


oleh sweetchocosin · 30 Bab
Apakah normalnya cinta pertama itu selalu gagal? Kiran yang pemalu diam-diam naksir tetangganya, Nata. Gadis itu mengekspresikan rasa sukanya lewat cerita-cerita fiksi yang ia tulis di web terkenal. Empat bulan sebelum ujian kelulusan tiba, Kiran tiba-tiba harus menghadapi suatu peristiwa tak terelakkan, dan momen itu membuat Nata lebih dekat dengannya.
Nata mencengkeram tangannya, darah mengucur deras. Pria itu menikmati setiap tetes yang mengalir hangat, menodai lantai kamar mandi. Parasnya yang tampan, tak berhasil menutupi sorot matanya yang memancarkan hasrat tak terkendali.
Dari pantulan cermin, Nata menyeringai. Bak mandi sudah penuh dengan cairan kental berwarna merah, berasal dari sayatan brutal yang ia bubuhkan pada tubuh seorang pria dewasa. Rahangnya menegang, membayangkan atas pelecehan yang pria itu lakukan pada kekasihnya.
--
Apa kau merasa ketakutan?
Tenang saja. Cuplikan tadi tidak benar-benar kau temukan di dunia nyata. Semua yang kau baca hanyalah khayalan liar seorang gadis culun SMA berusia 17 tahun dan sedang mengalami masa pubertas.
Aku mengetuk-ngetuk meja, memperhatikan layar komputerku yang masih menyala meskipun waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Harusnya, gadis normal seusiaku menghabiskan waktunya mencurahkan perhatian untuk merias wajah sebelum berangkat sekolah.
Namun, yang kulakukan malah mengetik cerita fiksi.
"Kiran Tanaka."
Perlahan aku mengetik namaku di kolom penulis fiksi penggemar, melengkapi cerita yang hendak kukirim. Sedetik kemudian, kuhapus lagi nama itu.
"Aku pasti sudah gila.”
Setelah berpikir beberapa saat, aku pun memutuskan mengetik nama lain.
"K-I-T-A."
Kiran Tanaka. Namaku terdengar cukup Jawa sedangkan nama keluargaku berbau jejepangan. Ibuku seorang pekerja kantoran biasa, sedangkan ayahku adalah diplomat berdarah Jepang. Dugaanku, Ayah sudah seringkali ditolak wanita Jepang sampai akhirnya memilih menetap di Indonesia dan menikahi Ibu. Dari satu sisi mereka memang romantis. Tapi, bagiku sebagai produk cinta mereka satu-satunya, krisis identitas menjadi makanan sehari-hari.
Aku tidak cukup Indonesia untuk teman-temanku, tapi aku juga tidak cukup Jepang bagi orang-orang Jepang. Seringkali aku merasa rendah diri melihat sepupu-sepupuku dari pihak ayah yang terlahir berkulit pucat dan bersuara imut. Aku?
Suaraku rendah, bahkan kadang bisa menyerupai suara laki-laki. Kakiku pendek, dan payah dalam pelajaran olahraga. Mataku juga bukan mata yang normal karena menggunakan kacamata. Kelebihanku satu-satunya adalah membaca cepat, entah apakah kemampuan itu bisa membantuku mencari nafkah di kemudian hari.
"Kiran!!"
Aku harus pergi. Sepertinya Ibu sudah terlalu lama menungguku.
Tangga kayu di rumahku berderit saat aku berlari tergopoh-gopoh sambil membawa tas. Rambutku kukuncir ke belakang, sekenanya. Tak ada waktu bagiku untuk berdandan. Semua waktuku kucurahkan untuk menulis cerita fiksi. Akan kuceritakan siapa tokoh utama yang menginspirasiku itu nanti. Pertama-tama, aku harus makan atau ibuku akan mencabut akses internetku lagi.
Ibu menyodorkan segelas susu cokelat ke arahku. Tanganku dengan sigap menerimanya.
"Apa hari ini kau juga ada ekskul?" tanya Ibu sambil mengolesi roti dengan selai kacang.
"Kurasa begitu. Memangnya kenapa?"
"Ibu ada acara sampai malam. Ayahmu juga tidak akan pulang sampai minggu depan. Haduh, kenapa urusannya jadi panjang ya."
Aku tidak tahu urusan orang dewasa berusia 40 tahun serumit apa. Melihat wajah ibu yang frustrasi, membuatku bergegas menghabiskan nasi goreng buatannya agar tidak dimarahi.
"Apa kita akan menghadapi masalah besar?"
Ibu menoleh ke arahku. Matanya memang melihatku, tapi kurasa, otaknya sedang menjelajahi tempat lain.
"Hahhh, setidaknya bocah sepertimu tidak akan terpengaruh."
"Wah, berita baik kalau begitu."
