Aku sering bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mereka lihat saat aku berdiri di atas panggung dengan bas hitam ini. Ribuan pasang mata itu, kilatan ponsel yang menyerupai lautan bintang, dan jeritan yang membelah udara.
Bagi mereka, aku hanyalah Arka, pemain bas Basagita. Sosok jangkung, ber-rahang tegas, yang keringatnya saja dianggap sebagai karya seni.
Aku bukan orang yang naif. Aku tahu aku tampan. Cermin di kamarku dan tatapan setiap wanita yang berpapasan denganku tidak pernah berbohong. Aku tahu bagaimana bahuku yang lebar terlihat di bawah lampu sorot, dan bagaimana jemariku yang panjang terlihat begitu provokatif saat memetik senar bas.
Namun, ada paradoks yang selalu menggelitik egoku ketika berhubungan dengan penampilanku yang mirip patung dewa-dewi Romawi kuno (ini kata mereka, bukan kataku). Para kritikus musik selalu memuji komposisi lagu yang kutulis sebagai ‘jenius yang melampaui usianya’, sementara sebagian besar penonton di barisan depan hanya ingin melihatku membuka kancing kemeja.
Aku tidak membenci mereka. Sungguh. Penggemar adalah napas bagi Basagita. Tanpa mereka, lima tahun yang kuhabiskan untuk membangun band ini tidak akan berarti apa-apa. Tapi terkadang, rasanya melelahkan ketika karyamu—yang mengorbankan darah dan keringatmu, secara harfiah—kalah telak oleh sekadar ‘tampang’ yang kebetulan merupakan anugerah genetik dari keturunan Amungrogo
Bicara soal keluarga, aku adalah produk dari cinta yang berlimpah, meski terkadang terasa menyesakkan. Kakek dan nenekku—Amungrogo dan Marina—adalah pilar yang membentuk siapa aku hari ini.
Kakek meninggal tiga tahun yang lalu, disusul Nenek dua tahun kemudian. Kehilangan mereka meninggalkan lubang besar, tapi mereka berhasil mewarisiku sesuatu yang berharga: rasa aman. Aku tumbuh melihat bagaimana seorang pria seharusnya mencintai wanita sampai akhir hayatnya.
Lalu ada Raras, kakak perempuanku yang sembilan tahun lebih tua. Melihatnya bahagia bersama Andalas dan keempat anak mereka yang ramai—Airlangga, Raga, Bima, dan Maya—membuatku merasa bahwa dunia ini sebenarnya cukup adil. Setidaknya untuk mereka.
Melihat keponakan-keponakanku tumbuh besar memberikan rasa damai yang aneh. Itu sudah cukup bagiku. Jika aku tidak pernah memiliki keluarga sendiri, melihat kebahagiaan di rumah Raras atau Ibu, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kuota kebahagiaan dalam hidupku.
Mungkin itu sebabnya kehidupan asmaraku berantakan. Atau lebih tepatnya, dangkal.
Kehidupan malamku indah, setidaknya bagi orang luar. Aku bisa mendapatkan wanita mana pun yang kuinginkan hanya dengan satu anggukan kepala atau senyum tipis di bar belakang panggung.
Aku menikmati ciuman-ciuman panas yang beraroma alkohol dan parfum mahal. Aku menikmati sentuhan erotik dari kulit-kulit halus mereka. Tapi aku punya aturan tak tertulis bahwa tidak akan pernah berkencan lebih dari dua kali.
Di kencan ketiga, semuanya menjadi terlalu rumit. Semuanya mulai terasa seperti tuntutan. Dan bagiku, emosi adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kukendalikan. Jadi, aku memilih untuk tidak terlibat terlalu jauh.
Basagita adalah satu-satunya tempat di mana aku merasa benar-benar memegang kendali. Dion, manajer utama kami, sering mengatakan bahwa aku terlalu perfeksionis.
Teman-teman satu band-ku tahu bahwa di balik sikapku yang ramah, aku adalah komandan yang tidak mentoleransi kesalahan satu nada pun. Musik bukan sekadar hobi atau pelarian dari kerajaan minyak sawit yang menunggu untuk kuwarisi. Musik adalah caraku bicara.
Sebelum menjadi seperti sekarang, aku adalah kapten basket yang punya segalanya. Populer, kaya, dengan masa depan yang terjamin. Tapi bas ini? Alat musik ini adalah segalanya bagiku. Ini adalah satu-satunya hal yang benar-benar kupilih sendiri.
Pintu studio terbuka dengan dentuman kasar, merusak progresi akor D-mayor yang sedang kutata. Aku tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang. Aroma itu mendahuluinya—bau keringat asam yang mengendap, bercampur dengan aroma sisa rokok murahan dan kopi instan basi.
Aku berhenti memetik senar bas. Keheningan yang tercipta setelahnya terasa jauh lebih mengancam daripada dentuman drum mana pun.
