


oleh SHADOWALKER15 · 13 Bab
Remaja, fase peralihan dari anak-anak menuju dewasa dengan dua ciri khusus, agresif dan kompetitif. Aksi kenakalan telah menjadi magnet ketertarikan remaja yang menciptakan kriminalitas baru. Meski banyak orang beranggapan anak nakal yang menginjak fase remaja sepenuhnya salah mereka tetapi bagi Mahendra tidak demikian. Ia mendalami dunia remaja yang dinamis untuk mengupas kasus demi kasus berdarah yang memiliki benang merah. Hingga saat dia berusaha mencari jawaban akhir dari segala tanda tanya, ada seseorang yang mengintai hidupnya diam-diam.
MATI SATU tumbuh seribu adalah representasi dari kasus-kasus kenakalan remaja yang terus bermunculan di Indonesia dengan segala jenis kekerasan remaja yang semakin mengkhawatirkan.
Semenjak hadirnya perangkat elektronik berupa smartphone dan kecanggihan media sosial saat ini juga memudahkan aktivitas gelap berupa pelecehan seksual, pembullyan serta ancaman pembunuhan bagi para remaja yang baru menginjak usia lima belas tahun ke atas. Ibarat pisau bermata dua, hal ini telah menjadi ladang bisnis online menarik misalnya perdagangan barang-barang terlarang dan permainan judi untuk meraup kekayaan secara instan.
Seorang pria berseragam serba hitam tampak membetulkan posisi revolver di pinggang dan berakhir mengangkat ponsel ketika menyadari ada panggilan masuk.
“Halo, ini siapa ya?”
“Ini aku, Rena! Ada tugas yang harus kita kerjakan!”
“Sepertinya aku ketinggalan informasi, Rey! Baik, sebagai kepala divisi penyidikan anak sudah pasti aku harus lebih baik darimu!”
“Huh, yang benar saja? Bagaimana mau lebih baik kalau setiap ada tugas begini kamu datangnya paling telat! Awas ya, gara-gara kau gaji kita dipotong!”
“Sudah, sudahi ngambeknya. Nanti aku belikan kopi cappucino.”
“Oh, jangan lupa beli beberapa roti pandan yang enak!”
“Nah, banyak maunya nih anak!"
Gang Persimpangan Kenangan yang berlokasi di area Jakarta Selatan merupakan perumahan luas nan cantik yang tampak baik-baik saja di siang hari tetapi ketika bulan segera memancarkan sinar telah berubah menjadi sarang gangster, geng motor remaja, aksi balap liar dan yang lebih ngerinya lagi adegan pembunuhan.
Setiap hari Mahendra setidaknya harus menangani lima kasus yang berkaitan dengan anak. Kasus yang diterima melalui layanan sosial media maupun nomor telepon yang dihubungi masyarakat dengan cepat menjadi tugas yang harus diselesaikan olehnya. Oh, dia tidak bergerak sendiri. Ada Beberapa rekan yang juga ikut ditugaskan untuk membantu kelancaran proses penyelidikan maupun penyidikan.
“Halo, Bagas!”
Pria berpakaian seragam damkar itu menyahut ria. “Halo. Sudah lama ya kita tidak ketemu?”
Mahendra mengamati aktivitas petugas damkar itu sedang membantu mengerjakan tugas sekolah matematika dari salah satu siswi yang cukup kesulitan untuk memecahkan soal tersebut. Dengan senang hati Bagas membantu dengan cuma-cuma alias gratis.
“Ternyata tugas damkar lebih dari itu ya … aku jadi dejavu sama episode upin-ipin tentang bomba—”
“WOI! WICA CENTANG SATU!”
Rena memekik keras untuk memanggil kepala divisi penyidikan anak itu yang rupanya asyik mengobrol dengan salah seorang petugas damkar. Panggilan ‘Wica Centang Satu’ adalah sebutan khusus dari Rena untuk seseorang yang sangat susah untuk dihubungi.
Dengan malu-malu Mahendra segera bergabung dan membungkuk berulang kali.
“Dasar si centang satu, kita hampir dimarahi sama si sersan tuh!” celetuk teman-temannya yang lain.