Setelah meninggalkan piring yang kosong, aku pamit pada Ibu dan mencium kedua pipinya.
"Aku berangkat, Bu."
"Hati-hati. Kalau perlu apa-apa telepon, oke? Jangan lupa nanti beli makan malam!"
"Yaaa!!" teriakku, sambil mengeluarkan sepeda dari garasi.
Aku tinggal di kompleks perumahan yang indah dan sejuk. Sekolahku pun tak jauh dari sini. Sehari-hari, selalu kupaksa naik sepeda ke mana pun itu selama masih dalam satu kompleks. Setelah membaca betapa cepatnya kulit manusia pemalas mengendor, aku bertekad melatih tubuhku. Meskipun hanya dengan bersepeda.
Saat hendak mengayuh, mataku terpaku pada rumah yang berada tepat di samping rumahku. Sebuah rumah dengan struktur yang sama seperti yang aku miliki. Ngomong-ngomong, aku sudah memberitahumu ‘kan, kalau ini perumahan? Setidaknya ada tiga ratus rumah yang sama persis. Termasuk rumahku dan tetanggaku.
Jendela kamarku berhadapan dengan jendela kamar rumah itu. Senyumku mengembang sedikit, tapi canggung. Sekelebat memori masa kecil mencuat membuat dadaku berdebar kencang.
Daniswara Adinata adalah pemilik kamar itu. Sosok yang selalu menjadi tokoh utama dalam ceritaku. Kalau kau ingin akrab dengannya sepertiku, panggil saja Nata.
Ah, sebenarnya kami tidak akrab-akrab amat. Malah tidak pernah bertegur sapa lagi.
Baiklah. Aku gadis culun, suka membaca komik horor atau bergenre kejam, dan diam-diam menyukai anak tetangga. Aku tahu kau pasti tidak terkesan, karena gadis sepertiku selalu berakhir menjadi sosok yang berhenti berkembang dan meringkuk di sudut dunia. Tapi, asal kau tahu. Aku menyukai Nata bukan karena parasnya yang rupawan.
Semilir angin menemaniku pagi ini. Aroma dedaunan segar membelai wajahku, membuat kakiku ringan mengayuh sepeda. Sebelum sampai gerbang sekolah, aku mampir ke minimarket terdekat, mencari makanan ringan atau apapun yang bisa kubuat bekal.
Saat hendak menarik pintu kaca toko, tiba-tiba pintunya terbuka lebih dulu dari dalam. Aku kebanyakan merabai tasku mencari dompet di sana, sehingga tanpa sadar menabrak seseorang.
BRAK!!
Tumpukan buku jatuh dan berserakan di lantai. Refleks aku mengutuk kebodohanku sendiri.
"Ah, Kiran bego ...," gumamku.
Tanpa berani melihat wajah orang itu, tubuhku membungkuk dan mengambili buku-buku itu. Melihat ada banyak buku pelajaran yang sama dengan milikku, aku menyimpulkan kalau kami bersekolah di tempat yang sama, dan satu angkatan.
"Biar aku saja."
Suara seseorang mengejutkanku, sontak aku menoleh. Setelah menyadari bola mata seukuran kacang almond yang kukenal sedang menatapku, mulutku terbuka lebar. Rasanya seperti rahangku kehilangan seluruh engselnya sampai lupa bagaimana caranya menutup mulut.
"Halo?"
Tampaknya lelaki itu menyadari keterkejutan yang menyerang lawan bicaranya. Tangannya melambai tepat di depan hidungku.
"Eh, ya. Halo ...." Dengan bodohnya aku menjawab sapaan itu.
Melihatku terpaku dengan tampang konyol, sepertinya membuat lelaki itu tak sabar. Buku-buku yang sudah beberapa kukumpulkan ia ambil dari tanganku. Hal itu membuatku terkejut lagi.
Sial! Kenapa aku jadi hilang akal? Ah, dasar gadis gila!
Setelah memastikan tak ada barang jatuh yang tertinggal, lelaki itu, Nata–KAU BENAR!! DIA NATA!!, mengulurkan tangannya.
"Sini."
Ragu-ragu aku menjulurkan tangan. Nata dengan cepat meraihnya dan menarikku dalam sekali hentakan. Oh, meskipun aku jago bersepeda, ternyata tidak menjamin tubuhku menjadi lebih stabil.
Tubuhku oleng ke arahnya, dan tanpa tahu malu malah memeluk Nata, yang tentu saja membuat pria itu terkejut bukan main. Refleks aku mendorong lelaki itu sambil menundukkan kepala. Dengan cepat aku menghilang ke dalam toko, tanpa sempat mengatakan sepatah kata pun.
Seperti yang pernah kubilang sebelumnya. Aku ini ceroboh dan agak dungu.

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel