Papan skor digital raksasa di atas GOR Jude University
menyala merah dan menampilkan angka 68-67. Peluit panjang melengking membelah
riuh teriakan suporter lawan untuk menandai selesainya pertandingan final liga
basket antar kampus musim ini.
Zeya Hawthorne berdiri mematung di tengah garis tiga poin.
Napasnya memburu, membasahi jersei bernomor punggung 7 yang melekat di
tubuhnya. Matanya menatap kosong ke arah ring lawan. Hanya butuh satu lemparan
masuk di detik terakhir untuk membalikkan keadaan, tapi bola yang ia lepaskan
justru memantul keras di pinggir besi ring dan membalas impian mereka dengan
kekalahan.
"Zeya, ayo balik ke bangku cadangan." Oca Laurent
merangkul pundak kaptennya yang gemetar.
Zeya tak bergerak. Di seberang lapangan, tim putri University
of Crestview merayakan kemenangan mereka dengan histeris. Seluruh beban
kekalahan itu menghantam dada Zeya secara telak. Sebagai kapten, ia tahu
kegagalan ini adalah tanggung jawab penuhnya.
"Maafkan aku," bisik Zeya lemah. "Aku yang
gagal mengambil keputusan di clutch time."
Veya Hart mendekat, sembari mengusap punggung Zeya pelan.
"Ini bukan salahmu saja, Zey. Kita kalah sebagai tim. Jangan tanggung
semuanya sendirian."
Zeya menunduk dalam-dalam ketika berjalan menuju koridor
ruang ganti, mengabaikan jepretan kamera media kampus dan sorakan gembira tim
lawan. Di dalam kepalanya, kekalahan tipis satu poin itu terasa seribu kali
lebih menyakitkan daripada kalah telak.
***
Dua hari kemudian, suasana muram masih menyelimuti ruang
ganti tim putri. Zeya duduk di bangku sambil mengikat tali sepatunya
kencang-kencang, bersiap untuk sesi latihan fisik mandiri. Ia menolak
membiarkan kekecewaan membuatnya berhenti.
Tiba-tiba pintu ruang ganti mendobrak terbuka. Oca masuk
dengan wajah memerah dan menggenggam ponselnya erat-erat.
"Zey, kamu harus lihat ini sekarang!" seru Oca
gemetar menahan amarah.
Zeya menghentikan aktivitasnya dan mengerutkan dahi.
"Ada apa, Oca? Kita ada jadwal latihan lima belas menit lagi."
"Ini soal tim putra! Soal si Bastian Evercrest!"
Veya ikut menyusul masuk ke dalam ruangan, buru-buru menyodorkan layar
ponselnya tepat di depan wajah Zeya. "Wawancara dia semalam baru saja
diunggah di akun media sosial kampus. Videonya langsung viral."
Zeya menatap layar ponsel Veya yang menayangkan cuplikan
wawancara usai pertandingan tim putra. Di sana, Bastian Evercrest, kapten tim
putra yang dikenal tenang dan selalu menjadi anak emas kampus, berdiri di depan
mikrofon reporter dengan jersei nomor 10 milik Jude University.
Wartawan dalam video itu bertanya, "Bagaimana
pendapatmu tentang kekalahan tipis tim putri di babak final kemarin,
Bastian?"
Bastian menatap kamera lurus-lurus, wajahnya datar tanpa
ekspresi. Keterangan video di bawahnya bertuliskan kutipan langsung. "Tim
putri masih belum memiliki mental juara."
Video berdurasi lima detik itu langsung terputus di sana.
Kolom komentar di bawahnya sudah dipenuhi ribuan tanggapan dari para mahasiswa
kampus yang mulai meremehkan dan mengolok-olok kerja keras tim putri.
"Tuh, kan, kapten tim putra saja akui kalau tim cewek
cuma beban kampus."
"Mental lemah. Buat apa masuk final kalau cuma buat
bikin malu?"
Darah Zeya terasa mendidih seketika. Tangannya mengepal
hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah dan sedih yang mendekam di
dadanya selama dua hari terakhir mendadak lebur, berganti menjadi amarah yang
membakar.
"Dia berani bicara begitu di depan media?" Suara
Zeya terdengar dingin dan tajam.
"Komentarnya benar-benar tidak beretika, Zey!"
bentak Veya. "Kita berjuang mati-matian sepanjang musim dan dia dengan
santainya meruntuhkan harga diri kita di depan seluruh kampus!"
"Dia pikir karena tim putra lolos ke final, dia punya
hak untuk menilai mentalitas kita?" tambah Oca sengit.
Zeya berdiri dari bangkunya. Ia menyambar handuk kecil dan
menyampirkannya di bahu. "Di mana tim putra latihan sekarang?"
