


oleh caeyastha · 85 Bab
Hari pertama Elara Virell masuk asrama seharusnya sederhana, sampai kesalahan administrasi membuatnya ditempatkan di Ravenhall Tower. Ia sekamar dengan Cassian Vale, playboy tukang goda. Rowan Thorne, giant sunshine boy yang doyan masak tengah malam. Darius Blackwood, kapten utama tim duel, top student, calon Archmage termuda, cowok paling ditakuti sekaligus dipuja satu kampus.
Hujan turun tipis di atas menara-menara Akademi Astralis ketika Elara Virell menyeret koper cokelat tuanya melewati gerbang utama kampus. Sepatunya basah, jubahnya terlalu panjang, dan kertas registrasi di tangannya sudah hampir sobek karena diremas sejak pagi.
“Aku enggak bakal nyasar,” gumamnya pelan pada diri sendiri. “Aku mahasiswa tahun kedua. Aku tahu jalan.”
Kemudian, dia berhenti di persimpangan koridor batu tua dan menatap tiga arah berbeda dengan wajah kosong.
“Oke, mungkin sedikit nyasar.”
Di atas kepalanya, lilin-lilin melayang menerangi lorong panjang akademi. Suara mahasiswa lain menggema di mana-mana. Elara menarik napas panjang. Bau hujan, buku tua, dan kayu basah memenuhi udara.
Sejujurnya, dia suka tempat ini. Astralis terasa besar, hidup, dan magis dengan cara yang membuat dadanya hangat. Namun, satu hal tetap membuatnya gugup. Asrama baru.
Tahun lalu dia tinggal di kamar kecil untuk empat orang bersama tiga gadis yang suka tidur cepat dan tidak pernah bicara lebih keras dari suara perpustakaan. Tahun ini, pihak akademi memindahkan banyak mahasiswa karena renovasi total pada Tower Timur.
“Elara!” Seorang petugas registrasi memanggil dari meja panjang dekat tangga spiral.
Elara cepat-cepat mendekat, memeluk termosnya erat-erat. “Iya. Saya?”
Wanita tua berkacamata itu membuka daftar panjang dengan lambat. “Kamu di Ravenhall Tower. Kamar 7-A.”
Elara berkedip, mengira dia salah dengar. “Maaf, tower mana?”
“Ravenhall.”
“Yang khusus tim duel?”
“Betul.”
“Tapi saya bukan anak tim duel, Bu.”
“Kalau begitu komplain ke bagian administrasi besok pagi,” jawab wanita itu tanpa mengangkat wajah.
“Tapi malam ini saya—”
“NEXT!”
Elara terdorong minggir oleh mahasiswa lain sebelum sempat melayangkan protes lagi. Dia berdiri bengong di tengah keramaian. Ravenhall adalah asrama elit. Paling mahal, paling eksklusif, dan penuh dengan cowok-cowok populer yang setiap minggu memicu keributan karena latihan duel mereka menghancurkan properti kampus.
Elara melihat ulang kertas registrasinya dengan pasrah.
RAVENHALL TOWER
ROOM 7-A
“Aku mau nangis,” bisiknya lirih.
Ravenhall Tower jauh lebih megah dibanding tower biasa. Dindingnya hitam mengilap, jendelanya tinggi, dan tangga melayang bergerak sendiri mengikuti langkah penghuni. Begitu Elara melangkah masuk ke lobby utama, semua orang menoleh ke arahnya.
Mayoritas penghuni Ravenhall adalah pria tinggi berbadan atletis dengan seragam duel yang sengaja dibuka setengah, memperlihatkan bekas luka latihan di kulit mereka. Sementara Elara berdiri di sana, membawa boneka kecil yang tergantung di koper dan memeluk termos teh jahe hangat.
“Kamu nyasar, Princess?” Seorang cowok berambut merah menyipitkan mata, menatapnya dari atas ke bawah sembari menyeringai.
Elara tersenyum kaku, mencoba tetap sopan. “Semoga iya.”
Beberapa orang di dekat sana tertawa kecil mendengar jawaban ketusnya. Elara langsung mempercepat langkah menuju lift di ujung lorong, mengabaikan bisikan-bisikan yang mulai terdengar.
Tolong jangan lantai atas. Tolong jangan lantai atas. Tolong—
“Lantai tujuh.” Suara lift bergema otomatis seiring pancaran cahaya biru.
Elara menutup mata, merosotkan bahunya. “Bagus. Aku mati.”
Koridor lantai tujuh jauh lebih sepi. Karpet hitam tebal membentang panjang dengan lampu kristal yang menyala redup di sepanjang dinding. Kamar 7-A berada paling ujung. Semakin dekat, Elara mulai mendengar suara-suara dari dalam.
