Kehadiran Adrian tak pernah gagal menarik perhatian. Kali ini pun sama. Saat ia melangkahkan sepatu safety-nya yang masih berlumur lumpur ke atas marmer mengkilap di lobi Mahendra Construction, banyak pasang mata langsung menoleh ke arahnya.
Sebagian memandangnya dengan waspada, mengenal temperamennya yang sulit ditebak dan ledakan amarahnya yang bisa datang kapan saja. Sebagian lain berbisik pelan, membandingkan penampilannya yang jauh berbeda dari dua kakak laki-lakinya yang selalu tampil rapi, elegan, dan berkelas. Namun, tak sedikit pula yang diam-diam terpikat.
Adrian memang tak pernah membungkus dirinya dengan jas mahal seperti Surya dan Gavin. Ia lebih sering datang dengan kemeja yang lengannya digulung asal, sepatu safety penuh debu, dan noda proyek yang masih menempel di pakaiannya. Rambutnya yang ditata man bun memberi kesan liar yang sulit dijinakkan.
Bagi banyak wanita, Adrian jauh lebih menarik daripada anak konglomerat lain yang hanya tahu duduk di balik meja dan menikmati warisan keluarga.
Adrian bukan tipe pria yang terbiasa hidup nyaman, tapi dengan caranya sendiri, ia justru tampak sangat siap merebut kekuasaan dengan tangannya sendiri.
“Sebagai Direktur Keuangan, Anda yang menyetujui pencairan dana untuk pembelian tower crane itu. Anda membiarkan tower crane murah dan tidak layak digunakan demi menutup mark up anggaran, lalu ketika alat itu jatuh dan hampir menewaskan satu pekerja, Anda menyebut angin sebagai penyebabnya. Itu bukan hanya kelalaian yang tak disengaja, Pak.” Ucap Rio menatap lurus ke arah Pak Edi tanpa gentar.
Wajah Pak Edi mengeras seketika.
“Beraninya kamu menuduhku dengan sesuatu yang bahkan tidak bisa kamu buktikan?” bentaknya tajam. “Aku bisa memecatmu sekarang juga atas dasar pencemaran nama baik. Kamu akan diingat sebagai manajer tim audit yang paling cepat aku singkirkan dari perusahaan ini.”
Rio tetap tenang, seolah ancaman itu tidak berarti apa pun baginya.
“Mandor Sigit sampai harus menyembunyikan seorang operator yang mengalami cedera parah akibat tower crane yang jatuh itu untuk menutup kesalahan Anda,” katanya datar. “Bagaimana menurut Anda?”
Kalimat itu membuat suasana di ruangan mendadak membeku. Pak Edi terdiam. Rahangnya menegang, sementara Pak Rudi yang berdiri di sampingnya mulai terlihat gelisah.
Di saat ketegangan itu memuncak, suara langkah kaki terdengar dari arah koridor.
Adrian, yang mendengar keributan sejak tadi, berjalan mendekat dengan wajah datar dan langkah santai. Tatapannya menyapu ketiga pria yang berdiri saling berhadapan.
Ia mendapati Pak Edi dan Pak Rudi sedang berhadapan langsung dengan seorang pria asing bersetelan rapi, berwajah dingin, dan memiliki sorot mata setajam pisau. Sosok yang jelas belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Ada apa ini? Berisik sekali.”
Suara Adrian rendah, tetapi cukup membuat semua orang menoleh bersamaan.
Ekspresi penuh amarah yang sebelumnya menguasai wajah Pak Edi seketika menghilang. Dalam hitungan detik, pria tua itu mengubah wajahnya menjadi senyum hangat yang nyaris berlebihan.
“Lihatlah siapa yang datang, tuan muda.” ujarnya riang, lalu tanpa ragu memeluk Adrian erat, seolah tak peduli jas mahalnya akan terkena noda lumpur dari pakaian Adrian yang baru pulang dari lapangan.
“Apa kabar hari ini, Pak Adrian?” sapa Pak Rudi ikut menyambut dengan wajah lega.
“Baik. Sangat baik,” jawab Adrian ramah.
Pak Rudi kemudian melirik Rio yang masih berdiri tegak di tempatnya, sama sekali tidak bergerak.
“Rio, kenapa diam saja? Sapalah Pak Adrian. Beliau ini Wakil Direktur Utama. Apa kamu tidak mengenalinya?”
Adrian ikut mengalihkan pandangannya pada pria asing itu. Tatapan mereka bertemu.
Rio berdiri rapi dengan setelan jas yang nyaris tanpa cela, wajahnya dingin, matanya tajam, dan sikapnya terlalu tegak untuk ukuran karyawan baru yang sedang berhadapan dengan salah satu petinggi perusahaan.
Adrian perlahan melepaskan pelukan Pak Edi.
“Siapa dia?”
“Manajer tim audit yang baru,” jawab Pak Edi cepat.
“Manajer tim audit?” ulang Adrian pelan.
Rio melangkah mendekat hingga kini hanya berjarak beberapa langkah darinya. Tanpa sepatah kata pun, ia menundukkan kepala singkat sekadar formalitas yang terasa dingin, tanpa rasa hormat yang sebenarnya.
Bukan hanya Pak Edi yang sedang diselidiki Rio. Dalam kepala pria itu, Adrian pun sudah masuk daftar orang yang harus dijatuhkan. Korupsi dana tower crane dan kecelakaan proyek, Rio tampaknya percaya Adrian ikut terlibat dalam semua itu. Dan Rio tidak terlihat seperti orang yang akan berhenti sebelum menemukan jawabannya.
“Kenapa tatapannya seperti itu padaku?” tanya Adrian.
Pak Edi terkekeh kecil. “Pria ini memang sedikit bermasalah. Terlalu serius sampai kadang terlihat seperti punya gangguan mental.”
Sudut bibir Adrian perlahan terangkat, membentuk senyum tipis penuh ejekan.
Namun, Rio tetap diam. Tidak marah. Tidak tersinggung. Bahkan ekspresinya tak berubah sedikit pun.
Itu justru membuat Adrian semakin tertarik. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan Rio. Tatapan mereka saling mengunci.
“Ikut ke ruanganku. Sekarang!” titah Adrian.
Tanpa menunggu jawaban, Adrian berbalik dan melangkah menuju lift yang baru saja terbuka. Rio mengikuti di belakangnya dengan langkah tenang.
Begitu masuk, Adrian menekan tombol angka dua belas. Pintu lift tertutup perlahan, menyisakan keheningan di antara mereka.
Adrian lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding lift, satu tangan masuk ke saku celana, sementara pandangannya tanpa malu-malu menelusuri Rio dari ujung sepatu hingga rambutnya yang tertata rapi. Sepatu mengkilap. Setelan jas licin tanpa lipatan. Wajah dingin. Sikap terlalu lurus.
Adrian hampir ingin tertawa