


oleh Noona Y · 60 Bab
Nasib malang mengimpit Rayana ke jalan yang tak pernah diinginkannya. Ia terpaksa menjadi istri kedua suami kakaknya—Arya. Bahkan, ia harus mengandung demi kebahagiaan kakaknya. Arya menganggap Rayana sebagai wanita murahan yang berani mengusik rumah tangganya. Namun, di balik sikap dingin dan tatapan bencinya, terselip ketertarikan yang perlahan tumbuh dan menyeret mereka untuk berbagi kehangatan.
“Kalau bukan karena permintaan Ashley, aku tidak akan pernah sudi menyentuh perempuan sepertimu!”
Suara Arya terdengar lantang. Dingin. Menggores tajam, seperti bilah belati menusuk harga diri Rayana, tanpa ampun, meninggalkan luka batin.
“Aaah, sakit. Tolong, hentikan .…” Rayana merintih. Napasnya putus-putus. Air matanya membanjiri wajah.
Tubuhnya terbaring polos dan tak berdaya, di bawah pria yang tadi siang telah menikahinya secara siri. Arya Chandra Widyantara—suami kakak tirinya yang kini menjadi suaminya juga.
Rayana menggeliat, mencoba melepaskan diri. Namun, sia-sia. Kedua tangannya telah terangkat paksa ke atas, dibelenggu dalam genggaman kuat. Kedua kakinya dikunci, membuat bagian tubuhnya yang sensitif terbuka tanpa ampun.
“Jangan, Kak. Aku belum siap ….”
Namun, pria itu tidak menggubris. Tatapannya dingin, beku, seolah tak melihatnya sebagai manusia. Matanya tajam menusuk, penuh kuasa, tanpa belas kasihan sedikit pun, seperti hakim yang telah menjatuhkan vonis.
Rasa takut menyebar cepat di dalam tubuh Rayana, merayap pelan dan pasti, menjalar seperti racun yang menyesakkan dada, membuat napasnya tercekat dan jantungnya berdegup liar dalam kepasrahan yang pahit.
“Diam! Perempuan murahan. Ini yang kau inginkan, bukan?"
Suara Arya menggelegar, dipenuhi kebencian. Napasnya bau alkohol menyengat. Dengan kasar Arya mendorong miliknya ke dalam, tanpa peduli teriakan kesakitan yang pecah dari bibir Rayana.
“Aaargh!”
Tubuh Rayana melengkung dalam jerit tertahan. Malam ini, ia telah kehilangan sesuatu yang paling ia jaga.
Rayana Maharani, hanyalah anak adopsi. Putri angkat dari pasangan konglomerat Richard dan Ruby Jansen.
Ashley Jansen, putri kandung mereka adalah istri sah Arya Chandra Widyantara—pria yang kini juga menjadi suami Rayana, atas perintah Ashley sendiri.
Selesai melakukan ritual malam pengantin, Rayana terisak dalam diam, tubuhnya gemetar hebat. Dingin dari embusan AC kamar hotel menusuk hingga ke tulang. Namun, tak sebanding dengan rasa perih dan ngilu yang mencabik dari dalam dirinya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, seolah jiwanya tertinggal jauh dari tubuh yang kini hanya terasa sebagai beban.
Arya bangkit dari atas tubuhnya, berdiri dengan napas berat, lalu meraih handuk dan membungkus tubuhnya sendiri. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Rayana yang masih terbaring lemas tak berdaya di atas ranjang.
“Bersihkan dirimu. Saat aku kembali, aku tidak ingin melihatmu dalam keadaan menjijikkan seperti itu,” ujarnya datar, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah rutinitas tak berarti.
Rayana menarik selimut dengan tangan gemetar, menutupi tubuhnya sendiri sambil menahan rasa sakit yang terus mencengkeram. Bagian bawah tubuhnya terasa panas dan perih, seperti ada luka yang tak terlihat, tapi nyata.
Brak!
Pintu kamar mandi dibanting keras.
“Hiks.” Tangis yang ia tahan akhirnya pecah, seperti ia takut suaranya sendiri akan membuatnya semakin hancur.
“Kenapa? Kenapa aku harus mengalami pernikahan ini?” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan. Dadanya sesak, napasnya naik turun tak beraturan.
