


oleh Kratzer · 71 Bab
Dulu Naya bisa menentukan kehidupan yang ia inginkan. Sekarang, bahkan untuk berpikir pun tak bebas ia lakukan. Seolah ada sesuatu yang selalu ingin ikut andil dalam hidupnya. Hubungan manis, tetapi semakin lama justru semakin menjeratnya tanpa disadari Naya. Perlahan belenggu itu semakin nyata dan menyisakan sebuah rahasia yang belum terselesaikan sejak awal. Bisakah Naya melepaskan dirinya? The Silent. Karena luka yang paling dalam, tidak pernah bersuara.
Keadaan Kafe "Aroma Bahagia" terlihat lebih ramai daripada biasanya. Membuat semua karyawan sibuk, termasuk gadis cantik bernama Naya, seorang karyawan paruh waktu yang sedari tadi tidak berhenti untuk mengantarkan pesanan.
"Meja 12, ya." Naya berbisik pada dirinya sendiri.
Naya membawa dua gelas es kopi, beserta dessert vanilla yang dipesan. Meja bernomor 12 itu berada di pojok ruangan kafe. Ketika ingin berbelok, dari arah berlawanan tiba-tiba saja muncul seorang pria dengan tubuh yang cukup besar.
Brugh.
Tabrakan tidak bisa dihindari. Es kopi yang dibawa Naya tumpah, mengenai kemeja sang pria yang diyakini Naya memiliki harga yang cukup mahal. Warna hitam dari kopi dengan cepat merembes pada kemeja putih itu. Noda melebar dari dada hingga kancing ketiga.
Dunia Naya seakan terhenti untuk setengah detik. "Astaga! Maaf, Mas!" Naya setengah memekik.
Dengan terburu-buru, Naya mengambil banyak tisu, guna mengusap noda pada kemeja. Berharap jika benda itu bisa mengembalikan warna putih kemeja seperti semula. Namun, tentu saja harapan itu hanya sia-sia. Noda masih tercetak dengan sangat jelas.
"Saya minta maaf, Mas. Saya tidak sengaja," lirih Naya, seakan ingin menangis saat ini juga.
Belum terdengar jawaban. Pria itu masih diam, hanya menatap Naya yang semakin lama terlihat semakin panik. Bahkan, gadis itu sudah beberapa kali membungkuk padanya sambil mengucapkan satu kata yang sama. Maaf.
"Tidak apa-apa. Lagi pula kamu tidak sengaja, 'kan." Suaranya terdengar tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dirugikan.
Naya mengangkat wajahnya perlahan. Sedikit dipaksakan, karena takut jika pria itu akan memasang wajah masam, atau mungkin murka padanya. Namun, alih-alih marah pria itu justru tersenyum samar.
'Tampan.' Satu kata yang tepat.
Sungguh!
Naya merasa enggan untuk mengalihkan pandangan. Wajah pria itu memiliki rahang tegas dengan garis bersih bak pahatan. Netra cokelat gelap, nyaris hitam itu terasa tajam, tapi menghangatkan. Mungkin tingginya 180 cm lebih, dengan bahu lebar yang terasa nyaman untuk digelayuti.
"Naya!!"
Pekikan tajam seketika membuat Naya terlonjak dari pikiran bodoh yang sempat menghinggapi. Telinganya terasa berdenging, karena suara cempreng berasal dari bos Naya yang berada tepat di belakangnya sekarang.
"Naya, kenapa kamu sangat ceroboh!!"
Lagi. Wanita dengan berat badan hampir 100 kg itu kembali memecah keheningan.
"Aku sudah minta maaf dan ...."
"Minta maaf aja tidak cukup, Naya!" Kembali berujar dengan ekspresi wajah yang mengeras. Namun, ketika tatapan itu beralih pada sang pria, ekspresinya segera berubah drastis. "Mas, maafkan karyawan saya, ya. Dia memang selalu ceroboh." Meraih tangan sang pria dan mengelusnya perlahan.
Naya memutar bola mata dengan jengah. Memang, untuk seorang pria tampan semua akan luluh pada waktunya. Bahkan untuk sang bos yang setiap hari menyemburkan kemarahan seperti naga api itu.
"Tidak apa-apa," ucap pria itu lagi. Dengan gerakan pelan, tapi menekan melepaskan tangan bos Naya yang membelit layaknya ular piton. "Dan jangan beri dia hukuman, dia tidak sengaja." Lalu tatapan itu beralih pada Naya. "Lain kali hati-hati." Sedikit mengangkat sudut bibir. Hanya sedikit.
Setelah mengatakan itu, sang pria pun berlalu dari hadapan semua orang. Mungkin sedang buru-buru. Menyisakan Naya yang tak sedikit pun mengalihkan pandangan pada punggung kokoh itu, hingga menghilang dari balik pintu kaca kafe.
"Naya!!"
Lagi.
"I-iya, Bos!" Lengking Naya gagap.
"Jaga pandangan kamu!" Mengacungkan dua jarinya tepat di depan wajah Naya. "Itu calon ayah dari anak-anak saya!" Ia berlalu pergi dengan penuh percaya diri.
Entah calon yang ke berapa. Pasalnya setiap ada pria tampan yang datang ke kafe, selalu saja masuk ke dalam daftar antrean sebagai calonnya. Ya, calon menderita pikir semua karyawan di sana.
