Bau anyir darah
menyengat hidung, bahkan sebelum daun pintu itu terbuka penuh.
Enjella Ericka
Valenci menghentikan langkahnya di ambang pintu utama kediaman Valenci. Sebuah
kastel megah yang berdiri terisolasi di kawasan perbukitan Aethelgard, kota
tempat para penguasa takhta underground berkumpul. Koper merah beroda yang
diseretnya terlepas begitu saja dari genggaman.
Sepi yang janggal
menyapa. Biasanya, begitu roda mobil yang membawanya dari bandara melindas
pelataran rumput, belasan pengawal bersetelan jas hitam akan berbaris rapi.
Namun, hari ini tak ada satu pun pengawal yang membungkuk menyambut
kepulangannya dari luar negeri.
Saat kakinya
melangkah masuk ke dalam aula utama, pemandangan di depannya membuat napas
Ericka tercekat. Marmer putih yang biasanya mengilap kini dipenuhi bercak dan
genangan darah pekat yang masih hangat. Tubuh para pengawal dan pelayan setia
tergeletak tak bernyawa di sepanjang koridor.
"Papa?
Mama?" Suara Ericka gemetar, pecah dalam kepanikan yang membakar dada.
Dia menaikkan
gaun mewahnya, berlari tanpa peduli ujung tumit sepatu hak tingginya menjejak
genangan darah. Tangisnya pecah seketika. Dengan jantung yang bertabuh hebat,
Ericka menaiki tangga melingkar menuju kamar utama di lantai dua.
Pintu kamar orang
tuanya terbuka lebar. Di atas tempat tidur, dua sosok yang paling dihormatinya
di dunia ini sudah terkapar kaku dengan luka tembak tepat di dada. Kasur putih
itu kini berubah warna menjadi merah tua.
"S-siapa
yang tega melakukan ini?!" tangis Ericka meledak. Dia berlutut di samping
tempat tidur, mencengkeram jemari ibunya yang sudah dingin. "Papa ...
bangun, Pa."
Belum sempat rasa
duka itu menenggelamkannya, gesekan halus dari balik tirai jendela terdengar.
Sebelum Ericka menoleh, sebuah hantaman benda tumpul melayang keras mendarat di
belakang kepalanya. Pandangan Ericka langsung mengabur, suara dengungan tinggi
memenuhi telinganya, hingga kegelapan total menelannya bulat-bulat.
Rasa sakit yang
menyengat di area pelipis menyadarkan Ericka. Ketika matanya terbuka, dia tidak
lagi berada di kamar orang tuanya. Ruangan itu remang-remang, berbau debu dan
besi.
Ia tahu betul,
ruangan ini merupakan gudang bawah tanah kediaman Valenci. Tangannya terikat
erat ke belakang pada sebuah kursi.
"Sudah
bangun kau, sialan!"
Suara berat yang
sangat dikenalinya bergema. Dari sudut ruangan yang tertutup bayang-bayang, dua
figur melangkah maju. Paman dan bibinya, Edward Valenci dan Eleanor, berdiri di
sana dengan seringai dingin yang menjijikkan.
Ericka mendongak,
menatap kedua kerabat sedarahnya dengan kilatan benci. "Kalian, kalian
yang membunuh Papa dan Mama?"
"Mereka
terlalu lemah untuk memegang takhta klan Valenci di Aethelgard," jawab
Edward santai, menimang-nimang sebundel berkas tebal di tangan kirinya. Dia
melempar dokumen tersebut ke meja kecil di depan Ericka, disusul sebuah pena.
"Tanda tangani pengalihan seluruh aset dan hak kekuasaan klan ini
kepadaku. Maka kami akan membiarkanmu bernapas sebentar lagi."
"Jangan
harap!" Ericka meludah ke arah sepatu Edward. "Aku lebih baik mati
daripada menyerahkan kekuasaan orang tuaku pada pengkhianat busuk seperti
kalian!"
Brak!
Tamparan keras
dari Eleanor mendarat mulus di pipi Ericka hingga sudut bibirnya pecah dan
mengeluarkan darah. "Jangan berlagak sombong, Ericka! Tanpa orang tuamu,
kau cuma gadis tak berguna!"
Edward tak
membuang waktu. Dia meraih rambut panjang Ericka, menariknya ke belakang hingga
leher gadis itu tertarik mendongak. Tongkat besi yang dibawanya menghantam
perut Ericka tanpa ampun.
Ugh!
Ericka terbatuk
hebat, darah segar menyembur dari mulutnya. Rasa sakit luar biasa menusuk organ
dalamnya, tapi darah putri mafia yang mengalir di tubuhnya menolak untuk
tunduk.
Di saat Edward
membungkuk untuk mencengkeram wajahnya dan memaksa jemarinya memegang pena,
Ericka menggunakan sisa tenaganya untuk mengentakkan kepala ke depan.
Dahi Ericka
menghantam hidung Edward dengan telak. Pria tua itu mengerang kesakitan saat
darah segar mengucur dari hidungnya. Menggunakan kesempatan beberapa detik itu,
Ericka menggerakkan badannya secara ekstrem hingga kursi kayunya menghantam ke
lantai dan hancur. Tangannya yang terikat pada patahan kayu berhasil terbebas.
"Keparat
kau!" jerit Eleanor melompat maju.
