“Tanda tangani ini, Adrian, dan semua utang darahmu lunas. Termasuk nyawamu.”
Suara itu tidak lebih keras dari gesekan logam di atas porselen, dan sanggup membekukan aliran darah Lyra Anindita. Ia berdiri mematung di tengah ruangan yang pengap.
Gaun pertunangan berbahan sutra putih gading yang melekat di tubuhnya tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya, sebuah gudang tua di pinggiran dermaga Veridian yang hanya menyisakan aroma oli mesin berkarat dan amis air laut yang membusuk.
Adrian Baskara, pria yang dua jam lalu menyematkan cincin berlian lima karat di jemari manis Lyra, kini memegang pulpen dengan tangan yang gemetar hebat. Wajahnya yang biasanya karismatik dan angkuh kini pucat pasi, seperti mayat yang dipaksa berjalan.
Ia tidak berani menatap Lyra. Fokusnya hanya tertuju pada selembar serbet kertas yang tergeletak di atas meja kayu rapuh, berisi tulisan tangan kasar yang merinci nilai kepemilikan seorang manusia.
“Adrian, apa yang kau lakukan? Ini tidak lucu,” bisik Lyra. Suaranya pecah, nyaris hilang ditelan deru angin malam yang menyusup melalui jendela-jendela pecah di langit-langit gudang.
“Kau bilang kita akan merayakan pertunangan kita secara pribadi di sini. Kau bilang ini kejutan.”
“Ini memang kejutan, Sayang. Hanya saja, bukan jenis yang kau harapkan,” sahut suara lain yang muncul dari kegelapan di balik pilar beton.
Seorang pria melangkah maju. Cahaya lampu jalan yang temaram dari luar menyinari sosoknya secara parsial. Ia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu arang yang terpotong sempurna, membungkus tubuh tegapnya yang memancarkan aura predator. Namun, yang membuat napas Lyra tersentak bukan pakaian mewahnya, melainkan bekas luka melintang yang membelah pipi kiri pria itu, sebuah tanda permanen yang memberikan kesan bengis pada wajahnya yang sebenarnya sangat tampan.
Dante Valerius. Lyra mengenali nama itu dari bisik-bisik ketakutan di kalangan elit Veridian. Dia adalah pria yang tidak memiliki wajah di media, memegang kendali atas rantai pasokan dunia bawah.
“Tanda tangani, Adrian. Kesabaranku setipis asap cerutu ini,” perintah Dante dingin.
Adrian terisak pelan. Dengan satu gerakan putus asa, ia menorehkan tanda tangannya di atas serbet itu. Suara goresan pulpen tersebut terdengar seperti vonis mati bagi Lyra. Setelah selesai, Adrian meletakkan pulpen itu dan melangkah mundur, masih tanpa berani menatap tunangannya.
“Sudah. Semuanya sudah lunas, ‘kan? Aku boleh pergi sekarang?” Suara Adrian melengking karena panik.
“Pergilah. Larilah sekencang mungkin sebelum aku berubah pikiran untuk mengambil ginjalmu sebagai bunga utang,” usir Dante tanpa menoleh sedikit pun.
Adrian segera berbalik dan berlari menuju pintu besi yang terbuka sedikit. Langkah kakinya yang terburu-buru bergema di seluruh gudang, menjauh, dan akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam.
Ia pergi begitu saja. Ia meninggalkan Lyra, wanita yang katanya ia cintai lebih dari nyawanya sendiri, sebagai alat tukar untuk utang judi yang tidak pernah Lyra ketahui keberadaannya.
Lyra merasa dunianya runtuh. Lututnya melemas, membuatnya jatuh bersimpuh di atas lantai gudang yang kotor oleh debu dan oli. Gaun sutranya yang mahal kini ternoda, itu adalah hal terakhir yang ia pedulikan.
“Dia menjualku,” bisik Lyra pada dirinya sendiri. “Dia benar-benar menjualku.”
Dante berjalan mendekat. Langkah kakinya yang berat dan berirama terdengar seperti lonceng kematian. Ia berhenti tepat di depan Lyra, menatap ke bawah seolah-olah wanita itu hanyalah sebuah barang pecah belah yang baru saja ia menangkan dalam lelang murah.
“Cinta adalah mata uang paling murah di meja judi ini, Lyra Anindita,” ujar Dante, suaranya kini terdengar lebih rendah, hampir seperti geraman badai yang tertahan.
“Tunanganmu yang pengecut itu baru saja membuktikan bahwa harga dirimu hanya setara dengan beberapa digit angka di buku besarku.”
Lyra mendongak, matanya yang sembab oleh air mata kini berkilat dengan amarah yang mendadak bangkit dari lubuk hatinya yang paling dalam. “Aku bukan barang. Kau tidak bisa membeliku. Hukum di negara ini tidak mengizinkan transaksi manusia!”
