"Kau selalu tahu bagaimana cara menenangkan pikiranku, Ji-yoo. Seandainya di dunia ini ada sepuluh wanita sepertimu, mungkin duniaku tidak akan pernah serumit ini."
Kang Min-woo mengembuskan napas panjang sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa kulit di ruang kerja. Matanya terpejam, menikmati pijatan lembut yang mendarat di kedua bahunya yang kaku.
Aroma minyak esensial lavender yang menenangkan menguar di udara, sengaja disiapkan untuk menyambut kepulangan sang suami dari hari kerja yang melelahkan.
Han Ji-yoo tersenyum manis. Jemarinya yang lentik dan halus bergerak dengan ritme konisten, menyalurkan kehangatan serta perhatian yang tak pernah berkurang sedikit pun sejak hari pertama mereka mengikat janji suci.
Bagi Ji-yoo, melayani Min-woo bukan sekadar kewajiban seorang istri, melainkan sebuah kehormatan. Ia mencintai pria itu dengan seluruh jiwa yang ia miliki.
"Pekerjaan di kantor memang tidak akan pernah ada habisnya, Sayang," bisik Ji-yoo lembut, menghentikan pijatannya lalu berjalan memutari sofa untuk menyerahkan secangkir teh kamomil hangat ke tangan suaminya.
"Minumlah dahulu. Aku sengaja meraciknya agar tidurmu malam ini bisa lebih nyenyak."
Min-woo membuka mata, menatap wajah cantik sang istri yang selalu memancarkan ketulusan. Pria itu menerima cangkir porselen tersebut, meminumnya perlahan, lalu menarik pergelangan tangan Ji-yoo hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
Ia mengecup kening Ji-yoo dengan mesra, sebuah kecupan yang selalu berhasil membuat jantung Ji-yoo berdesir, bahkan setelah tiga tahun pernikahan mereka berlalu.
"Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?" gumam Min-woo sembari merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Ji-yoo.
"Kau adalah fondasi hidupku, Ji-yoo. Semua pencapaianku di perusahaan saat ini tidak akan berarti apa-apa tanpa dukunganmu."
Pujian itu terasa seperti asupan energi yang luar biasa bagi Ji-yoo. Memang benar, sebagian besar modal awal serta jaringan bisnis yang membawa perusahaan real estat milik Min-woo meroket adalah berkat nama besar dan warisan dari mendiang orang tua Ji-yoo. Namun, Ji-yoo tidak pernah membusungkan dada. Ia menyerahkan seluruh kendali harta dan kepercayaan penuh kepada suaminya. Baginya, keberhasilan Min-woo adalah kebahagiaannya juga.
Keesokan harinya, keceriaan Ji-yoo bertambah lengkap ketika pintu rumahnya diketuk. Sosok wanita anggun berpakaian modis berdiri di ambang pintu dengan senyuman lebar yang sangat familier.
"Ji-yoo! Aku merindukanmu!"
"Chae-won!" Ji-yoo langsung menghambur ke pelukan sahabat karibnya itu.
Shin Chae-won adalah segalanya bagi Ji-yoo setelah ia kehilangan kedua orang tuanya. Mereka tumbuh bersama sejak masa kuliah, berbagi rahasia, menangis, dan tertawa di kamar kos yang sempit sebelum nasib membawa mereka ke titik sekarang.
Kini, Chae-won bekerja sebagai desainer interior utama yang membantu proyek-proyek besar di perusahaan Min-woo, sebuah posisi yang didapatkan tentu saja atas rekomendasi kuat dari Ji-yoo sendiri.
"Lihat dirimu, kau tampak makin bersinar saja setiap kali aku datang ke sini," ujar Chae-won sembari meletakkan tas jinjing mewahnya di atas meja makan. Matanya menyapu penjuru rumah yang tertata rapi dengan dekorasi bunga segar.
“Min-woo pasti sangat memanjakanmu, ya?”
"Jangan menggoda, Chae-won. Min-woo hanya sedang sibuk-sibuknya dengan proyek kawasan hunian baru di Gangnam," jawab Ji-yoo dengan rona merah di pipinya. Ia menuangkan jus jeruk segar ke dalam gelas untuk sahabatnya.
"Bagaimana pekerjaanmu di kantor? Apakah Min-woo memperlakukanmu dengan baik sebagai rekan kerja?"
Chae-won tertegun sejenak, menatap cairan oranye di dalam gelas sebelum mendongak dan memamerkan senyuman terbaiknya.
"Tentu saja. Suamimu itu profesional yang hebat. Kami sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendiskusikan konsep desain ruang sampel. Kadang sampai larut malam. Aku harap kau tidak cemburu padaku."
Ji-yoo tertawa renyah, mengibaskan tangannya di udara.
“Cemburu padamu? Yang benar saja! Kau adalah orang yang paling aku percayai di dunia ini setelah Min-woo. Aku justru merasa sangat tenang karena ada kau yang menjaganya di kantor. Setidaknya, aku tahu dia tidak akan berpaling pada wanita asing di luar sana.”
Chae-won ikut tertawa, tetapi matanya berkilat menyembunyikan sesuatu yang begitu pekat di balik kornea hitamnya.
“Kau memang istri yang sempurna, Ji-yoo. Sangat sempurna hingga kadang membuat orang lain, merasa iri.”
Hari itu dihabiskan kedua wanita tersebut dengan berbincang hangat, mengenang masa lalu, dan merencanakan makan malam bersama dengan Min-woo di akhir pekan nanti.
Saat Chae-won berpamitan pulang menjelang sore, Ji-yoo mengantarnya hingga ke depan mobil dengan lambaian tangan yang penuh kasih sayang. Kebahagiaan seolah mengitari hidup Han Ji-yoo tanpa celah. Suami yang mapan dan mencintainya, sahabat yang setia, serta kehidupan yang serbakericuhan materi. Segalanya tampak begitu sempurna.
Malam harinya, badai kecil dalam bisnis mulai menunjukkan riaknya. Min-woo pulang terlambat dengan gurat frustrasi yang sangat kentara di wajah tampannya. Pria itu bahkan melewatkan makan malam yang sudah dimasak susah payah oleh Ji-yoo.
“Ada masalah di proyek Gangnam, Sayang?” tanya Ji-yoo dengan nada sehati-hati mungkin saat menghampiri Min-woo yang sedang memeriksa tumpukan dokumen di ruang kerja.
“Investor dari Jepang menuntut jaminan aset yang lebih besar, Ji-yoo,” jawab Min-woo dengan nada suara yang sedikit meninggi, tidak selembut biasanya. Ia memijat pelipisnya sendiri dengan kasar.
“Jika aku tidak bisa menyediakan dokumen kepemilikan tanah atas nama keluarga Han sebelum akhir bulan ini, proyek terancam batal. Perusahaan bisa merugi ratusan miliar won.”
Ji-yoo terdiam sejenak. Tanah yang dimaksud adalah tanah warisan mutlak dari ayahnya yang belum dialihkan kepemilikannya. Namun, melihat suaminya yang tampak begitu tertekan, rasa iba dan cinta membutakan logika Ji-yoo.