Pondok Cahaya adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di mana para santri (murid) tinggal dan belajar agama Islam serta ilmu pengetahuan umum di bawah bimbingan seorang Kyai (pemimpin pondok). Singkatnya sekolah berbasis agama yang berfokus pada peningkatan kualitas rohani. Namun, meskipun sekolah ini berpegang teguh pada ajaran Tuhan lengkap dengan ayat-ayat suci tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa bangkai busuk perlahan tercium ke permukaan. Kasus berdarah dan penuh trauma sangat mungkin terjadi dalam lingkup lembaga belajar ini.
Kasus pernikahan dini oleh para kyai merupakan kejadian yang melibatkan praktik penyalahgunaan kekuasaan dan kepercayaan di lingkungan pondok, di mana kyai melakukan pernikahan dini dengan santri perempuan sebagai bentuk prostitusi terselubung. Hal ini merusak reputasi sekolah beragama dan melanggar nilai-nilai agama serta kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi. Kejadian seperti ini sangat merugikan dan tidak sesuai dengan ajaran agama Islam yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai keadilan, kesucian, dan perlindungan terhadap individu, terutama para santri yang seharusnya dilindungi dan dibimbing dengan baik oleh para kyai.
"Permisi, Mbak. Mbak pernah tinggal di pondok itu?'
"Pernah, Pak. Tapi itu dulu. Sekarang saya trauma dan mengutuk tempat belajar yang mengatasnamakan Tuhan dengan ajaran tidak beperikemanusiaan. Saya tidak bisa menahan tangis kalau harus bercerita panjang lebar ...."
Tim Penyidikan Anak segera bergerak menuju Pondok Cahaya yang saat ini tengah melakukan istirahat malam. Para santri tiba-tiba terkejut dengan kedatangan pihak kepolisian bersenjata secara mendadak dan mereka bersembunyi ketakutan di masjid. Kemudian Mahendra segera mencari identitas kyai bernama Kyai Mujahid yang diketahui sedang berada di kamar mandi.
Benar saja, rupanya Kyai tersebut tengah melakukan tindakan asusila dengan menelanjangi seorang perempuan berpakaian syar'i tersebut dan Hendra hendak meringkusnya tetapi dalam sepersekian detik si Kyai telah mengarahkan pisau daging ke arah leher santri tersebut.
"Pergi dari sini atau gadis ini akan mati di tangan saya!" ancam Kyai tersebut dan kini perempuan digenggamannya meronta-ronta kesakitan
"Saya tidak akan pergi dari sini sebelum Anda menyerahkan diri dan mengembalikan gadis itu! Kalau tidak ...."
Mahendra menjeda perkataannya dan ia menodongkan revolver ke arah Kyai Mujahid. Kyai itu seketika berkeringat dingin dan tangannya bergetar hebat.
"Anda yang akan mati!"
"Wica, jangan—" Rena ditahan tangannya oleh rekan kerja satu tim, ia mengingatkan bahwa situasi sedang sangat genting. Nyawa gadis itu adalah taruhannya.
Mahendra hendak menarik revolvernya untuk menembak Kyai itu tetapi sepersekian detik kemudian mereka dikejutkan oleh suara menggelegar.
DOR!
"Sampai jumpa di neraka, manusia jahanam.”
Kyai Mujahid seketika tumbang dan darah mengucur deras setelah peluru tersebut tepat bersarang di jantungnya. Mahendra pingsan setelah melihat pemandangan mengerikan tepat dihadapannya bersamaan dengan itu pihak kepolisian Polres Jakarta Selatan mengevakuasi korban dan tak lama setelah itu pondok ditutup secara permanen tetapi tidak dengan kenangan buruk dan kelam yang akan teringat untuk selama-lamanya.
Seorang anak berumur sepuluh tahun berdiri tepat di depan gerbang bangunan tua itu dan tersenyum penuh kemenangan.
"Akhirnya, sekumpulan manusia bejat itu kini telah dijebloskan ke neraka.”

SHADOWALKER15
4 Pengikut · 1 Novel