“Kalau Kapten lihat dapurnya kebakar lagi, dia bakal bunuh kita semua.” Sebuah suara mengeluh, disusul tawa laki-laki lain dan bunyi barang jatuh yang cukup keras.
Elara berhenti tepat di depan pintu. Tangannya mendadak sedingin es. Mungkin masih bisa kabur, pikirnya panik. Mungkin aku bisa tidur di perpustakaan atau kandang griffin atau tenggelam di danau sekalian.
Pelan-pelan, dia mengetuk pintu dua kali.
BRAK.
Pintu terbuka tiba-tiba sebelum ketukan ketiganya mendarat. Elara langsung membeku di tempat.
Seorang pria tinggi berdiri di depannya dengan rambut pirang acak-acakan dan handuk putih tersampir di pundak. Kaus hitamnya basah sehabis latihan, membuat kainnya menempel ketat di dada yang masih naik turun teratur. Cowok itu menatap Elara dengan sebelah alis terangkat. Elara menatap balik, lalu matanya turun tanpa sengaja.
Oh. Dia benar-benar tidak siap melihat otot sebanyak itu sedekat ini.
“Yes?” Cowok itu memecah keheningan.
Elara membuka mulut, tapi suaranya tertahan di tenggorokan. “Aku .…”
“Kamu kurir makanan?”
“Bukan.” Elara mengangkat kertas registrasinya dengan tangan yang sedikit gemetar. “Aku penghuni baru kamar ini.”
Sunyi mendadak turun lalu dari bagian dalam kamar, terdengar suara seseorang yang langsung tersedak minumannya sendiri.
“APA?!”
Cowok pirang itu merebut kertas di tangan Elara dengan cepat. Dia membaca baris demi baris, lalu tawa kerasnya pecah seketika. “OH, INI GILA! Hei, lihat ini!”
“Ada apa, Cassian?” Sebuah suara berat dan dalam muncul dari balik sekat ruangan.
Langkah kaki yang santai dan tegas terdengar mendekat. Dan saat pria kedua itu muncul di ambang pintu, jantung Elara rasanya berhenti berdetak.
Rambut hitam legam, tubuh tegap yang menjulang tinggi, seragam duel hitam yang kancing atasnya sengaja dilepas, dan sepasang mata abu-abu dengan tatapan dingin.
Darius Blackwood, kapten tim duel Astralis. Cowok yang tahun lalu sukses membuat Elara salah membaca mantra saat presentasi, hanya karena Darius terus menatapnya dari barisan belakang kelas.
Mata abu-abu itu kini bertemu langsung dengan mata Elara. Suasana mendadak menjadi sangat senyap, kontras dengan Cassian yang masih tertawa di sebelah mereka.
“Kita dapat roommate cewek, Capt,” ujar Cassian geli, melambaikan kertas registrasi di udara.
Darius tidak memberikan reaksi heboh. Dia hanya berdiri diam, menatap Elara hingga Elara mulai merasa tidak nyaman dan meraba rambutnya yang barangkali berantakan karena sisa air hujan di luar.
Perlahan, pandangan Darius turun, tertuju pada termos kecil yang didekap Elara di dada.
“Teh jahe lagi?” tanya Darius, suaranya rendah dan tenang.
Elara berkedip pelan, sedikit terkesima. “Kamu ingat?”
Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, Elara langsung ingin memukul kepalanya sendiri ke tembok terdekat. Kenapa pertanyaan bodoh itu yang keluar?
“Kamu selalu bawa itu ke kelas.”
Cassian langsung menatap keduanya bergantian dengan binar penuh gosip di matanya. “Oho? Kalian saling kenal?”
Elara tidak menjawab dan memilih cepat-cepat melangkah masuk ke dalam kamar sebelum dirinya mati berdiri karena malu. Namun, begitu melintasi ruang tengah, dia menyadari satu masalah baru yang jauh lebih besar.
Kamarnya sangat luas; memiliki perapian, rak buku besar, sofa beludru, dan jendela tinggi yang menghadap langsung ke danau langit, tetapi kamar ini hanya punya tiga ranjang dan sekarang, ada tiga pria di sini.
Satu cowok berbadan besar sedang mengaduk sesuatu di dapur kecil sambil melambaikan tangan dengan ramah. Satu lagi Cassian masih menutup pintu sambil menyeringai. Dan yang terakhir, Darius, berdiri diam tidak jauh dari tempatnya.

caeyastha
0 Pengikut · 3 Novel