“Seandainya Mama dan Papa masih hidup, pasti nasibku tidak akan semenyedihkan ini,” katanya pelan, jemarinya mencengkeram selimut seolah itu satu-satunya pelindung yang tersisa.
Suara air dari kamar mandi terdengar mengalir, dingin dan kejam.
Malam ini Rayana tidur dengan tubuh yang menggigil, bukan karena kedinginan, tapi karena hatinya terasa remuk redam. Rayana menutup wajahnya dengan tangan, air mata membasahi sela-sela jarinya.
“Tuhan, apa salahku sampai aku kehilangan segalanya?” rintihnya, tenggelam dalam kesedihan yang tak punya tempat untuk pulang.
*****
“Cheers, untuk masa depanku sebagai model go international,” ucap Ashley riang.
“Cheers!” Serempak teman-temannya ikut merayakan kesenangan Ashley malam ini.
Ashley Jansen sedang larut dalam gelak tawa dan gemerlap pesta. Dentuman musik memenuhi ruangan diskotik, gelas-gelas anggur terangkat, dan kamera ponsel berkedip mengabadikan senyum sempurna di wajah para sosialita. Malam ini, Ashley memilih bersenang-senang dengan para temannya. Tak ingin mengganggu malam pertama Rayana dan suaminya.
“Jadi, Ash, benarkah si culun itu setuju dinikahkan dengan suamimu?” tanya Melanie, manajer sekaligus sahabat lama Ashley, dengan nada setengah tak percaya.
Ashley tersenyum miring, menenggak cairan sampanye. “Aku hanya memberinya dua pilihan. Dan seperti dugaanku, dia memilih menuruti kemauanku tanpa banyak tanya. Patuh, seperti biasanya.”
Melanie tertawa puas sambil menyesap minumannya. “Kau memang jenius, Ash. Aku yakin, tidak lama lagi kariermu akan semakin melejit, asalkan kau tetap menjaga bentuk tubuhmu seperti sekarang.”
Ashley menyandarkan tubuhnya dengan anggun di sofa beludru. Ia menyilangkan kaki dan tersenyum penuh percaya diri. “Tentu saja. Tidak ada tempat untuk stretch mark di tubuh seorang supermodel.”
Melanie memiringkan kepala, alisnya terangkat. “Lalu, bagaimana caramu membujuk suamimu agar setuju menikahi adik tirimu yang culun itu?”
Ashley terkekeh pelan, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Melanie. “Aku katakan padanya bahwa si culun Rayana sendiri yang memohon padaku—meminta agar bisa meminjamkan rahimnya. Aku bilang padanya kalau sejak dulu, dia terobsesi pada suamiku. Rayana gadis gila yang rela jadi wadah demi bisa merasa ‘dimiliki’ oleh pria sekelas Arya, meski hanya lewat seorang anak.”
Mata Melanie terbelalak, ia tertawa terbahal-bahak sambil memegangi perutnya. “Astaga, kau memang licik, Ash. Kau katakan seperti itu dan suamimu percaya begitu saja?”
Ashley tersenyum lebar, penuh kemenangan. “Sejak dulu, Arya sangat mencintaiku. Ia akan melakukan apa saja demi kebahagiaanku. Termasuk membiarkan adik tiriku mengandung anak kami.”
Melanie menggelengkan kepala, lalu bertepuk tangan beberapa kali dengan senyum tak percaya.
“Kau benar-benar berbahaya, Ash. Kecerdikanmu tidak main-main. Kurasa sudah saatnya kau mengikuti casting untuk film layar lebar.”
Ashley mengangkat gelasnya ke udara. “Untuk kehidupan yang hanya berpihak pada perempuan cerdas sepertiku.”
Gelas mereka berbenturan pelan dalam suasana sunyi. Sementara di luar, lampu neon terus berkedip liar, seolah menertawakan kebohongan yang terbangun dengan apik.
"Untuk apa aku repot-repot hamil? Aku tak mau tubuhku rusak hanya demi permintaan ibu mertuaku yang sok baik tapi menyebalkan. Aku lahir untuk sorotan kamera," gumam Ashley sembari mengisi gelasnya dengan sampanye.
Ia mengangkat gelasnya lagi.
"Cheers! Untuk rahim pinjaman."

Noona Y
6 Pengikut · 5 Novel