"Di lapangan utama," jawab Veya cepat. "Zey,
latihan mereka baru saja selesai sepuluh menit yang lalu—"
Tanpa menunggu kalimat Veya selesai, Zeya melangkah lebar
keluar dari ruang ganti. Langkah kakinya menghentak keras di sepanjang koridor
menuju GOR utama Jude University.
***
Suara pantulan bola basket dan gelak tawa menggema di dalam
GOR utama. Anggota tim putra baru saja menyelesaikan sesi pendinginan. Di
tengah lapangan, Bastian Evercrest sedang meneguk air mineral dari botolnya
saat Theo West dan Kieran Blake merangkul bahunya dari samping.
"Gila, pergerakanmu di quarter empat tadi makin tajam
saja, Bas," puji Theo sambil tertawa.
Bastian menyapu keringat di dahinya dengan ujung jersei.
"Kita masih harus memperbaiki transisi bertahan. Lawan kita di final bukan
tim sembarangan."
"Bastian Evercrest!"
Sebuah teriakan lantang yang penuh amarah memotong
pembicaraan mereka. Seluruh anggota tim putra mendadak diam dan menoleh ke arah
sumber suara.
Zeya jalan menerobos garis batas lapangan dengan tatapan
mata menancap lurus pada Bastian. Oca dan Veya menyusul terengah-engah di
belakangnya.
Bastian menaikkan satu alisnya, menurunkan botol minum yang
membasahi bibirnya. "Ada apa, Zeya? Jadwal latihan tim putri masih sepuluh
menit lagi."
Zeya berhenti tepat satu meter di depan Bastian. Tingginya
yang menjulang sebagai atlet putri masih kalah beberapa sentimeter dari
Bastian, tapi aura intimidasi yang dipancarkannya mampu membuat Theo dan Kieran
melangkah mundur satu tapak.
"Jangan pura-pura bodoh, Bastian," desis Zeya. Ia
mengeluarkan ponselnya dan melempar layar yang menampilkan potongan video
wawancara itu tepat ke dada Bastian. Bastian menangkapnya dengan refleks cepat.
"Maksudmu apa mengatai tim putri tidak punya mental juara di depan
media?"
Bastian melirik layar ponsel itu sejenak, lalu menatap Zeya
kembali dengan raut wajah yang sepenuhnya tenang, sikap yang justru semakin
menyulut amarah Zeya.
"Oh, video itu," kata Bastian santai samani
menyerahkan kembali ponsel Zeya. "Kamu marah cuma karena potongan video
lima detik?"
"Cuma?" Zeya tertawa sinis, langkahnya makin
mendekat. "Kamu sadar tidak, ucapanmu itu bikin seluruh kampus meremehkan
perjuangan tim putri? Kamu merasa paling hebat hanya karena timmu lolos ke
final?"
Theo mencoba menengahi dengan mengangkat kedua tangannya.
"Hei, Zeya, tenang dulu. Bastian tidak bermaksud—"
"Diam, Theo! Aku tidak bicara denganmu!" potong
Zeya tanpa mengalihkan pandangannya dari Bastian. "Aku bicara dengan
kaptenmu yang sombong ini."
Bastian menghela napas panjang. Ia melipat kedua tangannya
di depan dada, menatap Zeya tanpa rasa takut sedikit pun. "Zeya, kalau
kamu kapten yang bijak, kamu tidak akan langsung terpancing cuma karena
unggahan media sosial."
"Bijak?" Zeya menunjuk dada Bastian dengan
telunjuknya. "Kamu mempermalukan timku di depan publik, Bastian! Kamu
tidak tahu seberapa keras kami latihan tiap hari! Kamu tidak tahu rasa sakitnya
kalah satu poin di final! Lalu kamu dengan mudahnya menghancurkan harga diri
kami dalam satu kalimat!"
"Aku tahu seberapa keras kalian latihan," sahut
Bastian dingin. "Sayangnya kekalahan tetaplah kekalahan. Kalau kamu tidak
bisa menerima kritik, berarti ucapan di video itu ada benarnya."
Plak! Suara tepukan keras saat Zeya menepis tangan Bastian
menggema di dalam GOR yang mendadak hening. Oca dan Veya menahan napas.
"Jangan pernah menghakimi timku," tegas Zeya
dengan matanya menyala penuh kebencian. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang
kami."
Bastian menurunkan tangannya yang ditepis. Tatapan matanya
yang semula santai kini mengeras. "Aku memang tidak perlu tahu hal yang
tidak penting."
"Dengar baik-baik, Bastian Evercrest." Zeya
melangkah maju sampai jarak wajah mereka hanya tersisa belasan sentimeter.
"Mulai hari ini, ingat namaku baik-baik. Kamu adalah orang pertama yang
akan aku hancurkan di kampus ini. Aku akan buktikan kalau ucapanmu itu
sampah."