“Itu dia!” bisik salah seorang wanita ke teman pria yang berdiri di sampingnya.
Lyra menoleh setelah mendengar mereka berbisik membicarakannya. Suara mereka pelan, dan terdengar jelas sekali di telinganya.
‘Sial! Mereka masih saja menatapku dengan tatapan sinis. Mereka melihatku seperti penyakit menular yang berbahaya untuk mereka,’ ujar Lyra dalam hati.
“Lyra Evren!” panggil salah satu dari mereka sambil menyilangkan tangan di dada, seolah ingin menantangnya.
“Lyra si pengkhianat.” Satunya lagi menimpali.
Lyra berjalan melewati semua orang di pelatihan pagi saat kawanan Nightfall tengah berkumpul di sebuah lapangan terbuka, mirip sekali dengan padang rumput yang kering. Semua mata memandang jijik ke arahnya. Mungkin rumor itu sudah menyebar ke seluruh kawanan dan kini dia tersudut dengan predikat “pengkhianat” yang tertanam di dalam dirinya.
“Bukankah dia anak si pengkhianat yang dua tahun lalu dieksekusi oleh Kael?” cibir seorang pria yang meremehkan Lyra saat gadis itu melewatinya dengan mata berkaca-kaca.
Sejak ayahnya yang seorang beta dituduh sebagai pengkhianat dan kemudian dibunuh oleh Alpha Kael, pemimpin tertinggi di kawanan Nightfall, kehidupan Lyra langsung berubah drastis. Usai insiden itu, dia menyandang gelar “Lyra si Pengkhianat”. Bahkan, kehadirannya pun tidak pernah dianggap ada di dalam kawanan itu.
“Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini?” tanya Kael dengan raut wajah emosi. Dia tidak suka jika ada keluarga pengkhianat ikut berkumpul dalam ritual bulan purnama.
“Aku masih menjadi bagian dari kawananmu. Aku ingin ikut ritual malam ini,” sahut Lyra dengan nada memelas.
“Tidak!” tolak Kael dengan tegas. “Pergilah! Kamu tidak diterima di sini,” usirnya dengan kasar.
“Kael, kumohon,” bujuk Lyra dengan mata berkaca-kaca.
“Bawa dia pergi!” perintah Kael pada kedua anak buahnya untuk mengusir Lyra.
“Kael ….” Lyra berusaha berontak. Namun, dia kalah kuat dengan dua omega suruhan Kael.
Kedua omega jahat itu menyeret dan mendorong tubuh Lyra hingga tersungkur ke tanah. Lyra berusaha bangkit sambil memohon lagi.
Sayangnya, kedua bodyguard itu tidak memiliki belas kasihan. Mereka diperintahkan untuk menjaga keamanan selama ritual bulan purnama berlangsung, termasuk menyingkirkan Lyra dari sana.
Lyra tidak punya pilihan lain. Akhirnya, dia mengalah dan memilih pulang ke rumahnya. Sebuah rumah kecil yang berada di pinggiran dekat wilayah kawanan Nightfall. Sejak dia dikucilkan dari kawanannya, dia memilih tinggal sendirian di dalam gubuk reyot tersebut.
Lyra tidak memiliki siapa pun di sana setelah keluarganya dibantai habis-habisan oleh Alpha Kael. Satu-satunya sahabat yang dia punya—Shovia, beruntung gadis itu masih mau bicara dengannya meski harus mencuri waktu. Karena dia juga mengalami tekanan sosial di kawanan Nightfall setelah ketahuan menemui Lyra diam-diam di hutan.
“Aku tidak membela ayahku, tapi, di sisi lain aku yakin sekali jika dia tidak bersalah seperti yang dituduhkan Kael kepadanya di hadapan semua orang. Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku harus memihak pada siapa?” tanya Lyra saat dia memandangi dirinya di sebuah cermin tua di dalam gubuknya.
Lyra masih mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya. Jika memang menurutnya ayahnya tidak bersalah, dia harus menghapus citra buruk itu dari pengaruh Alpha Kael dan membersihkan nama ayahnya sesegera mungkin.
