Pagi itu, hujan deras mengubah jalanan Manhattan menjadi sungai-sungai kecil yang memantulkan cahaya lampu kendaraan.
Di dalam ruang ganti NYPD Precinct 47, Claire Zoya Natasha memandangi pantulan dirinya di cermin. Rambut hitam bergelombangnya diikat rapi, sementara seragam kepolisian masih terasa kaku di tubuh rampingnya.
Usianya baru dua puluh dua tahun, lulus akademi dengan nilai tertinggi, dan memiliki IQ 190. Bagi Claire, angka itu hanyalah cara otaknya bekerja sedikit berbeda dari orang lain, bukan alasan untuk sombong. Ia hanyalah gadis keturunan Indonesia-Inggris yang kebetulan lahir dengan otak yang memproses informasi lebih cepat daripada manusia pada umumnya.
"Detektif Natasha? Kepala Polisi Wiliam memanggilmu," seru seorang petugas dari ujung lorong yang sibuk.
Claire merapikan kerahnya dan melangkah menuju kantor di ujung koridor. Ruangan Kepala Polisi Jorsh Wiliam berantakan seperti biasanya, penuh tumpukan kertas dan bau kopi basi. Jorsh, pria lima puluhan dengan perut buncit dan tatapan tajam, menatapnya dari balik meja.
"Duduk," perintah Jorsh. "Aku sudah baca berkasmu. Nilai sempurna dan IQ yang membuatku merasa bodoh, tapi ingat, ekspektasi bisa membunuh karier lebih cepat dari peluru."
Claire duduk dengan tenang. "Saya mengerti, Pak."
"Aku punya kasus pembunuhan untukmu," lanjut Jorsh, menyodorkan map tipis. "Rumah tua tak berpenghuni di East Harlem. Korban wanita muda, identitas belum diketahui. Kamu akan dipasangkan dengan Detektif Samuel Vin. Dia menunggumu di luar. Jangan buat aku menyesal, Natasha."
Di luar kantor, seorang pria bersandar di dinding sambil memegang dua gelas kopi. Samuel Vin, awal tiga puluhan, rahang tegas, dan senyum yang seolah menyimpan lelucon rahasia. "Kau pasti si jenius baru," sapanya, menyodorkan satu gelas. "Americano hitam. Orang cerdas biasanya suka kopi pahit, atau setidaknya itu kata internet."
Claire menerimanya sambil tersenyum tipis. "Claire. Panggil saja Claire. Ibuku memanggilku 'Nak, makan dulu', tapi itu cerita lain."
Samuel tertawa lepas. "Aku Sam. Ayo, kita ke TKP. Muntah itu wajar di kasus pertama, jadi jangan malu."
"Aku tidak berencana muntah," balas Claire sambil berjalan mendahuluinya.
Mereka keluar gedung dan berjalan menuju mobil dinas mereka, sebuah Ford Crown Victoria berwarna hitam tanpa logo kepolisian apa pun.
Dari luar, mobil ini tampak seperti kendaraan pribadi warga biasa, sebuah taktik standar agar detektif tidak menarik perhatian saat bertugas di lapangan. Samuel menyalakan mesin, dan mobil meluncur menembus kemacetan New York yang basah oleh hujan.
Di dalam mobil, suara radio polisi terdengar sayup-sayup, melaporkan berbagai insiden kecil di penjuru kota.
Claire menikmati keheningan di antara mereka, membiarkan pikirannya bersiap untuk apa pun yang menunggu di tempat kejadian. Pemandangan di luar jendela perlahan berubah.
Gedung-gedung pencakar langit Manhattan yang menjulang tinggi kini mulai tergantikan oleh bangunan-bangunan bata tua dan jalanan sempit East Harlem seiring mobil membelah genangan air. Bangunan-bangunan di sini lebih lusuh, dihiasi grafiti, dan suasana terasa lebih suram. Hujan mulai reda, menyisakan gerimis tipis yang membuat udara terasa dingin menusuk tulang.
Rumah tua itu berdiri di ujung gang yang jarang dilewati orang. Cat kayunya mengelupas, jendela pecah, dan pita kuning polisi telah melingkari halaman.
Beberapa warga lokal berdiri di seberang jalan, memperhatikan aktivitas polisi dengan tatapan penasaran sekaligus waspada. Tim forensik sudah lebih dulu tiba dan memasang lampu penerangan di sekitar pintu masuk. "Korban di lantai dua," lapor petugas di depan pintu sambil memberi jalan.
Claire dan Samuel melangkah masuk. Bau kayu lapuk dan kelembapan langsung menyergap, diikuti aroma manis yang busuk. Bau kematian.
