilan.
Bu Endah tidak pernah perhitungan atau bahkan mencampuri urusan rumah tangga dirinya bersama putranya.
Selain itu, Bu Endah selalu melarang Arumi untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah sedikit pun dan semua itu dikerjakan oleh asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh mertuanya sejak dirinya menikah dengan Bagas.
Lagi-lagi, Arumi menarik napas panjang saat melihat gelas yang berisi jus taoge. Menurut mertuanya, jus tersebut bisa membuat rahimnya subur, bahkan mama mertuanya kerap kali membuatkan makanan dengan bahan dasar taoge.
Rasanya sudah begitu bosan mengonsumsi makanan dengan bahan dasar taoge, tetapi Arumi tak bisa membantah mertuanya, karena mungkin ini demi kebaikan dirinya.
Setelah meminum jus yang dibuatkan langsung oleh mertuanya, Arumi kembali ke ruang keluarga untuk menunggu kepulangan suaminya.
Tak membutuhkan waktu lama, suara deru mesin mobil berhenti di depan rumahnya.
Dengan cepat Arumi berjalan membukakan pintu untuk menyambut kepulangan suaminya. Arumi meraih tas kerja suaminya dan mencium punggung tangan suaminya.
"Mas habis membeli buah nanas, kamu mau?" Bagas menunjukan buah nanas kepada istrinya.
"Kayaknya enak kalau dibuat rujak, Mas," ujar Arumi.
"Ya sudah, kamu buat saja sana. Mas mau mandi dulu dan nanti mas nyusul kamu."
Arumi menganggukan kepalanya, ia lantas meraih nanas yang dibawa oleh suaminya menuju ke arah dapur.
"Hem, kayaknya kalau bikin rujak pedas sedikit, nggak akan masalah, deh."
Arumi lantas menyiapkan semua bahan-bahan yang sudah tersedia dan mulai meracik semuanya hingga menjadi bumbu rujak yang begitu sangat menggiurkan.
"Non, bikin apa?" tanya Lastri begitu terkejut melihat Arumi sedang berada di dapur.
"Aku pingin rujak, Mbak. Tadi Mas Bagas membawa buah nanas dan rasanya akan enak jika dirujak, sehingga akhirnya aku membuat bumbu rujak,” ucap Arumi.
"Apa Mbak mau?" Arumi menawarkan kepada asisten rumah tangga tersebut.
"Enggak, Non. Saya nggak suka pedas," jawab Lastri.
Arumi hanya menganggukan kepalanya, ia lantas menyuapkan potongan buah nanas tersebut ke dalam mulutnya.
"Arumi! Apa-apaan kamu? Jadi seperti ini kelakuan kamu di belakang mama, hah? Pantas saja kamu susah hamil!" Arumi terkejut melihat mertuanya yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapan dirinya.
"Loh, memang kenapa, Ma?" tanya Arumi.
"Kamu itu nggak boleh makan nanas. Pantas saja kamu nggak hamil-hamil sampe sekarang!"
"Tapi, Mah ... bukannya hanya orang hamil saja yang nggak boleh mengonsumsi ini?" Ya, setahu dirinya seperti itu, sehingga Arumi mengeluarkan pendapat dirinya sendiri.
"Kamu memang keras kepala kalau dikasih tahu, Rumi!' seru Endah.
"Ada apa sih, Mah? Kenapa malam-malam begini masih marah-marah?" tanya Bagas yang baru saja menghampiri ibunya dan istrinya.
"Ini, istri kamu kalau dikasih tahu, selalu saja ngelawan! Mama melakukan ini semua juga demi kebaikan istri kamu supaya dia cepat hamil."
Bagas terlihat menghela napas panjang.
"Jadi, ini semua masih tentang kehamilan Arumi? Kenapa Mama selalu memaksa Arumi untuk hamil? Jika nanti memang sudah waktunya diberikan kepercayaan, pasti Arumi akan hamil, Mah. Jangan pernah memaksa Arumi untuk mengonsumsi makanan atau minuman aneh lagi. Aku saja yang melihatnya sudah mual, apalagi istriku yang harus meminumnya setiap hari?"
"Kalian sudah berumah tangga selama satu tahun, tapi Arumi belum juga hamil. Mama itu curiga kalau dia ...."
Bu Endah menatap Arumi yang sedang menunduk, ia tak melanjutkan ucapannya, karena bagaimanapun ia takut jika membuat putranya tersinggung.
"Curiga kenapa?" Bagas menatap Bu Endah dengan tatapan menelisik.
"Sudahlah, kalian kalau dikasih tahu sama orang tua, selalu saja nggak pernah didengerin!" gerutunya dengan melangkah pergi.
"Makan saja, jangan hiraukan ucapan Mama," ucap Bagas dengan mengelus rambut Arumi.
"Maafkan Arumi yang belum bisa memberikan cucu untuk Mama," ujar Arumi dengan menundukkan kepalanya.
"Apa Mama selalu seperti itu saat aku bekerja?"

Ta_desta
11 Pengikut · 2 Novel