


oleh Daes Eag · 5 Bab
Istana Heian mengalami kekacauan saat beberapa orang perdana menteri dan mantan selir raja terdahulu melakukan kudeta terhadap sang ratu dan berniat menggulingkannya dari kursi tahta. Mereka pun bekerja sama dengan seorang tabib yang diyakini mampu menggunakan ilmu sihir. Alih-alih terbunuh, sang ratu justru mengalami perubahan pada fisiknya akibat dari ramuan yang mereka dapat. Tubuhnya mengecil dan ia ... berubah kembali menjadi sosok anak-anak.
Suasana khidmat menyelimuti gedung utama Istana Heian. Semua orang di sana secara serentak menundukkan kepala begitu sosok agung yang mereka hormati berjalan perlahan menuju sebuah singgasana yang letaknya lebih tinggi dari permukaan tanah. Sepasang kaki itu berjalan secara perlahan, ujung gaunnya menyapu permukaan tanah dengan gerakan halus hingga menaiki satu per satu anak tangga sebelum akhirnya duduk di kursi tahta.
Upacara penobatan yang diadakan di Daigokuden atau Aula Agung itu berjalan dengan mulus tanpa ada hambatan sedikit pun. Semua orang terlihat bergembira menyambut pemimpin yang baru tak lama setelah raja terdahulu meninggal dunia karena sebuah penyakit komplikasi.
Ya, semuanya terlihat begitu normal sebelum akhirnya beberapa orang terlihat berkumpul secara diam-diam di salah satu ruangan saat tengah malam, tepat setelah upacara penobatan. Ada sekitar lima orang pria dan satu wanita yang berada di sana, terlibat dalam sebuah pembicaraan yang cukup serius.
"Aku tidak mengerti kenapa Yang Mulia memberikan kursi tahtanya pada Putri Kaede. Bukankah itu terlalu egois? Apakah hanya karena dia putri satu-satunya yang dimiliki?" Salah seorang pria tua berujar seraya menutup sebuah kipas tangan lipat yang sedari tadi berada di tangannya.
"Seharusnya dia mendiskusikan hal ini bersama Anda, Yang Mulia," sahut pria tua yang lain, menatap ke arah wanita yang duduk di depan mereka semua.
Wanita itu memasang muka masam, kemudian berkata, "kurasa ini hanya akal-akalan Putri Kaede agar aku tak bisa mengambil tahta. Raja menikahiku ketika ratu masih sakit, sebelum akhirnya meninggal dunia. Jika saja aku bisa melahirkan anak untuknya, pasti akan lebih mudah bagiku untuk menyingkirkan Kaede setelah kematian raja. "Kita harus melakukan sesuatu." Ia menambahkan.
Mereka terus bercengkerama satu sama lain dengan volume rendah untuk memastikan tak ada orang lain yang mendengar. Manabu, pria tua yang memegangi kipas tangan itu berjalan menuju salah satu meja berisi berbagai gulungan dan mengambil salah satu di antaranya. Ia membawa gulungan itu ke atas meja dan membukanya lebar hingga menampilkan sebuah lukisan letak tanah yang berada di luar wilayah istana dan juga pemukiman. Di sana terdapat gambar gunung, sungai, dan bahkan laut. Ujung jarinya bergerak ke salah satu sisi kertas.
"Desa ... Kabut?" Pria di sebelahnya membaca tulisan yang tertera di sana.
Manabu mengangguk, "Desa itu terletak cukup jauh dan letaknya tepat di kaki Gunung Takao. Jadi, kurasa akan memerlukan waktu setidaknya hampir satu hari untuk mencapainya jika menggunakan kuda." Ia lalu menatap Mayumi, sosok wanita yang menjadi pemimpin pertemuan mereka. "Aku pernah mendengar bahwa ada seorang tabib yang tinggal di sana. Menurut kabar yang beredar, ia biasa menggunakan ilmu sihir dalam setiap pengobatannya."
Mayumi mengerutkan dahi. "Hanya untuk pengobatan?"
Mendengar hal itu, seulas seringai tipis tercetak di permukaan bibir Manabu dan membuat kerutan di sekitar bibirnya menjadi cukup terlihat. "Tentu saja tidak, Yang Mulia. Banyak orang yang datang kepadanya untuk urusan lain dan salah satunya adalah ... membunuh. Tapi kurasa dia akan memasang harga yang lebih fantastis untuk itu."
Penjelasan Manabu membuat Mayumi kembali terdiam. Matanya lalu bergerak menatap salah satu bagian peta tepat di mana ujung jari milik Manabu berada.
"Aku tidak peduli dengan harganya." Suara Mayumi terdengar lebih lembut kali ini. "Siapkan beberapa orang untuk pergi ke tempat itu dan pastikan kalian mendapatkannya."
Manabu membungkukkan badannya seraya menjawab dengan nada yang tegas, "Baik, Yang Mulia. Aku sendiri yang akan pergi ke sana bersama dengan beberapa anak buahku."
Puas dengan hasil pertemuan kali ini, Mayumi tersenyum lebar. Ia menyandarkan bahunya ke belakang tanpa melepaskan pandangannya dari kertas di hadapannya.
***
"Selamat atas penobatan Anda, Yang Mulia." Sesosok wanita yang membantu Kaede memasangkan pakaian itu berujar dengan seulas senyuman lebar sehingga kedua matanya membentuk garis menyerupai bulan sabit.
"Kau sudah mengatakan itu sejak kemarin, Hanako. Jadi berhentilah." Kaede tersenyum tipis seraya membiarkan wanita yang bernama Hanako itu merapikan pakaiannya.
Miura Hanako, wanita yang merupakan pelayan pribadi sekaligus pengasuh Kaede sejak masih berusia lima tahun. Ia seolah menganggap Kaede seperti putrinya sendiri dan merawatnya dengan penuh kasih sayang hingga raja benar-benar menaruh kepercayaan besar padanya untuk membantu merawat Kaede terutama selepas ratu meninggal dunia tujuh tahun yang lalu.
Bersama dengan Hanako dan beberapa pelayannya yang lain, Kaede pergi menuju ke kuil yang ada di dalam wilayah istana. Namun di tengah perjalanan, langkah Kaede berhenti begitu ia berpapasang dengan seseorang dan hal itu membuat seluruh pelayan di belakangnya melakukan hal yang serupa, lalu menundukkan kepala secara bersamaan.
"Selamat pagi, Yang Mulia." Mayumi berujar dengan seulas senyuman di wajahnya, sementara dua orang pelayan di belakangnya tampak menundukkan kepala.
Merasa tak ada kalimat balasan, Mayumi lantas melontarkan kalimat yang baru. "Tolong tetap berhati-hati, Yang Mulia. Saya mendengar kalau penjaga di gerbang utama menangkap beberapa orang yang ingin memberontak atas penobatan Anda," ujarnya dengan suara yang begitu lembut.
"Aku akan mengingatnya. Terima kasih." Kaede berujar, sedikit menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat sebelum akhirnya kembali melangkahkan kaki.
Perlahan Mayumi memutar badannya dan menatap ke arah Kaede pergi, lalu salah satu sudut bibirnya naik.
-Bersambung-

Daes Eag
2 Pengikut · 2 Novel