


oleh Airyline · 44 Bab
Alya sudah mati. Begitulah yang mereka pikirkan setelah kecelakaan tragis itu. Namun, yang terjadi jauh lebih mengerikan. Alya tidak mati—ia bangkit sebagai orang baru. Seseorang yang lahir dari rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran. Kini, Alya kembali sebagai Liana, wanita dengan luka yang kehilangan segalanya, dan bertekad mengambil semua yang direnggut darinya. Dengan hati yang telah membeku, Liana menyusup ke kehidupan mereka yang pernah menghancurkannya. Ia mendekati Reza untuk melihat kehancurannya. Ia masuk ke dalam kehidupan Nadine, merobohkan dunianya. Ia membuat Bu Mirna bertekuk lutut, merasakan ketakutan. "Kalian telah membunuh Alya. Kini, saatnya aku yang membunuh kalian."
Alya duduk di ruang makan yang sepi. Di depannya, dua piring berisi makanan yang kini mulai dingin. Satu piring untuknya, satu lagi untuk suaminya, Reza, yang seperti biasa tak kunjung pulang tepat waktu.
Jam dinding berdenting pelan, menunjukkan pukul 11 malam.
Alya menarik napas panjang, menahan perasaan kecewa yang mulai menusuk hatinya.
Ini bukan pertama kalinya Reza mengabaikan makan malam bersama.
Tak lama, suara mobil terdengar di depan rumah. Alya bergegas berdiri dan membuka pintu. Reza masuk, masih dengan kemeja kantornya yang rapi. Aroma parfum mahalnya bercampur dengan asap rokok tipis yang menempel di bajunya.
"Kamu baru pulang?" tanya Alya dengan suara lembut, meski dalam hatinya sudah lelah bertanya hal yang sama.
Reza hanya melirik sekilas. "Banyak kerjaan," jawabnya datar, lalu melepas dasinya dengan gerakan malas.
"Aku sudah menyiapkan makan malam. Kamu mau makan?" Alya mencoba tersenyum, berharap ada sedikit kehangatan di antara mereka.
Reza menghela napas, lalu menggeleng. "Aku sudah makan di luar. Aku capek, mau istirahat dulu."
Hati Alya mencelos.
Ia menggigit bibirnya, menahan perasaan yang sudah terlalu lama dipendam. Kali ini, ia tak bisa membiarkan semuanya berlalu begitu saja.
"Reza …," Alya memanggil dengan suara bergetar.
Langkah Reza yang hendak menuju kamar terhenti, tapi ia tak berbalik.
"Apa?" tanyanya malas.
Alya menatap punggung suaminya. "Kita hampir tidak pernah makan malam bersama lagi. Aku menunggu berjam-jam, menyiapkan makanan untuk kita, tapi kamu selalu bilang sudah makan di luar."
Reza berbalik, matanya menatap Alya dengan ekspresi jengah. "Terus, aku harus gimana? Aku kerja, Alya. Aku sibuk!"
"Dan aku ini istrimu! Apa aku tidak pantas dapat sedikit waktu darimu?" Suara Alya meninggi.
Reza menghela napas keras. "Alya, tolong jangan mulai drama."
Alya tersenyum pahit. "Drama? Aku cuma ingin kita makan malam bersama, Reza. Sejak kapan itu jadi drama?"
Reza melangkah mendekat, tatapannya dingin. "Sejak kamu mulai menuntut hal-hal yang tidak bisa aku berikan. Aku capek, Alya. Aku pulang ke rumah untuk istirahat, bukan untuk diceramahi."
Alya merasakan matanya mulai panas. "Aku hanya ingin kita bicara …. Aku merasa seperti orang asing di rumah ini, Reza."
Reza mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Kalau kamu merasa seperti orang asing, mungkin karena kamu terlalu banyak mengeluh daripada mencoba mengerti."
Kata-kata itu seperti tamparan keras bagi Alya.
Reza melangkah pergi, meninggalkannya berdiri sendirian di ruang makan yang semakin terasa dingin.
Alya tidak menyerah. Untuk pertama kalinya, ia tidak membiarkan Reza pergi begitu saja.
Dengan langkah cepat, ia mengikuti suaminya ke kamar. Saat Reza hendak membuka kancing kemejanya, Alya memegang tangannya, memaksanya untuk tetap menatapnya.
"Reza, aku mohon …." Suara Alya bergetar. "Aku cuma ingin sedikit waktu darimu. Hanya sebentar saja ...."
Reza menghela napas panjang. "Alya, aku sudah bilang, aku capek."