***
Keesokan harinya.
Diam-diam, Lyra pergi ke tempat pelatihan kawanan Nightfall. Saat dia sedang mengambil air tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh tepat di hadapan Kael Blackthorn. Saat dia hendak bangkit tanpa sengaja dia menengadahkan wajahnya, menatap Kael cukup lama.
“Apa yang kau lihat? Tundukkan pandanganmu!” perintah Kael.
“Maafkan aku,” sesal Lyra. Dia segera menundukkan pandangannya. Tangannya gemetaran saat Kael menatapnya dengan tatapan sinis dan penuh kebencian.
“Berani sekali kamu melihat ke arahku dengan tatapan itu.”
“Maaf,” sesalnya lagi. “Aku tidak sengaja.”
“Jangan berkeliaran di sekitarku! Kamu sangat menggangguku. Kamu hanyalah anak pengkhianat yang tidak layak tinggal dengan kami,” kata Kael memperingatkan.
“Aku masih bagian dari kalian. Suka atau tidak,” bela Lyra.
Kael tersenyum agak sinis menanggapi pembelaan Lyra. “Masih menjadi bagian dari kami? Lucu sekali.”
“Kau hanyalah sampah yang tidak berguna. Jika waktu itu kamu tidak merengek meminta ampun padaku, saat itu aku sudah menghabisimu beserta keluargamu.”
Lyra semakin tidak tahan mendengar hinaan yang terlontar dari mulut Kael. Dia bersikeras, “Ayahku tidak bersalah.”
“Apa kau bilang?”
“Ya. Ayahku difitnah. Dia tidak seperti yang kau katakan, Kael,” bantah Lyra. “Aku yakin sekali.”
Lyra menahan amarah. Sebisa mungkin dia menahannya agar emosinya tidak membludak dan melampiaskannya pada Kael. Alpha itu selalu ingin dihindarinya. Sayangnya, kali ini dia murka sekali dan malah berdebat dengan pria arogan itu.
Kael melangkah maju mendekati Lyra. Dia menatap wajah gadis pemberani yang baru saja membantah perkataannya.
“Berani sekali gadis rendahan sepertimu menentangku,” kata Kael yang diam-diam kagum pada Lyra.
“Aku tidak menentangmu. Aku hanya ingin membela diri saja,” ucap Lyra dengan nada gemetar.
Saat Alpha Kael menatap wajahnya dan tiba-tiba saja ada sesuatu yang bergetar hebat di dalam dadanya.
Sama seperti Kael, Lyra pun merasakan hal yang sama setelah menatap mata merah keemasan yang dimiliki sang pemimpin Nightfall. Dadanya terasa sesak dan napasnya tertahan selama beberapa detik.
“Tidak! Tidak mungkin.” Kael menduga sesuatu telah terjadi di antara mereka.
Lyra menatap tangannya yang gemetar. Jantungnya berdetak hebat di luar kendali.
‘Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?’ duga Lyra.
“Apa itu berasal dari kekuatanmu?” tanya Kael penasaran. Lyra menggeleng pelan, tidak tahu.
‘Jangan bilang bahwa itu adalah kekuatan,’ sangkal Lyra.
“Tidak! Bukan dia,” racau Lyra.
“Moon Goddess tidak mungkin sekejam itu,” kata Kael.
Lyra berusaha menjauh dari Kael. Dia menyadari sesuatu, kemudian dia berlari meninggalkan Kael yang masih berdiri mematung, mencerna insiden tiba-tiba itu.
Tak lama kemudian, Kael menyadari ikatan batin di antara dirinya dengan Lyra, petunjuk dewi bulan sudah memperlihatkannya kepadanya. Namun, sebisa mungkin dia menyangkalnya. Seolah tak terima bahwa pasangan takdirnya adalah Lyra.
Sementara itu, Lyra mulai merasakan konflik besar dalam dirinya. Bagaimana jika pria yang menghancurkan hidup juga seluruh keluarganya adalah pasangan jiwanya?
“TIDAK!” teriak Lyra seolah menentang takdir.