Ericka bergerak
cepat. Dengan sisa tenaganya, dia menyambar potongan kayu tajam dari kursi dan
menusukkannya tepat ke paha Eleanor. Wanita itu menjerit histeris dan ambruk.
Sejak kecil,
ayahnya memaksanya berlatih bersama para pengawal. Bukan karena Ericka dianggap
akan menjadi petarung, melainkan karena pewaris Valenci tidak boleh sepenuhnya
bergantung pada orang lain
Tanpa menoleh
lagi, Ericka merangkak dan berlari keluar dari gudang bawah tanah. Wajahnya
sudah berdarah-darah, badannya memar parah. Namun, adrenalin mendorong kakinya
terus melangkah naik menuju lantai utama.
"Tangkap
dia! Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!" teriak Edward dari bawah.
Ericka berlari
menyusuri tangga tengah yang tinggi. Namun, langkah kakinya yang gemetar dan
tersedat rasa sakit membuatnya kehilangan keseimbangan di anak tangga teratas.
Ericka jatuh
berguling. Tubuhnya menghantam belasan anak tangga batu satu per satu, sebelum
akhirnya ambruk tak berdaya di dasar lantai. Napasnya terengah-engah, pandangan
matanya mulai meredup dipenuhi lapisan darah yang mengalir dari pelipisnya.
Dua anak buah
Edward melompat menuruni tangga dan langsung menindihnya. Terjadi perkelahian
brutal di atas lantai itu. Ericka mencakar, menggigit, dan menggunakan sisa
tenaganya untuk memukulkan vas bunga berat ke kepala salah satu penyerangnya.
Dengan kondisi
compang-camping dan tubuh bersimbah darah, secara ajaib Ericka berhasil
merangkak keluar menembus pintu belakang kediaman.
Hujan deras
mengguyur Aethelgard malam itu, menyamarkan tangis dan jejak darahnya. Ericka
berlari menembus kegelapan jalanan beraspal yang sepi di pinggiran perbukitan.
Tubuhnya gemetar hebat, kesadarannya berada di ambang batas.
Tiba-tiba, sorot
lampu kuning memotong kegelapan malam.
Suara decitan rem
mobil yang ditekan mendadak memekakkan telinga. Namun, semuanya sudah
terlambat. Tubuh Ericka menghantam bumper depan mobil berkecepatan tinggi itu
sebelum terlempar beberapa meter ke udara dan menghantam jalanan.
Darah mengalir
makin deras. Di detik-detik terakhir sebelum pandangannya benar-benar mati,
Ericka masih sempat merasakan dadanya yang sesak oleh dendam dan bayangan wajah
orang tuanya yang tewas. Lalu, sunyi menyelimuti segalanya.
Bagi Ericka,
semuanya terasa seperti baru berlalu beberapa detik. Namun, ketika matanya
kembali terbuka, lima tahun telah menghilang dari hidupnya
Aroma antiseptik
yang tajam menusuk indra penciumannya. Suara bip berirama dari monitor detak
jantung menjadi hal pertama yang masuk ke dalam kesadarannya.
Ericka
mengerjapkan matanya perlahan. Cahaya lampu neon di langit-langit putih
membuatnya silau. Kepalanya terasa luar biasa berat, seolah baru saja dihantam
bongkahan batu besar.
"P-papa,
Edward," bisiknya lirih.
Insting
bertahannya langsung menyala. Otaknya masih terjebak di detik-detik saat dia
dikhianati dan ditabrak mobil. Ericka mendadak panik, mencoba bangkit berdiri
dari ranjang rumah sakit untuk mencari senjata atau bersembunyi.
Akan tetapi,
belum sempat kakinya menyentuh lantai, pintu kamar rawat terbuka.
Seorang pria
berpenampilan agak lusuh masuk membawa sebaskom air hangat dan kain lap. Pria
itu memiliki garis wajah yang sangat tampan, dengan tatapan mata yang
memancarkan kelelahan mendalam sekaligus kehangatan yang asing.
Di belakang pria
itu, dua anak kembar berusia sekitar empat tahun berjalan sambil memegang ujung
celana sang pria.
"Yunita?
Kamu sudah sadar?" Pria itu buru-buru menaruh baskom di meja dan
menghampiri Ericka dengan raut wajah sangat lega. Tangannya terulur ingin
menyentuh dahi Ericka. "Astaga, syukurlah. Dokter bilang benturan di
kepalamu pas jatuh tadi tidak terlalu parah–"
Brak!
Ericka menepis
kasar tangan pria itu dengan gerakan refleks yang sangat berbahaya. Matanya
menatap pria asing di depannya dengan kilatan permusuhan dan kecurigaan tingkat
tinggi.
"Siapa
kau?" bentak Ericka dingin, suara seraknya dipenuhi aura ancaman.
"Siapa yang menyuruhmu? Mana Edward?! Di mana ini?"
Pria itu
mematung. Tangannya menggantung di udara. Dua anak kembar di belakangnya
langsung bersembunyi ketakutan di balik kaki sang ayah.
"Sayang,
kamu bicara apa?" Pria itu menatap Ericka dengan raut bingung dan cemas.
"Ini aku, Yohan. Suamimu. Ini Kaela dan Kaelan, anak-anak kita."
Ericka tertawa
sinis, meski matanya menatap liar sekeliling ruangan. "Suami? Anak-anak?
Jangan gila! Aku tidak kenal pria miskin sepertimu!"