Dante berjongkok, menyamakan tingginya dengan Lyra. Ujung jemarinya yang dingin menyentuh dagu Lyra, memaksanya untuk terus menatap mata yang sekelam lubang hitam itu.
“Hukum?” Dante terkekeh pelan, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya.
“Di dermaga ini, hukum adalah apa yang aku tulis, dan malam ini, aku menulis namamu di kolom asetku. Kau tidak lagi memiliki hak atas tubuhmu, namamu, bahkan napasmu. Kau adalah milikku sampai aku memutuskan kau sudah tidak berguna lagi.”
Tangan Dante bergerak kasar ke arah jari manis Lyra. Dengan satu sentakan, ia merobek cincin pertunangan berlian itu hingga kulit Lyra sedikit tergores. Dante menatap berlian itu sejenak, lalu melemparkannya ke sudut gudang seolah benda itu hanya kerikil tak berharga.
“Cincin ini berasal dari uang yang dia pinjam dariku. Jadi, secara teknis, ini pun milikku,” ucap Dante datar.
Lyra mencoba berdiri, berniat untuk lari atau setidaknya memberikan tamparan pada pria angkuh ini, tapi Dante lebih cepat. Ia mencengkeram pergelangan tangan Lyra dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
Lyra mengerang kesakitan, tubuhnya ditarik paksa hingga ia berdiri dan menabrak dada bidang Dante yang sekeras dinding beton.
“Lepaskan aku, brengsek!” jerit Lyra, memukul-mukul dada Dante dengan tangan satunya yang bebas.
Dante tidak bergeming. Ia justru merapatkan pelukannya, mengunci pergerakan Lyra sepenuhnya. Aroma parfum sandalwood yang maskulin bercampur dengan bau asap tembakau dari pakaian Dante menyerang indra penciuman Lyra, menciptakan sensasi mencekik yang asing.
“Simpan tenagamu, Little Pianist,” bisik Dante tepat di telinga Lyra, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. “Kau akan membutuhkannya untuk perjalanan panjang menuju Obsidian Cliffs. Di sana, tidak akan ada penonton yang bertepuk tangan untuk permainan pianomu. Hanya akan ada aku, dan bagaimana aku akan mengajarimu cara membayar utang Adrian dengan setiap inci kulitmu.”
Dante menarik sebuah rantai logam tipis, kuat dari saku mantelnya. Sebelum Lyra sempat menyadari apa yang terjadi, Dante telah melingkarkan rantai itu di pergelangan tangan Lyra, menguncinya dengan sebuah gembok kecil yang kuncinya segera ia telan ke dalam saku.
“Sekarang, mari kita lihat seberapa cepat kau bisa melupakan nama Adrian Baskara.” Dante menyeret Lyra menuju sebuah mobil sedan hitam yang sudah menunggu di luar pintu gudang.
Udara dingin musim gugur tahun 2026 menyapu wajah Lyra yang basah. Ia menoleh ke arah jalan raya, berharap melihat lampu mobil Adrian yang berbalik untuk menyelamatkannya. Namun, jalanan itu kosong.
Yang ada hanyalah kegelapan yang membentang luas, seolah-olah seluruh dunia telah berkonspirasi untuk mengabaikan keberadaannya.
Saat pintu mobil dibuka, Lyra melihat seorang pria berseragam pengawal berdiri kaku. Dante mendorongnya masuk ke dalam kursi belakang yang sempit dan berbau kulit baru.
Sebelum Dante ikut masuk, ia berhenti sejenak, menatap ke arah bayangan pilar di sudut gudang yang sejak tadi tampak sunyi.
“Kau bisa keluar sekarang, Sena,” ucap Dante dengan nada meremehkan.
Lyra tersentak. Sena? Sahabatnya?
Dari balik bayangan pilar, seorang wanita dengan jaket kulit hitam dan kamera yang menggantung di lehernya melangkah keluar. Sena tidak tampak terkejut.
Ia tidak berteriak melihat Lyra dirantai. Ia justru menatap Lyra dengan tatapan dingin, lalu mengangguk kecil ke arah Dante seolah-olah mereka adalah mitra bisnis yang sudah lama bekerja sama.
“Kau mendapatkan apa yang kau mau, Dante. Sekarang, pastikan bagianku dikirim malam ini juga,” ujar Sena tanpa emosi.
Mata Lyra membelalak. Lidahnya terasa kelu. Di malam yang seharusnya menjadi perayaan cintanya, ia tidak hanya dikhianati oleh tunangannya, tetapi juga oleh satu-satunya orang yang ia anggap saudara.
Dante menutup pintu mobil dengan dentuman keras, mengunci Lyra dalam ruang kedap suara yang mencekam. Saat mobil mulai melaju meninggalkan dermaga, Dante berbisik pelan sambil menatap profil samping wajah Lyra yang hancur.