Maira selalu punya cara sendiri untuk mengetahui bahwa sebuah percakapan keluarga akan berujung pada sesuatu yang merepotkan.
Biasanya, ibunya akan tersenyum terlalu manis.
Seperti malam itu.
Maira sedang menikmati sepotong kue cokelat ketika Helena tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya dan menatap putrinya dengan ekspresi penuh perhitungan.
“Maira, besok malam jangan lupa datang ke rumah. Mama sudah minta Livia mengosongkan jadwalmu.”
Garpu Maira berhenti sebelum menyentuh piring.
“Kenapa Mama terdengar seperti sedang memberi tahu jadwal pemeriksaan dokter?”
Mama mengernyit. “Mama cuma mengingatkan.”
“Biasanya Mama tidak perlu mengingatkanku kalau acaranya hanya makan malam keluarga.”
Papanya masih menatap koran di sisi meja. Sejak tadi ia terlihat membaca halaman ekonomi, meskipun Maira memperhatikan bahwa Papa belum membalik halaman sekali pun.
Kecurigaan Maira semakin kuat.
Ia mengalihkan pandangan kepada Livia. Kakaknya duduk terlalu tegak dengan kedua tangan mengelilingi gelas air. Perempuan itu terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menyimpan sesuatu.
“Livia, sebenarnya kalian mau memberitahuku apa?”
Livia mengangkat wajah. “Kenapa langsung menuduh ada sesuatu?”
“Karena Mama meminta aku datang besok, Papa pura-pura membaca koran, dan kamu sejak tadi terlihat seperti orang yang menyimpan rahasia.”
Papa akhirnya menurunkan korannya. “Tidak semua hal adalah rahasia.”
“Kalau begitu, kenapa Papa tidak membalik halaman?”
Papa melihat korannya, lalu membalik halaman dengan tenang.
Maira menunjuknya. “Nah. Sekarang malah semakin mencurigakan.”
Livia tertawa kecil. Mama menggeleng.
“Kamu memang tidak bisa duduk tenang tanpa mencari sesuatu untuk dicurigai,” kata Mama.
“Aku tidak mencari masalah. Masalah yang biasanya menemukan aku.”
Meja makan mendadak hening.
Maira mengangkat alis. “Apa?”
Papa menatap Maira sebelum berkata, “Tidak ada.”
“Papa baru saja mau mengatakan sesuatu.”
“Papa hanya sedang mengingat masa lalu.”
“Yang mana?”
“Ulang tahun Bibi Clara.”
Maira langsung membela diri. “Itu bukan salahku.”
“Bibi Clara mungkin masih menganggapnya salahmu.”
“Aku hanya memberi tahu sepupuku bahwa perempuan yang datang bersama calon suaminya sudah menikah.”
Mama mengangkat tangan. “Dan informasi itu memang benar.”
“Terima kasih.”
“Masalahnya, kamu menyampaikannya di depan tiga puluh orang tamu.”
“Kalau aku menyampaikannya secara pribadi, mungkin dia tetap menikah dengan pria itu.”
Papa melipat korannya. “Pernikahan mereka memang batal.”
“Berarti aku menyelamatkan seseorang.”
“Kamu juga membuat pesta ulang tahun berubah menjadi sidang keluarga.”
Maira tidak menemukan alasan untuk membantah.
Itu baru satu kejadian.
Ia pernah membuat acara lamaran sepupunya berakhir kacau setelah menanyakan mengapa calon pengantin pria masih menyimpan foto mantannya di dompet. Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam penuh nostalgia juga berubah menjadi pertengkaran tiga mantan pasangan setelah Maira menunjukkan sebuah foto lama kepada orang yang salah.
Insiden di kantor bahkan lebih buruk.
Ia menemukan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan atasannya dan berniat memberi tahu seorang rekan kerja. Pesannya justru terkirim ke grup eksekutif perusahaan.
Dua hari kemudian, sang bos mengundurkan diri.
Sejak saat itu, keluarganya memberinya satu julukan.
Party Pooper.
Maira tidak pernah menyukai sebutan tersebut, tetapi ia tidak bisa menyangkal bahwa reputasinya memang sulit dibantah.
“Aku berjanji tidak akan membuat masalah besok,” katanya akhirnya.
Mama menatapnya penuh harap. “Benarkah?”
“Benar.”
“Tidak ikut campur?”
“Aku akan diam.”
“Tidak bertanya macam-macam?”
Maira berpikir sebentar. “Aku akan berusaha.”
