


oleh Miss Aquarius · 100 Bab
KKN. Kuliah kerja nyata atau kuliah kerja ngegombal? Ketika mahasiswi lain melakukan kegiatan KKN dengan penuh keseriusan, lain halnya dengan Nurhidayah Sawira dan Inti Aisyiyah yang mana kegiatan KKN-nya dipenuhi gombalan receh dari para tentara. Mereka menjalankan kegiatan KKN di tempat para tentara tengah bertugas dalam menjaga keutuhan NKRI. Keduanya pun harus berhadapan dengan Letnan Jenderal TNI Erlangga Prasaja. Si Abdi Negara yang sok galak dan sok segala-galanya. Letjen Angga selalu membuat mereka menjadi sasaran emosi Jenderal TNI Pradika Mulyo Perkasa, sang Abdi Negara berwajah dingin dan datar. Bagaimana kelanjutan kisah kedua mahasiswi itu dengan dua abdi negara tersebut?
Sudah beberapa kali Inti menghela napas secara kasar dan terkesan tidak tenang, membuat Hidayah yang berdiri di samping Inti hanya mampu mengerutkan dahi dengan bingung saat melihat kelakuan sahabatnya itu. Mereka tengah berada di toko buku, lebih tepatnya di lantai tiga, tempat khusus semua novel terpajang. Karena hari ini tidak ada kelas alias bebas, sehingga keduanya memutuskan untuk pergi ke sana.
"Kamu kenapa, sih? Perasaan dari tadi tarik-buang napas terus? Asma, ya?" tanya Hidayah yang jengah dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Astaghfirullah, jahat banget kamu, doain aku punya penyakit bengek."
Hidayah memutar bola matanya. "Lagian kamu, sih, kayak banyak pikiran amat dari kemarin-kemarin. Ada apa?"
Hidayah kesal karena tingkah aneh sahabatnya itu. Sedari tadi Inti hanya diam, tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Gadis itu hanya terus menghela napas, tanpa menghiraukan dia yang mengajak berbincang.
“Aku, tuh, lagi mikir ….” Belum sempat Inti menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Hidayah langsung menyela.
"Sok, punya otak kamu, sampe bilang begitu," sela Hidayah dengan nada mengejek yang langsung mendapat jitakan kepala dari Inti.
"Terus, terus aja hina aku. Mumpung gratis."
Hidayah tertawa pelan saat melihat wajah Inti yang memang sangat lucu ketika sedang kesal. Bibirnya yang mengerucut dengan pipi menggelembung, menjadi objek utama Hidayah dalam menampakkan tawa renyah.
"Maaf maaf. Abisnya kamu kenapa, sih? Aku perhatiin kayak banyak beban aja," ujar Hidayah seraya bertanya.
Inti berdecak sebal. "Ck, kamu merasa ada yang janggal nggak, sih?" Hidayah mengglengkan kepala. "Ish, aku tuh lagi mikir, Day. Kok kita berdua nggak bisa milih tempat KKN, ya? Sedangkan yang lain itu bisa?"
"Mana aku tahu, kan, aku mah ikan."
"Ngomong sama kamu mah berasa ngomong sama gayung, nggak ada faedahnya."
Hidayah tertawa pelan. “Cie, ngambek.”
"Kan KKN ada dua jenis, I. Reguler sama mandiri, reguler ditentukan sama kampus, sedangkan mandiri biasanya bayar. Nah, bisa kita milih sendiri untuk tempatnya,” jelas Hidayah.
Inti menganggukkan kepala. "Nah, itu maksudku, Day. Aku niatnya mau mengajukan mandiri, biar bebas milih tempat KKN nya, tapi pas mau bayar sekalian bareng sama kamu juga. Eh, ditolak, entah kenapa? Itu bikin bingung dan bikin galau tahu."
Hidayah mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu, deh, kalau masalah itu. Kan, aku bukan bagian keuangan. Kenapa nggak kamu tanya aja? Atau tanya ke kaprodi kita."
Inti menatap kesal ke arah Hidayah. Rasanya ingin sekali memukul gadis di hadapannya. Entah kenapa dia menjadi gemas sendiri. Inti memalingkan wajahnya, enggan menatap Hidayah. Ia sedang merajuk karena sikap Hidayah yang tidak juga mengerti, padahal ia sudah berbicara panjang lebar dan jelas.
"Malah ngambek," gumam Hidayah sambil mengedikkan bahunya dengan tak acuh.