Air mata mulai menggenang di mata Alya. "Capek? Reza, aku ini istrimu! Aku selalu menunggumu, tapi kamu bahkan tidak pernah peduli! Jangan bilang kalau kamu benar-benar sibuk. Atau sebenarnya …, ada wanita lain?"
Reza menegang. Sorot matanya berubah tajam, penuh kemarahan.
"Apa?" Suaranya dingin dan mengancam.
Alya menggigit bibirnya, tapi ia tidak bisa menarik kembali kata-katanya. Curiga itu sudah lama ada di dalam hatinya.
"Apa kamu punya wanita lain di luar sana, Reza?" tanyanya lagi, lebih keras kali ini.
Dan sebelum Alya bisa menyadari apa yang terjadi, telapak tangan Reza melayang ke pipinya.
Plak! Bunyi tamparan itu menggema di kamar yang sunyi.
Alya terhuyung ke belakang, tangannya memegang pipinya yang panas dan perih. Matanya membelalak tidak percaya.
Reza … menamparnya?
Suaminya sendiri … memukulnya?
Alya menatap Reza dengan sorot luka, tetapi pria itu bahkan tidak terlihat menyesal. Justru, ekspresinya tetap datar dan dingin.
"Jangan bicara sembarangan, Alya," suara Reza rendah, tapi tajam. "Aku tidak punya waktu untuk drama seperti ini."
Alya masih terpaku, tubuhnya gemetar. Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan. Namun, yang membuat hatinya semakin hancur bukanlah tamparan itu, tetapi kalimat yang keluar dari mulut suaminya setelah itu.
"Siapkan air panas. Aku mau mandi."
Alya membeku.
Jadi, setelah semua ini … itu saja yang Reza pikirkan?
Seakan-akan tamparan tadi bukan apa-apa.
Seakan-akan ia bukan siapa-siapa.
Alya masih terpaku. Pipinya panas dan perih, tapi bukan hanya rasa sakit fisik yang membuatnya diam di tempat. Hatinyalah yang lebih hancur.
Reza … menamparnya.
Suaminya, pria yang dulu dicintai, baru saja mengangkat tangan kepadanya. Dan yang lebih menyakitkan, Reza tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan.
Reza, yang kini berdiri di depannya, hanya menghela napas kasar. "Kamu ngapain bengong di situ?" Suaranya dingin dan malas, seolah kejadian tadi sama sekali tidak penting baginya.
Alya masih belum bisa bicara. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca, berharap ada sedikit empati di sana. Namun yang ia lihat hanyalah kejengkelan.
"Reza …." Suaranya parau. "Kenapa kamu tega melakukan ini?"
Reza meliriknya sekilas, lalu menekan pelipisnya dengan kasar. "Tega? Alya, aku capek banget pulang kerja, dan yang aku dapat malah istri yang berisik dan suka bikin drama."
Alya menggeleng pelan. "Aku cuma ingin kita bicara …. Aku ingin tahu, apa aku masih berarti buat kamu?"
Reza terkekeh kecil, tapi itu bukan tawa yang menyenangkan. Lebih seperti tawa mengejek. "Kalau kamu punya waktu buat mikirin hal kayak gitu, lebih baik kamu pakai buat ngurusin rumah atau diri kamu sendiri."
Ucapan itu seperti belati yang menusuk jantung Alya.
"Jadi aku ini cuma pelayan di rumah ini? Aku cuma seseorang yang harus diam dan melayanimu, tanpa bisa menuntut apa pun?" Suaranya bergetar, tapi ia tetap menatap Reza dengan sorot mata penuh luka.
Reza mengembuskan napas panjang, jelas sudah kehilangan kesabaran. "Aku nggak mau ribut. Aku cuma pengen mandi dan tidur."
Alya masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak. Ia ingin bertahan, ingin mempertahankan dirinya.
Namun, Reza tidak menyukai itu.
Dengan kasar, pria itu mendorong bahu Alya hingga tubuhnya terdorong ke belakang.
"Alya, siapkan air panas sekarang!" Suaranya berubah tajam, hampir seperti bentakan.
Alya terhuyung, hampir jatuh ke belakang. Ia menatap Reza dengan mata membelalak, tidak percaya pria yang berdiri di depannya ini adalah suami yang dulu ia kenal.
Reza benar-benar sudah berubah.
Atau mungkin … ia memang tidak pernah mencintai Alya sejak awal?
Hatinya terasa semakin hancur. Dengan tangan gemetar, ia mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti budak di rumahnya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alya berjalan menuju kamar mandi.
Langkahnya berat.
Dan di setiap langkah itu, ia merasakan dirinya semakin jauh dari Reza.
Mungkin, pernikahan mereka benar-benar sudah mati.

Airyline
25 Pengikut · 2 Novel