Langit di atas medan pertempuran terbelah oleh kilat hitam dan cahaya bulan yang saling bertabrakan. Tanah retak dipenuhi bekas darah dan aura yang saling menghancurkan. Di tengah kekacauan itu, Lyra berdiri dengan napas tersengal, tubuhnya gemetar, dan matanya masih menyala keras kepala.
“Aku akan ingat perbuatan kalian semua. Aku tidak akan biarkan kalian diberkati bulan,” umpat Lyra.
“Menyerahlah sekarang juga, Lyra.” Suara Selene terdengar dingin, nyaris tanpa emosi. “Kau sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dilindungi. Kau akan hancur.”
Lyra tersenyum tipis, meski darah mengalir dari sudut bibirnya dia tidak akan gentar dengan gertakan Selene.
“Aku tidak pernah berpikir untuk menyerah.”
“Apa kau bilang?” Selene membelalak. “Kau! Berani sekali menghadapi kami.”
“Kalian semua tidak akan pernah diberkati bulan. Aku bersumpah tentang hal ini,” tegas Lyra.
“Omong kosong!” Selene berteriak dan terus menyerang Lyra.
Dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya, Lyra mengerahkan kekuatan Moonborn untuk balas menyerang Selene.
Dalam sekejap, Selene menghilang. Lalu dia muncul tepat di depan Lyra dengan kecepatan mematikan. Cahaya bulan sabit membentuk bilah tajam di tangannya, melesat lurus ke arah jantung Lyra.
Terlalu cepat. Terlalu dekat. Namun, sebuah tubuh besar memaksa dan menerobos masuk di antara mereka.
“DAVE!” teriak Lyra. “Tidak!”
Darah muncrat ke udara saat serangan itu menembus bahu hingga dada Draven Vale. Ia tidak bisa menghindarinya lagi. Ia memang memilih untuk menerima serangan itu untuk melindungi Lyra.
Napas Alpha Draven terdengar berat, tapi matanya tetap fokus pada Selene.
“Jika kau berani menyentuhnya lagi.” Suara Draven serak, dan penuh ancaman, “kau harus melewatiku dulu.”
Selene menatapnya dengan ekspresi datar, lalu menarik bilah energinya keluar. Tubuh Draven goyah.
“Aku muak sekali dengan adegan romantis kalian,” kata Selene mengejeknya.
“Itu karena Kael tidak pernah memperlakukanmu layaknya seorang wanita yang dicintainya. Kau tidak pernah mendapatkan cinta darinya,” balas Draven.
“Sial! Kurang ajar kau!” Selene murka. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Draven.
Tubuh Draven melemah. Lyra menangkap Draven sebelum jatuh.
“Kenapa Dave? Kenapa kau lakukan ini?” Suara Lyra bergetar, panik.
Draven tersenyum lemah. “Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu dariku.”
Kalimat itu seperti memicu sesuatu.
“Tidak boleh ada yang menyentuhmu selain aku. Aku juga tidak akan memaafkan semua orang yang sudah menyakitimu.”
“Dave, sudahlah! Jangan banyak bergerak. Lukamu akan semakin parah.”
“Habisi mereka!” Salah satu Alpha memprovokasi yang lainnya.
“Mereka membawa kehancuran di dunia kita.”
Mendengar ancaman itu, tiba-tiba sebuah gelombang energi meledak dari dalam tubuh Lyra.
Aura perak Moonborn bercampur dengan kegelapan Umbra, berputar liar seperti badai yang kehilangan kendali. Tanah mulai terangkat, para Alpha terdorong mundur satu per satu, bahkan Selene terpaksa melangkah mundur untuk pertama kalinya.
“Ini mustahil. Kekuatannya menjadi tidak stabil,” gumam salah satu Alpha dengan wajah pucat.
Lyra menjerit, memegangi dadanya. “Aku tidak bisa menahannya lagi. Mereka marah atas keadaan ini.”
“Mereka?” Draven tidak mengerti maksud ucapan Lyra.
Energi itu semakin liar, berdenyut seperti dua jantung yang saling bertabrakan dalam satu tubuh. Dalam kekacauan itu suara Lyra pecah.
“Hentikan semuanya!”
Semua mata mengarah padanya.
Walau terasa berat diungkapkan, Lyra harus mengatakannya pada dunia bahwa dia
“Aku sedang hamil.”
Seketika, semua orang berhenti. Seolah waktu sendiri pun ikut menahan napas.
“Apa yang dia katakan?”
Para Alpha saling menatap bingung. Wajah mereka berubah bukan lagi sekadar waspada, tapi berubah menjadi rasa takut.