Cahaya senter dari ponsel Samuel menyinari jalan mereka, menampakkan wallpaper yang mengelupas dan perabotan rusak yang berserakan.
Claire menelan ludah, memaksa otaknya untuk tetap fokus. Ini adalah dunia orang mati, dan ia harus belajar berdamai dengannya. Tangga kayu berderit di setiap langkah, seolah memprotes keberadaan mereka.
Di lantai dua, mereka masuk ke ruangan paling ujung. Seorang wanita muda tergeletak telentang di lantai kotor. Usianya sekitar dua puluh lima tahun, mengenakan gaun putih tipis yang ternoda debu. Kulitnya pucat, mata terbuka menatap langit-langit bocor dengan tatapan kosong.
Claire berjongkok, matanya memindai setiap detail dengan kecepatan yang tidak wajar. Tidak ada tanda perlawanan, tidak ada kuku yang patah, tidak ada memar di lengan yang menunjukkan korban sempat melawan.
Gaun putihnya basah di bagian bahu, mungkin karena air hujan yang masuk dari atap bocor. Namun, perhatiannya segera beralih ke dinding di samping mayat.
Ada tulisan. Dengan darah.
"1 1 2 3 5 8 ?"
Samuel mencatat di bukunya. "Deret angka. Kau tahu artinya?"
Claire menatapnya selama tiga detik. "Deret Fibonacci. Angka berikutnya adalah tiga belas."
"Kau yakin?"
"Aku selalu yakin soal angka, Sam." Claire berdiri, menatap tulisan itu lekat-lekat. "Ini bukan angka acak. Ini pola yang disengaja. Pembunuh ini meninggalkan pesan untuk seseorang yang cukup cerdas untuk membacanya."
"Untuk siapa?" tanya Samuel, menutup buku catatannya.
Claire tidak langsung menjawab. Ia menatap angka-angka itu sekali lagi, dan sebuah perasaan tidak nyaman mulai merayap di punggungnya. "Entahlah, tapi pembunuh ini tidak meninggalkan jejak secara kebetulan. Dia ingin kita, atau orang tertentu, memahami polanya."
Samuel mengangguk pelan, terkesan dengan kecepatan berpikir partner barunya. "Oke. Langkah selanjutnya?"
"Tunggu tim forensik selesai. Kita perlu tahu penyebab dan waktu kematian. Sementara itu, kita cek laporan orang hilang di East Harlem."
Samuel menatap Claire dengan ekspresi heran. "Kau baru lima menit di TKP dan sudah menyusun rencana?"
"Otakku tidak punya tombol istirahat," jawab Claire datar.
Tiba-tiba, dari sudut ruangan yang gelap, terdengar suara kecil.
"Meow."
Seluruh tubuh Claire membeku. Napasnya tertahan. Dari balik lemari roboh, seekor kucing oranye kecil muncul, menatapnya dengan mata hijau yang polos.
"Oh, ada kucing. Lucu banget," ujar Samuel, tersenyum melihat hewan mungil itu.
"Sam." Suara Claire naik dua oktaf, matanya membelalak panik. "Jangan biarkan makhluk itu mendekat."
"Kenapa? Dia cuma"
"Meow." Kucing itu melangkah maju, ekornya bergerak-gerak ramah.
Claire melompat mundur, nyaris menabrak Samuel. "SINGKIRKAN, SAM! SEKARANG!"
Samuel menatapnya bingung, lalu tertawa kecil. "Tunggu, detektif jenius IQ 190 takut kucing?"
ITU BUKAN KETAKUTAN! ITU REAKSI ALERGI!"
"Kau gemetar, Claire."
"ITU KARENA ADRENALIN KASUS!"
Kucing itu mengeong lagi dan melangkah lebih dekat. Claire panik dan melompat ke atas meja tua yang berderit keras, nyaris kehilangan keseimbangan. "Samuel Vin, singkirkan kucing itu atau kau akan menangani kasus pencurian sepeda selama setahun!"
Sambil tertawa terbahak-bahak, Samuel menggendong kucing itu dan membawanya keluar ruangan. "Oke, oke! Musuh sudah dievakuasi!"
Claire turun dari meja, merapikan seragamnya dengan wajah merah padam karena malu. "Bicarakan ini dengan siapa pun, dan kau mati."
"Siap, Bos."
Claire menarik napas panjang, mengembalikan fokusnya pada mayat dan angka di dinding. Ekspresinya kembali serius dan dingin.
Kasus pertamanya di New York bukanlah pembunuhan biasa. Ini adalah teka-teki yang gelap, dan ia tahu, ini baru permulaan dari permainan pikiran yang sesungguhnya.