“Tolooong! Tolooong!”
Seorang anak kecil—sekitar umur 10 tahun— berlarian di tepi jalanan. Dia berteriak meminta bantuan kepada siapa pun yang ada di Desa Westminster. Dia tampak panik dan gelisah.
Sekujur tubuhnya kelihatan kotor dan dia menangis sesenggukan. Suaranya terdengar serak akibat terus menerus berteriak kencang.
Para warga yang mendengar teriakannya segera mendekat, mereka berkumpul di tepi jalan. Anak kecil itu berhenti berlari, dia mengatur napasnya yang memburu.
Seorang pria paruh baya menghampiri. “Ada apa, Henry? Apa yang terjadi?” tanyanya.
“W-will ... William diculik,” jawab Henry membuat pria itu terkejut.
“Benarkah? Di mana?” tanya wanita berambut putih.
“Di sana! Di dekat jembatan. Sebuah mobil van berwarna putih membawa William pergi.”
Mendengar cerita Henry membuat para warga saling membicarakannya. Siapa yang menculik William? Bagaimana bisa hal itu terjadi?
Banyak pertanyaan yang diajukan mereka kepada Henry, tapi anak kecil itu masih terlalu syok untuk diajukan banyak pertanyaan. Dia tak bisa menjawab dengan cepat, apalagi masih menangis sesenggukan.
Di sisi lain, dua pria baru saja tiba di desa ini. Mereka memarkirkan mobil di halaman depan salah satu rumah. Melihat ada kerumunan di sana membuat mereka penasaran.
“Tumben sekali warga berkumpul di sana. Kira-kira ada apa, ya?” tanya Asher, lelaki berambut pirang itu baru saja mematikan mesin mobilnya.
“Tidak tahu. Lebih baik kita cari tahu,” sahut Gallen seraya turun dari mobil. Disusul oleh Asher.
Mereka pun berjalan menghampiri kerumunan itu.
“Apa yang terjadi? Kenapa kalian berkumpul?” tanya Asher.
Salah satu wanita tua mendekati mereka. “Henry melihat William diculik,” jawabnya.
Asher dan Gallen terkejut, keduanya sempat menatap satu sama lain. Dengan cepat mereka mendekati Henry untuk meminta penjelasan.
Anak kecil itu tampak sudah tenang setelah ditenangkan oleh pria tua tadi. Tanpa menunggu lagi, Gallen langsung memintanya menjelaskan bagaimana kronologi kejadian William diculik.
Henry menceritakan bahwa beberapa menit lalu dia dan William sedang bermain sepeda di jembatan. Tiba-tiba saja, sebuah van putih berhenti tepat di dekat mereka. Seorang pria bermasker turun dari sana, membawa paksa William yang kebetulan tak jauh dari mobil.
Meski Henry sempat mencegah, tapi dirinya malah ditendang sampai terjatuh. Hingga akhirnya, William dibawa pria itu menggunakan mobil van tersebut. Kejadiannya begitu cepat, bahkan Henry masih mencoba mencerna apa yang terjadi.
“Gall, kau itu pintar mencari tahu hal-hal seperti ini. Cobalah kau bantu mereka untuk menemukan William,” bisik Asher. Dengan cepat Gallen menoleh.
“Aku bukan detektif,” balasnya.
“Jika kau bantu mereka, aku yakin mereka akan sangat berterima kasih padamu.”
Gallen mendengkus mendengar ucapan temannya itu. Meski temannya memaksa, dia menolak melakukan sesuatu yang baginya merepotkan. Ditambah ini masalah yang cukup besar, melibatkan seorang kriminal. Dia tak mau terlibat dengan penjahat.
“Tidak. Terima kasih,” katanya.
Asher hanya menggeleng pelan.
Beberapa pertanyaan pun diajukan lagi kepada Henry. Sayangnya, tak banyak yang dia ingat. Bahkan dia tak melihat pelat nomor van itu. Karena kejadiannya cepat, dia tak sempat untuk memperhatikan setiap detail.
Dia hanya tahu si pelaku memakai masker dan bertopi baseball, memakai jaket kulit hitam dengan celana berwarna senada. Mobil yang digunakan pun berwarna putih. Tak ada hal lain lagi, hanya itu.
Informasi yang diberikan tidak cukup untuk mencari tahu tentang si pelaku penculikan. Hal ini sama saja membuat mereka bingung sendiri.
Salah satu warga menyarankan agar melaporkan hal ini kepada penegak hukum setempat. Siapa tahu mereka bisa menemukan pelakunya.
“Asher, kau datangilah Sheriff Lowan dan jelaskan bagaimana kronologinya. Aku yakin pria itu mau membantu menyelidiki penculikan ini.” Pria yang tadi mengajak Henry bicara meminta Asher agar melaporkan kejadian ini pada sheriff yang disebutkan namanya.
Asher langsung mengangguk. Dia menarik lengan Gallen agar ikut dengannya. Mau tak mau pria itu mengikuti temannya ini. Mereka pun naik kembali ke dalam mobil Asher.
