


oleh Kikmatulla · 101 Bab
Kanaya Fei. Gadis yang besar di panti asuhan karena dibuang oleh orang tuanya yang adalah Raja dan Ratu kerajaan Wiratama. Ayahnya berusaha menutupi semuanya dari semua orang dengan cara membuang Kanaya dan mengadopsi seorang bayi laki-laki. Lambat laun, Kanaya yang sudah berusia 21 tahun akhirnya mengetahui semuanya. Arya yang merupakan anak angkat Raja Alden akan segera dinobatkan menjadi raja. Sebelum terlambat, apakah Kanaya harus membunuh Alden atau terang-terangan mengakui semuanya saja?
Kanaya Fei.
Wanita tomboi yang besar di panti asuhan.
Memiliki fisik dan perilaku yang hampir mirip seperti seorang lelaki, dengan gaya rambutnya yang pendek dan selalu menggunakan celana jeans loose fit dipadukan dengan kaos atasan lengan pendek saat bepergian.
Kanaya dimasukkan ke panti asuhan sejak 21 tahun yang lalu. Ia tidak memiliki banyak teman, karena orang lain selalu menganggapnya wanita yang aneh. Kanaya hanya memiliki satu teman di panti asuhan.
Kanaya tetap merasa senang karena menurutnya, walau temannya hanya satu ia bisa mengajaknya sebagai teman ngobrol, terkadang juga mencurahkan isi hatinya.
Meskipun dibilang wanita aneh dan jelek oleh orang lain, Kanaya ternyata memiliki kepintaran walau tak mengenal apa itu sekolah.
21 tahun besar di panti asuhan, Kanaya tidak mengenal siapa orang tuanya.
Berulang kali Kanaya bertanya kepada pemilik panti siapa orang tuanya, pemilik panti hanya menjawab jika ia pada saat itu menemukan Kanaya tergeletak di depan pintu panti.
Ia tidak tahu siapa yang meletakkan Kanaya bayi saat itu, di dalam baju Kanaya saat itu terselip sebuah surat yang bertuliskan:
Rawatlah bayi ini hingga ia menjadi dewasa, kau tak perlu tahu dia berasal dari mana. Sudah ku selipkan uang di bawah tubuhnya yang kurasa cukup untuk membiayai hidupnya. Bayi ini sudah kuberi nama Kanaya Fei.
Meski sang pemilik panti berulang kali menjawab dengan jawaban yang sama, Kanaya masih saja terus bertanya jika siapa orang tuanya.
Orang tua Kanaya memang tega. Padahal di luar sana banyak sekali orang yang tak bisa memiliki anak.
Anak adalah anugerah dari Tuhan, jadi kewajiban orang tua adalah merawatnya, bukan malah membuangnya.
"Fei!" Suara seorang lelaki memanggil. Dari kejauhan tampak ia tengah berjalan menuju ke arah Kanaya yang tengah duduk di kursi sebuah taman dan tengah asyik membaca buku.
Kanaya yang mendengarnya pun berhenti membaca buku lalu matanya melihat ke arah seorang pria yang tengah berjalan ke arahnya.
Raut wajah Kanaya yang semula biasa saja langsung berubah menjadi bahagia, karena akhirnya teman mengobrol dan tempat untuk mencurahkan isi hatinya itu datang.
Kanaya memang akrab dipanggil 'Fei' oleh temannya itu, karena menurutnya nama itu lebih cocok karena penampilan Kanaya yang terlihat tomboi.
"Hai Okta," sapa Kanaya kepada temannya itu.
Nama teman Kanaya adalah Oktara Faire. Ia lebih sering dipanggil dengan nama Okta. Okta adalah anak pemilik panti asuhan tersebut.
Okta yang sudah sampai pun duduk bersebelahan dengan Kanaya. Ia tak peduli dengan apa yang orang lain katakan, karena ia mau berteman dengan Kanaya.
"Menurutmu kalau aku keluar dari panti ini dan pergi cari pekerjaan, apa itu ide yang bagus? Karena aku udah ngerasa kalau aku ini nggak pantes tinggal di panti asuhan terus! Aku ini udah gede!" tanya Kanaya kepada Okta.
Ia merasa jika dirinya sudah tak pantas untuk terus tinggal di panti.
"Kenapa kamu tanya kayak gini? Menurutku kamu tetap di sini aja jangan pergi! Cari kerja nggak segampang itu, Fei. Kalo semisal kamu udah dapet sih ya terserah kamu aja, tapi kalau kamu belum dapat pekerjaan aku saranin jangan pergi dulu!" balas Okta memberikan saran untuk Kanaya.
"Aku tahu, cari kerja emang nggak segampang itu, tapi aku dah mantep kok buat keluar dari panti ini," sambung Kanaya.
"Terus kalau kamu keluar, kamu mau tinggal di mana? Aku khawatir sama kamu Fei," balas Okta yang khawatir jika temannya itu tak mendapatkan tempat tinggal yang layak.
Kanaya hanya menunduk dan tersenyum manis. Ia merasa senang karena temannya itu perhatian padanya.
Baru kali ini dalam hidupnya Kanaya diperhatikan oleh seseorang. Kanaya yang sudah mantap untuk keluar dari panti asuhan pun beranjak bangun dari duduknya dan meninggalkan Okta.
"Duluan ya!" pungkas Kanaya sambil berjalan meninggalkan Okta menuju kamarnya. Okta tak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk.
Sesampainya di kamar, Kanaya mulai mengemas barang-barang miliknya. Selesai mengemas Kanaya pergi mandi. Dilanjutkan dengan makan makanan yang sudah disiapkan setiap harinya oleh pihak panti.
Kanaya berjalan membawa kopernya menuju ke arah sang pemilik panti, ia meminta izin untuk keluar dari panti.
Sang pemilik pun memberikan izin kepada Kanaya. Ia sudah paham akan perasaan Kanaya yang sudah dewasa.
Okta yang mengetahui jika Kanaya akan pergi hari ini bergegas menemuinya. Setelah bertemu dengan Kanaya, Okta memberi Kanaya amplop dan sedikit bingkisan.
Awalnya Kanaya menolak, tetapi karena Okta memaksa akhirnya Kanaya mau menerimanya.
Kanaya mulai berjalan menjauh keluar panti. Okta yang sudah lama menjadi teman dekat Kanaya pun sedih karena merasa kehilangan seseorang yang sudah ia anggap seperti saudaranya.
Memang rasanya berat karena mereka sudah bertahun-tahun bersama. Tetapi karena waktu terus berjalan Okta pun harus rela ditinggal Kanaya.
Beberapa jam kemudian, Kanaya sampai di pusat Kota Metropolitan dan pergi mencari pekerjaan dengan berjalan kaki.
Sebelum mencari pekerjaan Kanaya pergi ke sebuah apartemen, ia memesan sebuah kamar dengan harga yang murah. Kanaya memiliki sedikit uang dari hasil tabungannya yang dirasa cukup untuk tinggal di apartemen.
Setelah mendapatkan kamar di apartemen barunya, Kanaya pergi mencari pekerjaan.
Setelah berjalan sejauh 1 kilometer dari apartemen, akhirnya Kanaya berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan. Tempat kerja Kanaya terletak di pusat kota, tak jauh dari apartemennya.
"Yeay, akhirnya dapet kerjaan juga," ucap Kanaya yang merasa senang dan puas karena usahanya tak sia-sia.

Kikmatulla
47 Pengikut · 3 Novel