Pria itu, manajer baru yang Dion kirimkan, masuk dengan langkah gontai. Rambutnya berminyak, menempel di dahi seolah sudah berhari-hari tidak tersentuh air. Bajunya kusut, dan jam di dinding studio menunjukkan pukul 11.15. Dia terlambat empat puluh lima menit.
“Maaf, maaf. Jalanan hari ini macet parah,” ucapnya tanpa dosa, sambil menghempaskan tas ranselnya ke atas sofa kulit mahal di pojok ruangan.
Aku memejamkan mata. Jemariku masih menempel pada senar baja dingin.
Aku sangat membenci manusia yang tidak menghargai waktu, tapi aku jauh lebih membenci manusia yang tidak merawat diri. Bagiku, kebersihan adalah bentuk paling dasar dari kedisiplinan.
Jika seseorang tidak bisa mengurus tubuhnya sendiri sebelum bertemu orang lain, bagaimana mungkin aku bisa mempercayakan jadwal tur Basagita yang bernilai miliaran padanya?
Aku memijat pelipis dengan tangan kiri, merasakan denyut emosi yang mulai memanjat ke tenggorokan. Di kepalaku, aku sudah menyusun draf tuntutan untuk Dion. Aku akan menuntut penjelasan—atau lebih baik, aku akan menuntut orang ini lenyap dari pandanganku sebelum matahari terbenam.
“Apa kita bisa mulai briefing-nya sekarang?” tanya si manajer baru—aku bahkan menolak mengingat namanya—sambil menggaruk perutnya di balik kaus yang sudah menguning di bagian ketiak.
“Kau sudah mandi?” Suaraku rendah, tenang, tanpa humor sama sekali.
Dia mengerjap, tawanya yang canggung tertahan di udara. “Huh? Oh, tadi buru-buru. Biasalah anak muda—”
“Jangan sok akrab. Kita tidak berteman.” Aku berhenti tepat di depannya. Aroma tubuhnya menyerang indra penciumanku, membuat perutku mual. “Basagita adalah bisnis profesional. Di ruangan ini, kami bekerja dengan standar yang tidak bisa dicapai oleh orang yang bahkan tidak tahu caranya memakai sabun di pagi hari.”
Aku menatap matanya, tajam. “Kau terlambat empat puluh lima menit. Kau membawa aroma sampah ke dalam ruang kerjaku. Dan sekarang kau berharap aku mendengarkan ‘visi’ dari otak yang bahkan tidak bisa mengatur alarm?”
Wajahnya mulai memucat. Dia mencoba mencari dukungan dari anggota band yang lain, tapi Leo—drummer kami—pura-pura sibuk mengencangkan baut snare-nya. Mereka tahu, jika aku sudah mulai berbicara dengan nada sepelan ini, badai sedang berada tepat di atas kepala.
“Aku—aku minta maaf. Aku janji besok—”
“Tidak akan ada besok,” ujarku dingin. Aku mencondongkan tubuh, memastikan dia merasakan intimidasi yang tidak terbantahkan. “Keluar sekarang. Mandi. Dan jangan pernah berani menginjakkan kaki di gedung ini lagi tanpa surat pengunduran diri yang sudah ditandatangani. Kau adalah kegagalan estetika dan profesionalisme yang tidak akan kutoleransi.”
Aku melihat bibirnya mulai gemetar. Benar-benar memuakkan. Seorang pria dewasa, hampir seusia denganku, mulai berkaca-kaca hanya karena beberapa kalimat. Satu tetes air mata jatuh di pipinya yang kusam. Dia terlihat menyedihkan, dan aku tidak merasakan penyesalan sedikit pun.
Tanpa sepatah kata lagi, dia menyambar tasnya dan lari keluar dengan isak tangis yang tertahan. Suara pintu yang tertutup di belakangnya terasa seperti musik yang jauh lebih indah daripada apa pun yang kami mainkan tadi.
“Terima kasih, Tuhan,” gumamku sambil mengembuskan napas panjang.
Leo menghentikan aktivitasnya, lalu menatapku dengan seringai tipis. Dia adalah anggota band yang paling peka dengan suasana hatiku. Dia tahu kalau aku melanjutkan latihan sekarang, mereka akan menghadapi perang di ruang tertutup.
“Oke, semuanya,” Leo berseru, memberikan isyarat pada yang lain, “sepertinya ini pertanda kalau latihan sudah selesai. Ayo pergi sebelum dia mulai membahas bau parfum kita juga.”
Aku tidak membantah. Aku butuh udara bersih. Aku butuh mandi—meski aku sudah mandi tadi pagi—hanya untuk membilas sisa kehadiran pria itu dari ingatanku. Saat aku menyambar kunci sedan hitamku, aku mengirim satu pesan singkat pada Dion.
Jangan pernah kirim sampah seperti itu lagi ke studioku. Cari manajer yang tahu fungsi shower, atau aku yang akan mengambil alih kursi Dirut-mu hari ini juga.
Setidaknya, satu pengganggu sudah tersingkir. Sekarang, aku hanya perlu memastikan bahwa fotografer yang akan datang besok tidak memiliki aroma yang sama menyebalkannya dengan pria cengeng itu.