Bukannya membujuk Inti agar tidak merajuk lagi, Hidayah malah pergi ke rak novel paling ujung yang ada di lantai tersebut. Inti yang melihat itu langsung menghentakkan kakinya.
"Emang dasar lemot mah susah. Aku lagi ngambek bukannya dibujuk, malah ditinggal. Nasib punya sahabat kurang seliter, ya, begini," gerutu Inti seraya melangkah ke arah Hidayah yang sedang melihat sambil membaca bagian-bagian belakang novel.
"Kamu ngapain baca-baca blurb novel? Mau beli novel lagi, heh?" Hidayah mengangguk. "Kamu ngapain, sih, Day beli novel terus? Nggak bosen apa belinya itu-itu terus, mana nggak bisa dimakan lagi. Padahal di rumah punya banyak novel, ditambah karya kamu sendiri. Tapi masih aja lirik sana-sini."
Hidayah menatap sekilas ke arah Inti, lalu menjawab, "Entah kenapa, kalau lihat novel, berasa ngelihat cogan. Bawaannya pengen bawa pulang terus."
"Apaan? Gaya banget buku dianggap cogan! Ini novel, nggak ada novel diibaratin jadi cogan. Stres kali, ah. Eh, tapi aku bangga banget sama kamu, orang selemot kamu ternyata bisa menghasilkan banyak karya. Bahkan, novel kamu laku terjual tujuh ribu eks selama tiga jam, alias udah best seller banget. Nggak nyangka aku, ternyata novel Accident Membawa Berkah emang bener-bener bawa berkah buat kita," cerocos Inti.
"Buat kita?" beo Hidayah dengan raut terkejutnya.
Inti mengangguk-anggukan kepala. "Heem, buat kita. Kamu yang dapat keuntungan, Aku yang dapat traktiran. Kan, sama-sama dapat berkah, dong?" Sekarang giliran Hidayah yang merasa gemas sendiri pada Inti.
Hidayah mengabaikan Inti. Dia malah melangkah mendekat ke arah sebuah novel berwarna hitam. Saat dia akan menyentuh novel tersebut, tiba-tiba saja seorang gadis yang berusia di bawah Hidayah langsung mengambilnya.
"Kakak mau beli novel ini juga?" tanya gadis remaja itu.
Hidayah mengangguk. "Iya, tadinya saya mau membeli novel itu."
"Tapi, kata mbak-mbak yang jaga toko, novel karya Kak Hidsa tinggal satu, itu pun hanya 'La Tahzan, Miss Lemot', Kak. Padahal aku pengen beli semua karyanya, sampe ke sini ajak Abangku yang lagi cuti."
Hidayah tersenyum ramah ke arah gadis itu. Tidak dia sangka ternyata masih banyak orang yang menyukai dan ingin membeli novel karyanya. Hanya saja, banyak orang yang tidak mengetahui identitas asli dia, karena gadis itu selalu memakai nama pena serta sedikit memanipulasi biodata pribadi miliknya.
"Oh, kamu pengen novel-novel karya dia, ya?" tanya Hidayah yang langsung dijawab anggukan kepala oleh gadis itu.
“Kalau kamu mau, biar Kakak kirim ke alamat kamu. Di rumah Kakak banyak banget, kok, novel-novel karyanya Kak Hidsa,” ucap Hidayah.
Gadis itu menatap Hidayah dengan antusias. "Beneran, Kak? Tunggu sebentar ya, aku kasih tahu Abang aku dulu. Kakak tunggu di sini, ya."
Setelah Hidayah menganggukkan kepala. Gadis itu langsung pergi entah ke mana. Inti yang melihat interaksi sahabatnya dengan seorang gadis remaja, hanya bisa mengulas senyum. Dia begitu bangga dengan sahabatnya itu, selain cantik, salihah, pandai menciptakan karya, Hidayah juga begitu ramah dan baik pada semua orang. Buktinya sekarang, saat orang lain menghasilkan karya untuk mencari keuntungan dan popularitas, gadis itu malah mencari kesenangan dari orang lain yang belum mengenalnya.
Mungkin jika Inti menjadi Hidayah, dia akan menunjukkan dirinya agar nama dan popularitasnya bisa bersanding dengan penulis-penulis terkenal. Namun, sayangnya Hidayah tidak suka menjadi terkenal, karena takut orang-orang akan segan dan canggung jika berpapasan dengannya. Menjadi orang biasa lebih enak, dibandingkan menjadi terkenal, itu menurut Hidayah.

Miss Aquarius
30 Pengikut · 10 Novel