'Pria itu ... siapa dia?'
***
"Pekerjaanku sudah selesai, kamu bisa jemput sekarang, 'kan?" Naya berbicara melalui sambungan telepon, di depan kafe yang baru saja tutup.
Naya memasang wajah ceria lebih dari biasanya. Karena malam ini ia mempunyai janji dengan orang yang spesial. Yap, janji dengan sang kekasih yang bernama Rafa. Namun, detik berikutnya senyum itu hilang, berganti ekspresi kecewa.
Seperti sebelumnya, Rafa kembali mengingkari janji dengan banyak alasan yang membuat Naya sakit kepala.
"Ah! Begitu, ya?" Terdengar lemah, layaknya seperti desahan napas. "Hm, tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri." Menekan nada suara senormal mungkin, walau kakinya sudah berhasil menendang beberapa batu untuk melampiaskan rasa kecewa. "Kamu hati-hati dan jaga ...."
Tut-tut-tut.
Panggilan dimatikan sepihak. Bahkan sebelum Naya sempat menoreh kata manis untuk sang kekasih.
Embusan napas teras berat, begitu juga setiap langkah yang ia ambil. Janji dengan Rafa membuat Naya sengaja meninggalkan motor metic-nya di rumah. Dan inilah pada akhirnya, ia memilih untuk jalan kaki daripada memesan taksi online. Berjalan kaki selama 15 menit, mungkin akan berhasil meredam rasa kecewa yang tengah mengganjal sekarang.
"Kenapa dia sangat sibuk akhir-akhir ini?!" Mengentakkan kaki dalam tiap langkah yang diambil. "Selalu ingkar janji!" Bibir menggembung bak ikan buntal. "Apa dia memiliki kekasih lain?! Jangan-jangan dia ...." Naya menggeleng ribut. Menepis semua pikiran buruk tentang sang kekasih.
"Dia sangat mencintaimu, Naya. Ya! Dia sangat ...."
Tiba-tiba saja dari arah depan ada beberapa berandalan yang menghampiri Naya. Membuat gadis itu menghentikan langkah dengan seketika. Ia mengambil langkah mundur, tapi ketika ingin kabur, salah satu dari mereka ternyata sudah ada di belakangnya.
"Lagi sendirian? Apa kami boleh menemani nona cantik ini?" tanya dari salah satu berandal itu.
"Jangan ganggu aku!" Naya menjawab gusar. Tubuhnya gemetar, dengan tangan yang mencengkeram tali tas selempangnya dengan erat.
"Kami tidak menggangu kamu, kok, cantik." Pria dengan rambut panjang dan berantakan itu berujar. "Justru, kami mau membuat kamu nyaman." Sontak mereka semua tertawa.
Justru hal itu membuat Naya semakin takut dan bergidik ngeri. Dia harus kabur, tapi tubuhnya lebih dahulu dibelenggu para berandal jalanan itu. Naya meronta, tapi kekuatannya bukan tandingan mereka. Air mata jatuh berderai, berpikir jika inilah akhirnya dari hidup yang penuh kemalangan ini.
"Lepaskan aku!" teriak Naya, berharap ada yang mendengar "Tolong!! To-"
Bibir mungil itu disekap dengan kasar. 'Kenapa ... hidupku selalu saja begini?'
Bukk.
Tiba-tiba saja suara hantaman keras, dan pekikan tajam terdengar. Itu berasal dari salah satu berandalan yang sudah jatuh tersungkur.
Setengah kesadaran Naya telah menghilang, membuatnya tidak tahu apa yang terjadi. Suara perkelahian terdengar samar, sampai sebuah lengan kokoh itu menopang kepala Naya yang terkulai lemas.
"Hei, bangun! Apa kamu tidak baik-baik saja?"
Dan semua gelap bagi Naya.
***
Perlahan, kelopak mata Naya terbuka. Aroma antiseptik bercampur pahitnya bau obat menguar dengan lembut pada indra penciuman.
'Rumah sakit?' batin Naya menebak, dengan kesadaran yang baru pulih setengahnya.
"Sudah bangun?"
Suara lain terdengar. Naya menoleh dengan gerakan lambat menuju arah suara. Pandangan yang tadi mengabur kini terasa lebih jelas. Melihat pria tak asing dengan mata yang mengerjap-ngerjap beberapa kali. Bingung.
"Ka-kamu ...," lirih Naya, hampir tidak terdengar.
"Hm. Ini saya," ucap pria berkemeja hitam yang tengah duduk di samping brankar Naya. "Kamu pingsan, jadi saya bawa kamu ke rumah sakit."
"Mas yang sudah menolong aku?"
"Iya." Pria itu mengangguk perlahan. "Mungkin." Menyodorkan botol minum kecil dengan tutup yang sudah terbuka.
"Terima kasih banyak, Mas ...."
"Erick. Panggil saja Erick." Erick menyerahkan paperbag kecil pada Naya. "Makan ini. Saya dengar perut kamu bunyi terus waktu pingsan. Setelah itu saya antar pulang."
Rasanya Naya ingin menenggelamkan diri ke dalam kasur sekarang juga. Sungguh memalukan! Wajahnya memerah sempurna, dan pria itu ... hanya mengangkat sudut bibirnya sedikit. Samar.
Bersambung.

Kratzer
5 Pengikut · 2 Novel