“Kenapa kau tak pergi sendiri saja? Kenapa aku harus ikut?” tanya Gallen seraya memasang sabuk pengaman.
Tanpa menoleh dan menyalakan mesin mobil, Asher menjawab, “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”
Gallen menaikkan kedua alisnya, dia tahu apa yang dipikirkan Asher. Tak lama, kendaraan itu pun melaju meninggalkan para warga menuju ke lokasi di mana kantor sheriff berada.
Selama di perjalanan, mereka terdiam satu sama lain. Hanya terdengar suara deru mobil dan radio yang sengaja dinyalakan. Hal ini membuat Gallen melirik tajam ke arah Asher. Dia penasaran, apa yang ingin dibicarakan pria itu dengannya?
Tak mau terus menunggu, akhirnya dia mempertanyakan hal itu.
Alih-alih menjawab, Asher malah bertanya, “Kau tak berniat membantu mereka, Gallen? Tak ada salahnya mencari perhatian para warga di desa itu.”
“Hah?! Masalah mereka harus mereka tangani sendiri, tak ada hubungannya denganku,” jawab Gallen, tak berperasaan.
Mendengar jawaban ini membuat Asher menggeleng pelan, keheranan dengan pria di sampingnya itu.
“Jangan begitu, Gall. Bagaimanapun juga, mulai sekarang kita adalah warga di desa itu,” tegur Asher. “Meski kita baru lima hari di sana, tapi aku merasa kita sudah dianggap keluarga oleh mereka. Setidaknya, ingat kebaikan mereka padamu.”
Gallen tak membalas, pandangannya tak teralihkan dari pemandangan di luar mobil. Dia kelihatan enggan mendengar ucapan Asher.
Melihat temannya tak merespons, Asher kembali berkata, “Bukankah kau bilang kalau tempat itu kampung halamanmu? Seharusnya kau membantu mereka, Gall. Secara tidak langsung, mereka keluargamu, kan?”
“Mereka hanya tetangga, tak ada hubungan darah. Keluargaku satu-satunya hanya nenek,” sahut Gallen tanpa menoleh.
“Oke ralat—mereka tetanggamu, yang mengenalmu sejak kau masih kecil.” Asher mengatakannya dengan nada malas. Hal itu membuat Gallen mendesis.
“Tapi,” imbuhnya. “Mereka butuh pertolonganmu, Gall. Meski tak ada yang memintanya, setidaknya inisiatif. Bayangkan saja, jika kita diam dan hanya menyaksikan penculikan ini, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?”
Hening. Tak ada jawaban.
“Ya, benar. Akan ada penculikan lagi. Siapa korban selanjutnya? Bisa jadi Henry, aku atau bahkan mungkin dirimu. Siapa yang tahu?”
Gallen menoleh mendengar ucapan Asher yang baginya menyebalkan. Asher menunjukkan seringainya karena berhasil membuat temannya itu menatapnya. Dia tahu karena melihatnya dari sudut mata.
“Akhir-akhir ini kau banyak bicara,” ucap Gallen, pelan. “Sudah kubilang, aku tak mau. Sekeras apa pun kau memaksaku.”
Asher mendengkus mendengar jawaban pria di sebelahnya itu. Dia tak mungkin memaksa Gallen untuk menuruti permintaannya.
“Baiklah. Terserah.” Akhirnya Asher pasrah.
Gallen kembali melihat ke arah luar mobil. Asher hanya melirik sejenak dan kembali fokus ke jalanan. Dia tahu Gallen bukan pria tak berperasaan, hanya sedang tak mau melibatkan diri dengan masalah orang lain. Meski begitu, dia ingin Gallen membantu menemukan pelaku penculikan.
Bukan tanpa alasan dia menginginkan hal itu, dia tahu betul siapa Gallen karena sudah mengenalnya sejak duduk di bangku kuliah. Namun, dia juga memahami perasaan Gallen. Suatu peristiwa besar terjadi di tempat tinggal mereka sebelumnya. Hal tersebutlah yang membuat Gallen enggan terlibat dengan orang lain.
Perjalanan menuju ke kantor sheriff memakan waktu kurang lebih 15 menit. Selama itu, tak ada rumah-rumah warga lagi. Kiri dan kanan jalanan hanya dipenuhi pohon pinus yang menjulang tinggi.
Jalannya berkelok ringan dan tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Sesekali terlihat mobil lain dari arah berlawanan, lalu menghilang di tikungan berikutnya.
Dari kejauhan, Gallen melihat sesuatu yang bersembunyi di antara pohon-pohon pinus. Dia meminta Asher untuk menghentikan mobil, lalu mundur sebentar untuk memastikan apa yang tadi dilihatnya. Asher menuruti perintah Gallen.
Seketika mata kedua pria itu terbelalak lebar. Terkejut dengan sesuatu yang mereka lihat.
“Bukankah itu ... mobil van yang dimaksud Henry?”
Bersambung.