“Apa yang kau katakan barusan?” Salah satu dari mereka maju selangkah memberanikan diri bertanya pada lyra. “Hamil dengan kekuatan seperti itu?” cibirnya.
“Tidak mungkin,” bisik yang lain. “Itu berarti—”
“Anak itu.” Suara lain terputus, “… bisa menjadi sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya.”
Lyra memeluk perutnya, tubuhnya masih gemetar oleh energi yang tak terkendali.
“Jangan sentuh aku! Aku mohon.” Suara Lyra terdengar lemah, dan nadanya penuh dengan peringatan yang sangat berarti.
Tiba-tiba, cahaya lembut turun dari langit, berbeda dari aura pertempuran. Hangat. Tenang. Menenangkan.
Sosok itu muncul di tengah cahaya. Semua Alpha dan para aliansi tunduk melihatnya.
Seraphina.
Rambutnya berkilau seperti cahaya fajar, matanya tajam dan penuh kendali. Ia mengangkat tangannya perlahan, dan dalam satu gerakan, energi liar di sekitar Lyra mereda. Seperti badai yang dipaksa diam.
“Cukup. Hentikan semua pertempuran tak berguna ini!”
“Moon Goddess,” ucap Alpha lain. Dia takjub melihatnya. “Maaf, tapi kami tidak bisa membiarkan mereka menguasai wilayah kami.”
“Sudah kubilang,” Seraphina murka. “Hentikan!”
Satu kata, tapi cukup untuk membuat semua orang terdiam. Seraphina menatap Lyra, lalu Draven yang masih berdarah.
“Kau hampir membunuh dirimu sendiri, Alpha Draven,” katanya dengan tenang.
“Aku tidak bisa membiarkan mereka melukai istriku. Karena itu aku harus melindunginya, kan?” balas Draven dengan suara terbata-bata
Napas Lyra terengah, air matanya jatuh tanpa suara. “Aku tidak bisa kehilangan mereka.”
Seraphina menyentuh dahi Lyra. Cahaya lembut mengalir, menstabilkan dua kekuatan yang saling bertabrakan di dalam tubuhnya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Ini masalah besar,” salah satu Alpha berbicara, suaranya keras. “Jika anak itu lahir—”
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,” sahut yang lain.
“Nightfall tidak akan membiarkan ini.”
“Ardyn juga tidak.”
“Kalau begitu, kita harus bertindak sekarang, sebelum terlambat.”
Tatapan mereka mulai berubah. Dari penasaran menjadi penuh niat jahat.
Lyra langsung bisa merasakan itu. Ancaman. Bukan untuk dirinya, tapi untuk anaknya.
Draven, meski nyaris tak bisa berdiri, tetap menarik Lyra ke belakangnya. “Siapa pun yang mencoba menyentuhmu.” Suaranya rendah, penuh bahaya, “akan kubunuh mereka semua.”
“Dave,” gumam Lyra. Dia juga tidak tega melihat Draven bersusah payah melindunginya, sementara suaminya itu juga terluka.
“Bertahanlah Lyra!” Draven menenangkan Lyra.
“Lalu, bagaimana denganmu?” Namun, Lyra terlihat begitu mencemaskan Draven. “Kau terluka parah.”
“Luka ini belum seberapa. Kau sudah melihatku mempertaruhkan hidupku untukmu. Tidak hanya sekali, bukan?” Draven coba menampilkan senyum seadanya.
Lyra balas tersenyum meski sangat sulit dilakukannya.
Perdebatan pun pecah. Suara saling bertumpuk, penuh ketegangan dan ketakutan.
“Anak itu harus dimusnahkan sebelum lahir!”
“Itu satu-satunya cara mencegah kehancuran dunia ini.”
“Atau itu bisa menjadi senjata.”
“Siapa yang akan mengendalikannya?”
Kekacauan kembali mengancam. Namun, kali ini, bukan karena kekuatan. Melainkan karena pilihan.
Seraphina melangkah maju. Semua suara langsung meredup saat dia bertindak. Matanya menyapu seluruh Alpha, dingin, tak terbaca.
Lalu, dengan suara yang tenang dan tajam seperti pisau, ia berkata, “Anak itu.” Ia berhenti sejenak, “Bisa menjadi awal kehancuran.”
Hening seketika. Napas semua orang tertahan. Kemudian, Seraphina melanjutkan, “Atau mungkin berguna untuk keselamatan dunia.”
Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, tidak ada yang tahu, apakah mereka harus takut atau berharap.