“Itu bukan jawaban yang meyakinkan.”
“Aku sedang jujur.”
Livia tertawa pelan sebelum meletakkan gelasnya.
“Kalau begitu, aku sebaiknya memberitahumu sekarang supaya besok kamu tidak membuat kesimpulan sendiri.”
Maira segera menoleh. “Silakan.”
Livia menarik napas. “Aku bertunangan.”
Maira tidak langsung menjawab.
Garpunya berhenti di atas piring. Ia menatap kakaknya beberapa detik, mencoba mengingat kapan terakhir kali Livia bercerita tentang seorang pria yang cukup serius untuk dibawa ke jenjang pernikahan.
Tidak ada satu pun nama yang muncul di kepalanya.
“Sejak kapan?”
Livia tersenyum canggung. “Hampir dua tahun.”
Maira menurunkan garpunya. “Kamu punya hubungan selama dua tahun dan aku tidak tahu?”
“Aku memang sengaja merahasiakannya.”
“Dua tahun, Liv.”
“Aku tahu.”
“Aku bahkan tahu ketika kamu berniat membeli sofa baru sebelum Mama tahu.”
“Itu karena kamu mendengar aku bicara di telepon.”
“Berarti aku memang adik yang perhatian.”
“Kamu menyadap percakapan.”
Maira mengangkat dagu. “Detail kecil.”
Papa menahan senyum.
Mama akhirnya berkata, “Namanya Adrian Beaumont.”
Maira langsung menoleh. Nama itu tidak asing. “Beaumont yang punya jaringan hotel dan properti itu?”
Livia mengangguk.
“Serius?”
“Aku tidak mungkin bercanda soal pertunangan.”
Maira menyandarkan punggungnya ke kursi. Keluarga Beaumont memiliki reputasi jauh lebih besar daripada sekadar kekayaan. Bisnis mereka tersebar di berbagai kota dan hubungan mereka luas di kalangan pengusaha.
“Kenapa aku baru bertemu dengannya sekarang?”
“Karena kami memang belum memperkenalkan kalian secara resmi.”
“Padahal kalian sudah dua tahun bersama.”
Livia memainkan cincin di jarinya. “Aku takut kamu akan melakukan apa yang biasa kamu lakukan.”
“Aku bahkan belum mengenal pria itu.”
“Justru itu. Kamu akan bertanya tentang pekerjaannya, keluarganya, hubungan masa lalunya, alasan dia memilihku, lalu mungkin menanyakan apakah dia pernah selingkuh.”
Maira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. “Pertanyaan terakhir memang penting.”
“Maira,” tegur Mama.
“Baik. Aku tidak akan bertanya.”
Papa menatap putrinya dengan wajah skeptis.
“Aku sungguh-sungguh,” lanjut Maira. “Besok aku akan datang, tersenyum, mengucapkan selamat, makan dengan tenang, lalu pulang.”
Livia tampak lega. “Bagus.”
“Tidak ada drama.”
“Bagus.”
“Tidak ada rahasia yang kubongkar.”
Mama mengangguk puas.
Maira mengambil potongan kue terakhir, lalu menatap keluarganya dengan serius.
“Aku cuma punya satu pertanyaan.”
Tiga orang di meja itu serempak menatapnya.
“Pernikahannya kapan?”
Livia menjawab, “Enam minggu lagi.”
Maira hampir tersedak.
Papa kembali mengambil korannya. Mama memejamkan mata. Livia menatap adiknya dengan ekspresi pasrah.
Maira meletakkan garpu. “Baik. Aku punya pertanyaan kedua.”
“Jangan,” kata Livia cepat.
Maira menahan tawa.
Pernikahan enam minggu lagi berarti persiapannya pasti besar. Keluarga Beaumont, keluarga mereka, ratusan tamu, berbagai acara, dan segala sesuatu yang menyertai pernikahan keluarga terpandang.
Maira hanya perlu bertahan sampai hari pernikahan. Ia tidak perlu mencari tahu apa pun. Tidak perlu menyelidiki siapa pun. Tidak perlu menyelamatkan siapa pun.
Ia hanya perlu menjadi tamu yang normal.
Maira mengambil cangkir tehnya sambil meyakinkan diri sendiri bahwa kali ini semuanya akan berjalan baik.
Pengalaman hidupnya seharusnya sudah mengajarkan satu hal.
Setiap kali ia membuat rencana untuk tidak terlibat dalam masalah, masalah biasanya sudah menunggunya lebih dulu.